Kisah perjuangan Hesti untuk mendapatkan kasih sayang dari orang orang yang dia sayangi. Terutama mamanya.
Hesti terlahir tanpa ayah. Hesti adalah anak yang dilahirkan dari hasil pemerkosaan. Karena itulah mamanya sangat membencinya.
"Kenapa mama sangat membenciku, ma?" Tanya Hesti pada Riana.
"Kamu mau tahu? Nih dengar baik baik, buka telinga kamu lebar lebar.."
Riana menjewer telinga Hesti sangat kuat, lalu dia mendekatkan mulutnya kelubang telinga Hesti.
"Kamu itu anak dari pria yang menghancurkan masa depanku! Aku membencinya, dan aku juga sangat membenci kamu..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Kini Hesti sendirian di kamarnya. Dia sedang memikirkan sesuatu.
"Non, ada apa!" Seru Ida yang baru tiba di kamarnya.
"Bibik kan punya handphone, boleh tidak aku pinjam sebentar." Ujar Hesti ragu.
"Tentu boleh non. Ini handphone bibik, tapi ya hanya handphone murah." Ida memberikan handphone nya pada Hesti.
"Tapi bisa internet kan, bik?" Tanya Hesti.
"Bisa non, bibik malah menggunakan handphone bibik untuk menonton video video ceramah saat lagi senggang." tuturnya.
Hesti mengangguk sebagai respon untuk penuturan Ida.
"Aku pinjam handphone bibik hari ini ya bik. Nanti malam baru aku kembalikan. Boleh nggak bik"
"Tentu boleh non, silahkan. Kalau begitu bibik kembali ke dapur ya non. Banyak pekerjaan yang belum selesai."
Hesti mengangguk, lalu Ida pun segera meninggalkan kamar Hesti.
Setelah Ida benar benar sudah tidak terlihat, barulah Hesti mengutak atik handphone milik Ida. Dia seperti mencari beberapa berita terkait pemerkosaan terhadap mamanya di tahun saat dia lahir dan setahun sebelum dia lahir.
"Deril, CEO Klin grup pernah dipenjara karena memperkosa seorang gadis anak pejabat. Deril juga sempat mengakaui bahwa dia pernah memperkosa seorang siswa SMA." Gumam Hesti membaca berita terkait.
"Alamat rumah CEO Klin grup." Tulisnya di kolom pencarian.
Keluarlah dilayar handphone alamat rumah Deril si CEO Klin grup itu.
"Aku harus menemuinya. Dia adalah si br*ngs*k yang menghancurkan masa depan mama dan membuat aku hidup seperti di neraka."
Hesti meraih matel coklat panjang dari dalam lemari. Lalu dia segera bergegas keluar dari kamarnya dengan mengendap endap. Dia hendak menemui pria yang kemungkinan adalah ayah biologisnya.
Untungnya Sinta tidak dirumah saat ini, dia sedang pergi arisan. Sementara Ida masih sibuk di dapur. Sehingga memudahkan Hesti keluar dari rumah tanpa ketahuan siapapun.
Setibanya di depan pagar rumah, Hesti pun membuka pintu pagar dengan sangat perlahan agar tidak kedengaran oleh Ida. Setelah tiba di di pinggir jalan Hesti menyetop taksi.
"Pak antar saya ke alamat ini?" Hesti menunjukkan alamat yang hendak dia tuju.
"Baik, mbak." Sahut pak sopir taksi.
Taksi yang ditumpang Hesti melaju cepat memecah jalanan kota metropolitan yang kerap kali macet itu. Namun pagi ini masih belum macet, karena baru pukul sepuluh pagi jadi orang orang masih di tempat kerja mereka dan belum waktunya anak anak sekolahan pulang juga.
Tapi, meski jalanan sedang mulus, tiba tiba taksi yang ditumpangi Hesti mogok.
"Loh loh kok mogok sih ini taksi." gumam supirnya bingung karena sebelumnya taksinya tidak pernah mogok seperti ini dan lagi taksinya baru diservis dua hari yang lalu.
"Kenapa pak?" Tanya Hesti bingung.
