NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Laut, Cinta, dan Ragu

Aku terbangun karena suara dengkuran halus, seperti daun terkena angin yang menepuk jendela kamar. Untuk beberapa detik, aku masih melayang di antara mimpi dan kenyataan. Ada lampu-lampu kecil yang masih menyala redup, membuat ruangan ini jadi lebih nyaman. Wangi pengharum ruangan tipis dari resepsi tadi malam dan rasa letih yang aneh, tapi membuat damai.

Aku mengucek mata dan sadar kalau aku nggak sedang di rumah sendiri. Selimut sutra menempel lembut di kulitku. Piyama merah muda yang kupakai terasa halus sekaligus asing. Aku nggak yakin pernah punya piyama setipis ini.

Di meja samping ranjang ada segelas air, obat pereda pegal, dan sebuah handuk kecil yang masih rapi. Dua pasang sepatu yang aku dan Leo gunakan saat resepsi tersusun rapi di samping lemari. Baju pengantin kami pun sudah menggantung berjejer. Semua terlihat diatur, yang tentu bukan oleh tanganku.

Detik selanjutnya jantungku berdebar kencang. Aku nggak ingat membersihkan muka, mengganti piyama, atau menaruh obat. Ingatanku hitam dan gelap sejak pulang dari pelaminan dengan pikiran rusuh, lalu kelelahan mendekapku sampai aku tertidur di sofa, menanti kedatangan Leo

Mataku memandang sofa dan menemukan Leo tidur. Wajahnya nggak tenang, lebih mirip anak yang kelelahan akibat baru berlari di pantai seharian. Bajunya kusut, rambut sedikit acak, tapi napasnya teratur.

Ada sesuatu di dadaku meremang. Ada rasa syukur bercampur malu. Dia sudah melihatku tanpa make-up, tanpa gaun pengantin cantik, bukan pula versi yang selama ini aku tunjukkan untuk saat berangkat kerja. Ini versi yang biasa kusimpan hanya untuk keluarga. Versi yang, dalam benakku, nggak layak dipamerkan.

Leo membuka mata, lalu tersenyum tipis saat mata kami bertemu. “Pagi, Mbak Prita. Udah bangun?” Suaranya serak dan lembut, seperti baru keluar dari mimpi indah.

Aku menatapnya ragu. “Gue … kok, jadi gini?” Suaraku lebih kecil dari yang kubayangkan.

Leo duduk, lalu berdiri. Dia mengambil gelas air dari meja, kemudian menyerahkannya padaku. “Minum dulu. Mbak tidur nyenyak banget. Sampai nggak sadar waktu aku gantiin baju Mbak.” Dia tertawa pelan, tapi matanya tetap hangat.

“Serius lo yang ….” Aku menunjuk pipiku, tapi ragu meneruskan. “Hapus make up?” Cuma ini yang berhasil keluar dari bibirku.

Leo mengangguk santai, seakan kami sudah sering melakukannya. “Iya. Kalau nggak, nanti jerawatan. Lagian, Mbak Prita tetap kelihatan cantik tanpa itu semua.”

Komentar itu membuat wajahku panas. Aku ingin bilang terima kasih, tapi kata-kata tercekat.

Leo melihatku sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. “Aku tidur di sofa. Tadi bangun sebentar, terus nggak sengaja ketiduran." Nada suaranya datar, tapi bukan dingin, justru seolah ingin menenangkan.

Baginya, mungkin ini hal biasa. Bagiku? Sikapnya justru lebih mirip gempa yang meruntuhkan tebing. Dia sudah melihat dan menyentuh sisi yang paling rapuh dariku dan aku belum siap.

Pikiranku semakin berantakan. Aku rasa ... Leo pasti kecewa setelah melihat seluruh tubuhku yang nggak lagi muda.

Dua hari setelah pernikahan, kami menghirup udara Lombok yang lebih segar dari Jakarta. Tante Maya memberikan hadiah spesial berupa bulan madu tiga hari di villa tepi pantai.

Lombok menyambut seperti lukisan hidup. Pasir putih bersih, ombak menempel lembut ke bibir pantai, dan angin yang menyisir rambutku dengan ritme pelan menyenangkan banget. Kami tiba sore hari, waktu yang pas untuk mulai membuat kenangan yang hanya milik kami.

