Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan
Mereka berangkat dipandu penduduk lokal. Satu tim hanya Lilis seorang yang perempuan. Wanita itu berangkat dengan beban sekitar 26 kilo di tubuhnya. Teropong, senapan serbu, pengukur kecepatan angin, dan masih banyak lagi. Seorang sniper dan suporter tetap membawa senapan serbu untuk jaga jaga. Pula dengan Herman. Pria itu justru lebih berat lagi. Dua senapan menempel di tubuhnya. Senapan serbu dan SPR-2 yang mentereng. Itulah mengapa lari dengan beban masuk kategori pertama latihan di sekolah sniper.
Berjalan puluhan kilo dengan sepatu safety yang berat. Medan yang naik turun cantik juga menjadi tantangan. Mereka melakukan banyak cara menghindari lecet kaki yang menyiksa. Termasuk memakai pem mbalut wanita sebagai bantalan kaki. Karena itu jangan heran jika ransel tentara pria ditemukan benda itu. Mereka bukan man niak. Mereka butuh benda itu untuk sedikit melindungi kaki.
Pasukan Herman disambut 'selamat datang' oleh para pemberontak. Terjadi pertempuran kecil. Saat itu pula Lilis dan Herman masuk lebih dalam ke wilayah pemberontak. Herman dan Lilis memilih jalur memutar. Dengan sudah menggunakan penyamaran kamuflase sniper. Hanya mata mata jeli yang menyadari dua gundukan jerami itu berjalan pelan.
Jangan bayangkan Lilis dan Herman berjalan bebas dengan kaki. Mereka harus merayap untuk sampai titik yang mereka tuju. Sekitar…. Yah…. Puluhan kilometer jauhnya. Dengan beban yang lebih berat lagi di tubuhnya sekarang. Dua orang itu membawa dua senapan runduk untuk rencana mereka. Juga satu roket kecil pencari panas, anak panah tradisional, dan beberapa barang. Herman sebenarnya protes dengan banyak barang bawaan, tapi partnernya wanita. Kaum yang terkenal bawa apa saja saat mereka pergi. Tidak pernah praktis. Herman tetap membawa benda itu bersama mereka. Walaupun sedikit ngomel. Entah karena apa. Atas nama cinta mungkin. Selamat berjuang Herman dan Lilis. Hihihihi….Saya pernah ngobrol dengan seorang kowad. Dia tidak mau anaknya menjadi tentara. Kasihan katanya. Karena latihan fisik yang luar bisa keras. Belum lagi tidak rela anaknya harus berada di antah berantah. Mungkin juga pulang dalam keadaan kaku di peti mati.
Kembali ke nopel….
Sehari semalam Lilis dan Herman merayap. Hanya berhenti saat siang terik. Saat dirasa musuh aktif mengawasi area mereka. Malam berikutnya mereka lebih leluasa. Sejenak berdiri mengganti penyamaran. Karena yang mereka lewati sekarang adalah semak belukar. Bukan lagi ilalang kering. Lilis dan herman menjahit penyamaran mereka dalam gelap. Hampir tidak ada kata terucap. Suara mereka dipastikan menggema dalam hutan yang sunyi ini. Kelabang, cacing, sampai ular menjadi teman. Juga lumpur yang mulai merembes ke pakaian dal lam.
Usai penyamaran mereka sempurna, Herman memasang senapan barret pada sebuah camp yang jadi target mereka. Sebenarnya dari sini mereka bisa menjalankan misi, tapi paling akan mati sia sia seperti prajurit terdahulu. Lilis mengawasi dengan teropongnya. Target di tempat. Gadis itu menangkap seekor musang dan mem bun nuhnya. Mencium musang itu sebelum mengikatnya. 'Bantu kami binatang kecil. Maaf.' Batin Lilis dalam hati. Herman mengikat ujung tali satunya pada pelatuk senapan. Musang itu pasti ditemukan oleh binatang yang lebih besar. Herman mengambil kamuflase yang tadi. Menata seolah mereka disini. Lilis mengarahkan senapan itu. Menghitung kecepatan angin dan memberi topangan yang lebih kuat. Semoga umpan mereka termakan musuh dan hewan besar di hutan. Lilis menyebar jauh dar rah musang itu di sekeliling. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Merayap menyusuri hutan semak area musuh.