"Waduh, maaf mbak sepertinya taksi saya mogok nih. Mbak cari taksi lain saja, nggak usah bayar juga nggak apa apa." Ucap supir taksi itu.
"Ya udah pak, kalau gitu aku bayar setengahnya saja ya pak." Hesti mengulurkan uang kepada pria itu dengan jumlah setengah dari angka yang tertera di layar depan taksi.
"Waduh, terimakasih ya mbak. Sekali lagi maaf banget ya mbak."
"Iya pak tidak apa apa kok."
Hesti turun dari taksi itu, lalu dia melangkah maju sambil melihat taksi kosong yang sedang melintas.
Tin
Tin
Mobil hitam milik Gala berhenti tepat di dekat Hesti yang berdiri di pinggir jalan.
"Kamu mau kemana adik manis!" Seru Gala yang bicara masih di dalam mobilnya.
Hesti kelabakan, dia tidak tahu harus melakukan apa saat Gala menemukannya sedang berada di luar rumah sendirian dan sudah cukup jauh dari rumah.
"Apa kamu mau kabur dari rumah?" Gala kini turun dari mobilnya.
Hesti diam saja, dia tidak menyahut ataupun menatap Gala yang kini sudah berdiri dihadapannya.
"Kamu mau kemana adik manis?" Tanya gala sambil mendekatkan wajahnya sangat dekat kewajah Hesti.
"Iih kak Gala apa apan sih." Hesti mendorong Gala untuk menjauh darinya.
"Ayo pulang!" Gala menarik tangan Hesti untuk masuk ke mobilnya.
"Nggak mau! Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Aku takut, aku takut pada kalian semua. Sepertinya kalian tidak benar benar tulus menyukai aku. Lagi pula, aku hanya anak pembawa sial, kalau aku terus di rumah itu, bisa bisa kalian tertular nasib sial yang aku bawa." Celoteh Hesti menolak ajakan Gala untuk pulang bersamanya.
"Kamu harus tetap tinggal di rumah itu Hesti! Kamu harus mencari tahu siapa yang benar benar tulus sama kamu dan siapa yang hanya berniat memanfaatkan kamu." Ucap Gala.
"Bagaimana caranya? Aku hanya seorang gadis lemah yang tidak tahu apa apa tentang kehidupan ini selain dari penderitaan dan air mata." Sahut Hesti yang mulai mengis.
"Karena itulah, ikut aku. Aku akan membantu kamu Hesti!!" Teriak Gala tak kalah lantangnya dari suara protes Hesti barusan.
"Kak Gala mau membantu aku?"
"Iya."
"Kenapa? Untuk apa kak Gala membantu aku. Apa yang kak Gala harapkan dari membantu gadis tidak berguna sepertiku?"
"Ikut aku!"
Gala menarik paksa Hesti masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak peduli dengan penolakan Hesti yang mencoba berontak melepaskan diri darinya.
"Sekarang kamu mau kemana? Katakan saja, aku akan mengantarmu." Tanya Gilang saat dia sudah berhasil membawa Hesti masuk ke mobilnya.
Bukannya menjawab, Hesti malah menangis. "Aku mau melihat seseorang yang mungkin saja dia adalah ayahku, kak. Aku menemukan alamatnya." Tutur Hesti sambil menangis.
"Dimana alamatnya, akan aku antar."
Sambil menangis Hesti memperlihatkan alamat yang akan ditujunya itu pada Gala.
"Rumah CEO Klin grup?!" tanya Gala terkejut.
"Memangnya kenapa, kak? Apa kakak mengenalnya?" Tanya Hesti antusias.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi setidaknya aku tahu dimana rumahnya."
untungnya Hesti sdh pergi. Biarkan Hesti bahagia thor dengan ayahnya meskipun hidup sederhana...
Biarkan Riana mendapatkan balasan atas kekejaman nya selama ini terhadap Hesti. Hidup itu hukum tabur tuai. siapa yg menanam maka dia yg akan menuai hasilnya. .. ☺
sebegitunya bencinya Gilang pada, Gala. Semoga Hesti bisa mbantu memperbaiki hub mereka..