Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉
❤❤❤
happy reading.... 😊🤗👏
=====================================
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunjukan kasih sayangmu.
Fauzi dan Afifa pulang ke rumah beriringan. Tak banyak kata terucap, hanya langkah yang terdengar seirama. Setibanya di rumah, Afifa segera meletakkan rantang makanan di meja makan. Lalu, dengan sigap, ia mengambil handuk bersih yang sudah ia siapkan.
“Sayang... mandi dulu, ya.” Suaranya lembut, penuh kehangatan.
Fauzi terhenti. Panggilan itu membuatnya menoleh cepat. “Apa?” tanyanya heran. Baru kali ini ia mendengar Afifa memanggilnya begitu.
Afifa tersenyum malu-malu, menunduk sedikit. “Boleh kan... Fifa panggil ‘sayang’?”
“O... iya, tentu saja.” Fauzi tergagap, lalu menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Senyum kikuknya membuat Afifa makin gemas.
“Alhamdulillah...” bisik Afifa lirih, senyumnya merekah. “Ayo mandi dulu, biar segar.” Ia beranikan diri menarik lengan suaminya menuju kamar mandi di dalam kamar mereka. Sementara itu, ia menyiapkan pakaian rumah yang rapi, meletakkannya di atas tempat tidur dengan hati-hati.
Setelah makan malam, Fauzi seperti biasa duduk di sofa ruang keluarga, menonton acara televisi. Namun kali ini ada yang berbeda—Afifa duduk di sampingnya. Sangat dekat.
“Sayang...” panggil Afifa pelan, suaranya nyaris bergetar. Perlahan ia menyenderkan tubuhnya ke bahu suaminya, mencoba mencari keberanian.
“Hmmm...” Fauzi hanya bergumam tanpa menoleh.
“Fifa boleh tanya sesuatu?”
“Apa?” suara Fauzi datar, tapi matanya kini menoleh sekilas.
Afifa menelan ludah. “Menurut Kak Aji... Fifa itu seperti apa sih?”
Alis Fauzi berkerut. “Maksudnya?”
“Maksudnya...” Afifa menunduk, jemarinya saling meremas. “Posisi Fifa... di hati Kak Aji.”
Fauzi terdiam sejenak. “Kenapa tiba-tiba kamu nanya begitu?” tanyanya hati-hati, tubuhnya bergeser sedikit agar bisa menatap wajah istrinya yang tertunduk.
Air mata Afifa menitik pelan. “Fifa nggak mau kalau cuma jadi beban buat Kak Aji.”
“Beban apa maksud kamu, Dek?” Fauzi menatapnya lebih dalam.
Dengan suara bergetar, Afifa melanjutkan, “Kita sudah hampir dua bulan menikah, Kak... tapi tak sekalipun aku melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri.”
Suasana hening sejenak. Fauzi menghela napas panjang. “kamu sudah lebih dari melaksanakan kewajibanmu, Dek. Kamu menjaga perutku, menjaga hartaku dan menjaga dirimu dengan ahlak ..."
"Bukan itu maksudku, Kak ..! Aku... Aku belum pernah melayanimu di ..."
"Itu baru jadi kewajiban... kalau suamimu meminta haknya.” potong Fauzi.
Afifa menoleh cepat, tatapannya penuh luka. “Lalu kenapa Kak Aji tidak pernah meminta hak itu padaku? Apa Fifa sama sekali tidak menarik di mata Kak Aji? Apa Fifa tidak layak dicintai?” suaranya pecah, isakannya pecah bersama.
“Hey... Afifa sayang...” Fauzi buru-buru meraih bahunya, mencoba menenangkan.
Afifa mendongak, air mata mengalir di pipinya. Tapi justru di saat itulah telinganya menangkap sesuatu yang mengejutkan. Sayang. Ia kaget mendengar suaminya memanggilnya begitu untuk pertama kali.
“Aku tahu...” Fauzi berbicara lagi, pandangannya menerawang ke langit-langit rumah. “Kewajiban seorang suami bukan hanya memberi nafkah lahir, tapi juga batin. Tapi... untuk saat ini aku mohon maaf, aku belum bisa memberikannya padamu. Bukan karena aku tidak mencintaimu... hanya saja, setidaknya sampai kamu lulus kuliah nanti.”
