CINTA TAK BERTEPI adalah sebuah cerita dari seorang gadis bernama Reya Agustiana Dewi.
Berawal dari saat dirinya remaja. Karena sang ayah yang dipecat membuat dirinya harus pindah sekolah ke sebuah desa kecil. Disana dia berteman dengan seorang laki-laki bernama Rama dan saling jatuh cinta. Namun sayang, hubungan yang baru saja seumur jagung itu harus terpisahkan oleh maut dan membuat Reya sedikit trauma untuk kembali mengenal cinta.
Tapi bukankah setiap manusia memang sudah memiliki jodohnya masing-masing?
Begitupun dengan Reya. Saat usianya dewasa, rasa cinta kembali mengetuk hatinya lewat seorang polisi bernama Seno. Tapi sekali lagi, hubungan diantara mereka tidak selurus jalan tol. Banyak sekali ujian di dalam hubungan mereka. dan banyak juga misteri yang muncul sejalan kasus yang sedang dihadapi oleh AKP Seno Pramudya.
Akankah cinta Reya dengan Seno akan berujung ke dalam sebuah pernikahan???
Selamat membaca sahabat... 😄😄😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sari N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGINAP (1)
\~\~TENG....TENG....\~\~
Setelah hampir seharian sudah mereka bergelut dengan berbagai mata pelajaran akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi juga. Semua anak berhamburan keluar menuju kesibukannya masing-masing. Ada yang pergi ke kantin, pergi ke ekskul, ada yang mojok-mojok, dan ada juga yang langsung pulang. Dean, Alex, Rama, Ayisha dan Reya bergegas menuju parkiran. Benar saja disana Naura sudah standby menunggu.
“Apa kita tidak seharusnya pulang dulu buat ganti baju?” tanya Reya.
“Sudahlah pakai bajuku saja. Lihat langitnya mendung. Aku gak mau ya dengan alasan hujan, salah satu diantara kalian ada yang batal ikut,” jawab Naura sambil mendorong pelan teman-temannya agar masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan menuju rumah Rama, mereka terus saja saling mengobrol. Sesekali bercanda dan membuat suasana di dalam mobil begitu hangat. Hanya Reya yang sejak awal diam saja, mungkin dia masih canggung karena dia tidak begitu akrab dengan Naura.
“Jadi Reya, bagaimana penilaian pertamamu mengenai sekolah kami?” tanya Naura yang sadar bahwa sedari tadi
Reya hanya melamun saja.
“Sepertinya dia shock karena gadis kota harus pindah sekolah ke desa,” belum juga Reya menjawab, namun sudah
dipotong canda Alex dan diikuti oleh gelak tawa satu mobil.
“Awal pindah mungkin aku sedikit belum terbiasa tapi lama-kelamaan aku mulai nyaman juga,” jawab Reya dengan sedikit pelan.
AKU?? Lucu juga gadis kota ngomong pake kata AKU, pikir Rama yang tidak sadar mengeluarkan senyuman tipis di ujung bibirnya.
“Kenapa senyum Ram?” tanya Naura yang kebetulan melihat senyuman di wajah Rama. Tapi sayangnya Rama tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala dan lalu memalingkan pandangannya ke luar jendela lagi.
“Oh iya, kamu gak dendam kan sama tingkah jailnya Rama sama kamu?” tanya Naura selanjutnya yang sontak membuat mata coklat Reya terbelalak kaget dan Rama yang tiba-tiba saja tersedak salivanya sendiri.
“Hahahahahahhahaha.. kalian ini lucu. Kalian pasti berfikir bagaimana aku bisa tau? Aku sudah tau bagaimana sifat Rama. Dia memang banyak bercanda, iseng, tapi percaya deh dibalik itu semua Ramaku adalah laki-laki yang teeeeerrrbaik. Iya kan, Ram?” goda Naura yang berhasil membuat wajahnya kembali memerah karena malu. Dari dulu Naura memang sangat senang membuat pipi Rama merona seperti anak perempuan.
“Tapi gue bingung, kenapa belakangan ini gue lihat Rama kok jadi sosok yang pendiam ya? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi yang gue ga tahu?” tanya Naura lagi.
Sayangnya tak ada yang berani menjawab pertanyaan Naura. Mereka semua lebih memilih diam karena takut salah bicara dan membuat Rama marah. Naura yang mengerti dengan tingkah laku temannya, tidak memperpanjang pertanyaan. Dia kembali fokus ke depan setir mobil yang sedari tadi dia pegang.
Perjalanan pun berlanjut dengan berbagai keceriaan disana. Apalagi Naura kini sedang menyalakan musik lagu kesenangan mereka. Semua orang di dalam mobil itu bernyanyi mengikuti iringan musik.
~Drrrttttt.... Drrrtttttt~
Getar handphone Reya menyala tanda ada pesan yang masuk. Diapun membukanya. Sebuah pesan dari Doni yang membuat Reya tercengang.
Doni :
Elo dimana Rey? Gue di depan kelas elo dari tadi tapi elonya ga ada terus.
Reya benar-benar lupa kalau tadi pagi, Doni bilang kalau dia akan mengantar jemputnya.
Reya :
Aduh Don, maaf, gue udah pulang bareng Ayisha, Rama dan kawan-kawan. Sorry banget, gue kira elo cuman bercanda, mau antar jemput gue.
Doni tidak menjawab pesan Reya lagi. Tangannya mengepal kuat. Dia marah mendengar Reya pulang bersama Rama. Langkah awalnya untuk dekat dengan Reya gagal total.
***
Setelah cukup lama berada di dalam mobil, akhirnya mereka sampai juga di rumah Rama. Jam di tangan Reya menunjukkan pukul 5 sore. Mereka pun bergegas masuk dan langsung berlarian menuju sofa yang ada di ruang tamu. Naura mengajak Reya dan Ayisha menuju ke kamarnya di lantai 2 untuk berganti pakaian. Sedangkan Alex dan Dean, dia serahkan pada sang pemilik rumah, Rama.
Selama perjalanannya menuju kamar Naura, mata Reya tidak henti-hentinya memandang ke sekeliling rumah. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama dia menginjakkan kakinya di rumah Rama. Rumah Rama benar-benar rumah yang sangat elegan. Ukurannya besar tapi tampak bersih dan rapih. Banyak foto-foto terpajang di dinding rumah. Foto Rama, ayah Rama, bahkan ada juga foto Rama yang sedang berpelukan dengan Naura. Foto yang menggambarkan kedekatan Rama dan Naura tidak hanya satu, tapi lumayan banyak. Hal itu berhasil membuat Reya cemburu dan memajukan sedikit mulutnya. Untungnya tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan wajahnya.
“Selamat datang di kamarku istanaku,” ucap Naura sambil membuka pintu kamarnya dan langsung membuyarkan lamunan Reya.
Bagi Ayisha kamar Naura adalah surga emas yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi. Saking kangennya, dia langsung berlari dan melompat ke arah tempat tidur sambil tertawa-tawa.
“Akhirnya gue bisa ngerasain lagi lembutnya kasur emas. Hahahaha,” kata Ayisha.
“Kangen ya?” balas Naura yang juga langsung duduk di atas kasurnya.
“Yaiyalah secara elo pergi udah hampir satu tahun. Mana berani gue masuk ke kamar ini kalau ga ada elo. Bisa-bisa gue dibantai Rama. Hahahaha,” jawab Ayisha yang masih terus tidur sambil memeluk guling besarnya.
Melihat Reya yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar, membuat Naura berdiri lagi dan langsung berjalan menuju teman barunya itu.
“Ayo masuk Rey!” ajak Naura sambil menarik tangan Reya.
“Kamarnya bagus,” ucap Reya membuka obrolan.
“Terima kasih,” jawab Naura dan langsung pergi ke arah lemari pakaiannya.
“Sha?” lanjutnya.
“Iya?”
“Baju tidur kamu kayaknya masih ada di sini deh. Tertinggal waktu terakhir kamu nginep di sini. Mana ya? Oh iya ini ada. Nih!!!!!” ucap Naura sambil lalu memberikan baju tidurnya pada Ayisha. Sebuah piyama dengan celana panjang dan baju lengan pendek.
“Hanya ada satu?” tanya Reya.
“Sepertinya kalau celana cuman ada punya Ayisha aja. Dan kalau pun dipakai sama kamu juga gak akan muat. Secara Ayisha kan big size hehehe,” canda Naura yang langsung mendapat pelototan dari sang objek pembicaraan.
“Terus aku pakai apa? Mungkin seharusnya tadi aku pulang dulu bawa baju ganti.”
“Ga apa-apa kan masih ada baju aku. Ukuran badan kita sepertinya ga beda jauh. Baju tidur aku pasti muat di kamu. Kamu tinggal pilih aja.”
Naura langsung menjejerkan baju tidurnya di atas kasur bak orang sedang berjualan. Satu persatu Reya melihat
pakaian-pakaian itu. Tapi sepertinya tak ada satu pun yang menarik untuk dipakai oleh Reya. Desain bajunya memang bagus-bagus hanya saja semuanya baju tidur seksi nan pendek yang menurut Reya sih mungkin hanya dipakai oleh seorang istri yang sudah menikah saja. Maklum saja dia tidak terbiasa tidur dengan model pakaian tidur seperti itu.
“Ga ada yang lain?”
“Kenapa? Kamu gak suka?”
“Sorry, bukannya gitu Ra, aku cuman ga biasa aja pakai pakaian seksi kayak gitu. Jangankan didepan teman-teman seperti ini, di rumah pun juga, aku gak biasa. Memangnya kamu gak ada pakaian yang biasa aja ya?” tanya Reya dan langsung dibalas senyuman manis oleh Naura.
Naura memajukan mulutnya, matanya menyipit memperhatikan lekuk tubuh Reya, tangannya mengetuk-ngetuk pelan dagunya. Dia sedang berfikir, pakaian tidur seperti apa yang diinginkan oleh Reya.
###