[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 (3)
Vallen kemudian menunjuk plafon dengan jari seolah ada nama lengkap Rafa di sana dan ia sedang berusaha mengejanya. "Rafa-el ... Han .... Han ...."
Vallen menghela napas. "Han ...."
"Some," celetuk Rafa.
Netra Vallen langsung melotot melihat sang suami. "Idih males!" Segera, ia melempar cowok itu memakai penghapus yang kebetulan langsung masuk ke genggamannya saat asal meraba permukaan kasur.
Selanjutnya Vallen terus bergidik sambil berusaha nengkurap lagi.
"Ih ih ih! Ewhhh. Iuhhh," ucapnya jijik.
"Dikasih tau gak percaya!"
"Bodo amat, lo gak bener! Gue tulis Rafa Jelek aja!"
Karena kesal akhirnya Vallen melewati dulu nama panjang Rafa dan berlanjut menulis nama yang absennya di bawah cowok itu.
Tok tok tok ...
"Masuk!" kata Vallen.
Pintu pun terbuka, memperlihatkan Bi Adab yang membawa sebuah nampan berisi dua gelas susu dan satu piring cemilan. Vallen membasahi bibirnya melihat kue cokelat yang ada di piring. Menggugah selera.
"Bibi tadi baru nyobain resep kuenya, jadi maaf ya kalo kurang enak atau gimana." Bi Adab tersenyum seraya menyimpan makanan dan minuman di atas meja belajar Rafa. Cowok yang sedang membaca buku itu pun menengok.
"Vallen sukarela jadi juri!" Gadis itu mengajukan diri. Ia tak mau kue itu direbut Rafa, apalagi mata Rafa sudah mulai fokus dengan keberadaan piring tersebut.
Vallen bangun dari tidurnya dan merangkak hingga turun kasur, melangkah ke dekat Rafa, dan ... mengambil sasarannya. Mudah. Kemudian ia menaikkan tangan ke atas untuk mengangkat piring tersebut. Sebuah kemenangan baginya berhasil mengambil alih piring ini.
Mata Vallen menangkap adanya garpu. Ia pun mengambil satu garpu di nampan, lalu membelah kue tersebut. Sebuah lava coklat mengalir keluar, menabrak stroberi yang menjadi garnish dessert malam ini.
Vallen mengatakan 'wah' tanpa suara. Hanya terlihat dari gerakan mulutnya. Dipotongnya sedikit dari bagian kue itu dan memasukkannya ke dalam mulut sekalipun ia masih berdiri. Lidahnya mengecap rasa fantastis yang membuncah, manis yang pas, serta lelehan coklat yang dipadu tekstur lembut dari kue. Giginya tak perlu melakukan tugas berat dalam mengunyah, makanan itu mudah hancur bahkan hanya dengan ditubruk lidahnya ke rongga-rongga mulut.
"Bi ...," ucap Vallen bergetar. Ia menatap Bi Adab dan menggelengkan kepala tidak percaya.
"Gak enak ya non Vallen?"
Vallen menggeleng sambil menutup mata memikirkan Bi Adab, wanita yang lebih tua dari mamahnya sendiri, bagaimana bisa ia memiliki jiwa yang modern, selalu memperbarui masakannya, selalu berinovasi dan mengikuti makanan yang berkembang di masyarakat?
"Gak bisa, gak bisa, Bi! Vallen gak bisa makan ini ...." Dia menghapus air matanya yang padahal tidak ada. "... dengan satu tetes coklat pun tersisa. Ini harus Vallen abisin!" Vallen memeluk si Bibi sambil menahan tangisnya. Selanjutnya dia mengambil satu garpu lagi di atas nampan yang masih Bi Adab pegang, lalu memberikannya pada Rafa.
Rafa menerimanya.
Cowok itu kemudian mulai mendaratkan garpunya ke atas kue.
Syung ....
Secepat kilat Vallen membawa piring isi kuenya ke kasur dan menikmatinya sendirian. Dia terharu sambil masih geleng-geleng kepala karena takjub akan kerja keras Bi Adab. Matanya amat berbinar setiap merasakan suapan selanjutnya.
Rafa masih memandang garpunya yang mencolok angin. Ia menarik napas dalam, sungguh Rafa harus menyiapkan banyak stok 'sabar' untuk hidup bersama Vallen.
"Maaf, Den Rafa. Bibi bikinnya satu. Besok lagi ya?"
Rafa menggeleng. "Gapapa, Bi. Gausah."
Bi Adab kemudian meninggalkan kamar.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.