Eva Calista, seorang siswa jenius berusia 17 tahun, terjebak dalam sebuah cerita novel yang membuatnya tertarik. Saat membaca tentang penindasan yang dilakukan protagonis terhadap antagonis, Eva merasa tidak tahan dan tertidur karena kelelahan.
Namun, saat terbangun, Eva menemukan dirinya berada di tubuh antagonis saat masih bayi. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi ada sebuah sistem yang muncul dan menjelaskan bahwa Eva telah bereinkarnasi ke dalam cerita novel.
Sistem tersebut memberitahu Eva bahwa ia harus mengarungi peran sebagai antagonis dan mengubah jalannya cerita. Eva harus menggunakan kecerdasan dan kemampuan analitisnya untuk memahami sistem dan mengubah nasibnya sebagai antagonis.
Dengan sistem yang menemani dan membantu, Eva mulai menjelajahi dunia cerita novel dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Apakah Eva bisa mengubah jalannya cerita dan menjadi antagonis sejati? Cerita ini akan membawa Anda ke dalam petualangan yang menarik dan penuh kejutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Markas Eagle
Marie yang duduk di sofa merasa gugup. Apalagi melihat tatapan semua orang yang terfokus melihat dirinya.
"Seharusnya aku mengajak Reva kesini," batin Marie yang gelisah
Ini adalah kali pertama Marie berkunjung ke markas geng eagle. Selama ini dirinya hanya mengetahui geng eagle dari cerita tunangan dan calon adik iparnya, Reva. Namun, karena memikirkan tunangannya yang begitu sibuk dia berkeinginan mengantarkan makanan untuk Tristan ke kantor. Alhasil, karena dia tak ada di kantor jadinya terdampar di markas ini.
"Sayang, are you okay?" tanya Tristan yang baru saja datang melihat sang tunangan menunduk di sofa
Mendengar suara yang dikenalnya, Marie mendongakkan kepalanya. Dirinya melihat Tristan yang berjongkok dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Tristan sambil mengelus rambut Marie dengan lembut
Marie hanya menggelengkan kepalanya. Hanya dengan melihat Tristan, rasa gugupnya menghilang seketika.
Tristan mengangguk mengerti, kemudian mengambil tas bekal yang berada di pelukan Marie dan meletakkannya di atas meja yang berada di sampingnya. Kemudian, memeluk Marie dengan erat.
"Aku kangen," gumam Tristan
Mendengar itu, Marie segera membalas pelukan Tristan.
Semua yang berada di markas terkejut melihat adegan yang ada dihadapan mereka saat ini. Bahkan beberapa anggota yang melihat itu menjatuhkan makanan ringan yang telah siap masuk ke dalam mulut. Mereka tak percaya bahwa yang mereka melihat saat ini adalah Tristan yang mereka kenal.
Jika ada dihadapan mereka adalah Reva, mereka sudah biasa. Apalagi semua anggota geng juga sangat memanjakan dan menjaganya. Namun, kali ini Tristan yang terkenal dingin ini memeluk seorang perempuan yang bukan adik ataupun ibunya. Apalagi mengucapkan kata kangen. Sungguh, ini adalah berita mengejutkan bagi mereka.
Jaka dan Theo yang tau mode bucin Tristan hanya bisa menepuk jidat dan menghela nafas lelah. Kemudian mereka berdua tertawa kecil melihat melihat anggota mereka yang melongo, menatap tak percaya dengan adegan yang ada di depan mereka.
"Tan, ajak Marie ke ruangan TV. Lebih tertutup dibanding disini. Lo nggak mau kan cewek lo ditatap cowok yang ada di markas?" goda Jaka
Menyadari hal itu, dia melepas pelukannya dan menatap tajam orang-orang yang sedang memperhatikan Marie-nya.
Semua orang langsung bubar dan melanjutkan kegiatan mereka. Mereka tak ingin menjadi sasaran Tristan. Mereka sudah jerah saat memandang Reva dulu, dan berakhir menjadi target Tristan, Kassius dan Kieran.
"Ayo, yang. Masuk!"
Tristan menuntun Marie ke lantai dua tempat yang lebih private dan menenteng tas bekal yang dibawa Marie.
Jaka dan Theo memilih membiarkan sejoli itu menikmati waktu mereka dan memilih ke ruangan Brian saat ini.
