Jesslyn tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis dalam satu malam. Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, ia dipaksa menikahi Neo, pewaris kaya raya yang kini terbaring tak berdaya dalam kondisi koma. Pernikahan itu bukanlah perayaan cinta, melainkan sebuah kontrak dingin yang hanya menguntungkan pihak keluarga Neo.
Di sebuah rumah mewah yang sunyi, Jesslyn tinggal bersama Neo. Tanpa alat medis modern, hanya ada dirinya yang merawat tubuh kaku pria itu. Setiap hari, ia berbicara kepada Neo yang tak pernah menjawab, berharap suara dan sentuhannya mampu membangunkan jiwa yang terpenjara di dalam tubuh itu. Lambat laun, ia mulai memahami sosok Neo melalui buku harian dan kenangan yang tertinggal di rumah itu.
Namun, misteri menyelimuti alasan Neo koma. Kecelakaan itu bukan kebetulan, dan Jesslyn mulai menemukan fakta yang menakutkan tentang keluarga yang telah mengikat hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Menikmatinya Bukan?
"Nyonya Hou, ini ada kiriman bunga dan coklat untuk Anda," ujar Merry sambil membawa dua buket bunga mawar besar yang harum semerbak, dan sekotak coklat Belgia.
Jesslyn mendongak dari sofa tempatnya duduk, lalu mengerutkan dahi. "Kiriman lagi? Dari siapa?"
Merry tersenyum kecil sambil menaruh buket itu di atas meja, berdampingan dengan beberapa kotak cokelat yang sudah menumpuk. "Dari Tuan Hou, Nyonya. Sepertinya dia benar-benar berusaha keras hari ini."
Jesslyn menghela napas panjang, "Dia benar-benar tidak punya kerjaan lain, ya?"
Merry terkikik. "Mungkin Tuan, ingin membuat Anda senang, Nyonya."
Jesslyn memutar bola matanya, lalu dia memandang bunga-bunga itu lebih lama. "Dia benar-benar tidak tau kapan harus berhenti. Bunga-bunga ini indah sekali..."
"Dan cokelatnya juga terlihat enak," tambah Merry sambil melirik kotak-kotak cokelat mahal itu. "Apa Anda mau mencicipinya sekarang?"
Jesslyn menggeleng. "Tidak. Simpan dulu di kamar. Aku akan mencobanya nanti, ambil satu untukmu, aku ingin kau mencicipinya juga,"
Merry mengangguk, lalu mengambil kotak-kotak cokelat itu dan membawanya ke kamar Jesslyn. Saat dia pergi, Jesslyn mengambil salah satu buket bunga itu dan menghirup aromanya perlahan. Senyum tipis muncul di wajahnya, meskipun dia mencoba menahannya.
Di saat yang sama, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Jesslyn membuka layar dan membaca pesan dari Neo.
"Kau suka bunga dan cokelatnya? Aku bisa mengirimkan lebih banyak kalau kau mau."
Jesslyn menggeleng sambil terkekeh pelan, lalu membalas singkat.
"Tidak perlu membuang-buang uangmu untuk hal semacam itu. Tapi... terima kasih."
Balasannya langsung dibaca, dan tak lama Neo mengirim pesan lagi:
"Aku tahu kau tersenyum sekarang. Jangan menyangkalnya."
Jesslyn menghela napas panjang. "Cih, kau terlalu percaya diri, Tuan Hou. Berhenti menjadi pria menyebalkan," gumamnya pelan, lalu meletakkan ponsel di atas meja.
"Tuan, ini laporan keuangan yang perlu Anda tandatangani," ujar Frans sambil meletakkan map di meja kerja Neo.
Neo mendongak dari ponselnya. "Letakkan di sini. Aku akan memeriksanya nanti."
Frans mengangguk, tatapannya tak lepas dari Neo. "Tuan, kalau boleh jujur, Anda terlihat berbeda belakangan ini."
Neo mendongak dengan alis terangkat. "Berbeda bagaimana, Frans? Apakah aku terlihat kurang berwibawa sekarang?" tanyanya sambil menyeringai.
Frans terkekeh pelan. "Bukan, Tuan. Anda terlihat lebih santai. Lebih sering tersenyum, dan lebih sering memandangi ponsel Anda."
Neo menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memutar ponsel di tangannya. "Apakah itu masalah?"
Frans menggeleng cepat. "Tentu saja tidak, Tuan. Hanya saja, terlalu aneh melihat Anda seperti ini. Sejak kehadiran Nyonya Jesslyn, Anda banyak berubah. Bahkan suasana kantor jadi lebih tenang."
Neo tersenyum tipis. "Jesslyn, memang punya pengaruh yang besar padaku. Dia seperti badai yang menghantam kehidupanku. Tapi anehnya, aku menyukainya."
Frans tertegun mendengar pengakuan itu. "Anda benar-benar menyukainya, Tuan?"
Neo tertawa kecil. "Apakah itu terlihat aneh?"