Afifa menatapnya bingung, air matanya berhenti sesaat. “Tapi kenapa, Kak?” tanyanya lirih, masih mencari alasan.
Fauzi menghela napas panjang, berat. “Saat waktunya tepat... aku pasti akan mengatakan semuanya padamu.”
Afifa terdiam. Pikirannya berputar, mencari-cari jawaban dari teka-teki itu. Tapi tak satu pun logika bisa ia temukan.
Dengan suara kecil ia bertanya lagi, “Apa benar... Kak Aji mencintai Fifa?”
Fauzi menoleh cepat, menatap mata istrinya dalam-dalam. “Sangat.” Jawabnya singkat tapi tegas.
Sekejap, wajah Afifa berubah. Mata yang masih basah kini berbinar. Senyum terbit di wajahnya, penuh kelegaan. “Sungguh, Kak...?” tanyanya, nyaris berbisik, seolah takut jawabannya hanya mimpi.
Fauzi mengangguk pelan, senyum hangat terukir di bibirnya. Ia menunduk, memberikan satu kecupan lembut di kening istrinya.
Afifa tak kuasa menahan haru. Ia memeluk suaminya erat-erat. Fauzi membalas pelukan itu, hangat, menenangkan.
“Apa Kak Aji tahu... betapa aku mencintaimu?” bisik Afifa di pelukan suaminya. Suaranya patah-patah, penuh perasaan. “Aku tidak akan menuntut nafkah batin sampai Kak Aji benar-benar menginginkannya. Tapi... aku mohon, tunjukkanlah kasih sayangmu dalam keseharian kita. Agar aku yakin, aku tidak sendiri... bahwa ada seseorang yang sungguh mencintaiku. Itu saja... itu sudah membuatku sangat bahagia.”
Fauzi memejamkan mata, hatinya bergetar mendengar ketulusan itu. Perlahan ia mengusap kepala istrinya. “Baiklah, sayang... aku akan berusaha.”
Ia melepaskan pelukan mereka, lalu menatap Afifa lembut. “Sudah larut. Sebaiknya kita tidur.”
Afifa mengangguk. Mereka bangkit bersama. Fauzi mematikan televisi, lalu merangkul pundak istrinya, mengajaknya masuk ke kamar.
Di ranjang, Fauzi membentangkan lengannya. “Sini...” ucapnya singkat.
Afifa ragu sejenak, lalu tersenyum malu. Ia pun menyandarkan tubuhnya, membiarkan kepalanya bertumpu di dada Fauzi. Seketika rasa aman menyelimuti dirinya. Degup jantung Fauzi terdengar begitu dekat, membuat kegelisahan yang tadi sempat ia rasakan perlahan sirna.
“Tidurlah,” ucap Fauzi pelan sambil merapatkan selimut.
“Heem…” Afifa mengangguk kecil, matanya mulai terasa berat, seiring dengan usapan kecil tangan Fauzi di kepalanya.
Fauzi tersenyum, menatap wajah tenang istrinya. Rambut halus Afifa yang tergerai di atas bantal, juga anak rambut yang menutupi sebagian pipi Afifa tampak menambah sisi manis yang selalu ia kagumi.
Beberapa menit kemudian, Afifa sudah terlelap dengan napas teratur. Fauzi masih terjaga, matanya enggan berpaling. Ia biarkan tangannya mengusap lembut bahu Afifa, lalu berbisik lirih, hampir tak terdengar:
“Maafkan aku Sayang… Suatu hari nanti aku akan cerita semuanya padamu. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, kamu tahu, kamu begitu cantik, bahkan lebih indah saat kamu tak sadar betapa berharganya dirimu untukku.”
Tatapannya sarat kagum, penuh syukur. Namun ada rasa sesal yang terpancar dari matanya.
Afifa tidur pulas tanpa menyadari betapa dalam cinta suaminya. Malam itu Fauzi memilih tetap terjaga sebentar, hanya untuk menikmati keindahan sederhana: Afifa yang damai dalam pelukannya.
Bersambung... 😊❤️
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
😊😊😊
🤣🤣🤣
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
🤗🤗🤗
🤧🤧🤧
🤔🤔🤔