Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Tiga Belas
"Teh jahe Nyonya" Marni membawakanku secangkir teh hangat tepat setelah aku mandi.
"Nyonya butuh sesuatu?" Tanya Marni setelah aku duduk di kursi dalam kamar.
"Tidak Marni, tapi ingin kamu duduk di sampingku" Kataku.
Marni memenuhi perintahku. Raut wajahnya tetap sama seperti perjalanan pulang. Aku mencoba mencairkan suasana.
"Aku minta maaf, hari ini aku mengajakmu ke tempat yang tidak baik" Kataku.
Marni menunduk hormat. Tapi aku tahu dia kecewa padaku.
"Kamu tidak suka dengan Varun?" Tanyaku langsung pada poinnya.
Marni yang tadinya tertunduk terpaksa mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan dariku.
" E...tidak Nyonya...bukan begitu..." Marni tampak gelagapan. Dia panik saat aku menebak tepat sesuai hatinya. Barangkali begitu.
Aku menatapnya menunggu jawaban.
"Nyonya, apa Nyonya mencintai Tuan Varun?"
Sesaat aku menatapnya, aku mencari tahu apakah dia serius bertanya itu. Aku menunduk tak lama kemudian. Aku mengangguk. Aku mengakui. Di rumah ini hanya dia yang busa Juhari tempat berbagi. Dengan Tina pun aku tak berani.
"Kamu pasti paham posisiku Marni. Kamu pasti tahu aku menikah karena paksaan. Aku bahkan menjaga keperawananku agar tetap suci. Kamu pasti paham bagaimana perasaanku sekarang"
Mataku mulai berkaca-kaca. Plis, stop. Hentikan. Jangan jatuh wahai air mata. Belum saatnya. Tidak boleh.
"Nyonya, saya paham. Sejak awal saya paham, bahkan saya kasihan dengan Nyonya, tapi Nyonya, apakah Nyonya sadar sedang bermain-main dengan api?"
Aku mengangguk untuk kedua kalinya. Aku memang menyadari hal itu. Aku sedang bermain dengan api. Api uang amat besar. Api itu adalah Varun. Dia bisa menyulutkan api yang lebih besar lagi berupa amarah Romo. Aku sadar itu.
"Nyonya berpikirlah dengan matang sebelum Nyonya bertindak sesuatu. Bagaimana jika Romo tahu? Mata Romo ada dimana-mana Nyonya, keselamatan Nyonya kaan terancam, juga keselamatan Tuan Varun"
"Coba katakan Marni, adakah cara lain? Aku sudah melepaskan kekasihku di hari pernikahanku dengan Romo, sekarang apakah aku harus melepaskan Varun? Apakah aku harus bertahan hidup dengan Romo yang sedikitpun tak ada di hatiku? Coba katakan Marni, apa aku harus menjadi budak harta seperti Jenny? Apakah aku harus menahan sakit seperti Lestari? Atau pura-pura tak peduli seperti Mbakyu? Apa aku harus diam saja??"
Marni memperhatikanku, dan tes....keluar juga yang kutahan-tahan sejak tadi. Aku menangis. Sakitku kutumpahkan di depan Marni. Batinku menjerit seiring pecahnya tangisku.
Aku jatuh tersungkur. Cangkir berisi teh jahe itu terpaksa terjun bebas ke lantai menimbulkan suara denting yang cukup keras. Lantai menjadi basah, puing-puing beling dari cangkir yang jatuh berserakan. Aku bersandar pada kursi bersama dengan pecahan kaca beling. Aku membenamkan kepalaku pada kursi yang tadi kududuki.
Marni merangkulku. Aku rindu rangkulan seperti ini. Aku mendapatkan yang seperti ini, pertama dari ibuku, kedua dari Varun, dan sekarang Marni. Hangat. Sangat hangat.
"Aku terjebak Marni, aku menanggung dosa leluhur, aku ingin protes, tapi ke siapa? Adakah yang akan mendengarkan protesku dan membenarkanku? Aku merasa bukan lagi manusia Marni, aku adalah benda yang ditukar dengan sejumlah materi yang tak mampu dibayar oleh orang tuaku. Apakah aku harus menjalani seumur hidupku tanpa cinta? Katakan Marni, apa aku salah mencintai Varun? Aku selalu bermimpi tentang Varun, aku selalu merindukannya, perasaanku lebih dalam dari kekasihku"
Aku menangis di pelukan Marni. Pelayanku yang lebih tua dariku, kurasa dia mampu menjadi kakakku bahkan ibuku. Pelukannya mirip dengan pelukan ibuku. Membuatku merindukan Ibuku.
"Saya mengerti Nyonya. Saya bisa bayangkan betapa Nyonya menahan semua derita Nyonya sendirian selama ini" Kata Marni setelah isak tangisku mereda.
"Katakanlah padaku Marni, apa yang harus aku lakukan?"
"Saya tidak tahu Nyonya, posisi Nyonya sangat rumit, membayangkannya saja aku tidak sanggup"
Aku bangkit, aku menuju balkon dan memastikan semua penghuni rumah ini sedang berselimut di kamarnya masing-masing. Aku memandang jauh ke depan. Gunung di kejauhan terlihat sangat indah. Malam ini sedang purnama, gunung itu yang biasanya terlihat jelas saat pagu namun akan gelap saat malam, kini tampak agak jelas dari sebelumnya. Aku sedang menatapnya. Menatap keindahannya malam ini.
Marni menghampiriku setelah membereskan pecahan cangkir yang jatuh di lantai.
"Aku akan meninggalkan Romo, bagaimana menurutmu Marni?" Tanyaku setelah aku yakin dia sudah berada di sampingku.
"Bagaimana caranya, apakah menjadi istri Romo selama beberkan bulan sudah cukup untuk membayar hutang leluhur Nyonya?"
"Itulah masalah ya Marni. Aku mengemban tanggung jawab terhadap keluargaku. Itulah kenapa aku harus cari cara yang aman"
"Apa rencana Nyonya?"
"Membuat Romo marah, lalu menceraikanku"
"Tidak akan Nyonya"
"Maksudmu?"
"Romo tidak akan semudah itu menceraikan Nyonya sebelum dia benar-benar bosan dengan Nyonya. Dan dia tidak akan bosan sebelum mendapatkan keperawanan Nyonya"
"Apa????"
"Kalaupun dia marah dan menceraikan Nyonya, dia tidak akan membiarkan Nyonya hidup tenang"
"Apa? Benar-benar gila si tua itu"
"Itulah kenapa saya bilang, Nyonya harus hati-hati dalam setiap perbuatan Nyonya. Mata Romo ada di mana-mana Nyonya, Anda harus berpikir dalam sebelum bertindak"
Aku masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang. Marni mengikutiku dan duduk di bawah.
"Apa Tuan Varun sudah punya rencana untuk Nyonya"
Aku menggeleng.
"Aku tidak tahu Marni, dia hanya memintaku untuk percaya padanya. Dia akan bertindak dengan halus tanpa membebaniku"
"Menurut saya, Tuan Varun itu orang yang nekad namun terarah. Aku percaya dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Dari cara bicaranya, tingkahnya, dia bukan sembarang orang" Pendapat Marni.
"Hm, dia bukan orang sembarangan Marni. Tadi pengelola klinik menceritakan masa lalu Varun, dia dari keluarga terpandang di negaranya. Leluhurnya seorang ulama"
"Arab?"
"India"
"Oh pantas wajahnya berbeda"
"Aku jadi berpikir Marni, apakah jika benar aku bisa lepas dari Romo, keluarga Varun akan menerimaku?"
"Nyonya sudah pikirkan akan hal itu?"
Aku menggeleng.
"Tuan Varun?"
"Dia tidak membahas itu"
"Lalu bagaimana Nyonya?"
"Aku pikir yang penting lepas dari Romo dulu, baru aku akan melanjutkan hidupku, mencari suami yang layak, dan membangun cita-citaku perlahan-lahan"
"Nyonya, maukah kuceritakan sesuatu yang belum pernah kuceritakan?"
"Soal apa?"
"Tentang istri-istri lainnya Nyonya"
Aku mengernyitkan dahi. Apakah Marni akan menceritakan masa lalu Jenny dan Lestari?
"Menurut Nyonya, setahu Nyonya, Nyonya istri ke berapa?"
"Kelima bukan?"
Marni menggeleng. Apa? Jadi selain kami ada istri lainnya lagi? Di simpan di mana mereka? Apakah Romo sering keluar untuk menemui mereka? Apakah mereka istri siri? Selir? Dasar tua bangka. Aku semakin muak dengannya.
"Anda adalah istri ke...." Marni tampak menghitung dengan jarinya.
"Anda adalah istri ke tiga belas Nyonya" Lanjut Marni.
"13?"
Marni mengangguk. Kurang ajar. Jelas ini tidak sah. Pernikahanku dengan Romo jelas tidak sah. Laki-laki muslim hanya boleh memiliki empat istri. Bagaimana bisa di memiliki tiga belas istri. Oh aku ditipu mentah-mentah oleh si tua itu. Aku geram,. Sungguh.
"Akan kuceritakan seluruhnya pada Nyonya, agar Nyonya tahu bagaimana mengambil sikap"
Aku mengangguk. Aku bersiap. Malam memang sudah larut. Tapi semangatku masih semangat pagi. Aki siap mengantongi sejumlah informasi dari Marni tentang masa lalu kehidupan poligami yang dijalani suamiku. Aku siap.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