Reysha, gadis SMA yang menyelinap ke sekolah lain dengan menyamar sebagai instruktur cheerleader karena kecintaanya pada cheerleader. Disana dia justru bertemu Lukar, cowok yang pernah mempermainkannya lewat sebuah taruhan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merdeka dan Bebas
Saat ini,
Sabtu
Pukul 11.01 WIB
Ruang UKS SMA 27
Jember
Mata Reysha terbuka perlahan. Masih dengan seragam coklat pramukanya dia terbaring lemah di ranjang UKS. Emil dengan wajah cemas menemaninya di sisi ranjang.
"Rey," panggil Emil pelan sambil memegang tangan Reysha. Bibir Reysha tersenyum lemah. Tapi kelihatan kalau dia tidak apa-apa dari cara tersenyumnya. Dia merasa geli melihat dua orang melihatnya dengan wajah bodoh karena cemas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya suara cowok. Reysha melihat Diko juga sedang ada di sini.
"Ya."
"Ih, apa-apaan itu barusan. Bikin khawatir aja." Emil merajuk. Reysha tersenyum lagi. Karena jujur Emil sangat panik melihat Reysha jatuh pingsan di dalam kelas. Selama ini dia tidak pernah mengalami hal semacam ini. Reysha itu selalu kuat. Walaupun dengan jadwal kerjanya yang padat sudah mirip wanita karir.
"Cari duit aja terus. Biar tiap hari pingsan." Reysha tahu Emil cuma menggerutu karena cemas.
"Kamu ingin makan sesuatu? Aku akan belikan," kata Emil.
"Belikan dia roti dan susu coklat saja. Itu kesukaannya," kata Diko. Reysha tidak menolak. Ini lebih mengarah ke perintah. Iya, memang itu kesukaan Reysha saat badan lagi terasa lemah. Diko membuka dompetnya.
"Aku punya duit buat beli kok. Gak usah pake uangmu." Emil tahu Diko bakal kasih uang untuk beli makanan. Karena yang lagi sakit adalah mantannya yang masih di kepoin.
"Aku pergi dulu ya." Lalu Emil pergi keluar meninggalkan mereka berdua. Diko duduk di kursi tempat Emil tadi. Tapi sebelumnya Diko menggeser kursinya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan Reysha. Karena Diko tahu gadis itu tidak suka.
"Kamu pingsan mungkin karena kelelahan terlalu banyak kegiatan." Diko membuka obrolan. Tangannya bersidekap. Menjaga diri dari rasa ingin mengusap rambut dia yang terlihat masih pucat.
"Sepertinya..iya." Bibir gadis itu tersenyum mengejek dirinya sendiri karena akhirnya kalah juga sama yang namanya lelah.
Diko tertegun. Reysha menjawab dengan nada yang lebih santai dari biasanya. Apa karena dia lagi tidak fit atau memang sudah capek bernada kesal bila menjawab obrolan dengan Diko. Sudah lama mereka enggak bisa ngobrol dengan wajar. Seperti mendapat angin untuk membahas sesuatu.
"Aku baru tahu kalau kamu punya kegiatan cheer di luar sekolah," Diko mulai membahas soal itu. Reysha tidak terlalu terkejut. Mungkin Diko tahu dari Lukar. Dan itu sangat mungkin.
"Sudah lama?"
"Ya." Diko manggut-manggut. Dia seperti mulai bisa mengurai benang yang kusut. Yang selama ini jadi pertanyaan.
"Kamu berhenti dari tim cheerleader karena Fista?" Karena Reysha diam, Diko tahu kalau itu pasti benar. Diko mengambil nafas panjang. Ada hal yang sangat ingin di bahas. Diko berpikir sejenak. Apa ini waktu yang pas atau tidak?
"Soal..foto itu?" tanya Diko takut dan ragu. Bukan karena takut Reysha marah atau tidak menjawabnya. Tapi takut kalau perkiraannya benar. Diko mulai memberi pertanyaan yang seharusnya di masa dulu sudah dia tanyakan. Resyha diam. Kenapa perlu di tanyakan sekarang. Itu sudah basi.
"Maksudmu, soal aku dan Rangga?" tanya Reysha tanpa ada sorot dendam, marah ataupun sedih. Nada suara dan sorot matanya tenang. Malah lega. Dan perasaan Diko semakin campur aduk saat Reysha tersenyum damai.
"Kenapa tanya sekarang? Itu sudah selesai." Sebenarnya Reysha juga heran kenapa dia bisa menjawab dengan tenang pertanyaan itu. Padahal selama ini Reysha juga memendam pembelaan diri soalnya yang di anggap pengkhianat oleh Diko.
Reysha merasa marah tidak pernah di beri kesempatan menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi antara mereka berdua. Justru saat ini kesempatannya. Saat Diko mulai mempertanyakannya. Tapi Reysha merasa malas dan tidak perlu menjelaskan.
