Cover by me
Argantara Putra Bimantara, pria yang tenang dan dingin, terus-menerus dipertemukan dengan Nasya Kayshila—sosok gadis berhijab yang diam-diam mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan. Ia mencoba mendekat lewat kebaikan, berharap dikenang walau hanya sekejap. Tapi Nasya? Ia tak pernah mengingatnya. Tak satu pun pertemuan membekas di ingatannya.
Sampai akhirnya Argan sadar, menjadi baik saja tidak cukup. Jika kebaikan terlupakan, maka ia akan menjadi luka kecil dalam hidup Nasya karena rasa sakit lebih sering dikenang daripada rasa manis. Dan dengan begitu... setidaknya, ia tidak akan menjadi asing selamanya.
let's play!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Cemara
Pukul satu dini hari, Argan baru selesai melaksanakan sholat tahajudnya di sebuah kabin tempatnya menginap sejak ia tiba di Kalimantan kemarin.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mayor Pasaribu! Kapten Argantara!"
Suara ketukan pintu di barengi dengan suara seseorang memanggil dirinya dan mayor Pasaribu di tengah malam begini, ada apa? Pikirnya.
Dengan rasa penasaran Argan berjalan bergegas menuju pintu kabin tersebut sambil menenteng sajadah yang belum sempat ia lipat.
"Iya, ada apa?" tanya Argan begitu membuka pintu melihat salah satu Paspampres berdiri di sana.
"Siap, Mas saya cuma mau sampaikan pesan Bapak Presiden, kita harus kembali ke Jakarta sekarang. Jam delapan pagi Bapak Presiden akan ada rapat mendadak dengan para menteri." ujar Paspampres tersebut memberitahu.
"Siap, saya segera siap-siap dulu." tentu saja Argan harus siap 24 jam jika itu perintah dari bapak presiden.
"Baik Mas, permisi."
"Hm."
Argan menutup pintu kabin begitu Paspampres itu pergi ia menghampiri ranjang mayor Pasaribu yang dimana orangnya masih sibuk di alam mimpi.
"Mayor, Yor! Bangun! Kita harus segera terbang ke Jakarta!" Argan menepuk-nepuk lengan mayor Pasaribu.
Seketika mayor Pasaribu menggeliat dalam tidur dan perlahan membuka kedua matanya. "Kenapa Gan?" tanyanya dengan mata yang masih mencoba menyesuaikan cahaya memasuki mata dan suaranya serak khas baru bangun tidur.
"Siap, kita harus kembali ke Jakarta."
"Jam berapa rupanya ini?"
"Siap, jam satu malam."
Mayor Pasaribu langsung terduduk dari rebahannya,matanya mengerjap masih mencoba menyesuaikan cahaya "kok tiba-tiba?"
"Siap, jam delapan pagi besok Bapak Presiden ada rapat sama jajaran para menteri."
"Ya sudah, kau nunggu apa lagi? Siap-siap sana." titah mayor Pasaribu.
"Siap Mayor."
Mayor Pasaribu pun langsung melompat dari atas ranjangnya, ngacir keluar kabin menuju kamar mandi yang memang letaknya berada di luar. Sementara Argan yang memang sudah bersih-bersih langsung memakai pakaian dinasnya.
______________
Dari pagi hingga ke pagi lagi Nasya berada di rumah sakit, kenapa bisa sampai seharian penuh dia di rumah sakit?
Nah, ini akibat rekan sesama dokternya yang meminta tolong untuk menggantikan jadwal shift malamnya dengan Nasya. Karena Nasya si rekan sejawat baik hati, ia menerima dan jadi beginilah.
Jangan tanya sepanjang hari berapa banyak operasi yang sudah ia lakukan dan beberapa cup kopi yang ia minum untuk menghandle mata agar tidak mengantuk dan cas terus sepanjang malam.
Lelah jangan ditanya sudah pasti lelah.
Bahkan jam empat subuh ia harus masuk ke ruang operasi menangani pasien kecelakaan dan baru keluar hampir jam tujuh pagi ini.
