NovelToon NovelToon
Ad Meliora

Ad Meliora

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Kantor / Dosen / Janda / Duda / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:429.1k
Nilai: 5
Nama Author: Penulis_Baru15

Senandika Maverick Dananjaya, seorang dokter spesialis anak yang baru saja pulang dari masa pengabdiannya sebagai relawan dan memilih bekerja di salah satu rumah sakit besar yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan Gistara Nauren Anandara, seorang perawat di ruang keperawatan anak dimana mereka berdua memiliki masa lalu yang tidak diketahui oleh semua orang. Masa lalu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Kenapa mereka harus merahasiakan masa lalu mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis_Baru15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Permisi..."

Wira mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang berdiri tidak jauh darinya.

"Anda ada perlu dengan saya?" tanyanya saat melihat Dika. Dika mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Wira.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Wira berdiri dari duduknya, lelaki itu mengikuti Dika yang berjalan sedikit menjauh dari ruang tunggu pasien di ICU.

"Ada apa?" tanya Wira begitu mereka berhenti di ujung lorong ICU.

"Langsung saja. Saya dan Gista akan menikah kurang dari dua bulan lagi, saya harap anda tidak menemui calon istri saya lagi, apalagi sampai membuat suasana hatinya buruk seperti hari ini."

Wira hanya tersenyum sinis mendengar ucapan serius dari Dika,

"Kenapa? Anda takut bersaing dengan saya?" tanyanya jumawa.

Dika diam, "takut?" tanyanya dengan senyum meremehkan yang tentu saja dia tujukan kepada Wira.

"Kenapa harus takut kalau jelas-jelas saya pemenangnya?" tanyanya dengan ekspresi jumawa dan bangga.

"Lagipula ya, yang akan mendapatkan Gista pertama kali tetap saja saya terlepas dari dia pernah menjadi istri anda. Jadi saya harap anda lebih baik menjauh dari calon istri saya."

"Kalau saya tidak mau? Lagipula posisi kita seimbang kan? Anda dokter saya seorang Manager perusahaan besar." Wira mengangkat kepalanya dengan sorot mata tajam seolah-olah seperti sedang menantang Dika.

Dika hanya tersenyum, lelaki itu menghela nafas beberapa kali,

"Terserah anda mau atau tidak, tapi satu yang harus anda ingat atau mungkin harus anda tahu..." Dika menjeda ucapannya. Tubuhnya dia dekatkan ke arah Wira,

"Saya memang dokter disini, tapi saya harap anda tidak lupa kalau saya putra sulung Dananjaya Group" ucapnya setengah berbisik di telinga Wira yang berhasil membuat lelaki itu terdiam.

Dika mundur beberapa langkah, menjauhkan tubuhnya dari Wira yang sepertinya masih terpaku karena ucapannya. Entah karena lelaki itu lupa atau mungkin dia memang tidak benar-benar tahu siapa Dika hingga membuatnya membeku sebegitu hebatnya.

"Kalau begitu saya permisi Pak Wira, selamat sore" pamitnya dengan senyum yang jelas-jelas menunjukkan kalau Dika menang telak kali ini.

Sepertinya Dika, seorang wanita berusia 60 tahunan menghampiri Wira yang masih berdiri di tempatnya.

"Siapa mas?" tanyanya kepada Wira. Wira hanya tersenyum lalu meraih tangan ibunya,

"Calon suaminya Dita bu" jawabnya lembut dengan senyuman tulus di wajahnya.

"Kamu ngapain sih masih ngurusin perempuan itu? Level kamu itu sudah jauh di atas dia mas. Nikah itu sama perempuan yang kalau dikasih tahu nurut gitu lho, jangan kaya mantan istrimu itu. Dikasih tahu suruh berhenti kerja gak mau, disuruh tinggal di rumah ibu juga gak mau. Heran ibu, kok ada perempuan yang gak bisa di atur gitu.."

Wira hanya bisa menghela nafasnya. Ya, perdebatan seperti ini sudah bukan pertama kalinya terjadi. Salah satu alasan Wira saat itu berpura-pura memiliki selingkuhan agar Gista bisa menceraikannya walaupun kenyataannya ibunya tetap berfikir kalau Wira tidak salah sudah berselingkuh karena Gista tidak bisa kunjung memberinya keturunan.

                  -- { } --

"Sayang, aku tunggu di parkiran. Aku pengen makan bebek bumbu hitam."

Gista tersenyum tipis saat melihat pesan singkat dari Dika.