.
.
.
.
.
.
Sekitar 6 bulan yang lalu..
Pukul 22.30 wib
GOR PKPSO JEMBER
Penutupan acara 'Basketball and cheerleading competition'
Lagu-lagu hip-hop dan R&B menggema di seluruh gedung. Semua orang turun dari bangku penonton dan berkumpul di lapangan basket yang berada di tengah-tengah gedung. Bergerak dan bergoyang mengikuti irama. Apalagi band penutup acara adalah 'PEPPERMINT' dan 'NINETY NINE' Band kota Jember yang sangat di kenal kalangan anak muda.
Hh...berulang kali Reysha menghela nafas. Memegang leher belakang yang terasa sakit seakan mendadak terkena migrain. Membuang muka berkali-kali tanpa tujuan.
Kacau. Ingat apa yang di katakan Diko.
Emil dan Fista sudah turun ke bawah sejak tadi. Reysha enggan turun dan bergabung dengan yang lain. Tubuhnya masih terduduk di bangku penonton yang berada di lantai tengah. Dari atas sini dia bisa melihat cowok itu mulai berbaur dengan yang lain di bawah.
Dia merasa terguncang dengan pembicaraan dengan Diko tadi.
"Aku bebaskan kamu dari hal yang mungkin selama ini menghambat kegiatanmu, yaitu aku. Kamu merdeka. Kamu bebas melakukan apa saja yang menurutmu benar."
Bebas? Merdeka? Aku terbebas dari apa dan merdeka dari siapa? Soal apa ini...
"Sebentar, ini soal apa?" tanya Reysha bingung. Diko membahas suatu hal yang masih belum jelas akarnya.
"Kamu."
"Ya. Tapi ada apa dengan aku?"
"Aku mengerti kamu sangat aktif di tim cheerleader. Dan itu membuat mu mempunyai banyak teman. Tapi aku tidak menyangka kalau akhirnya menjadi seperti itu." kata Diko dengan wajah tenang tapi sedih. Reysha memutar otaknya. Mencari sendiri arti dari kalimat Diko.
"Ini soal dia." tunjuk Diko ke seorang cowok yang memakai jumper hitam di lantai bawah. Cowok yang barusan ngobrol dengannya. Tentu saja Reysha sangat kenal dengan dia.
Rangga, teman SMP dan juga anak break dance. Mereka bertemu lagi di SMA 21. Karena Reysha adalah instruktur cheer di sana. Kadang anak cheer juga latihan bareng dengan mereka. Dia bisa menyimpan rahasia soal Reysha yang masih SMA tapi jadi instruktur cheer disana. Itu membuat Reysha akrab. Tapi hanya itu. Diko juga tahu soal Rangga yang jadi teman SMPnya dan Fista.
Kenapa jadi menunjuk dia. Ini janggal. Mungkin karena Diko belum tahu aku jadi instruktur cheer di sana. ( Reysha )
"Dia anak break dance. Dan..." penjelasan Reysha terhenti karena Diko melanjutkan kata-katanya tanpa mau mendengarkannya.
"Kamu bilang ada keperluan dengannya yang ada hubungannya dengan cheerleader. Maka aku selalu berpikir tenang saat dengar kamu ada kegiatan dengan dia. Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata tidak seperti apa yang aku pikirkan."
Reysha merasa kacau. Bingung. Merasa sakit tapi enggak paham pemasalahan apa yang sedang di hadapi. Diko marah. Hanya itu yang sekarang bisa di mengertinya saat ini. Dia enggak mau membayangkan apa yang akan di hadapinya ke depannya lagi. Reysha merasa kesal. Ada yang salah. Tapi Diko tidak mau mendengarkan.
"Kamu belum memahami sepenuhnya. Jadi.."
"Fista sudah memberitahu semua. Bukan aku yang perlu paham, tetapi kamu. Tapi semuanya percuma, kamu tidak perlu memahami. Yang kamu perlu lakukan adalah menerima semua ini. Karena sudah membuat semuanya menjadi hal yang tidak menyenangkan. Itu kalau kamu mau melakukannya. Tidak masalah kalau kamu juga tidak mau melakukannya. Aku juga tidak berharap soal itu. Aku tidak peduli." kata-kata Diko semakin dingin.
Lagi-lagi dia memotong kalimat Reysha. Seonggok hati merasa sakit dan terluka. Reysha menatap cowok yang ada di depannya agak lama.
Apa yang kamu pikirkan tentangku. Mungkin kamu cemburu. Tapi apa yang sudah kulakukan hingga membuatmu sangat marah karena cemburu. ( Reysha )
"Hal apa yang sekarang ada di dalam pikiranmu?" nada bicara Reysha juga mulai dingin. Bibirnya gemetar saat mengatakannya.
gamu thor pokoknya reysa hrs sm lukar
sedih smpe trauma liat judul ni gmw baca gy uda kadung baper😩