Karina membawa Kirana yang tidak sadarkan diri ke rumah sakit . Namun dia terkejut saat dokter menyatakan jika Kirana mengalami cidera kepala yang parah sehingga menyebabkan Kirana mati otak. Di tambah lagi terdapat banyak luka di sekujur tubuh Kirana.
Dia mencari tahu apa yang terjadi pada kembarannya itu karena selama ini yang dia tahu, Kirana hanya pergi sekolah.
Karina menyamar sebagai Kirana untuk pergi ke sekolah. Dan hal itu membuat nya tahu, apa yang terjadi pada Kirana selama ini.
Muncul dendam di hati Karina. Dia bersumpah akan membalas siapapun yang membuat adiknya terluka.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Kirana? Dan apakah Karina berhasil membalaskan dendam nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Melawan
Keesokan harinya, Karina sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Namun tiba-tiba dari luar terdengar suara motor mendekat.
Karina yang tidak asing dengan suara motor tersebut, segera membuka pintu dan mendapati seorang pria tengah memarkirkan motornya. Siapa lagi jika bukan Leo.
"Kak Leo!! Ada apa pagi-pagi datang kemari?" tanya Karina
Leo tersenyum dan menghampiri Karina. "Aku datang untuk mengantarmu ke sekolah." ucapnya
"Mengantarku? Tumben sekali? Tidak biasanya kau mau repot-repot mengantarku." seru Karina
"Ck ... Jangan bicara seolah-olah aku tidak perduli padamu." gerutu Leo. "Mulai hari ini, aku akan mengantar jemput dirimu sekolah. Jadi kau tidak perlu jalan kaki ataupun naik angkot lagi." ucapnya lagi
Karina mengerutkan keningnya heran. Tidak biasanya Leo mau mengantar dan menjemput dirinya sekolah. Karena dia tahu, pagi hari pria itu sangat sibuk. Bahkan mereka bisa bertemu hanya saat malam saja. Tapi kenapa tiba-tiba pria itu ingin mengantar jemput dirinya?
"Kenapa kau malah melamun? Cepat bersiap!! Aku akan menunggu diluar." perintah Leo yang menyadarkan lamunan Karina.
"I-iya, aku juga sudah selesai bersiap." ucapnya. Dia masuk ke rumah untuk mengambil tasnya. Baru setelahnya dia mengunci pintu dan berangkat bersama Leo.
Di perjalanan, Karina terus menerus menghela nafasnya. Dan hal itu bisa dilihat oleh Leo melalui kaca spionnya. Dia tahu jika gadis itu pasti masih kesal dengan konferensi pers kemarin. Dia tahu gadis itu mencoba meredam amarahnya agar tidak terpancing emosi saat masuk ke kelas nantinya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di depan gerbang sekolah IHS. Karina turun dari motor Leo dan mengembalikan helm pria itu.
"Terimakasih kak." seru Karina
"Sama-sama. Hubungi aku jika kau pulang nanti." ucap Leo yang dijawab anggukan oleh Karina. Dia mengusap pelan kepala Karina dan mulai menyalakan mesin motornya. "Belajar yang rajin." ucapnya lagi sebelum menjalankan motornya
Interaksi keduanya dilihat langsung oleh Bagas. Dia penasaran dengan pria yang mengantar gadis itu. "Siapa pria itu? Apa dia kakak Kirana? Tapi bukankah kakak Kirana itu perempuan? Atau jangan-jangan Kirana mempunyai dua kakak?" batin Bagas. Dia begitu penasaran. Setahu dia, Kirana anak yatim-piatu. Dia mengira Kirana hidup sendirian. Tapi ternyata gadis itu mempunyai kakak perempuan.
Ya walaupun penampilan kakak Kirana tomboi, tapi menurut Bagas, dia mirip dengan Kirana. Tapi yang baru saja mengantar Kirana, terlihat tidak mirip sama sekali. Apa pria itu kekasih Kirana?
"Astaga ... Kenapa aku jadi penasaran begini?" batin Bagas lagi. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa penasarannya. Tapi bayangan saat pria itu mengusap kepala Kirana terus terngiang di ingatannya. "Lebih baik nanti aku tanya kan langsung pada Kirana." gumamnya. Dia masuk ke kelas dan melihat Sovia sudah berkumpul dengan kedua sahabatnya. Dia berjalan pelan dan duduk di kursinya. Namun tiba-tiba Jessica memasang jebakan yang sama seperti kemarin di atas pintu setelah mendapat kode dari siswa lain. Dia yakin jika jebakan itu di siapkan untuk Kirana.
