NovelToon NovelToon
Sang Penakluk Playboy

Sang Penakluk Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Syifa Sifana

Info novel ada di ig syifa_sifana

Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan

Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.

Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.

Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.

Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Mera

Marisa menatap wajah Velly dengan tajam seakan ingin segera melahapnya dengan penuh kemurkaan. Velly sadar dan menundukkan kepalanya.

“Kenapa kamu bisa mempunyai pikiran seperti itu?” tanya Marisa terdengar serius. Velly masih diam tanpa berani untuk bersuara. Ia sadar dia bersalah.

“Mama kecewa sama kamu. Karena sikapmu Mama jadi harus bertengkar dengan Papa. Oma-pun ikut membenci kita.” Marisa bangkit dan wajahnya telihat suram.

“Ma, maafkan aku. Aku tau aku salah, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Aku minta maaf, Ma,” ucap Velly memegang kaki Marisa seraya memohon dengan air mata yang sudah jatuh berderai di pipinya.

Marisa menghirup dalam nafasnya dan perlahan melepaskannya seiring dengan emosi yang berusaha ia redamkan.

“Baiklah. Kali ini Mama maafin kamu, tapi jika kamu melakukan kesalahan yang sama, jangan harap Mama memaafkanmu!” tegasnya.

“Baik, Ma.” Velly tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

...****************...

Ting ... Tong ...

Mera sudah tau suara bel itu berasal dari Raka. Ia langsung membukakan pintu untuknya.

Krek ...

“Papa,” kata-kata yang seharusnya merasa jijik harus juga diucapkannya demi sebuah misi.

Kedua mata Raka membelalak saat mendengar kata-kata yang tak pernah terdengar sebelumnya. “Kamu panggil apa tadi?”

“Papa.” Raka terharu dan memeluk tubuh Mera dengan penuh kehangatan dan kerinduan.

“Ternyata seperti ini rasanya dipeluk oleh papa sendiri. Tapi ... tidak. Mera, kamu tidak boleh terlena dengan semua ini. Ingat! Tujuan pertamamu itu untuk merebut apa yang dimiliki Velly bukan memaafkan apa yang telah dilakukan orang ini pada mommy.”

“Papa, lepasin aku! Aku sesak,” keluh Mera memberi sebuah alasan.

“Maafkan Papa, Nak. Papa terlalu terbawa perasaaan,” ujar Raka segera melepaskan pelukannya. Seutas senyuman di bibir Mera tidak menutupi memar di wajahnya. Tangan Raka langsung terarahkan untuk menyentuh pipinya.

“Aww ...”

“Masih sakit ya?” sebuah anggukan kepala dari Mera senada dengan wajah melas penuh kasih sayang.

“Kita ke rumah sakit ya.”

“Gak usah, Pa. Nanti memarnya juga hilang sendirinya,” tolaknya lembut.

“Kamu yakin?” Mera menganggukkan kepala.

“Papa, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Seharusnya Papa mengkhawatirkan mommy. Mommy syok banget dengan kejadian tadi. Apalagi kata-kata wanita ******, pasti sangat menyakitkan hatinya.”

Raut wajah Raka langsung berubah. “Maafkan Papa ya. Seharusnya Papa bisa melindungi kalian,” lirih Raka penuh dosa.

“Iya gak apa-apa kok. Sebaiknya sekarang Papa langsung ke kamar mommy aja,” desaknya secara halus. Raka tersenyum dan beranjak pergi. Senyuman kelicikan terlihat dari bibir Mera.

“Selangkah lagi rencanaku akan berhasil. Velly, lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu. Kamu harus menerima semua ganjarannya dengan setimpal.”

...****************...

Raka mengumpulkan keberanian dan mulai mengetuk pintu secara perlahan.

Tok ... Tok ...

Lamunan Melisa seketika membuyar. Ia segera menghapus air matanya dan juga menata wajahnya agar anak-anaknya tidak mengetahui seberapa rapuh dirinya saat ini.

“Masuk!”

Krek ... Perlahan Raka membuka pintu dan masuk ke dalam. Kedua mata Melisa membulat sempurna saat melihat lelaki yang ada dalam bayangannya kini terlihat nyata di depan matanya.

Raka menutup pintu dan perlahan berjalan menghampirinya. “Hummy menangis?” tanyanya lembut saat melihat mata sembab Melisa.

“Kenapa kamu datang ke kamarku? Siapa yang mengizinkan kamu datang kesini?” Melisa balik bertanya dengan rasa penasaran.

“Mera yang memintaku datang menemuimu. Dia sangat mengkhawatirkanmu,” jawab Raka jujur.

“Mera?” Melisa sontak kaget saat mendengar pengakuan dari Raka. Jujur saja, ini bukanlah Mera yang ia kenal. Dalam sekejap hatinya langsung berubah drastis, sungguh sangat luar biasa.

“Hummy, maafkan aku,” seketika Raka memeluk tubuh Melisa.

Melisa ingin meronta, tapi tangannya terasa kelu dan perlahan membalas pelukan Raka dengan air mata yang sudah tak mampu ia bendung lagi. Sejujurnya hati Melisa saat ini sangatlah rapuh. Ia butuh sosok pria sebagai sandarannya, dan saat ini Raka adalah orang yang tepat, apalagi dia adalah tempat sandaran yang sudah sangat dirindukannya sejak dulu.

