Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari ini Jo menjemput Zay di bandara, mereka beranjak dari tempat itu dengan menggunakan mobil. “Bagaimana tuan? Apakah menyenangkan?” tanya Jo bersemangat.
“Tidak, semuanya sangat membosankan. Mereka tak cukup membuat ku puas, semuanya tak ada yang bisa bertahan lama.” Wajah Zay terlihat memancarkan sebuah kekecewaan ketika membicarakan pekerjaannya.
“Kenapa tuan tidak mengajak ku? Kalau aku ada di sana, mungkin tuan tidak perlu mengotori tangan Anda hanya untuk sampah seperti mereka, lagipula pekerjaan ku hanya mengawasi wanita yang tidak penting. Apa bagusnya wanita itu?”
“Jaga mulut mu!” kesal Zay.
Jo sedikit bingung sekaligus terkejut dengan bosnya itu, padahal sebenarnya tidak ada yang istimewa dari wanita yang di awasinya itu selain memiliki wajah yang cantik.
“Memangnya ada hubungan apa Anda dengannya, tuan?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Ya.”
Karena jadi bingung sendiri akhirnya Jo memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan fokus pada kemudi, hingga akhirnya mereka sampai di depan bangunan perusahaan Girald Group yang megah dan menjulang tinggi ke langit. Sungguh membuat kagum mata saat melihatnya, namun tidak bagi Zay ataupun Jo yang sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam perusahaan untuk menjumpai Justin.
***
“Bagaimana?” tanya Justin dengan nada dingin, dia masih duduk tenang di kursinya sambil menatap Zay dengan wajah tanpa ekspresinya.
“Begini tuan--” Zay mulai menjelaskan detailnya.
Setelah melaporkan hasil kerjanya, Zay keluar dari neraka dingin yang mengerikan itu. Jo saja sudah hampir kehabisan nafas karena tekanan yang ada di dalam ruangan Justin.
“Bos, apa Tuan Justin itu manusia? Bagiamana bisa dia punya tekanan yang mengerikan seperti itu...?”
“Kau hanya tidak benar-benar mengenalnya.”
Diluar sifatnya yang perfeksionis, dia itu punya sifat yang terkadang sangat menjengkelkan.
Jo ingin bertanya maksud ucapan Zay, namun dia mengurungkan niatnya.
“Boss, bagaimana kalau kau menemui wanita itu? Dari pada terus mengintainya lebih baik menjumpainya saja,” kata Jo memberi saran.
“Hmm, memang itu yang ingin kulakukan. Baiklah kalau begitu, kau bisa pergi... dan jangan coba-coba untuk memata-matai ku, kalau tidak kau akan tahu apa akibatnya,” kata Zay dengan nada yang mengintimidasi.
Ah, sungguh sial! Kupikir aku akan bisa melihat sesuatu yang menarik. Sayangnya bos sudah membaca semuanya, cih, menjengkelkan.
"Baiklah-baiklah, memang tak ada yang bisa ku sembunyikan dari penglihatan mu bos. Kalau begitu aku tidak akan menggangu waktu berdua kalian!" Jo berlari sambil tergelak.
"Jangan bicara sembarangan!" teriak Zay yang sedang tersipu malu.
Kurang ajar, sepertinya aku harus mendisiplinkan nya dengan baik saat bertemu lagi nanti. Hmph-! Lebih baik aku segera menemui Isabella, dia pasti sudah menungguku.
Aku ingin lihat bagaimana ekspresinya nanti saat melihatku. Mungkinkah dia akan tersenyum sambil meneteskan air mata? Haha.
Zay mengkhayalkan sambil terkekeh pelan sembari melangkahkan kakinya.
***
“Isabella...” panggil Zai menyapa.
“Sekertaris Zay!”
Wajah Isabella seketika berbinar, akhirnya penderita yang selama ini di alaminya akan segera berakhir. Namun selain merasa senang, diapun merasa sangat marah.
Akhirnya kau menunjukkan batang hidung mu, Zay! Sebagai sekretaris bisa-bisanya kau mengerjai ku seperti ini. Kuharap aku bisa mendengar penjelasan yang masuk akal, huh-!
“Kau ada waktu? Aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Tentu... tentu saya ada waktu.”
Mereka berdua pun beranjak dari tempat itu dan pergi menuju ruang kerja Zay, saat berada di lift mereka hanya berdua saja. Sepertinya tidak ada karyawan lain yang menggunakan lift pada saat itu.
“Emh, Isabella aku--”
-
-
-
-
-
***
Catatan Penulis :
Buat yang nanya, "kok Zay ga tau sih kalau Isabella itu mantan istri bosnya?"
Sebenernya Justin ketemu sama Zay itu 1 tahun setelah perceraiannya dengan Isabella. Dan lagi, informasi yang berkaitan dengan keluarga Oswald, termasuk tentang Isabella itu dilindungi oleh pemerintah untuk alasan yang tidak diketahui.
Semua pertanyaan akan terjawab pada waktunya, jadi ikutin aja alurnya ya, sob!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL (⌐■-■)
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??