Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" sahut Raka yang saat itu berada di ruang keluarga. Membuat Diandra yang akan menaiki tangga terkejut.
"Eh, Papa...," ucap Diandra sambil cengengesan.
"Dari mana? Kenapa pulang malam?" Cecar Raka yang menatap putrinya dengan tajam.
"Mmm... Dari rumah Kevin Pa," jawab Diandra dengan takut. Raka mengerutkan dahinya.
"Kamu semakin berani ya... Kamu ini perempuan, tidak baik datang ke rumah laki-laki meskipun dia adalah kekasihmu." Raka mulai memarahi Diandra. Yah, sebagai orang tua ia harus menjaga putrinya kan.
"Tidak! Bukan seperti itu Pa," ucap Diandra. Ia berusaha menjelaskan pada Ayahnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut.
"Lalu?" Raka semakin menatap Diandra dengan tajam. Membuat Diandra takut dan hanya menundukkan kepalanya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Biarkan saja kalau Diandra mau ke rumah kekasihnya itu. Kau jangan marah-marah padanya," ucap Jiana mencairkan suasana. Membuat Raka mengalihkan pandangannya pada istrinya.
"Sayang, istirahatlah," ucap Jiana. Diandra mengangguk dan melangkah kembali ke kamarnya.
Raka masih menatap istrinya itu dengan lekat. Ia tidak terima dengan tindakan Jiana yang selalu membela Diandra. Raka menghela napasnya pelan. Lalu beranjak menuju kamarnya dan disusul oleh Jiana di belakangnya.
"Mas, kamu marah?" tanya Jiana. Namun Raka tak menjawabnya. Ia langsung berbarimg di atas ranjangnya begitu sampai di kamarnya. Jiana pun ikut duduk di samping suaminya tersebut.
"Aku tidak suka kalau kamu selalu membela Diandra," ucap Raka dengan singkat. Ia bahkan berucap tanpa memandang istrinya.
"Aku juga tidak suka kamu selalu memarahi Diandra," balas Jiana tak mau kalah.
"Aku marah karena dia salah," kata Raka lagi. Kini ia menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Jiana.
"Iya, tapi bisa kan bicara pelan-pelan saja?"
"Tidak!" sahut Raka. Membuat Jiana terkekeh. Ia berbaring dan memeluk Raka dari belakang untuk meredam amarah suaminya tersebut.
*
Di kamar, Diandra tak bisa tidur dengan nyenyak. Pasalnya, ia selalu teringat dengan kejadian tadi di halaman rumahnya. Saat Kevin berdiri tepat di depannya dan itu sangat dekat. Membuat Diandra malu dan gugup.
"Aku pikir dia akan menciumku tadi, tapi ternyata tidak," batin Diandra sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa aku merasa sedikit kecewa karena itu?" batin Diandra lagi. Diandra langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bagaimana bisa ia mengharapkan ciuman itu? Pasti otaknya bermasalah hari ini, pikirnya.
"Apa aku mulai suka padanya? Tidak, dia dan Kanaya mungkin sudah bersatu kembali. Bukankah aku hanya akan merusak hubungan mereka saja?" gumam Diandra merasa resah. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Berharap jika apa yang ia rasakan ini berhenti sesegera mungkin.
Diandra memeluk gulingnya dengan erat. Ia berpikir keras untuk menjauhkan diri dari Kevin. Diandra tidak ingin merusak persahabatannya dengan Kanaya. Karena dengan kehadirannya di antara mereka, itu hanya akan melukai Kanaya. Dan Diandra tidak ingin hal itu terjadi.
*
Kevin sedang fokus membaca berkasnya di ruang keluarga. Sambil bersantai dengan Ibunya di sana.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ayudia dan mengambil berkas yang dipegang oleh putranya tersebut. Kevin merebahkan dirinya dan kini bersandar pada bahu Ayudia.
"Rencana apa Bu? Mengembangkan perusahaan?" tanya Kevin. Ia meraih tangan Ibunya dan mengecupnya sekilas.
"Rencana untuk menikahi Diandra. Apa lagi? Jangan bahas perusahaan di sini," sahut Ayudia. Membuat Kevin tertawa kecil.
"Kenapa harus buru-buru, Bu? Lagipula belum tentu Diandra mau menikah dengan Kevin, kan?" Kevin beralih bersandar pada sofa. Ia mengalihkan pandangannya pada TV yang ada di depannya. Ayudia meraih remote TV lalu mematikan TV tersebut. Ia tidak suka jika sedang bicara serius, Kevin justru menanggapinya dengan santai.
"Kalau begitu usaha yang benar! Jangan hanya main-main saja," ujar Ayudia merasa geram pada putranya tersebut. Kevin tersenyum tipis. Ia menaik turunkan alisnya sambil menatap Ibunya.
"Iya Bu, doakan Kevin semoga berhasil dan segera membawa menantu untuk Ibu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Kevin mencium pipi Ibunya sekilas. Ia mengambil berkasnya kembali dan bergegas menuju kamarnya. Membuat Ayudia semakin kesal dan geram dengan tingkah putranya yang terlalu santai itu.
*
Pagi pun telah tiba. Sang mentari telah menampakkan dirinya. Cuaca hari ini yang cerah membuat hari kian bersemangat melakukan kegiatannya. Namun tidak dengan Kanaya. Semalaman ia berpikir keras tentang siapa wanita yang berhasil menaklukkan hati mantan kekasihnya tersebut.
Kanaya telah kalah dari wanita tersebut. Ia sepenuhnya telah kalah. Tak ada celah baginya untuk kembali ke pelukan pria yang ia cintai tersebut. Memang, sekarang bukan urusannya lagi mengenai siapa wanita yang kini bersanding dengan pria pujaannya. Namun ketika Kanaya memikirkannya, ia tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Sudah hampir satu jam Kanaya duduk di sudut ranjangnya. Ia terkulai lemas di lantainya dan bersandar pada kasurnya. Ia tak ingin melakukan aktivitas apapun hari ini. Pikirannya kacau. Hatinya pun begitu. Sesak yang ia rasakan saat ini. Andaikan waktu bisa ia ulang kembali. Tak akan pernah Kanaya melepaskan pria yang hampir empat tahun mengisi hatinya.
Kini hanya tinggal kenangan saja. Kanaya hanya bisa mengingat sendiri kenangan romantisnya bersama Kevin. Kenapa ia harus terlambat menyadari jika ia belum bisa melupakan Kevin? Jika tidak, mungkin ia akan menjadi wanita paling bahagia karena bisa bersatu kembali dengan pria yang ia cintai itu.
Kanaya mengusap air matanya dengan kasar. Penampilannya sungguh berantakan. Ruangannya gelap. Tak ada penerangan sejak tadi malam.
"Kenapa sakit sekali? Ini bahkan lebih sakit daripada saat aku tahu kamu selingkuh dariku, Vin," gumam Kanaya dengan pilu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa kamu benar-benar telah pergi dariku?" batin Kanaya semakin merasakan kepedihannya.
Kanaya meraih ponselnya yang tergeletak di lantainya. Ia menyalakan layar ponselnya dan mencoba menghubungi Diandra. Hanya dia yang menjadi tempat bersandarnya saat ini.
"Di... Hiks.. hiks.. hiks...," ucap Kanaya saat Diandra mengangkat telepon darinya.
"Nay? Ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Diandra dengan panik.
"Bisakah kamu ke apartemenku sekarang? Aku ingin bercerita padamu, Di," ucap Kanaya sambil terisak. Membuat Diandra khawatir dan gelisah. Kanaya adalah sahabatnya, ia tak mungkin membiarkan Kanaya dalam kesusahan.
"Tunggu aku Nay, jangan ke mana-mana! Jangan melakukan apapun, oke? A-aku akan segera sampai," ucap Diandra lalu menutu sambungan teleponnya. Diandra tak peduli jika ia harus bekerja. Yang ia utamakan adalah sahabatnya yang sedang membutuhkannya. Diandra tak ingin sesuatu hal terjadi pada sahabatnya.
Kanaya beringsut untuk kembali ke ranjangnya. Ia menutupi dirinya dengan selimut tebalnya sambil memejamkan matanya. Ia menunggu Diandra datang ke apartemennya untuk mengurangi beban dalam hatinya.