Shamuel hampir saja gelap mata, saat melihat Andrew adik kandungnya menggagahi Shera, dokter cantik yang diam-diam dicintainya hingga berbadan dua.
Akankah pernikahan mereka terlaksana?
Jangan lupakan Fhilip, laki-laki yang selalu menjadi super Hero bagi Shera, pribadi yang mencintai apa adanya.
Cinta, adalah sebuah pengorbanan. Cinta yang tulus akan selalu memberi tanpa syarat, tanpa mengharapkan balasan.
Terkadang akan di pandang BODOH. Tapi itulah cinta.
❤️TERNODA❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Di Rumah Sakit Jiwa
Shera melajukan mobilnya dengan perasaan kacau, meninggalkan rumah mewah milik keluarga Jhonson, bukan arah menuju kantor polisi, dan bukan pula kerumah sakit tempatnya berkerja.
Saat ini ia hanya mengikuti kata hatinya, menangis sejadi-jadinya saat sudah berada di sudut taman rumah sakit jiwa dimana ibunya dirawat, menumpahkan segala kekecewaan akan takdir yang begitu pahit dan kejam yang tengah dijalaninya.
Selama ini, ia sudah berusaha keras untuk bangkit dari kemalangannya yang pernah menimpanya ketika masih remaja dulu, saat masih mengenakan seragam biru-putih.
Belajar menerima keadaan, dan terus berkerja keras demi merubah nasib hingga menjadi seorang dokter, agar bisa diterima dan dianggap layak dimanapun ia menjejakan kaki. Nyatanya, yang terjadi sekarang tidak seperti yang ia mimpikan.
"Orang gila baru ya? Hehe..."
Shera menghentikan tangisnya, menoleh kebelakang, saat dirasanya ada seseorang yang menyentuh punggungnya.
Benar saja, seorang perempuan paruh baya, dengan make-up minornya dan rambut disanggul ala ibu Kartini, mengenakan jas dokter menampilkan cengirannya dibarengi tatapan geli pada Shera.
"Hore! Pasien rumah sakit jiwaku nambah satu!" pekiknya.
Perempuan itu berjingkrak-jingkrak kegirangan, Shera dibuat melongo melihatnya sembari mengusap air mata dipipinya.
"Kalau gila, gila aja sendiri. Nggak perlu ganggu kebahagiaan warga sini. Lihat noh! Orang pada cekikikan senang. Eh, kamu malah pake nangis disini."
"Sini, aku periksa! Biar tau berapa dosis obat penenang yang perlu aku racik nantinya biar kamu tenang dan nggak nangis-nangis lagi kaya tadi" perempuan itu secara asal menempelkan ujung stetoskop pada pipi, mata, dan leher Shera.
"Dokter Ariyuna, bisa tolong periksa pasien yang satu ini? Dari tadi nggak mau tenang," keluh dokter Sesilia mendekat, membawa rekannya, dokter Arya yang berpura-pura menangis kejer.
"Cup-cup-cup anak ganteng. Tenang ya, Sayang. Sini! Sama Bu dokter saja,"
Perempuan yang dipanggil sebagai dokter Ariyuna itu segera melupakan Shera begitu saja, menghampiri dokter laki-laki yang terus sesenggukan lalu mendekapnya erat, tidak perduli dengan liur dan ingus yang terburai menjijikan milik sang dokter tampan itu.
"Kalau nggak mampu beli mayat sendiri nggak perlu maksa'in diri, jadi nangis kejer sampe jelek begini kan?"
Masih dengan mode yang sama sekali tidak terlihat jijik, Ariyuna mengusap ingus dan liur dokter Arya dengan jarinya, lalu mengelapnya pada jas dokter yang ia kenakan.
Setelah dirasanya bersih, ia lalu menarik pergelangan tangan dokter Arya mengikutinya tanpa berpamitan pada Shera maupun Sesilia.
"Kenapa pasien itu dipanggil dokter?" tanya Shera, matanya terus menatap kepergian Ariyuna dan dokter Arya yang sudah menjauh, menyusuri lorong rumah sakit menuju bangsalan pasien.
"Nona Ariyuna adalah calon dokter belasan tahun yang lalu. Mengalami depresi berat saat mayat yang sudah dibelinya untuk praktek bersama beberapa temannya ternyata tidak pernah kunjung datang, karena ia membelinya dipasar gelap. Mau menuntut? Tidak bisa." terang Sesilia, turut memandang kearah Ariyuna dan dokter Arya.
"Ada masalah apa dokter Shera? Ayo cerita bila berkenan," Sesilia beralih pada Shera.
Sebagai dokter yang sudah berpengalaman menangani para pasiennya, kemampuan ilmu psikologisnya sudah sangat terasah dan mumpuni, sehingga dari sikap Shera saja ia sudah bisa membaca bau masalah berat perempuan yang pernah menjadi adik tingkatnya waktu mereka sama-sama menuntut ilmu di fakultas kedokteran beberapa tahun lalu.
Shera mengubah air mukanya, menampilkan senyum terbaiknya.
"Aku baik-baik saja dokter Sesilia, tadi cuma beracting. Mau bukti'in kata orang-orang, ternyata bener--, pasien gangguan jiwa terkadang merasa dirinya waras, dan menuduh orang waras lainnya-lah yang gila," kekehnya.
Sesilia ikut terkekeh mendengar perkataan Shera
"Iya, itu benar dokter Shera. Dan saat ini kamu-pun hampir sama seperti yang kamu katakan itu, berbohong mengatakan kalau kamu baik-baik saja, padahal aku melihat kamu sedang tidak baik-baik saja."
Mendadak kekehan Shera terhenti, tangisannya seketika meledak. Tadinya berusaha menyimpan semua masalah untuk dirinya sendiri, nyatanya ia tidak mampu menahanya.
"Ikutlah denganku dokter Shera, saat ini kamu memang butuh seorang psikolog handal sepertiku," godanya, tapi serius sambil merangkul pundak Shera dan membawanya pergi.
Sejak memperhatikan Shera menangis disudut taman tadi, lalu diganggu oleh Ariyuna, ia sudah merasakan ada yang tidak beres pada dokter spesialis ortopedi itu.
"Kacian cekali ya si orang gila baru itu. Masalahnya pasti sangat berat," ucap seorang pasien rumah sakit jiwa pada boneka dolphin-nya dengan gaya khas sok imutnya, memandang kepergian Shera yang dibawa oleh Sesilia.
Bersambung...👉
Tapi Pikiran juga harus waras tentunya... /Grin/