"Tidak, Tuan. Malah sepertinya itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada Anda," jawab Frans tulus.
Neo kembali menatap ponselnya, membaca ulang pesan dari Jesslyn. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Dia keras kepala, sulit diatur, dan sering membuatku kesal. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa jauh darinya. Dia seperti membawa candu."
Frans tertawa pelan. "Sepertinya Anda benar-benar jatuh cinta, Tuan."
Neo menggeleng sambil terkekeh. "Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Frans. Aku hanya menikmati kebersamaan kami. Cinta itu rumit."
Frans menatap bosnya dengan pandangan penuh hormat. "Kalau saya boleh berpendapat, Tuan, Nyonya Jesslyn mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa mengimbangi Anda. Dan itu membuat Anda menjadi versi terbaik dari diri Anda."
Neo tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Frans. "Mungkin kau benar, Frans. Tapi aku tidak akan membiarkannya tahu betapa berharganya dia untukku. Dia pasti akan menggunakan itu untuk melawaku."
Frans tertawa kecil. "Sepertinya hubungan Anda memang unik, Tuan. Tapi saya yakin, Nyonya Jesslyn juga merasakan hal yang sama."
Neo tersenyum tipis, lalu berdiri dari kursinya. "Cukup bicara soal itu. Sekarang, pastikan semua persiapan untuk acara bulan depan berjalan lancar. Aku tidak mau ada kesalahan."
"Tentu, Tuan. Akan saya pastikan semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Frans sambil membungkuk sedikit, lalu keluar dari ruangan.
Setelah Frans pergi, Neo kembali duduk dan memandangi ponselnya. Jemarinya mengetik pesan singkat
"Nyonya Hou, jangan menikmati cokelat itu sendirian. Aku ingin mencicipinya bersamamu nanti malam."
Neo tersenyum puas setelah mengirimkan pesan itu, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
----
"Aku pulang," suara Neo menggema begitu ketika masuk ke kamar utama.
Jesslyn tak merespon dan hanya melirik sekilas. "Kau pulang lebih cepat. Kenapa? Sakit perut lagi?" sindirnya sambil membuka bungkus coklatnya.
Neo mendekat dengan senyum lebar. "Tidak, hanya tidak sabar melihat istriku yang cantik," ucapnya santai sambil duduk di sampingnya.
Jesslyn mendengus. "Hentikan omong kosongmu. Aku tahu kau hanya ingin mengganggu ketenanganku."
Neo menatap coklat di tangan Jesslyn, lalu menyeringai. "Itu coklat dariku, bukan? Sudah kau cicipi?"
Jesslyn mengangkat bahu. "Mungkin. Tapi aku lebih suka memakannya sendiri tanpa gangguan."
Neo menyeringai. "Hum, jangan egois begitu, Nyonya Hou. Coklat itu harus dibagi."
Jesslyn memutar matanya. "Kau bisa membeli satu ton coklat untuk dirimu sendiri. Jadi, kenapa harus berbagi denganku?"
Neo mendekatkan wajahnya, membuat Jesslyn sedikit mundur. "Karena aku suka berbagi hal-hal manis denganmu. Biarkan aku mencicipinya juga."
Jesslyn menatapnya curiga. "Aku tidak percaya. Kau pasti ada maksud lain."
Neo tersenyum, tanpa peringatan dia meraih wajah Jesslyn dan mendekatkan bibirnya. Sebelum Jesslyn sempat protes, Neo sudah mencium bibirnya dengan lembut.
Jesslyn membelalak, tetapi tubuhnya tidak bergerak untuk menolak, malah sebaliknya. Coklat di mulutnya perlahan berpindah melalui ciuman itu. Neo melepaskan ciumannya dengan senyum penuh kemenangan. "Manis sekali, ternyata coklat berpadu dengan bibirmu rasanya bisa begitu luar biasa."
Jesslyn menatapnya dengan wajah merah. "Kau... Kau itu keterlaluan!"
Neo terkekeh sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Tapi kau tidak menolak, bukan? Jadi, siapa yang sebenarnya menikmati?" dia menyeringai , menatap Jesslyn penuh kemenangan.
Jesslyn menghela napas panjang, mencoba mengontrol detak jantungnya yang berdebar kencang. "Kau benar-benar menyebalkan, aku membencimu."
Neo menatapnya dengan tatapan penuh godaan. "Dan kau tetap cantik meskipun kesal. Itu sebabnya aku tidak pernah bosan menggodamu, karena aku selalu menikmati wajah kesalmu."
Jesslyn menutup wajahnya dengan bantal, berharap rasa panas di pipinya segera hilang, meskipun dia tau itu sia-sia saja. "Aku menyerah. Kau memang pria paling menyebalkan di dunia."
Neo tertawa kecil. "Tapi aku pria menyebalkan yang kau nikahi. Ingat itu, Nyonya Hou."
"Terserah...."
---
Bersambung
jdi GX lama2 baca nya
suka Thor ceritanya buat lgi ya 🙂