Bagaimana kalau tubuh laki-laki seorang pembunuh bayaran berakhir di tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Cahaya matahari pagi menembus kaca depan gedung Salendra Group, memantul di lantai marmer putih yang mengkilat. Tapi pagi yang biasanya tenang kini berubah menjadi kerumunan yang gaduh. Puluhan wartawan dari berbagai media berkumpul di lobi utama, kamera dan mikrofon mereka mengarah ke satu pintu—lift eksekutif yang menuju lantai CEO.
⸻
“PAK RADIT! ADA APA INI?”
Seorang staf muda berlari kecil menghampiri Radit, tangan kanannya sibuk menerima telepon, sementara tangan kirinya menahan agar jasnya tidak kusut karena dorongan dari kerumunan.
Radit yang baru keluar dari mobil dinas langsung terpaku melihat pemandangan di depan matanya. Kilatan lampu kamera, suara mikrofon, dan lemparan pertanyaan bertubi-tubi membanjiri udara.
“Benarkah Bu Hazel punya hubungan gelap selama pernikahan?”
“Apakah ini alasan sebenarnya perceraian dengan Raga Dawson?”
“Kami mendengar kabar soal pria misterius, bisa dikonfirmasi?”
⸻
Radit mengerutkan dahi. Hazel baru saja menjadwalkan rapat internal hari ini. Ia menekan tombol lift cepat-akses dan menyahut pada staf:
“Kamu, amankan jalur lift eksekutif. Hubungi tim keamanan—minta mereka sterilkan lobi dan siapkan ruang media darurat di lantai 5. Segera!”
Staf itu mengangguk dan berlari, sedangkan Radit berusaha menyelinap lewat pintu samping untuk naik ke atas tanpa diketahui.
⸻
DI RUANG KERJA HAZEL – LANTAI ATAS
Hazel berdiri membelakangi jendela, wajahnya tenang namun matanya menyala. Ia menatap layar tablet di tangannya yang menunjukkan rekaman langsung dari kamera lobi—kerumunan wartawan, mikrofon, dan papan nama stasiun TV nasional.
Tak lama kemudian, Radit masuk dengan napas sedikit memburu.
“Wartawan dari delapan media nasional, lima infotainment, dan dua online tabloid, semuanya ada di bawah, Nyonya. Saya sudah perintahkan keamanan untuk atur jalur dan memblokir akses ke atas.”
Hazel menutup tabletnya pelan, lalu berkata tenang:
“Biarkan mereka menunggu. Jangan beri satu pun konfirmasi. Kita akan atur pernyataan resmi… lewat pihak legal dan media milik kita sendiri.”
“Dan, Radit…” jedanya.
“Hubungi ibuku. Katakan kita akan mainkan permainan ini sepenuhnya.”
⸻
DI LOBI BAWAH, PARA WARTAWAN SEMAKIN RESAH.
Namun mereka tak tahu—dari balik kaca tembus pandang lantai atas, Hazel Salendra sedang melihat semuanya. Dan dia tidak gentar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis di pinggiran kota, Elora duduk di sofa ruang tamu, menatap layar televisi datar berukuran 55 inci. Saluran berita nasional tengah menyiarkan kerumunan wartawan yang memenuhi halaman gedung Salendra Group.
Wajah Hazel yang elegan muncul dalam potongan gambar, diiringi narasi penuh insinuasi.
“Rumor skandal yang menyeret nama Hazel Salendra, mantan istri Raga Dawson, kini memanas…”
Elora menertawakan siaran itu. Tawa sinis. Tajam. Penuh kepuasan.
Ia mengambil ponselnya dan merekam cuplikan layar TV, lalu mengunggahnya ke akun second miliknya dengan caption.
“Akhirnya topeng jatuh juga ya, Bu CEO. #SenyumManisPalsu”
Tak butuh waktu lama, komentar pun bermunculan:
• “Gila, jadi bener dong rumor itu?”
* • “Kayaknya ini karma sih buat Hazel🤭”*
• “Dulu kelihatan kuat, ternyata… hmm.”
Elora menyeringai.
Air mukanya begitu puas, seolah melihat musuh bebuyutannya terinjak di tanah.
“Rasain lo, Hazel. Lo pikir hidup gue hancur? Sekarang giliran lo yang jatuh.”
Tapi senyum kemenangan itu tak bertahan lama. Sebuah notifikasi masuk di ponselnya.
Dari akun gosip ternama.
“Hazel Salendra siapkan tim hukum dan akan menuntut balik penyebar fitnah. Bukti digital sedang dilacak.”
Mata Elora membulat.
“Apa?!”
Ia langsung menggulir ke bawah—dan melihat beberapa akun gosip telah menghapus postingan tentang rumor itu.
⸻
Lampu monitor berpendar di wajah Leo yang serius menatap layar penuh kode dan traffic log. Bunyi notifikasi terdengar—pesan dari Elora kembali masuk.
📩 Elora:
“Leo, cepat. Gue udah bilang dari kemarin. Bersihkan semuanya. Semua akun, semua file. Gue gak mau ada satu pun jejak gue.”
Leo menyandarkan tubuhnya ke kursi, mendengus, lalu mengetik cepat.
💬 Leo:
“El, lo pikir ini gampang? Rumor yang lo minta sebarin kemarin itu udah masuk ke tangan media besar. Damage-nya udah kejauhan.”
📩 Elora:
“Lo janji, Leo. Lo janji kemarin bisa bantu sebarin. Dan lo janji bisa bersihin jejaknya juga!”