Hari pertama, aku ingin menikmati pemandangan yang jarang aku temui di kota kami. Aku berjalan di bibir pantai sambil memegang tangan Leo, berfoto, dan tertawa. Tapi, saat matahari miring dan Leo menuntunku ke bawah pohon lontar yang teduh, sesuatu melenyapkan kegembiraan kami.

Leo menatapku lama, seperti sedang membaca pikiranku. “Capek?” tanyanya pelan.

“Nggak. Kenapa?”

Leo mendekat. Tubuh kami menempel. Jemarinya menyentuh pinggangku. Matanya turun ke bibirku. Napasnya hangat di pelipisku. “Mau kita …,” bisiknya, terhenti di udara, seolah menungguku mengisi sisanya.

Pikiran dan napasku berantakan. Aku belum pernah membiarkan siapa pun melihatku seutuh dan sedekat ini. Aku takut mengecewakan. Aku takut nggak cukup untuk Leo.

Aku mundur setengah langkah, menatap laut. “Eh, kita belum foto sunset, kan? Sayang kalau kelewat,” kataku sambil memaksakan tawa. Sayangnya, suara tawaku justru terdengar seperti gelas yang jatuh dari meja.

Leo hanya menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis. Dia memegang tanganku, meletakkan kepalanya sebentar di bahuku. “Oke. Sunset dulu.”

Ada ketegangan halus di udara. Leo memberi sinyal jelas tanpa memaksa, sedangkan aku, tanpa sadar, membangun dinding. Walau hari ini menyenangkan, tetap ada yang terkurung di dalam hatiku dan itu menyakitkan.

Hari kedua, kami menjelajah Gili. Airnya sebening kaca dengan langit biru sempurna. Indah banget!

Di perahu, Leo merebahkan kepala di pangkuanku. “Enak banget, kan, di sini?”

Aku mengangguk dengan debaran jantung yang mulai berantakan. “Iya. Kalau bisa, gue mau tiap hari di sini aja.”

Leo tersenyum, menatapku dari bawah. “Kalau tiap hari, nanti Mbak bosen sama aku.”

Aku tertawa kecil, tapi nggak membalas godaannya. Dia tetap menggenggam tanganku, meski aku merasa seperti menyimpannya hanya setengah hati.

Di perjalanan pulang, Leo menaruh tangannya di lututku. “Mbak, aku rasa dari kemarin Mbak terlalu jaga jarak sama aku. Kita nggak harus buru-buru. Aku ngerti kalau Mbak belum siap ngelakuin itu.”

Aku menelan ludah karena sama sekali nggak menyangka dia akan membahas ini secara terbuka. “Leo—”

“Nggak apa-apa,” potong Leo dengan senyum tipis. “Aku nggak mau maksa. Aku mau Mbak Prita nyaman dulu.”

Aku hanya mengangguk, pura-pura menerima. Tapi, di dalam hati, aku merasa campur aduk antara lega, malu, dan takut kehilangan dia di saat yang sama.

Sebenarnya, apa yang harus aku takutkan?

Hari ketiga pagi, aku terbangun karena suara panci. Aku agak panik begitu menyadari Leo nggak ada di sampingku, nggak ada di kamar. Buru-buru aku bangun, lalu keluar kamar sambil mengikat rambut.

"Lo bikin apa?" tanyaku saat melihat Leo sibuk di dapur.

Leo menatapku, lalu menunjuk balkon yang pintunya masih tertutup. "Mbak tungguin di sana aja. Bentar lagi mateng," sahutnya sambil mengedipkan mata kanan.

Aku nggak langsung menuruti perintahnya. Sebentar, aku tetap berdiri bersandar kursi makan dan terus menatap punggungnya. Tangannya gesit memasak sesuatu untuk sarapan kami. Tapi, entah kenapa, dadaku justru ngilu.

Leo membawa nampan berisi jus jeruk segar, roti bakar, telur orak-arik, dan pisang goreng yang masih mengepul. Dia tersenyum saat menaruhnya di meja balkon. “Sarapan ala chef dadakan. Silakan dicoba.”

Aku tersenyum malu. “Nggak capek masak sendiri?”

Leo duduk di kursi seberang. “Buat istri sendiri, kok, capek?” Dia menatapku serius, lalu menambahkan, “Aku pengin Mbak Prita inget, kalau aku di sini bukan cuma buat seneng-seneng. Aku mau kita nyaman sama satu sama lain. Kita manfaatkan waktu buat lebih kenal dan deket.”

"Leo, kenapa lo jadi lebih dewasa dari gue?" tanyaku lepas begitu saja.

"Aku udah jadi suami sekarang. Aku harus dewasa biar bisa memahami dan melindungi istriku, kan?" jawabnya dengan senyum lebar sampai matanya menyipit.

Pagi itu kami bicara banyak hal kecil, dari makanan, musik, sampai masa kecil. Siang harinya, kekakuan yang ada mulai mencair. Kami keluar sebentar untuk membeli oleh-oleh dan sisanya menghabiskan waktu lebih banyak di villa. Waktu terasa terlalu cepat bergerak bagiku.

Malamnya, di beranda villa, Leo mulai bercerita tentang Papi yang mengajarinya merapikan kamera. Lalu, dia bertanya, “Mbak pernah takut nggak … kalau orang nggak lihat kita dari siapa kita sebenarnya?”

Aku terdiam. “Sering, bahkan lebih sering dari yang gue pernah ceritain ke siapa pun.”

Leo menatapku lama. “Aku lihat kamu, Mbak. Dari caramu sayang sama adik-adik, dari cara kamu jagain Ayah. Itu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu, bukan yang lain.”

Hatiku menghangat. “Kenapa gue, Leo?”

“Karena kamu itu Mbak Prita,” jawab Leo singkat. “Dan itu cukup.”

Aku menarik napas panjang, merasa mungkin aku bisa, mungkin aku layak untuk Leo. Dia tulus menerima aku apa adanya dengan semua luka dan kekuranganku. Aku nggak perlu takut apa-apa.

"Leo," panggilku sambil menatap matanya.

"Ya?"

"Gue—Aku mau kita lakuin itu malam ini."

Mata Leo membelalak, seakan baru saja mendengar kabar bahwa dirinya bebas dari penjajah. "Mbak nggak usah terpaksa. Aku bisa sabar nunggu, kok."

Aku menggeleng. "Nggak seharusnya aku nunda melayani suamiku, padahal kamu udah melakukan semuanya buat aku."

"Mbak Prita yakin?" tanyanya memastikan.

Aku berdiri, lalu menariknya masuk ke villa. Setelah menutup pintu beranda, aku mengalungkan tangan di leher Leo. Mata kami saling bertatapan, dalam dan penuh cinta.

"Aku sayang kamu, Leo," ucapku sebelum mencium bibirnya.

Ciuman ini memang bukan yang pertama untukku. Tapi, rasanya manis dan lembut, seakan aku sedang makan es krim dengan kualitas premium. Kakiku berjinjit, tapi Leo justru mendekap pinggangku erat.

Aku melepaskan diri lebih dulu. Dahi kami menempel dengan napas yang sama-sama nggak beraturan. "Aku ke kamar mandi dulu. Kita lanjut di kamar aja, ya," pintaku.

Leo nggak menolak. Kami bergandengan masuk kamar dan berpisah di depan pintu kamar mandi.

Aku pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri. Jantungku sudah kacau banget, tapi rasanya menyenangkan. Aku berdiri di depan cermin dan merapikan rambut serta riasan. Ini yang pertama untukku. Aku harus terlihat cantik di depan suamiku.

Tapi, saat membuka celana untuk buang air kecil, aku justru menemukan bercak merah di celana dalam. Haid yang terlalu cepat datang.

Saat kembali ke kamar, Leo memandangku. Dia sudah duduk di tepi ranjang dan terlihat agak gelisah. “Kenapa?” Sepertinya, dia menyadari ekspresiku yang sedih.

Aku tersenyum getir. “Maaf, rencana kita harus mundur seminggu.” Aku narik-narik ujung kaus. "Aku ... haid."

Leo tertawa kecil, lalu menarikku duduk di pangkuannya. “Santai aja. Kita punya banyak waktu. Kita masih akan terus bareng sampai punya anak dan cucu.”

Aku memeluknya, menangis tanpa suara. “Makasih banyak, Leo,” bisikku.

Leo mengecup pelipis. “Aku di sini dan nggak akan pernah pergi, Mbak."

Malam itu kami tidur berpelukan, bukan karena hasrat, tapi karena kehangatan.

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!