Dengan langkah gontai, serta rasa lelah yang membuncah dan wajah yang tak karuan, Nasya berjalan menyusuri koridor mencari lift menuju lantai dua yang dimana letak cafetaria khusus karyawan yang disediakan pihak rumah sakit berada, dia ingin segera mengisi perutnya yang sejak kemarin malam sudah meronta-ronta minta di isi karena tak sempat makan akibat jadwal operasi yang padat dari mulai malam sampai pagi menjelang. Istirahat tiga puluh menit, cuma makan roti dan tidur selama lima belas menit setelahnya di panggil lagi menangani pasien.
"Nasya!"
Panggil seseorang membuat Nasya menoleh di depan pintu lift yang belum terbuka. Mendapati sosok dokter gadis muda sama seperti dirinya berjalan kearahnya.
"Euww... Mukamu Sya kayak abis ngeronda. Baru keluar dari ruang operasi?" tanya Mala menatap ngeri wajah Nasya yang bak mayat hidup tak ada nyawa, pucat dengan wajah lelah.
Nasya mengangguk. "Gimana ndak Mal, dari pagi sampai pagi lagi keluar masuk ruang operasi. Istirahat belum tuntas udah di panggil lagi, sampai makan pun Ndak sempet cuma ngemilin roti. Cuapek'e nemen Mal. Kamu juga baru selesai persalinan?" pintu lift terbuka. Keduanya langsung masuk bersama-sama.
"Iya Sya. Nangani persalinan bayi kembar."
"Wah, keren dong. Wedok opo lanang?" Tanya Nasya dengan raut antusias.
"Cowok, cewek Sya. Pinter banget emak bapaknya waktu bikin sekali keluar langsung dapat sepasang gitu." jawab Mala dengan raut kocaknya.
Keduanya pun tergelak bersama. Walaupun di rumah sakit selalu menangani orang sakit tetap saja ada beberapa momen yang lucu sebagai penghibur para tenaga medis ketika lelah seperti ini, terkecuali kasus kematian.
"Kalau kamu gimana, Sya? Sepanjang hari yang di tangani potong-memotong pasien? Gak ada yang lewatkan?"
"Alhamdulillahnya sih Ndak Mal, hari ini pasien ku ketolong semua. Amanlah." pintu lift terbuka.
Terkadang ada satu atau dua pasien yang Nasya tangani pasti lewat, tapi itu tidak setiap hari juga, sebulan sekali pun belum tentu. Takdir-takdiran jugalah.
"Eh, btw hari ini kamu cutikan? Katanya mau pulang ke Surabaya?"
"Iya Mal, nunggu yang ngajakin ke Surabaya dulu, masih tugas."
"tunggu, siapa? pacar baru, ya?" tanya Mala dengan senyum menggoda.
Nasya turut tersenyum "Ndak lah, apaan pacar-pacaran."
"Terus apa dong?"
Nasya mengulum senyum "Ada deh."
"Ih, Nasya gitu banget main rahasia-rahasiaan." Mala mencolek-colek pinggang Nasya jahil.
Nasya tertawa "hahaha, udah ah Mal, aku lapar banget ini loh"
"Iya sama sih, aku juga laper." Mala menghentikan aksinya. "Cuti berapa lama?"
"Dua hari doang Mal."
"Kok sebentar?"
"Iya, cuma ngurus sesuatu aja."
"Ih, kok aku makin penasaran ya. Ngurus apa sih?"
"Rahasia Mala."
Mala berdecak "Terserahmu deh Sya."
Keduanya tiba di cafetaria dan memesan menu sarapan mereka masing-masing.
_______________
Tepat pukul 06:22 pagi Argan dan para staf kepresidenan tiba di lanud Halim Perdanakusuma, lalu memarkirkan helikopter jenis super puma itu di skadron 45. Begitu semua turun dan tugasnya selesai Argan langsung pulang kekediaman orangtuanya menggunakan motor.
"Assalamualaikum." salamnya begitu tiba di kediaman orangtuanya, dan melihat kedua orangtuanya tengah duduk di meja makan bersiap akan sarapan.
"Waalaikumsalam. Eh, Argan! Bukannya abang di Kalimantan?" agaknya Mama Nada kaget melihat keberadaan putra tengahnya pagi-pagi begini.
"Iya, baru pulang Ma." jawaba Argan dengan raut lelah.
"Pagi-pagi begini?" tanya Mama Nada masih tak percaya.
Argan mengangguk saja, mengambil piring lalu memberikan pada sang Mama untuk segera di isi. Jujur saja, Argan lapar karena sebelum berangkat dia cuma minum Energen sebagai pengganjal perut selama penerbangan mengingat ia naik helikopter bukan pesawat komersial. Tidak ada makanan disana. "Jam delapan bapak presiden ada rapat dadakan." jelasnya.
"Dari Kalimantan berangkat jam berapa?" tanya papa Saga setelah selesai menelan makanannya.
"Setengah dua malam, Pa."
"Ya, ampun pasti Abang lagi ngantuk ngantuk nya itu. Capek ya, Nak?" Mama Nada dengan perhatian memijat lengan berotot putranya, sementara papa Saga hanya memperhatikan saja.
"Sedikit, Ma."
"Ya udah, kamu Sarapan dulu. Mau makan pakai apa? Nasi goreng atau roti isi? Biar Mama buatin." ucap mama Nada perhatian.
Argan tersenyum kecil, "Gak Ma, nasi goreng sama telor ceplok ini aja udah cukup."
Mama Nada memindahkan beberapa sendok nasi goreng itu ke piring putra tengahnya.
"Udah Ma segitu aja dulu. Nanti kalau kurang Argan tambah lagi."
Mama Nada mengangguk. Dan terakhir ia beri telor ceplok diatas nasi goreng Argan dan kerupuk sebagai pelengkap. Memberikan piring tersebut pada Argan dan kini beralih berjalan menuju dapur, membuatkan teh susu favorit Argan.
"Makan dulu Ma, mau kerja kan?" tanya Argan sembari mengunyah.
"Iya, ini buatin kamu susu dulu."
"Nanti Abang bisa buat sendiri."
"Gak, ini bentar lagi siap kok."
Argan dan papa Saga saling melirik, Mama Nada itu paling ngeyel kalau di bilangi. Kalau sudah A ya A mana bisa B atau C apa lagi Z. Setelahnya terkekeh bersama sambil geleng-geleng kepala melihat pendirian Mama Nada yang sejak dulu Sekokoh benteng semen tiga roda.
"Biarin aja." papa Saga berbicara sedikit berbisik agar tak terdengar oleh sang istri bisa bisa ia nanti di pelototi.
"Nih, diminum." Mama Nada meletakkan teh susu di hadapan Argan.
"Iya, sini Mama duduk, sarapan dulu." Argan menarik lembut tangan sang Mama untuk duduk di sebelahnya.
Mama Nada patuh. Matanya melirik piring papa Saga. "Loh, kok udah habis aja Pa makannya? Mau nambah lagi gak?" tanya Mama Nada, sudah berdiri lagi dari kursinya.
Baru juga duduk.
Tawa papa Saga dan Argan sudah akan pecah. Isi piring papa Saga saja baru habis, dia sudah tambah dua piring, ini malah suruh tambah lagi. "Udah cukup mah, perut papa mau meledak rasanya."
"Iih, apaan mau meledak? Masih rata aja itu. Mana badan papa kurusan lagi. Mama tuh suka papa kalau buncit tau, itu bukti pencapaian Mama kalau keluarga kita makmur sentosa. Dan berarti masakan Mama se—"
"Mama..." tegur papa Saga. "Duduk, makan dulu. Jangan malah berkicau terus. Gak akan kenyang Mama ngomong terus yang ada capek."
Mama Nada seketika terdiam dan tak melanjutkan ucapannya. Ia mulai mindai nasi goreng ke piring miliknya. Lalu dengan diam dan wajah yang di tekuk cemberut.
"Argan anterin Mama kerja." titah Mama Nada begitu selesai makan dan pergi ke dapur, mencuci piring kotor bekas mereka makan.
Papa Saga dan Argan saling menatap kembali lalu saling tertawa geli karena mamanya lagi mode ngambek.
"Mama ngambek itu, Pa," bisik Argan.
"Biarin aja, Mama mu memang begitu."
Argan terkekeh pelan "wah, nanti malam bisa gawat, Papa gak dapat jatah makan malam dong kalau Mama masih ngambek. Mama kan kalau ngambek lama."
"Wah, bener kamu Gan. Tapi kalau soal makan malam itu papa bisa masak sendiri. Yang bahaya ini soal jatah malam Papa kalau sampai gak dapat."
Pecah sudah tawa Argan mendengar kalimat candaan dari mulut papanya yang jarang sekali bisa di dengar.
"Kenapa Abang ketawa? Ngetawain Mama ya?" todong Mama Nada begitu keluar dari dapur.
Seketika Argan bungkam menahan tawa geli yang akan keluar Kembali, ia menggelengkan kepalanya diiringi gerakan tangan kekanan dan kekiri "gak Ma, gak." lalu melirik sekilas papanya "udah siap kan? Yuk Abang anterin."
"Yuk." Mama Nada mengambil tasnya yang di letakkan di salah satu kursi.
"Papa gak di Salim, Ma?" tanya papa Saga melihat Mama Nada sudah akan beranjak dari area meja makan lantas putar balik karena mendengar ucapan Suaminya untuk mencium tangan papa Saga, itu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Dengan wajahnya masih di tekuk mama Nada mencium punggung tangan papa Saga, lalu berbalik tanpa meliriknya sedikitpun.
"Loh. Belum di cium itu keningnya kok mau pergi aja sih?!" Mama Nada memutar bola matanya malas lantas kembali berbalik dan menyetor jidatnya di hadapan sang suami agar segera di cium. "Ngambeknya jangan lama-lama ya sayang, Malu sama Ara." bisik papa Saga, tak lupa mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Argan mengulum senyum melihat keromantisan kedua orangtuanya. Dalam benaknya berfikir apakah kelak ia bisa membangun rumah tangga harmonis, romantis dan langgeng seperti kedua orangtuanya.
Pikiran itu mengingatkan Argan dengan penerbangannya ke Surabaya hari ini. Dan belum mengabari Nasya kalau dia sudah sampai Jakarta. Astaga, Argan kenapa sampai lupa.
"Abang istirahat aja sana, Mama biar Papa yang Antar." ujar Mama Nada yang ternyata sudah tidak ngambek lagi.
Ampuh sekali ternyata jurus papa Saga ini yang mengatas namakan cucunya.
"Gak, biar Abang aja yang anter mau jemput Nasya sekalian." gak usah kabari, langsung jemput aja.
"Oh, iya. Abang mau terbang ke Surabaya ya hari ini." Mama Nada pun baru ingat.
Argan mengangguk.
"Ya udah ayo buruan, Mama pergi dulu ya, Pa. Assalamualaikum." Mama Nada menarik tangan anaknya berjalan cepat keluar rumah, takut nanti Argan ketinggalan pesawat.
"Waalaikumsalam." jawab papa Saga seraya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.
Author pinter bahasa Jawanya, tapi masih banyak yang harus diperbaiki dalam penggunaan bahasa Jawanya, apalagi jika berbicara dengan siapa yang diajak bicara ada tingkatannya.
Secara keseluruhan, cerita ini dapat banyak jempol dariku 👍👍👍👍👍👍
kenapa bikin orang nangis dak kelar kelar kakkkkk😥😥👍
bawang mahal,,mana bawang😭😭😥😥
ttp semangat dn terimakadih💞💞☕️🌹