"Gawat." batin Bagas. Dia mengambil ponselnya diam-diam dan mengetik sebuah pesan untuk Kirana. Dan setelah pesan tersebut terkirim, Bagas segera menghapus pesan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya.
Sementara itu, Karina yang berjalan di lorong kelas tengah membuka sebuah pesan yang dikirim oleh Bagas ke nomor Kirana. Dia mengerutkan keningnya heran karena pesan tersebut hanya bertuliskan sebuah peringatan agar dirinya berhati-hati.
"Apa maksudnya?" gumam Karina. Dia memasukkan kembali ponsel Kirana dan berjalan menuju kelasnya. Tapi sesampainya di depan kelas, dia mendapati pintu kelasnya yang tertutup.
Hal itu mengingatkannya akan jebakan yang dipasang untuk dirinya kemarin. Ditambah Bagas baru saja memperingatkannya.
"Hah ... Apa mereka tidak bisa kreatif sedikit?" gerutu Karina. Dia mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang. Baru setelahnya dia berlari menendang pintu tersebut hingga terbuka dan ...
BYURR ...
Ember berisi air yang sudah di letakkan di atas pintu, tumpah begitu saja.
Semua orang di dalam kelas hendak bersorak, namun setelah tahu jika mereka gagal, mereka hanya terdiam. Apalagi saat Karina masuk dengan senyum sinis nya.
"Sial!! Kenapa bisa gagal?" gerutu Sovia
"Emm ... Mungkin dia sudah tahu trik itu karena kemarin kita juga memasang jebakan yang sama." sahut Jessica
"Kenapa kau tidak bilang, hah?" sentak Sovia. Dia mendengus kesal dan menatap Karina yg duduk di kursinya. "Kali ini aku tidak akan melepaskannya." Sovia mengambil tepung dalam tas nya dan menghampiri Karina. Dia berdiri di belakang Karina dan menabur tepung diatas kepala Karina.
Semua orang tertawa melihatnya. Apalagi kepala Karina sudah penuh dengan tepung sampai mengenai bajunya.
Karina mengepalkan tangannya erat. Dia menggebrak meja dan berdiri dengan kasar sehingga kursinya terjatuh kebelakang.
Semua orang seketika terdiam. Apalagi mereka melihat Karina yang menatap tajam Sovia.
"Apa? Kau pikir aku takut padamu, hah? Lihat!! Disini tidak ada kamera atau apapun itu, jadi aku tidak akan segan memberimu pelajaran." Tangan Sovia terangkat dan hendak menampar wajah Karina, namun dengan cepat Karina menahan tangan Sovia. Dia menarik kasar tangan Sovia dan memelintirnya.
"Akh ... " pekik Sovia kesakitan. "LEPASKAN AKU, SIALAN!!" teriak Sovia
Jesicca dan Ericka refleks membantu Sovia namun Karina menyadari hal itu. Dia menggelengkan kepalanya hingga tepung yang ada di kepalanya mengenai mata keduanya.
Mereka berteriak karena tidak bisa melihat. Dan Karina memanfaatkan kesempatan itu dengan menendang perut kedua sahabat Sovia hingga terjungkal ke lantai.
Tidak sampai disitu, Karina mengambil sisa tepung dalam wadahnya dan menuangkan diatas kepala Sovia.
"KYAAA .... APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?" teriak Sovia
"Sama seperti yang kau lakukan padaku." bisik Karina penuh intimidasi. Dia mendorong kasar tubuh Sovia sehingga terjatuh ke lantai.
Karina menatap satu persatu teman-temannya. Namun mereka buru mengalihkan perhatian mereka. Dia kembali menatap Sovia dan kedua temannya dengan seringainya, baru setelahnya dia pergi dari sana.
fan utk lo para aparat yg suka makan uang suap, hdp mu gakakan tenang
da n neraka dengan senang hati menanti mu
tamat kan riwayatklrg lo yvsombong itu. 😃😃😃
eahai orang kaya ygsombong