Menjelang pagi letusan dari senjata umpan Lilis dan Herman terdengar. Kedua orang itu langsung memantau. Musuh kalang kabut. Ternyata selain memancing musuh, pel luru mereka mengenai salah satu target mereka. Keberuntungan untuk Lilis dan Herman. Letusan senjata terdengar lagi. Mujito yang mereka tunggu beraksi. Tepat menem mbaki umpan Lilis dan Herman. Tempat jerami yang tadi ditata Herman. Dua orang itu saling berpandangan. Ternyata Mujito memiliki posisi wenak. Dia berada diantara tebing tebing tak berbentuk. Tebing tinggi yang hampir tidak memiliki sudut bidik untuk lawannya. Dia punya tameng alami dari hutan ini. Herman menepuk tanah pelan. Sasaran utama mereka sang sniper. Mereka tidak akan bisa melenyapkan target kalau sniper itu masih ada. Sekarang bagaimana cara meng habisinya kalau dia dalam sudut tanpa bidik seperti itu!!! Area jebakan mereka didatangi musuh. Dan mereka semakin siaga saat hanya menemukan senjata. Mereka terus melakukan penyisiran dan Jejak. Saat itu pula Lilis dan Herman justru leluasa bergerak. Mereka sibuk mencari jejak di sekitar tempat itu, sedang Herman dan Lilis bisa mendaki tebing dengan cepat dan senyap.
Lilis dan Herman sampai diatas tebing semak belukar. Celakanya tebing itu penuh dengan ular. Dua sniper itu saling pandang kemudian men de sah pelan. Mandi ular saat sekolah dulu ternyata berguna. Herman dan Lilis saling senyum. Memasang SPR-2 mencari sudut bidik untuk Mujito.
"Kau dapat sudut bidik?" bisik Lilis pada Herman disampingnya.
"Tidak Sayang," balas Herman. Yang membuat Lilis berpaling ke arahnya. Herman justru memonyongkan bibirnya seolah akan mencium Lilis. Gadis itu pura pura muntah. Di punggung mereka sudah ditumpangi beberapa jenis ular. Lilis makan bekalnya dengan santai. Saat tentara lain bisa masak ransum, maka untuk para sniper ini tidak bisa. Bergerak saja sulit, apalagi masak. Mereka hanya makan makanan jadi. Biasanya semacam tepung dengan daging kering. Sedang Herman miring sedikit. Melorotkan cela nanya. Pria itu mau buang air kecil. Lilis berpaling memejamkan mata. Bahkan urine dan tinja mereka harus mereka tampung dan dibuang di tempat yang aman nanti. Jika tidak, maka mudah terendus anjing pelacak milik musuh.
"Miring sana!" omel Lilis saat Herman justru miring ke arahnya untuk pipis. Pria itu cuma tersenyum. Berhasil mengerjai Lilis.
Malam tiba. Suhu dingin tempat ini sungguh terasa menyiksa. Para pemberontak itu masih menyisir. Semakin dekat dengan tebing tempat Herman dan Lilis bersembunyi. Para pemberontak itu memadamkan seluruh bara yang ada di camp mereka. Herman dan Lilis melihat sekelebat bayangan dari tebing yang mereka intai. Mujito lelah mengintai mereka tentu saja. Sniper pemberontak itu berniat istirahat sejenak.
Lilis justru menyiapkan roket pencari panas.
'Untuk apa?' Kode Herman dengan isyarat. Mereka tidak berani bersuara. Musuh sudah dekat. Lilis justru menyuruh Herman menyiapkan senapan serbu mereka. Untuk menghalau musuh yang mendekat. Lilis menghitung mundur. Roket kecil pencari panas disasarkan pada tempat persembunyian Mujito. Herman mulai mengerti maksud Lilis sekarang. Menepuk kepala Lilis dengan bangga. Pria itu bersiap dengan senapan serbunya kalau kalau posisi mereka langsung diketahui musuh.
Roket pencari panas meluncur. Menghancurkan batuan tempat Mujito bersembunyi. Juga…. Kepala Mujito yang sedang merokok. Rokok adalah panas bara yang dapat dicari oleh roket Lilis. Rokok tentu saja akrab dengan Mujito. Sama hal nya dengan Lilis. Kebanyakan sniper pasti akrab dengan rokok. Mujito tidak mungkin setegang Lilis dan Herman mengawasi dari balik benteng tanpa sudut bidik seperti itu. Pasti merokok! Itu sebabnya Lilis membawa roket pencari panas.
Mujito yang jumawa tewas ditangan sniper wanita bau kencur anak Samudera. Sniper yang paling di sepelekan Mujito sebelumnya. Secara tidak sadar Lilis membalaskan dendam pada pem mbunuh ayahnya.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh