"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."
Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.
Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Kebahagiaan
Waktu dalam hidup manusia memang diiringi dengan sukacita dan dukacita. Hanya saja, mereka sering kali datang di waktu yang tak bisa diprediksikan. Sekarang, sudah sore hari, Gita selesai memandikan Qinan. Rasanya hari ini hati dan perasaan Gita menjadi lebih baik.
"Mma ..., num," kata Qinan dengan mengambil dodot miliknya.
"Pakai baju dulu ya, Sayang. Sehabis ini Mama buatkan susu di dodot yah," balasnya.
Qinan tampak tidak peduli. Dia terus meminta minum dengan mengangkat dodot miliknya. Gita memilih menyelesaikan untuk memakaikan baju untuk Qinan terlebih dahulu, barulah Gita menggendong Qinan turun dan membuatkan susu formula di dodot miliknya.
"Mama cuci dodotnya dulu yah. Lemak susu yang menempel di dodot bisa menjadi bakteri dan bisa membuat Qinan sakit perut nanti. Tunggu dulu yah," balas Gita.
Ketika sedang mencuci dodot milik Qinan dengan sabun khusus untuk dodot bayi, rupanya Chandra pulang dari kantor. Lantaran sedang berada di dapur, Gita tidak bisa membukakan pintu bagi suaminya yang baru saja tiba dari kantor.
"Mama dan Qinan baru di sini yah?" sapa Dewa yang memang langsung menuju ke dapur.
"Num ... num," balas Qinan.
"Qinan mau minum Papa," kata Gita dengan tersenyum. "Maaf, tidak bisa membukakan pintu," lanjutnya.
"Tidak apa-apa, aku tahu pasti kamu baru mengurus Qinan."
"Andi ... andi," kata Qinan sekarang yang ternyata menyuruh Papanya mandi.
Dewa tertawa, dia kemudian mengusap puncak kepala putrinya itu. "Oke, Papa mandi dulu yah."
Dewa akhirnya naik ke atas dan mandi terlebih dahulu. Sedangkan Gita dan Qinan sedang bermain bersama, bahkan Gita membacakan buku-buku untuk Qinan. Dewa yang sudah selesai mandi, melihat bagaimana Gita yang telaten mengajari Gita. Kini, pria itu bergabung dengan istri dan anaknya. Dewa langsung memangku putri kecilnya itu.
"Hei, Qinan serius banget. Bibirnya sampai manyun gitu kalau serius yah?" tanyanya dengan menyentuh bibir Qinan.
"Qinannya baru belajar, Pa." Gita dan menyahut dan menunjukkan buku yang baru saja Gita belikan untuk Qinan.
"Wah, pandai sekali. Baca buku sama Mama yah."
Sembari memangku Qinan, Dewa mencuri pandang kepada Gita. Sebab, istrinya itu ketika sedang bersama Qinan akan begitu fokus, sampai tak memperhatikan dirinya. Diam-diam Dewa tersenyum dalam hati, dia bahagia karena memang Gita adalah sosok Mama yang baik untuk Dewa.
Malam pun datang, Qinan sudah tertidur sekarang. Giliran Dewa yang mendekati Gita. "Capek ngurus Qinan seharian?" tanyanya.
"Kan sudah biasa mengasuh Qinan. Jadi, sudah enggak capek lagi," balas Gita.
Dewa menganggukkan kepalanya, kemudian dia membuka kedua tangannya sebagai bentuk isyarat supaya Gita masuk ke dalam pelukannya. "Sini, peluk dulu," kata Dewa.
Gita sedikit malu-malu, tapi dia mau juga dipeluk suaminya. Bahkan tanpa diminta Gita melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Untuk sesaat, Gita mendekatkan wajahnya di dada suaminya dengan memejamkan matanya sejenak. Dulu, rasanya kontak fisik dengan Dewa membuat Gita tidak nyaman bahkan sampai membuatnya merasa bersalah. Sekarang, dipeluk oleh Dewa seakan menjadi hal yang Gita sukai.
"Seharian Qinan rewel enggak? Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" tanya Dewa.
Panggilan Dewa ke Gita juga berubah. Sering kali, dia memanggil Gita dengan panggilan Sayang atau Mama ketika bersama dengan Qinan.
"Aku selalu baik kok, Mas."
"Syukurlah. Pokoknya kamu harus selalu sehat, dampingi aku selalu. Baru-baru ini aku mensyukuri sesuatu yaitu kita sudah membuka pintu kebahagiaan dan itu karena kamu, Sayang. Dulu rasanya pedih, berduka, dan kehilangan, sekarang banyak kebahagiaan yang aku rasakan. Terima kasih. Awalnya mendampingiku pasti tak mudah bukan? Terima kasih karena kamu bertahan dan bersabar," kata Dewa.
Memang tak mudah, mereka yang semula ipar kemudian harus menjadi suami istri, ada gejolak di dalam jiwa mereka. Selain itu, Dewa yang masih mengingat Tya dan menjadikan Tya sebagai tolok ukur untuk membandingkan Gita. Itu hal yang dulu menyakiti Gita. Namun, semua sudah berubah.
"Apa benar Mas Dewa mencintai aku, walaupun aku bukan almarhumah? Walaupun aku memiliki karakter berbeda dengan Mbak Tya? Walaupun aku kadang tidak sesuai dengan kriteriamu?" tanya Gita.
"Iya, aku mencintaimu. Tulus dan apa adanya," balas Dewa. "Maaf yah, dulu bicaraku sering menyakiti kamu, maaf di awal pernikahan kita, ucapanku sering membuatmu menangis."
Gita menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Namanya juga waktu itu emosi kamu belum stabil. Aku bisa memahaminya kok."
Dewa mengeratkan pelukannya, dia tahu sekarang cara Allah membahagiakannya adalah dengan menempatkan Gita di sisinya. Pintu kebahagiaan sudah terbuka, Dewa bersyukur untuk semuanya itu. Air mata dihapuskan dan Allah gantikan dengan kebahagiaan dan rasa penuh syukur di dalam hatinya.
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya