Ini cerita antara Nick, Moza, dan sebuah kesepakatan.
Kesepakatan yang lahir di antara mereka mengikat satu sama lain. Moza dengan sakitnya jika menjauhi Nick secara sengaja dan tidak mau membantunya, juga dengan Nick yang memberi syarat pada Moza isinya:
Saat kau sedang membantuku, kau tidak boleh jatuh cinta.
Siapa sangka, kesepakatan tersebut membuat hidup Moza--
Nyok, kita baca saja cerita ini biar tahu hidup Moza berakhir menangis di atas kebahagiaan atau tertawa pilu di atas kesedihan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah kembali sadar
Waktu seakan berhenti bergerak.
Semua orang tertuju kepada Nick dan Moza yang masih sama-sama terhenyak. Belum ada satu pun yang buka suara setelah Hugo meraung-raung meminta untuk tidak ditinggalkan. Padahal yang terjadi, tidak ada tanda-tanda apapun yang mengindikasikan Moza pergi.
Berulang kali Nick melepas lalu jabat tangan, terus lepas lagi, jabat lagi, tapi tidak ada peristiwa seperti awal gadis itu di tarik ke jaman Nick. Ini sangat membingungkan banyak pihak, namun juga angin segar bagi yang tidak menginginkan Moza kembali ke asal.
Apa yang sedang terjadi?
"Nick? eh maksudnya ayah, astaga! maksudku yang mulia Kaisar, kenapa aku tidak pingsan?"
Penduduk dibubarkan. Nick dan Moza bisa leluasa bertukar bicara.
"Hmmm?"dahi Nick melipat. Dia sesungguhnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Nick berfikir semua ini adalah tindakan guru Hong. Bagaimana pun Hugo cucunya dan seorang kakek pasti menginginkan yang terbaik sama seperti dirinya kepada sang putra.
"Bukankah kau sudah melanggar ketentuan? kau kan tidak boleh jatuh cinta!" Nick memakai hal ini sebagai alasan. Padahal sesungguhnya perkataan ini hanya omong kosongnya agar rasa jatuh cinta itu tidak menyakiti siapapun. Rencana tinggal rencana. Manusia bersifat dinamis, maka tidak heran ditengah perjalanan, Nick menginginkan Moza tidak pernah kembali ke asal.
Tetapi yang sekarang terjadi di luar kendalinya. Nick tidak tahu kalau ini pun bukan kendali guru Hong. Meskipun demikian, soal Moza yang akan melahirkan anak-anak Hugo, itu benar adanya disampaikan guru Hong lewat membaca ramalan.
"Jadi ini konsekuensi yang kau maksud?"
"Bisa jadi, karena aku pun tidak tahu kenapa kau tidak bisa kembali ke jamanmu. Aku dan guru segera memeriksanya."
Grep..
Hugo memeluk punggung Moza. Nafasnya menyapu tengkuk, menciptakan kenyamanan serta menyalurkan rasa yang tidak bisa di abaikan begitu saja. Antara Moza dan Hugo saling menyayangi, saling menjaga, saling memikirkan, mana bisa mereka harus berjauhan.
Kalau tidak di takdirkan untuk bersama, maka tidak dengan siapapun untuk selamanya. Hugo alasan Moza ingin tinggal lebih lama di Alga.
"Bisakah jangan berbicara tentang kembali ke jamanmu?" lirih Hugo begitu menggetarkan sanubari.
"Hugo,"
"Moza," hembusan nafas lelaki menyapu kembali.
"Kalau aku tidak bisa bersamamu, maka aku tidak akan dengan siapapun. Bagiku cinta itu harus memiliki." lanjut lelaki itu.
"Aku juga merasakan yang hal sama Hugo. Aku sayang kamu, dan aku tidak mau kita berpisah. Tetapi jika aku memang terjebak di sini, ada satu hal yang ingin aku lakukan. Apakah kau mau mendukungku?"
"Tentu saja."
Hugo membalikkan tubuh Moza sehingga mereka saling berhadapan. Habis itu pelukan lagi terus cium kening. Tadinya mau praktek lidah ketemu lidah, tetapi Hugo melirik, masih ada eksistensi ayah di sana. Nick memperhatikan keduanya tanpa berkedip.
Meskipun pernah muda, Nick tidak mau mengalah dan tetap tinggal di sana sampai Hugo dan Moza memberikan kesempatannya untuk berbicara.
"Besok kalian akan menikah, persiap--" omongan Nick terpotong.
"Tidak. Aku maunya sekarang!"
Kalimat Hugo membuat Nick di serang sakit kepala.
...*****...
Zaman modern.
Di ruang Moza di rawat, tepatnya kamar Moza yang disulap menjadi ruang perawatan ICU dengan berbagai peralatan canggih, tiba-tiba bibinya Moza di lingkupi suasana haru. Sadarnya Moza mengubah suram menjadi terang. Wanita sekitar empat puluh tahunan itu mengucap syukur seraya menitikan air mata atas terbukanya kelopak mata sang keponakan.
Bibi lekas menelpon paman yang selama ini sibuk mengambil alih tugas Moza selama gadis itu berada di tingkat kesadaran terendah. Beliau keluar ruangan sebentar ketika tim medis datang memeriksa. Jangan heran, tim dokter yang menangani Moza sudah stay di sana semenjak keadaan gadis itu membaik.
"Hallo, ada apa baby?" seru paman di seberang telepon.
"Pulanglah beb, Moza kesayangan kita sudah sadar."
Bibi kembali lagi ke ruangan Moza terbaring setelah selesai memberi kabar bahagia pada suaminya. Sang keponakan sudah mampu berkomunikasi, tetapi semua orang yang berada di sana di buat terdiam prihatin.
"Ini dimana?"
"Moza, akhirnya kamu sadar. Ini di rumah kita nak." Bibi memberi penjelasan singkat.
"Moza siapa? aku bukan Moza, aku Aurora putri dari orang kedua berpengaruh di negeri Alga. Kalian siapa? apakah kalian mau macam-macam denganku? aku peringatkan, jangan berani padaku jika kalian tidak mau menjadi serangga menyedihkan di bawah alas kaki ayahku!"
"Apa ini?! tubuhku bahkan kalian ikat seperti ini!" Aurora membubut selang infus yang menancap di tangannya. Berdarah, tentu saja. Dan hal itu membuat Aurora berteriak histeris. Dia takut darah sama seperti Jorrel. Kabarnya pangeran tersebut sampai saat ini masih meratapi lukanya.
"Aaaaaa... ayah... aku terluka ayah. Datanglah, hukum mereka seberat-beratnya. Aaaaaa... "
Sementara Aurora tidak dapat terkontrol, bibi dan tim berdiskusi singkat untuk tindakan selajutnya pada Aurora.
Perlahan-lahan gadis itu tenang, kemudian kembali terbaring penuh ketakutan, penuh air mata.
Aku dimana?
Setelah kejadian ini, tidak mudah bagi paman, bibi, dan Aurora saling beradaptasi. Akan ada perdebatan kecil di antara mereka yang harus mendisiplinkan Aurora.
.
.
.
.
Bersambung.
moza dan aurora mendapatka jodohnya..
aahh aku padamu thorr🫰