NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: KETIKA DIAM MENJADI JAWABAN TERAKHIR

Keheningan di rumah itu kini bukan lagi sekadar jeda, melainkan sebuah jurang yang kian hari kian menganga lebar. Semenjak pertengkaran hebat di hari raya itu, Arman memilih untuk melarikan diri dari kenyataan. Alih-alih meredakan badai dan menjahit kembali hati istrinya yang telah robek, pria itu justru memilih untuk tidak pulang ke rumah selama satu minggu penuh.

Di dalam kepalanya yang keras, Arman merasa bosan dengan sikap diam Aini. Dia menutup mata dari fakta bahwa racun di dalam rumah tangganya bersumber dari mulut ibunya dan ke-tidak-becus-annya sendiri dalam membela sang istri. Arman merasa menjadi korban, lalu memilih membuang tubuhnya di rumah ibunya, membiarkan Aini berteman dengan sepi yang mencekam. Namun, pelarian Arman justru menjadi pupuk yang menyuburkan keyakinan di hati Aini.

Di dalam kesendiriannya, sebuah kesadaran baru mulai mengkristal: pernikahan ini sudah lama mati, yang tersisa hanyalah bangkai komitmen yang dipaksa bernapas.

Selama lima hari pertama sejak kepergian Arman, kamar Aini menjelma menjadi sebuah ruang isolasi yang pekat. Jiwanya meredup bagai lilin yang kehabisan sumbu. Dia mengurung diri dalam kelambu kesedihan; jarang makan, enggan menyentuh air mandi, dan membiarkan tubuhnya kian tirus dirongrong depresi.

Bapak Farhan dan Ibu Naya menyaksikan kelayuan anak perempuan mereka dengan hati yang ikut berdarah. Namun, sebagai orang tua yang bijaksana, mereka tidak pernah mengintervensi atau melabrak menantunya. Mereka memilih menjadi tiang kokoh tempat Aini bersandar saat dunianya runtuh.

Pada sore di hari keenam, Bapak Farhan mengetuk pintu kamar Aini perlahan. Beliau tidak membawa amarah, hanya membawa tatapan teduh seorang ayah. Beliau menatap Aini yang duduk di sudut tempat tidur dengan rambut yang kusut dan mata yang bengkak.

"Anakku," panggil Bapak Farhan, suaranya selembut angin senja. "Menangis lah sepuasmu hari ini. Tapi ingat, jangan pernah menghukum dirimu sendiri atas ketidakmampuan orang lain dalam menghargaimu. Ibu dan Ayah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang bukan untuk melihatmu layu dan mengemis cinta di kaki seorang pria."

Kata-kata ayahnya seolah menjadi tamparan lembut yang membangunkan jiwa Aini dari tidur panjangnya. Kalimat itu adalah fajar motivasi yang menyinari kegelapan hatinya. Aini tersadar, jika dia tidak mencintai dirinya sendiri, maka tidak akan ada orang lain yang akan melakukannya.

"Ayah... Aini lelah. Aini ingin menyudahi semuanya," bisik Aini, air matanya menetes pelan, namun kali ini bukan karena rapuh, melainkan karena telah mengambil keputusan besar.

Bapak Farhan tersenyum tipis, mengusap kepala putrinya. "Ayah dan Ibu menyerahkan semua keputusan terbaik di tanganmu, Nak. Apa pun yang kamu pilih untuk hidupmu, Ayah akan selalu berdiri di belakangmu sebagai pelindungmu. Tapi Ayah minta satu hal... jika suamimu pulang kelak, belajarlah untuk berbicara dengannya dengan ketenangan yang mutlak. Jangan lagi ada amarah yang meledak, jangan ada tangisan histeris. Sebab, suara terkeras di dunia ini bukanlah teriakan, melainkan ketenangan dari seseorang yang sudah selesai dengan rasa sakitnya."

Sore itu menjadi titik balik bagi Aini. Dia melangkah ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air segar, membasuh seluruh duka yang melekat di kulitnya. Dia merawat dirinya kembali, bukan untuk memikat Arman, melainkan sebagai bentuk sujud syukur bahwa dia masih memiliki harga diri yang utuh.

Tepat pada hari ketujuh, roda takdir berputar kembali. Arman pulang ke rumah. Pria itu melangkah masuk melewati pintu dengan raut wajah yang biasa saja, seolah tidak pernah terjadi dosa besar selama seminggu ini. Tidak ada kalimat maaf yang keluar dari bibirnya, tidak ada alasan ke mana dia pergi. Dia langsung menjalani aktivitasnya seperti hari-hari biasa tanpa beban, menganggap kepergiannya seminggu lalu hanyalah angin lalu.

Malam harinya, rumah itu mendadak sunyi secara sengaja. Ibu Naya, Bapak Farhan, dan Natan memilih untuk pergi keluar rumah. Mereka sengaja memberikan ruang privasi yang mutlak bagi anak dan menantu mereka. Sebagai orang tua yang paham situasi, mereka tahu malam ini adalah malam penentuan, dan mereka ingin membiarkan Aini menyelesaikan urusan dewasanya sendiri tanpa ada sekat dinding orang tua.

Kini, di dalam rumah yang luas dan sepi itu, hanya ada Aini dan Arman. Suasana mendadak sedingin es di kutub utara. Arman sedang duduk di ruang tengah, sementara Aini berjalan mendekat dengan langkah kaki yang teratur dan wajah yang teramat tenang—persis seperti yang diajarkan ayahnya.

Aini mengambil napas dalam, lalu duduk di hadapan Arman. Tatapan matanya lurus, menembus manik mata suaminya.

"Mas, mari kita selesaikan hubungan ini. Aku ingin kita berpisah," ucap Aini. Suaranya tidak melengking, tidak ada getaran amarah. Kalimat itu meluncur begitu mulus, datar, namun sarat akan ketegasan yang mematikan.

Arman seketika tersentak. Dia syok, jantungnya bagai dihantam godam besar. Dia tidak pernah menyangka istri yang biasanya mengemis perhatian dan menangis histeris menahannya pergi, kini bisa meminta cerai dengan mata yang begitu dingin. Namun, ego lelaki Arman yang setinggi langit menolak untuk runtuh. Alih-alih menurunkan harga diri untuk meminta maaf atau memohon kesempatan kedua, Arman justru membalasnya dengan keangkuhan yang kejam.

"Oh, jadi ini maumu? Kamu yang meminta ini, Aini," ujar Arman dengan senyum sinis yang dipaksakan, menyembunyikan keterkejutannya di balik topeng kesombongan. "Baik. Kalau itu yang kamu inginkan, aku terima. Aku setuju kita berpisah." Lantang Arman.

Duaarrr!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, dada Aini mendadak dihantam rasa sakit yang teramat perih hingga membuatnya nyaris sesak napas. Sungguh sebuah ironi yang meremukkan jiwa. Padahal, keputusan untuk berpisah adalah keinginannya sendiri, sebuah jalan kebebasan yang dia rancang di dalam kesendiriannya.

Namun, entah mengapa, saat kalimat "aku setuju" itu meluncur dari bibir Arman tanpa ada sedikit pun penolakan, tanpa ada satu usaha pun untuk menahannya, hati Aini rasanya seperti diiris sembilu hingga berdarah-darah.

Sebab, luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama setahun ini, dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya.

Arman bangkit berdiri tanpa ragu.

" Aini lidya binti Farhan aku talak kamu dengan talak satu" ujar Arman tanpa ragu, mesti hatinya perih tetapi ia harus mengabulkan keinginan istrinya, di balik rasa gengsi yang ia rasakan ia sanggup berucap demikian demi harga dirinya, meski sakit.

 Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar, mengemas seluruh sisa pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan yang cepat. Tidak ada air mata dari Arman, tidak ada tatapan penyesalan. Dia benar-benar egois, menganggap harga dirinya lebih penting daripada keutuhan rumah tangganya.

Setelah mengemas semua barangnya, Arman berjalan menuju pintu keluar. Sebelum melangkah keluar, dia hanya menatap Aini sekilas tanpa sepatah kata pamit yang manis. Pria itu memutar gagang pintu, melangkah keluar, dan menutup pintu itu untuk selamanya.

Aini tidak mengejarnya. Dia tetap berdiri mematung di tengah ruangan. Matanya menatap lurus ke arah pintu yang kini telah tertutup, mengiringi kepergian suaminya dengan sebuah tatapan kekosongan yang teramat hampa. Air matanya tidak lagi keluar; air mata itu telah habis mengering bersama hancurnya sisa harapan terakhirnya. Sore itu, di dalam rumah yang sunyi, Aini menyadari satu hal tersirat yang paling menyakitkan: dia tidak sedang kehilangan seorang suami, dia hanya baru saja tersadar bahwa dia selama ini hidup sendirian.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!