"Ehm..." goda Karen yang baru saja mengambil satu kursi di samping Gista.

"Dicari dr.Cakra mba.." bisik Gista yang membuat Karen menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut.

Melihat ekspresi terkejut Karen tentu saja membuat Gista tersenyum dengan ekspresi tengil sekaligus bangga karena berhasil membalas Karen.

"Kamu tahu darimana?" bisik Karen sepelan mungkin karena Kalina masih melakukan timbang terima dengan perawat yang shift malam.

"Rahasia" balasnya sembari berbisik yang membuat Karen hanya bisa menatap kesal ke arah Gista.

Selesai berganti pakaian, Gista bergegas keluar dari ruang ganti perawat. Dengan ekspresi sumringah wanita cantik itu menemui lelaki yang sudah menunggunya di mobil.

Dia sudah tidak perduli kalaupun ada yang melihat mereka, lagipula mereka akan menikah kurang dari dua bulan lagi.

"Lama nunggunya mas?" tanyanya begitu masuk ke dalam mobil.

"Setengah jam kayanya" jawabnya asal.

"Maaf ya, tadi masih ada yang harus di beresin"

"Iya gak papa. Nunggu kamu 12 tahun aja aku sanggup kok apalagi cuma 30 menit"

Blushhhhhh

Pipi Gista seketika memerah mendengar kalimat yang di lontarkan Dika.

"Biasa aja, gak usah salting gitu" ucap Dika yang sadar benar kalau wajah kekasihnya tiba-tiba menjadi sangat merah seperti kepiting rebus.

Dika memacu mobilnya menuju ke tujuan awal mereka, bebek bumbu hitam langganan mereka.

Dika menarik kursi plastik di salah satu meja kosong setelah memesan makan malam yang kemalaman untuk mereka berdua.

"Aku tadi nemuin Wira..."

Gista yang sedang membersihkan meja menggunakan tissue tiba-tiba diam. Matanya menatap lurus ke arah Dika yang duduk di depannya dengan ekspresi santai.

"Aku cuma bilang ke dia jangan pernah nemuin kamu lagi untuk alasan apapun. Aku gak suka calon istriku ketemu mantannya" lanjutnya dengan ekspresi santai tetapi terdapat penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.

Gista menghela nafasnya lalu tersenyum, wanita cantik dengan rambut yang di kuncir kuda itu meraih tangan Dika.

"Terimakasih ya" ucapnya lembut yang membuat sisi hati Dika terasa seperti es batu yang terkena panas.

"Apa nikahan kita dimajuin sebulan aja ya?"

Gista segera melepas tangan Dika dengan ekspresi kesal saat Dika mulai berbicara semaunya sendiri lagi.

"Pengajuan cutinya udah terlanjur di ACC mas, jangan ganti-gantian tanggal nikah semau kamu sendiri" ucap Gista dengan ekspresi kesal tetapi berhasil membuat Dika tertawa karena kekasihnya itu memang mudah sekali digoda untuk hal-hal seperti ini.

"Jadinya outdoor apa indoor?" kali ini nada bicara Dika terdengar sedikit lebih serius daripada sebelumnya.

"Menurut mas gimana?"

Dika memutar bola matanya ke atas seperti sedang berfikir,

"Menurutku sih sesuai impian kamu waktu SMA aja. Nikah outdoor dengan latar candi Prambanan. Gimana?"

"Berarti resepsinya di Yogyakarta?"

Dika mengangguk, "Ya tamu-tamunya nanti kita kasih free menginap 1 malam di hotel Yang" ujarnya santai sembari menerima nasi dan bebek bumbu hitam yang mereka pesan.

"Jangan ngaco mas, butuh keluar uang banyak kalau harus booking hotel" gerutu Gista yang selalu tidak setuju dengan ide Dika untuk menghambur-hamburkan uang.

"Kan ada hotel punya papa disana. Aku yakin papa gak akan keberatan untuk ngasih setengah harga ke kita"

"Ya tapi walaupun setengah harga kan tetap mahal mas kalau harus booking sesuai jumlah tamu undangan kita."

Dika menghela nafasnya, dia menghentikan sejenak aktivitas makannya.

"Mau kemana?" tanya Gista saat melihat Dika berdiri dari kursinya.

"Cuci tangan sebentar Yang" jawabnya sembari berjalan menuju area cuci tangan.

Setelah kembali, Dika terlihat berkutat dengan ponselnya.

"Mas, kamu ngapain telfon papa malam-malam?" tanya Gista panik saat Dika meletakkan ponselnya di meja makan.