Baju rasa sudah terbasahi dengan air mata Melisa. Ia dapat merasakannya. Hatinya pun ikut menangis dan mengutuki dirinya sendiri. Betapa gagalnya ia menjadi seorang lelaki, bahkan ia tidak mampu melindungi Melisa, wanita yang amat ia cintai dari sejak dulu.

“Kenapa semua ini bisa terjadi?” Kalimat dari hati yang rapuh kini terlontarkan juga dari mulut Melisa sejak 20 tahun terbungkam.

Hati Raka kembali perih, ia hanya bisa menelan duka. Semua kesedihan Melisa karena ulahnya, janji ingin membahagiakan Melisa malah kepahitan yang tertuang.

“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain kata maaf. Semua in terjadi karena aku. Aku yang telah membuatmu kecewa, maafkan aku!” lirih Raka menahan tangisnya.

“Hiks ... Hiks ... Aku sudah tidak kuat menahan semua ini. Ini sangat menyakitkan bagiku,” keluhnya mempererat pelukannya.

“Aku akan mengakhiri semua ini. Aku akan menceraikan Marisa dan kita hidup dengan damai tanpa ada orang ketiga yang selalu menghantuimu,” ujar Raka spontan membuat Melisa terkejut, lalu melepaskan pelukannya.

“Gak, aku tidak setuju.”

“Kenapa? Aku sama sekali tidak mencintai dia. Aku hanya mencintai dirimu.”

“Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru. Sebaiknya kita saja yang bercerai.”

Seperti tersambar petir, Raka kembali dikejutkan dengan ucapan Melisa. “Gak, kamu jangan berpikiran hal yang aneh-aneh.”

“Aku hanya tidak ingin menambah kekacauan lagi. Aku dan anak-anakku sudah terbiasa hidup tanpa kamu. Tapi Marisa dan Velly tidak bisa hidup tanpa kamu. Sebaiknya kamu lepaskan aku dan biarkan kami pergi dari hidupmu,” pinta Melisa memohon.

Raka memegang kedua pipi Melisa. “Dengarkan aku! Sampai kapanpun aku tetap tidak akan menceraikanmu. Jadi jangan pernah kamu berpikir seperti itu lagi!”

“Sudahlah. Aku tidak ingin lagi hidup denganmu. Aku sudah cukup tersakiti dan biarkan aku lepas darimu,” kata Melisa menepis tangan Raka.

“Aku tau aku salah. Dan aku tau aku telah lama menyakitimu. Tapi izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku padamu. Izinkan aku kembali menerima cinta darimu,” ujar Raka melas.

Melisa tergeming. Ia mulai bingung, haruskah ia menuruti perasaannya atau logikanya. Perasaan mengatakan ia masih sangat mencintai Raka meskipun seberapa banyak kesalahan yang telah dilakukan Raka padanya. Tapi jika ia menuruti logikanya, kebencian sudah memenuhi hasratnya dan perpisahan menjadi jalan terakhir untuk pergi darinya.

“Gak, aku tidak bisa menuruti perasaanku. Aku tidak ingin menyakiti orang lain. Biarkan semua ini aku yang menanggungnya meskipun aku sendiri tidak tau apakah aku akan kuat atau aku akan kembali terluka untuk kesekian kalinya.”

“Maaf, tapi kali ini kita akan berpisah. Aku sudah lelah dengan semua ini. Sebaiknya kamu tunggu saja surat gugatan cerai dari aku,” tegasnya.

Raka terdiam seperti patung. “Sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah untuk kamu bertemu denganku lagi!” sambung Melisa kembali.

Raka langsung bersimpuh di depan Melisa. “Maafkan aku! Tolong beri aku kesempatan sekali lagi,” pintanya terlihat cairan bening yang sudah siap jatuh ke pipi.

“Aku gak bisa, sekarang kamu pergi!”

Raka bangkit dan menghapus kasar air matanya. “Ok, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan pergi. Sekalian kamu tidak akan pernah melihat aku lagi di dunia ini.” Raka mengakhiri ucapannya, kemudian beranjak pergi.

1
Momed Wullur Dzaky
oq
Egik
Lumayan
Nispu Wati
Thor jadi kiano sama Amel,atau kiara
Itu bersaudara.
Tarwiyah Nasa
Fans Rico Mera hadirrr
YuWie
baju muslimah gaul itu yang seperti apa jal 🤔
buk e irul
padahal kangen banget ma kiano 😍😍😍
buk e irul
sehat sehat terus ya cah ayu Syifa 😘
buk e irul
kenapa yang bagus bagus pindah ke sana hiks hiks hiks
abc
kalo kisah ini menimpa another kayanya seru
Anonim
sangat menarik
Ridha Tamara
siska bilang kesalahan kecil ??? hello... yg sepemikiran dengan siska...masih waras ???😁
"honey and bee" panggilan itu mengigatkanku pada seseorang, seseorang yg tidak pernah mungkin kumiliki, seseorang yg kumiliki dengan wktu yg singkat, dan juga yg paling menoreh luka paling dalam.
"honey and bee" adalah panggilan paling terkesan in my life.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')
aku cuma syg marisa, disini dia korban keegoisan, peluk online marisaaa
jujur, disini marisa hanyalah korban, dan aku kasihan!
Tri Haryani
ini mah besty
mamah cantikk
rico sm mera aja thor
mamah cantikk
hohoho jalang teriak jalang
mamah cantikk
kpn ketauannya sih udh g sabar lg nih
mamah cantikk
apa kabar tmn² kampus 2K ya koq ngilang gtu ja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!