...****************...
Marie melihat ruang santai yang tertata dengan sangat rapi. Ada TV berukuran besar dan sofa empuk berwarna biru. Tak lupa ada foto yang terpasang di sana. Marie dapat melihat persaudaraan antar anggota. Kemudian tatapannya ke arah foto yang menampilkan seorang anak kecil memakai topi pesta ulang tahun dengan sebuah kue berukuran besar berwarna merah muda dengan hiasan stroberi.
"Itu Reva?" tanya Marie sambil menunjuk ke arah foto yang dimaksud.
Tristan yang tadinya sibuk menata makanan yang dibawa Marie, teralihkan ke arah Marie. Dirinya tersenyum saat melihat foto yang ditunjuk Marie, dirinya mengingat cerita dibalik foto itu, "Yap, itu Reva waktu umur 10 tahun. Lihat giginya yang ompong itu."
Marie tersenyum saat melihat foto Reva. Keceriaan yang masih sama dan sikap percaya dirinya itu ada sejak kecil. Dapat dilihatnya bahwa semua orang sangat menyukai Reva.
"Ini di markas?"
"Ya, itu adalah kali pertama perayaan ulang tahun Reva dirayakan di markas."
Tatapan sendu Tristan membuatnya penasaran. Marie kembali melihat ke arah foto itu. Tampak ada yang janggal dalam foto itu.
"Kemana om dan tante?"
Tristan tersenyum, menatap sang tunangan.
"Mereka waktu itu sibuk, bahkan opa, oma, kakek dan nenek tak bisa hadir karena kesibukan mereka yang padat."
"Kau tau Marie, dibalik cerita pesta itu. Perayaan itu diadakan sebagai bentuk rasa syukur karena Reva berhasil lolos dari penculikan."
Marie terkejut mendengar hal itu. Dia menatap tak percaya ke arah Tristan.
"Penculikan?"
"Ya, dulu ada 2 orang yang menjadi asistennya, Reihan dan Wanda. Namun, Wanda ternyata hanyalah mata-mata yang dikirim musuh keluarga untuk melenyapkan Reva."
"Kau tau, Wanda ingin menculik dan membunuh Reva tepat di ulang tahunnya. Dia tau bahwa saat itu tidak akan perayaan seperti biasa karena kesibukan anggota keluarga dan dia melihat peluang itu. Untung Reva sangat cerdik, dia berhasil lolos dan mengirim pesan padaku dan Kassius hingga kami berdua mampu menyelamatkannya."
"Perayaan itu diadakan karena bersyukur lolos dari mautnya. Meskipun tidak dirayakan tepat saat ulang tahunnya. Dia tetap merasa senang. Dan kau tau apa yang ia katakan padaku saat itu?"
Marie menggelengkan kepalanya.
"Dia berkata, 'perayaan apapun dan kapanpun aku akan tetap senang karena kalian semua selalu melimpahkan cinta padaku' padahal saat itu dia baru saja menginjak umur 10 tahun."
Marie menepuk punggung Tristan dan memeluknya. Dia tau betapa besarnya kasih sayang kekasihnya itu untuk adiknya. Dan dja juga akan memberikan cinta yang sama untuk Reva. Baginya Reva juga adalah adiknya. Adik kecil yang perlu ia jaga, bagaimanapun keadaannya.
...****************...
Kamera pengawas yang terpasang, terfokus pada suatu titik.
Kieran yang dari kejauhan memantau markas tanpa sepengetahuan semua anggota melalui kamera pengawas yang ia letakkan secara tersembunyi.
Mendengar cerita Tristan, Kieran ikut mengingat hari itu. Hari dimana dia bertekad menjaga Reva dengan lebih baik lagi hingga dia mampu memutuskan mengambil tindakan hingga menjadi seperti saat ini.
Bagi Kieran, Reva adalah bunga mawar yang indah. Bunga yang harus menjadi miliknya dan hanya miliknya.
Kieran menatap foto yang menampakkan penampilan Reva tersenyum, mengenakan sebuah gaun berwarna kuning dengan tiara yang terpasang begitu cantik.
"My rose, tunggu aku. Aku akan datang dan akan selalu di sampingmu lagi, seperti dulu!"
setelah sekian purnama