Kenzo William Aleksander, pewaris kerajaan bisnis terbesar di New York, berusia 33 tahun, terjebak dalam tekanan keluarga untuk menikah. Namun, hatinya masih terikat pada Aurora Ava Addison, model cantik berusia 22 tahun yang menghilang tanpa jejak.
Kegagalan melamar Aurora membuat Kenzo frustrasi. Ibu Kenzo, Olivia Michelle, memaksa Kenzo untuk mengikuti kencan buta. Sementara itu, Kenzo tetap mencari Aurora.
Di tengah kebimbangan, Kenzo bertemu Aura, seorang mahasiswi muda yang membutuhkan bantuan finansial. Kenzo mengusulkan kontrak: Aura menjadi istri kontraknya untuk memuaskan keluarganya.
Tapi, apakah Kenzo bisa melupakan Aurora? Apakah Aura bisa memenangkan hati Kenzo? Dan apa yang terjadi ketika masa lalu Kenzo dan rahasia keluarga Aleksander terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora di langit senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31
Kenzo membuka kontak di ponselnya dan menekan nama Aurora. Telepon itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Kenzo," suara Aurora terdengar lembut namun penuh kepalsuan. "Aku tahu kau akan meneleponku."
Kenzo menghela napas panjang. "Aurora, kita harus bicara. Ini harus berakhir."
Aurora tertawa kecil. "Berakhir? Kenzo, kau tahu tidak semudah itu. Kau pikir aku akan pergi begitu saja setelah semua yang kita miliki?"
"Semua yang kita miliki sudah lama berakhir," balas Kenzo tegas. "Aku sudah menikah sekarang, dan aku tidak akan membiarkanmu merusak hidupku lagi."
Namun, Aurora hanya tersenyum di seberang telepon. "Kita lihat saja, Kenzo. Aku tidak akan pergi tanpa perlawanan. Aku akan membuatmu menyadari bahwa kau masih membutuhkan aku."
Sambungan telepon terputus, meninggalkan Kenzo dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Aurora bukan orang yang mudah menyerah, dan ini hanya awal dari permainan barunya.
Keesokan harinya
Aura sedang menikmati sarapan pagi di taman kecil mansion itu ketika seorang pelayan datang membawa amplop berwarna emas. "Nyonya Aura, ini ada surat untuk Anda."
Aura mengerutkan kening, lalu menerima amplop itu. Ia membukanya dengan hati-hati dan membaca isi suratnya:
"Aura sayang,
Aku tahu kau mungkin berpikir telah memenangkan hati Kenzo. Tetapi jangan terlalu percaya diri. Kenzo adalah milikku, dan aku akan membuktikan bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintaimu.
— Aurora"
Aura tertegun. Tangannya bergetar saat membaca surat itu. Kemarahan dan ketakutan bergejolak di hatinya. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi mencari Kenzo.
Ketika ia menemukan Kenzo di ruang kerja, ia langsung melemparkan surat itu ke meja. "Kenzo, apa maksud semua ini?!" suaranya bergetar, menahan emosi.
Kenzo membaca surat itu dengan cepat, lalu wajahnya mengeras. "Dia sudah terlalu jauh."
"Kenzo, aku tidak tahu apakah aku bisa terus bertahan dengan semua ini," kata Aura, air matanya mulai mengalir. "Aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang Aurora!"
Kenzo berdiri dan mendekati Aura, memegang kedua bahunya. "Aura, dengarkan aku. Aku akan menyelesaikan ini. Aku janji. Tapi aku butuh kau untuk percaya padaku."
Aura menggeleng, masih diliputi keraguan. "Kenzo, aku ingin percaya, tapi... aku tidak tahu apakah aku bisa. Semua ini terlalu berat."
Kenzo menarik Aura ke dalam pelukannya. "Aku mengerti ini sulit untukmu. Tapi aku tidak akan membiarkan dia merusak kita. Aku akan memastikan dia pergi dari hidup kita, untuk selamanya."
Namun, di luar sana, Aurora sudah menyiapkan langkah berikutnya. Ia memiliki rencana yang lebih besar, sesuatu yang akan mengguncang hubungan Kenzo dan Aura. Dan kali ini, ia memastikan permainannya tidak akan mudah ditebak.
Beberapa hari kemudian
Aura berusaha keras menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kenzo akan menepati janjinya. Namun, surat dari Aurora itu terus menghantui pikirannya.
Sore itu, Aura memutuskan untuk pergi ke taman belakang mansion, tempat ia biasanya menemukan ketenangan. Ia membawa buku dan duduk di bawah pohon rindang, berharap pikirannya dapat sedikit tenang. Namun, kedamaian itu terusik saat seorang pengawal datang tergesa-gesa.
"Nyonya Aura, maaf mengganggu. Ada seorang wanita bernama Aurora di gerbang depan. Dia meminta bertemu dengan Anda," lapor pengawal tersebut.
Aura terkejut. "Aurora? Untuk apa dia datang ke sini?" tanyanya dengan nada bingung.
"Dia bilang ini tentang hal penting yang harus Anda dengar langsung darinya," jawab pengawal itu dengan cemas.
Aura mempertimbangkan sejenak. Bagian dari dirinya ingin menghindari Aurora, tetapi bagian lain ingin menghadapi wanita itu dan mengetahui apa sebenarnya yang ia inginkan. Akhirnya, dengan keberanian yang terkumpul, ia mengangguk. "Baik, bawa dia ke ruang tamu. Aku akan menemuinya."
muter²,,
Sheila hanya pernah terlibat satu kali ya gays,jadi tidak bersangkutan dengan meninggalnya aura,
kalau soal Claire gak di perpanjang lagi karena para pembaca sepertinya bosan dengan konflik itu ya
endingnya dari awal sudah di rencanakan ya sayang
saya penulis baru,
jadi mohon dukungannya ya/Frown/