BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Days Of Chasing Love
Bianca dan Edgar keduanya tampak melirik tembok tinggi di depannya, tembok yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Tembok itu adalah tempat mereka biasa memanjat ketika terlambat ke sekolah.
"Hay, tembok ketemu lagi kita," ujar Bianca memukul tembok dengan tersenyum lebar. Edgar menoleh ke arah Bianca berdecak Pinggang
"Lo naik, gue bantuin Lo naik," ujar Edgar, menawarkan diri untuk membantu Bianca memanjat tembok
Bianca tersenyum dan mengangguk, lalu mulai memanjat tembok dengan bantuan Edgar.
Edgar memegang kaki Bianca dan mendorongnya ke atas, membantu Bianca mencapai puncak tembok. Bianca berhasil memanjat ke atas .
"Wah, gue berhasil!" seru Bianca, merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Edgar tersenyum tipis dan memanjat tembok juga, dengan mudah mencapai puncak dan melompat ke tanah.
"Edgar sayang, gue gak bisa turun," teriak Bianca dari atas, suaranya terdengar sedikit panik.
"Ca, suara Lo," tegur Edgar tak ingin Bianca terlalu khawatir. "Lompat aja, gue tangkap," lanjut Edgar lagi, menawarkan diri untuk menangkap Bianca.
"Yang bener aja, nanti kalo tangan Lo sakit gimana?" tanya Bianca dengan nada yang sedikit khawatir.
"Udah ngak usah protes, cepat," ujar Edgar dengan nada yang sedikit tegas, tapi masih dengan senyum tipis.
Bianca menghela napas dan memutuskan untuk melompat, Edgar siap menangkapnya.
Bianca melompat dari atas tembok, Edgar menangkapnya dengan erat dan memeluknya ke dadanya.
"Gue tangkap," ujar Edgar dengan senyum lebar, merasa bangga dengan dirinya sendiri. Bianca tersenyum juga, merasa lega dan aman di pelukan Edgar.
"Makasih, Ed," ujar Bianca dengan nada yang lembut, memeluk Edgar balik.
Tiba-tiba, suara keras dan tegas terdengar dari kejauhan.
"Kalian, sudah terlambat malah berpelukan di sini!!" teriak seseorang guru, wajahnya merah karena marah.
Bruk! Edgar langsung melepaskan Bianca sehingga gadis itu langsung terjatuh ke tanah.
"Pantat gue!" ringis Bianca, merasa sakit dan kesal karena terjatuh.
Edgar langsung menoleh ke arah Bianca, wajahnya penuh kekhawatiran. "Bi, Lo gak apa-apa?" tanya Edgar, membantu Bianca berdiri.
Bianca menggosok-gosok pantatnya yang sakit, wajahnya masih kesal. "peke nanya lagi," kesal Bianca, memandang Edgar dengan mata yang tajam.
Guru itu mendekati mereka, wajahnya masih merah karena marah. "Kalian berdua, ikut saya ke lapangan sekarang juga!" ujar guru itu dengan nada yang keras.
Edgar membantu Bianca untuk berdiri, wajah Bianca masih kesakitan karena terjatuh. Mereka berdua berjalan mengikuti guru mereka ke lapangan, dengan wajah biasa saja
Saat mereka tiba di lapangan, mereka melihat banyak siswa lain sudah berkumpul di sana, wajah mereka semua penuh rasa penasaran. Guru itu memerintahkan mereka untuk berdiri di depan lapangan, dengan wajah yang masih merah karena marah.
"Sebagai hukuman, kalian harus melakukan push-up 50 kali di depan lapangan!" perintah guru itu dengan nada yang keras.
"Pak, jangan gitu lah pak," protes Bianca dengan wajah yang kesal.
"Ko Bianca suka sekali ko terlambat, setelah itu banyak protesnya," ujar Pak Selamat dengan logat timur yang khas, membuatnya terdengar lebih keras.
"Biar saya saja pak yang kerjain hukum buat Bianca," ujar seseorang yang tak lain adalah Aksara, pemuda tampan itu berjalan menghampiri mereka dengan wajah rupawan yang mempesona.
"Jangan, tra boleh ko tra boleh, mereka yang terlambat ko pergi sa tra butuh ko," ujar guru itu dengan nada yang keras, menolak tawaran Aksara.
"tahan Edgar tahan"batin Edgar supaya ia tak menonjok wajah aksara
"Udah pak, kalo gitu Aksara aja 100 kali, bisa dia demi saya pak," ujar Bianca dengan wajah yang memelas, mencoba untuk meminta keringanan.
"Hanya buat Lo, ca, bukan Edgar," ujar Aksara mencoba mendekati Bianca, dengan senyum yang manis.
"Ngak usah Lo dekat dekat," dengan kasar Edgar mendorong Aksara, membuat Aksara terhenti di tempat.
"Eh, Lo siapa dia sampai Lo larang gue dekat sama dia?" tanya Aksara dengan wajah yang kesal, mencoba untuk tenang.
"Dia pacar gue!!" teriak Edgar dengan wajah yang merah karena emosi, membuat Bianca membulatkan matanya sempurna karena terkejut.
"Sejak kapan, Bianca aja kaget ngaku-ngaku," ujar Aksara dengan senyum mengejek, mencoba untuk membuat situasi lebih tegang.
"Bianca, Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Edgar berbalik menatap wajah Bianca serius, mata yang tajam dan penuh harapan.
"Jangan ca, itu dia nembak Lo supaya Lo..." Bianca memotong kalimat Aksara dengan tersenyum lebar.
"Mau, Edgar sayang gue mau, mau banget jadi pacar lo," ujar Bianca dengan suara yang lembut, membuat Edgar tersenyum lebar karena bahagia.
"Apa apaan kalian ini, jang! Bikin sa tambah emosi, kalian ini berpacaran di depan saya!!" teriak guru itu emosi, wajahnya merah karena marah.
"Pak, itu ada Bu Aruna, bapak masa kalah sama kita," tunjuk Bianca saat satu sosok guru yang cantik melewati lapangan, membuat Pak Selamat langsung teralihkan.
"Ko jang rayu-rayu Bianca, btw sa su ganteng ka belum ini?" tanya Pak Selamat mengatur rambutnya ke belakang, mencoba untuk menunjukkan kesan yang baik.
"Sudah ganteng pak, cepat kesana, aduh pak cepat ada Pak Fikri itu," ujar Bianca dengan nada yang mengejek, membuat Pak Selamat langsung berlari menuju ke arah Bu Aruna.
Pak Selamat berlari menuju ke arah Bu Aruna, mencoba untuk menunjukkan kesan yang baik.
"ayok, sayang"ajak Bianca menarik tangan Edgar meninggalkan Askara yang mengepalkan tangannya kesal
"Bianca sialan Lo, udah kelewatan batas"batin seseorang yang melihat kejadian itu dari atas tingkat