Dika tidak menjawab, lelaki itu hanya mengangkat jari telunjuknya di depan bibirnya tanda meminta Gista untuk diam.

[Halo...] seorang laki-laki dengan suara berat menjawab panggilan telefon Dika.

"Halo pa, sibuk gak?"

[Nggak, papa lagi nungguin mama yang lagi ada operasi ini. Kenapa?]

Dika menatap Gista sekilas sebelum kembali fokus ke ponselnya yang dia loud speaker.

"Jadi gini pa. Gista kan punya impian nikah outdoor dengan background candi Prambanan. Kalau nanti pas resepsi aku minta bantuan papa buat siapin kamar untuk tamu undangan kita gimana?"

"Mas...." Protes Gista dengan suara berbisik beserta tatapan tidak setuju saat mendengar penjelasan Dika.

[Ada Gista disana?]

Dengan sedikit ragu Gista akhirnya menjawab pertanyaan calon mertuanya.

[Kalau kamu mau resepsinya disana, kasih data ke papa berapa orang yang mau kamu undang, nanti papa siapin kamarnya]

Gista hanya diam, otaknya seketika membeku saat mendengar penjelasan calon mertuanya.

[Halo? Gis?]

"Dia masih ngefreeze pa" celetuk Dika mengambil alih pembicaraan Gista dan papanya.

"Pa, tapi kalau permintaan Gista bikin rugi karena kami cuma mampu bayar setengah, Gista resepsi di sini saja pa, gak usah di Yogyakarta. Di sini juga banyak tempat outdoor bagus kok." elak Gista yang tiba-tiba merasa tidak nyaman karena impiannya diwujudkan dengan semudah itu oleh calon mertuanya.

[Kamu ngomong apa sih Gis? Ngapain bayar? Biar papa yang bayar]

"Ya tapi pa..."

[Gak ada tapi-tapian. Kamu maunya gimana bilang sama Dika, biar Dika yang urusin. Ngerti?]

Gista menatap ragu ke arah Dika yang sedang menikmati makan malamnya.

"Ya udah pa. Berarti deal ya papa yang bayar hotelnya?" ujar Dika menyela pembicaraan papanya dengan Gista.

[Iya udah tenang, papa yang bayar hotelnya. Ow iya, yang kemarin dibahas itu udah kamu beresin Dik?"

Kali ini Dika menatap Gista dengan ekspresi sedikit kelabakan,

"Pa udah dulu ya, nanti Dika telfon lagi" ucapnya singkat lalu dengan cepat mematikan sambungan teleponnya.

"Papa nyuruh kamu beresin apa mas?" tanya Gista penasaran saat merasa ada sesuatu yang Dika sembunyikan.

"Masalah pekerjaan Yang. Udah gak usah dipikirin, makan aja yuk terus pulang"

Gista hanya diam, tapi dari sorot mata dan cara bicara Dika, Gista tahu benar ada yang disembunyikan darinya.

1
putrifenny
Bagus..
Menarik untuk d baca..
Konflik tidak terlalu berat..
Dim Dimas
Lumayan
Dim Dimas
Biasa
GuGuGaGa_90
mantoppppp..... sy bg 5 star
GuGuGaGa_90
mantoppppp
Dwii Dwii
Luar biasa
Penulis Baru
terimakasih, semoga suka ya ☺️ Jangan lupa follow author ya kak, terimakasih
Windy Veriyanti
thank you so much, Author...
bagus banget karyamu 🙏👍🌹
Windy Veriyanti
wejangan bijak dari simbah 👍
Windy Veriyanti
sungguh...mama mertua idaman 😍😘
Windy Veriyanti
ikutan legaaa karena Tuhan telah mempersatukan duo Dika Gista, sah sebagai suami istri 🙏🌹
Windy Veriyanti
duhh...yang dikatakan Mbak Kinan bisa bikin hati jadi adem...
Windy Veriyanti
so cute 😍😁
Windy Veriyanti
kok sweetnya kebangetan sih 😘
Windy Veriyanti
sikap tegas Dika sudah benar itu 👍
Windy Veriyanti
Dokter Dika emang langka dan menggemaskan 😁
Windy Veriyanti
cerita dengan latar belakang kegiatan di rumah sakit selalu mempunyai daya tarik tersendiri 👍
Windy Veriyanti
pedih...perih sekali luka hati Gista 😢
Windy Veriyanti
sweet banget Dika 😍
Windy Veriyanti
semakin membaca semakin penisirin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!