NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Hari pernikahan kita

Ini hari pernikahannya, Ana sudah selesai dirias dan sekarang tengah memakai gaun pengantinnya. Decak kagum nyata terdengar saat Ana selesai memakai gaunnya yang begitu pas dan melekat indah di tubuh rampingnya.

“Cantik sekali,” puji Kila tulus sambil mengitari tubuh Ana. “Sempurna, bikin pangling yang lihat!” Imbuhnya kemudian.

“Terima kasih.” Mata Ana berbinar senang, ia mengangguk setuju. Gaun itu terasa lembut dan nyaman di tubuhnya. Harus diakuinya, penampilannya kali ini sungguh menakjubkan. Lewat tangan-tangan ahli yang sengaja didatangkan oleh Hugo untuk merias dirinya, hasilnya sangat luar biasa. Mereka yang biasa melihatnya bahkan hampir saja tak mengenalinya karena perubahan dirinya.

“Ana, sayang. Kau sekarang menjelma bak putri cantik kerajaan. Ibu heran, Bagaimana bisa Kau sembunyikan tubuh indahmu itu lewat pakaian sederhana yang Kau kenakan selama ini?” tanya ibu Astrid dengan pandangan kagum yang kentara.

Wajah Ana menghangat. Ia tersenyum dan kembali menatap cermin besar di dalam kamarnya, memuji penampilan dirinya sendiri.

Tepat jam delapan pagi semua keluarga dan undangan yang hadir berkumpul di ruang tamu untuk menyaksikan akad nikah Ana dan Hugo. Dari dalam kamarnya Ana bisa mendengar suara Hugo yang tenang dan tegas mengucap ijab kabul dalam satu kali tarikan napas, disusul kemudian pertanyaan dari penghulu pada saksi yang hadir dari kedua belah pihak.

Mendadak Ana gugup, berkali-kali ia tampak menggosok-gosokkan telapak tangannya yang lembap. Ibu Astrid dan Kila yang sejak tadi tak beranjak dari sisi Ana, tersenyum menatapnya.

“Tenang, sayang. Jangan tegang, tarik napas.” Kata ibu Astrid sambil mengusap lembut punggung Ana.

Ana meringis, ia memang sedikit tegang. Dipasangnya telinga baik-baik untuk mendengarkan suara Hugo lewat pengeras suara yang dipasang di sudut ruangan. Lalu tak lama kemudian terdengar sebuah kata yang membuat dadanya membuncah oleh rasa haru juga bahagia.

"Sah!"

Ana memejamkan matanya, mengucap syukur dengan kedua telapak tangan menangkup di wajahnya. Ini seperti sebuah mimpi baginya, mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Hingga tak terasa air mata menitik di pipi Ana saat mendengar seruan penuh kelegaan dari ibu Astrid juga Kila yang berada di dekatnya, kini ia telah sah menjadi istri dari Hugo Denis. Kila bahkan langsung berdiri dan memeluk Ana haru sembari mengucapkan kata selamat untuknya.

Tak berapa lama terdengar suara pintu diketuk. Bik Ani muncul dari balik pintu bersama dengan Mitha sekretaris Hugo. Untuk sesaat lamanya bik Ani hanya bisa bengong melihat penampilan Ana, dan baru tersadar saat Mitha menepuk bahunya dan bicara dengan Ana.

“Sekarang waktunya sang pengantin wanita keluar untuk menemui suaminya," kata Mitha dengan tersenyum, memberi jalan pada Ana dengan membuka pintu lebar-lebar.

"Terima kasih." Ana mengangguk saat Kila mengulurkan buket bunga padanya, ia pun keluar kamar bersama sahabatnya itu juga lainnya yang berjalan beriringan di belakangnya. Ana berjalan ke arah Hugo yang sudah duduk menunggunya, jantungnya berdegup kencang seirama langkah kakinya yang mendadak gemetar. Ana berhenti melangkah dan berdiri diam di tempatnya.

“Sayang,” ucap bibir Hugo tanpa suara dengan mata lekat menatap pengantin wanitanya. Wajahnya saat itu tampak bercahaya, namun berubah cemas melihat Ana tak bergerak di tempatnya. Hugo pun beranjak berdiri dan berjalan menghampiri.

“Digandeng saja istrinya,” ucap salah satu tamu disusul suara-suara lainnya yang bernada menggoda.

“Sudah sah, digendong juga boleh.”

Hugo mesem mendengarnya, ia lalu berbisik di telinga Ana. “Idenya boleh juga,” kata Hugo sambil mengedipkan matanya.

Wajah Ana merona, tersipu malu saat balas menatap wajah Hugo. Kakinya yang gemetar seolah mendapat kekuatan baru, ia pun melangkah di sisi Hugo yang telah sah menjadi suaminya kini. Berjalan bersama saling menautkan jari, tersenyum bahagia merasakan Hugo menggenggam tangannya erat.

Acara kemudian berlanjut, Hugo memasangkan cincin di jari manis Ana, begitu pun sebaliknya. Lalu Ana mencium punggung tangan Hugo dan lelaki itu mengecup keningnya. Acara kembali berlanjut, para tamu undangan yang hadir mulai menikmati hidangan yang telah disajikan oleh tuan rumah. Acara hari itu terlihat sederhana, tapi tetap saja berkesan mewah terlebih soal pilihan menu yang khusus dipesan dari resto ternama di kota itu.

Hugo mengajak Ana makan bersama. Sementara Ana mengisi piring mereka dengan makanan, Hugo terus menempel ketat di sampingnya. Ketika piring mereka terisi makanan, ganti Hugo yang membawakan. Lelaki itu menurut ketika Ana memilih untuk duduk di lantai seperti kebanyakan tamu wanita lainnya yang ada di depan mereka.

“Aku suapin, ya.” Rayu Hugo, gemas melihat Ana yang terkesan makan dengan lambat.

“Gak usah," tolak Ana dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Gak enak dilihat orang banyak.”

“Kenapa? Malu? Disuapin sama suami sendiri juga. Aaaa ...” desak Hugo sambil menyorongkan sendok berisi makanan ke depan mulut Ana.

Ana mengerutkan bahu dan mengatupkan bibirnya, Hugo lalu mengambil alih piring makannya yang masih penuh. Ana memindai sekelilingnya. Sebagian tamu sibuk dengan piring makanannya, sebagian lagi banyak yang mencuri-curi pandang sambil melempar senyum ke arah mereka.

“Ayo, buka mulutnya, sayang.”

Ana menatap piring makannya yang sudah beralih tempat, mau tidak mau Ana pun membuka mulut. Hugo tersenyum lebar. Sambil terus mengajak bicara sang istri, Hugo sigap menyuapi Ana makan sampai tak terasa piring di depannya bersih tak bersisa. Diambilnya tisu dan diusapnya sudut bibir Ana yang tersisa noda makanan.

“Aku mencintaimu, istriku.” Bisik Hugo pelan sambil menatap lekat mata sang istri. Ucapannya itu sontak membuat Ana terharu dan mendadak ingin menangis.

“Aku juga mencintaimu, suamiku.” Balas Ana dengan suara bergetar karena haru membuncah di dadanya.

"Jangan menangis, sayang. Tersenyumlah, ini hari pernikahan kita." Mata Hugo menyiratkan rasa cintanya yang tulus, dan sentuhan lembut ujung jarinya di sudut mata Ana yang berembun membuat wanita itu tak kuasa menahan jatuh air matanya. Ana mengerjap dan menoleh ke samping, bertepatan saat Kila datang dan duduk di dekatnya.

“Sebenarnya dari tadi Aku pingin datangin Kamu, tapi suamimu itu mepetin Kamu terus. Mana pakai acara suap-suapan segala,” seloroh Kila di telinga Ana sambil melirik sekilas pada Hugo yang terus menempel di sebelah Ana.

Ana hanya tersenyum mendengarnya, dan Kila baru menyadari ketika melihat wajah Ana tertunduk dan memerah. Sebelum air mata Ana tumpah, Kila langsung memeluk Ana dan tersenyum menggodanya. “Hapus air matamu, Aku gak mau melihatmu menangis di hari bahagiamu ini. Takutnya riasan wajah cantikmu ini longsor nantinya.”

Ana meringis dengan mata mulai basah. "Tinggal ditambal lagi biar tetap awet."

“Tuh, kan. Beneran longsor!” goda Kila lagi, membuat Ana tertawa dibuatnya.

Hugo yang duduk di dekat mereka berdua, beringsut menjauh untuk memberi kesempatan pada Ana bicara akrab dengan sahabatnya itu juga pada tamu lain yang ingin menyapa dan memberi selamat padanya. Ia pun bergabung bersama rekannya yang datang tak jauh dari tempat Ana berada sambil terus memantau sang istri.

Tak terasa waktu berlalu cepat, hari sudah menjelang sore. Para tamu mulai berpamitan pulang, tertinggal kerabat dan para sahabat dekat yang masih menikmati waktu bersama.

Hugo mengajak Ana ke kamar mereka yang terletak di lantai dua, yang sebelumnya adalah kamar Hugo yang sudah dirombak dan diperbesar agar lebih luas dan nyaman. Mereka meniti anak tangga sambil bergandengan tangan. Tiba di anak tangga terakhir, secara tiba-tiba Hugo langsung meraih pinggang Ana dan menggendongnya hingga ke depan pintu kamar mereka.

“Apa yang Kau lakukan?” Ana kaget dan spontan mengalungkan kedua lengannya di leher Hugo.

“Sudah sejak tadi Aku ingin melakukannya, menggendongmu memasuki kamar pengantin kita.”

“Aku bisa jalan sendiri, lagi pula Kamu juga pasti lelah. Ayo, turunkan ...”

Protes Ana tak ada artinya. Hugo langsung membungkam mulut Ana dengan bibirnya, ia mendorong pintu kamarnya dengan sebelah kakinya hingga terbuka. Kakinya bergerak kembali menutup pintu di belakangnya hingga menutup rapat.

Ana meluncur turun dari dekapannya dengan tangan masih melingkar di leher Hugo. Cahaya remang dari lampu kamar mereka menimbulkan siluet tubuh mereka yang begitu dekat. Saat wajah Hugo menunduk dan kembali menyentuh bibirnya, Ana tahu ia tak bisa menghindar dari Hugo yang kini telah sah menjadi suaminya.

“Aku menginginkanmu, sayang.”

Tenggorokan Ana tercekat, dadanya bergemuruh. Dan sekali lagi ia tak bisa menolak saat Hugo meraih pinggangnya dan memeluknya erat, tahu-tahu Ana merasakan tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang dengan Hugo berada di atasnya.

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!