"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 31
Terhitung hampir dua minggu Hanin tak bertemu lagi dengan Sagara. Laki-laki itu menghilang begitu saja bak ditelan bumi sejak pertemuan terakhir Hanin dengannya yang sangat berkesan.
Dan pagi itu, Hanin seperti merenungi sesuatu. Ya, tentang dirinya yang tinggal di apartemen Sagara cuma-cuma, hingga niat gadis itu untuk pindah ke kontrakan yang tak jauh dari kantor. meski, apartemen Sagara terbilang lumayan dekat juga. Namun, Hanin juga masih perlu bicara dengan Sagara, rasanya tak etis tiba-tiba pergi apalagi disini Sagara banyak membantunya.
"Sis, aku pulang duluan ya? Tadi udah izin sih sama Pak Divine, kerjaan aku juga gak banyak," pamit Hanin tergesa.
Siska yang tadinya janjian dengan Hanin akan nge-mall bareng jadi mengernyit samar, "kenapa tuh bocah?"
Namun, Siska sudah terlanjur mengangguk hingga sahabatnya itu tak lagi terlihat. Tak berselang lama, mobil mercy hitam berhenti tepat di depan kantor Wijaya grup, Siska mengerutkan kening kala melihat Sagara.
"Siska, saya mau bertemu Hanin."
"Tapi Hanin sudah pulang, Gara. Kamu gak tau?"
Sagara mengerjap, lalu melihat jam di pergelangan tangan. Gegas ia meraih ponsel di saku celana dan menghubungi Hanin. Menghela napas kasar, karena sibuk syuting di luar kota, ia jadi tak mengabari Hanin kemarin-kemarin.
Ah sepertinya bukan hanya kemarin, Sagara bahkan lupa kapan terakhir kali berbalas pesan dengan gadis itu.
Gara, sibuk dengan film barunya juga sibuk membangun chemistry dengan lawan mainnya, Syahla.
Gara langsung pergi, satu tempat tujuannya kini adalah apartemen. Benar saja, masih ada jejak Hanin di sana. Bahkan apartemennya terlihat bersih dan terawat. Sagara menghempas tubuh lelahnya di sofa, Hanin tak ada disana. kemungkinannya gadis itu mampir entah kemana.
Klek...
Bunyi pintu terbuka, Hanin memegangi dadanya terkejut melihat keberadaan Sagara terkapar di sofa dengan mata terpejam.
"Sagara!" Hanin sampai menggumam pelan, saking tak percayanya dengan keberadaan laki-laki itu di hadapannya.
Ada setitik rindu yang membuncah di dada dan tiba-tiba.
Hanin bergegas ke dapur dan menaruh belanjaannya, akan tetapi yang tak ia sangka sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Hanin," lirih Sagara dengan suara berat.
Hanin menegang, tapi juga tak menolak tangan Sagara yang merengkuhnya.
"Kangen, aku kangen Hanin."
Sagara sialan, wajah Hanin memerah dan terasa panas. Apalagi ucapan itu terdengar candu di telinga.
Hanin berbalik, masih di posisi Sagara menguasai pinggangnya. "Kamu jelek!"
Hanin tetaplah Hanin, ia tak suka berbasa-basi. Dan setelah mengatakan hal itu tentu Sagara langsung meraba wajahnya sendiri dengan cemas.
"Beneran jelek?"
"Hahaha, lucu kamu itu. Udah gak ngasih kabar, sekarang tiba-tiba datang bilang kangen. Emang kita ini apa?"
"Emang kita ini apa?" Sagara mengerjap, iya juga.
"Kamu marah, aku gak ngasih kabar, Hanin?"
"Menurutmu? Jangan jadi manusia seenaknya Sagara. Mungkin bagimu aku terdengar sepele, tapi ini seperti..." Hanin tak melanjutkan kalimatnya, ia takut apa yang dirasakan tak sama seperti yang Sagara rasakan.
Hanin takut berharap.
"Gara-gara syuting di luar kota, aku jadi jelek. Tadi belum sempet cukuran, langsung kesini begitu sampai. Tapi kamu gak ada di kantor!"
Hanin mengerjap cepat, "aku buru-buru tadi, Ibu telepon minta uang." Hanin menunduk seiring bahunya yang ikut merosot.
"Aku capek gara!"
Gara menarik Hanin agar merapat padanya, ia angkat dagu gadis itu. "kenapa masih peduli? mereka memang keluargamu, tapi apa arti keluarga kalau gak ada kasih sayang di dalamnya."
"Aku,—" Hanin terdiam, inilah sisi jelek dirinya. Menjadi manusia yang tak tegaan dan selalu memikirkan orang lain lebih dulu dibanding perasaannya sendiri.
"Jangan diulangi, aku gak suka!"
Dan Hanin kembali melebarkan matanya mendengar peringatan Sagara.
"Kita ini apa?"
Sagara menarik sudut bibirnya tipis, lalu mencium sekilas bibir Hanin. "menurutmu?"
"Menurutku, kita?" Hanin bingung.
"Masih belum jelas? Aku sayang kamu, Hanin."
Ahh Sagara, kenapa semakin hari semakin membuat hati Hanin kacau.