Leo menghela napas panjang. Di layar, muncul jejak digital dari dua akun anonim, satu device burner phone, dan satu IP masking—semua milik Elora. Tapi ada satu masalah besar…
💬 Leo:
“Gue bisa hapus akun dan aktivitas awal lo, tapi udah ada pihak luar—kemungkinan tim IT Salendra—yang ngelacak sumbernya. Kalau mereka udah backup data sebelum lo minta hapus, ya udah lewat. Lo nyuruh gue nyebar rumor soal Hazel selingkuh dari Raga, padahal lo tahu itu palsu. Ini bukan skandal gosip biasa, El. Ini bisa masuk pencemaran nama baik.”
📩 Elora:
“Jangan ceramahin gue! Kerjaan lo bersihin, bukan nanya-nanya. Gue kasih lo waktu sampai malam ini. Kalau lo gak bisa, gue bakal cari hacker lain yang lebih pinter.”
Leo mengatup rahang, matanya menajam. Ia mengetik cepat, kali ini nadanya dingin:
💬 Leo:
“Gue lakuin bukan karena takut, tapi karena kita punya sejarah. Tapi ini terakhir kali. Jangan harap gue bantu kalau lo udah masuk radar hukum. Gue gak mau jatuh bareng lo.”
📩 Elora:
“Fine. Hapus aja dulu. Sisanya gue urus.”
Leo menutup chat. Tangannya bergerak cepat—menghapus postingan dari akun anonim, menghapus komentar yang tersebar, mencoba menutup lubang digital satu per satu.
Tapi jauh dalam benaknya, ia tahu…
“Jejak digital itu kayak jejak kaki di lumpur—meski lo tutupin, bekasnya tetap ada.”
Dan dia juga tahu satu hal:
Hazel bukan wanita biasa. Dan orang-orang di belakangnya… bukan lawan main yang bisa diremehkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana di ruang IT Salendra Group tak lagi sunyi. Layar-layar monitor memancarkan cahaya kebiruan yang menyapu wajah serius para teknisi. Di tengah ruangan itu, Radit berdiri dengan tangan terlipat di dada, rahangnya mengeras saat memandangi grafik yang terus bergerak.
“Ada hasil?” tanyanya, tanpa menoleh.
Rayden, kepala tim forensik digital Salendra Group, mengangguk perlahan. Jemarinya masih menari di atas keyboard.
“Kami menerapkan digital triangulation, seperti yang Anda minta. Tiga titik pengamatan sudah aktif lokasi unggahan pertama, timestamp penyebaran massal, dan perangkat yang menginisiasi link virus rumor itu.”
Di layar besar, muncul peta digital dengan tiga titik yang mulai menyatu. Salah satunya berkedip merah.
“IP ini… terlambat satu langkah masking. Kami berhasil menangkap jejak aslinya. Pemiliknya bernama Leo Pramana, freelance IT yang sering dipakai agensi bayangan. Lokasinya—Jakarta Selatan, apartemen dengan jaringan pribadi bernama PixelHound.”
Radit mengangguk pelan, matanya menajam.
“Langkah selanjutnya?”
Rayden menjawab cepat, “Kita bisa ping balik, sisipkan trace code ke sistemnya, dan secara bertahap bongkar file yang dia enkripsi. Tapi jika dia cepat, dia bisa kabur sebelum semuanya terbuka.”
Radit menarik napas dalam. “Lakukan.”
⸻
Sementara itu, di tempat berbeda…
Leo Pramana duduk di depan tiga layar laptopnya yang memancarkan cahaya pucat. Keringat menetes dari pelipisnya meski AC menyala. Notifikasi bermunculan satu per satu—pertanda bahwa sistem perlindungannya mulai ditembus.
“Tidak… Ini gak mungkin,” gumamnya panik, membuka log data.
IP-nya sedang dilacak. Firewall-nya telah ditembus. Bahkan burner account-nya—yang ia kira aman—mulai dipetakan.
Ia tahu hanya satu tempat yang bisa mengganggu sistem Salendra Group. Tapi ternyata… Salendra jauh lebih kuat dari perkiraannya.
📞 Elora menelepon.
Leo mengangkat sambil menyeka keringatnya. “Gue bilang jangan buru-buru! Sekarang mereka udah masuk ke sistem gue, El!”
Dari layar, wajah Elora muncul. Tatapannya panik, tapi masih dipenuhi ego.
“Gue cuma mau lu bantu nyebar rumor itu, bukan ngacak-ngacak dunia,” balas Elora ketus. “Sekarang hapus semuanya. Gue gak mau nama gue kecantol!”
Leo memukul meja dengan kepalan. “Gak semudah itu! Ini bukan gosip akun lambe-lambe. Ini target cewek dengan sistem pengaman level militer. Dia punya tim yang kerja kayak badan intelijen!”
Notifikasi lain muncul:
📩 “Packet trace injected. Access breach. Target inbound.”
Leo langsung menutup semua laptop, mencabut hard disk eksternal dan membungkus kabel dalam tas kecil. Ia tahu waktunya sudah habis.
“Gue harus hilang sebelum mereka dapet bukti penuh. Jangan hubungi gue lagi. Kita gak pernah kenal.” Leo langsung mematikan ponselnya.
Elora menatap layar dengan ekspresi kosong. Panggilan berakhir.
“Aaaarrrghhhhhh Sialan.”
⸻
Kembali ke Salendra Group
Rayden menoleh pada Radit.
“Target melarikan diri. Tapi… kita sudah berhasil menyusup ke sistem file backup-nya. Bukti kuat, termasuk voice log dan metadata penyebaran awal. Elora ada di dalamnya.”
Radit menatap layar. Senyum tipis terukir di bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah ngerbut raga dari Hazel eh tapi malah bagus dong baj•ngan sama lacu•r sama sama cocok jadi satu
manuk diobral nang cangkeme wong wedok gak nggenah..
eh apa msh aktif jd pembunuh bayaran Thor?
koq gak pernah liat aksinya lagi..?