Tia adalah seorang gadis biasa yang ingin mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik, bahkan bercita-cita ingin menjadi penulis hebat dan berharap mendapat suami yang bisa mengangkat derajatnya, akan tetapi apalah daya, sejak tia bertemu dengan duda yang sudah merusak hidupnya dan menghancurkan segala impian juga harapannya, tia pun ahirnya pasrah dengan keadaan dan menerima nasibnya yang harus menjalani hidup dengan duda itu walou hidup sederhana. tapi apakah tia akan menyerah begitu saja dengan ke inginannya setelah menikah dengan si duda itu.
baca cerita selanjutnya ya.! di angkat dari kisah nyata, entah percaya atau tidak. tapi begitulah kenyataannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang keluarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan terakhir
Sesudah kami merasa puas berenang dan berjalan-jalan menikmati setiap perjalanan yang kami lewati kami memutuskan untuk pulang, karna hari memang sudah mulai sore. Sebelum berangkat pulang, kita berkumpul lagi di saung seperti lesehan, kami bercerita dan saling bercanda di situh, lalu kami beranjak pergi ke depan gerbang dan betapa syok nya aku mendapatkan perkataan yang menohok dari Kak Dandi, yang membuat ku tak menyangka akan apa yang dia katannya.
"Neng Tia, sekali lagi Kakak mau tanya, sama kamu tapi jawab dengan jujur ya?" tanya Kak Dandi datar.
"Oke, emang mau nanya apa?" tanya ku berbalik nanaya tanpa berani menatapnya.
"Kamu sebenernya gimana sih, sayang sama Kakak apa enggak,katanya kamu mau serius sama Kakak tapi kok malah milih dia, kalo emang kamu sayang sama Kakak kenapa kamu gak batalin aja lamarannya?" tanya Kak Dandi mendesak.
"Emm, kan tadi aku udah bilang alsannya, tapi ada satu lagi yang belum aku katakan tadi, aku gak mau ngecewain Kakak," jawab ku malu, takut dan gak PD.
"Ngecewain! Ngecewain gimana maksudnya, emang kecewa kenapa?" tanya Kak Dandi bingung.
"Ya, takut nanti kecewa ajah," jawab ku sedikit gugup.
"Apa kamu udah main jauh, sama dia, kalo kamu udah bilang begitu berarti kamu udah ngelakuin itu sama dia," jawaban Kak Dandi yang sangat menohok.
Aku tak langsung menjawabnya karna aku memikirkan apa jawaban yang akan aku berikan. Aku cemas dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya, karna apa yang di bilang Kak Dandi itu memang benar, aku akui itu, aku memang tak bisa menutupinya, tapi aku tak berani jujur, karna aku fikir belum seberapa, aku masih yakin kalo aku masih virgin, kalo cuma sekali dengan paksaan dan tak terlalau dalam, mungkin belum terlalu ro**k, tapi gak terlalu yakin juga sih, aku pun menjawabnya dengan kebohongan, meski Kak Dandi percaya atau tidak, yang penting aku bisa menjawabnya meski dengan kebohongan.
"Eeh, engak kok aku gak sampe begitu sama dia," jawab ku bohong, dengan jantung berdebar kencang.
"Kalo gitu kenapa kamu bilang takut ngecewain Kakak, kalo kamu melakukannya sama dia cuma sebatas ci**kan dan ciuman, itu gak masalah buat Kakak, asal jangan sampe yang di bawah sana aja yang kenapa-kenapa," ucapnya lirih dan meyakinkan ku, kalo dia gak ke beratan kalo aku hanya melakukan hal itu sajah.
Tapi aku tetap bersi kukuh menolak Kak Dandi karna aku takut dan malu, jika nanti aku membuatnya kecewa. Kalo ternyata aku membohonginya. Heuuu heeu heu heu....mewek gue kalo udah begini. Hiks hiks hiks.... pengen teriak kenceeeeenng banget rasanya. Tapi apa lah daya, gue gak bisa apa-apa sekarang.
"Gara-gara si koplak Duda kucay ngeselin itu, hidup gue jadi berantakan dan terancam, sialan, sial banget sih nasib gue, heeuu...eu eu eue eeuuu....Tuhaaan kenapa harus jadi begini, aku bingung, apa ini jalan hidup ku, apa ini takdir ku, aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi saat ini, " tangis ku dalam hati dan merutuki diri sendiri, sambil menatap jauh ke sembarang arah. Lalu Kak Dandi mengajak ku pulang memegang jari tangan ku menuju parkiran, karna sudah selesai merokok.
"Ayo Neng, kita pulang,"
"Kalo masih betah di sini juga gak papa, bisa nginep di sini nanti, biar lebih puas anu nya gitu, eeh maksudnya ee...Itu anu..eee..itu apa namanya," ucap Acul terbata, sambil mikir. Entah apa yang di pikir kannya, yang baru sajah muncul dari toilet.
"Uta itu una anu apa? Gak jelas," timpal Frea yang tiba-tiba muncul dari belakang Acul, habis jajan dari warung.
"Em, enggak, itu si Dandi sama Tia, kalo masih pada betah di sini, nginep aja gitu loh say," jawab Acul gugup.
"Alah bohong," jawab Frea tak percaya, sambil mengecek henponnya.
"Ya udah yu, pulang katanya mau pulang, apa mau nginep semua disini?" tanya ku, jutek.
"Yah yo ayo, kita pulang,"
"Ya ayo, entar ujan lagi," sahut Frea.
Kak Dandi pun segera beranjak ke tempat parkiran motor sambil menarik jari tangan ku, begitu pula dengan Acul dan Frea yang mengekori dari belakang.
*
*
Singkat cerita, kami pun dalam perjalanan pulang, namun Kak Dandi tidak langsung pulang kerumahnya, dia mengantarkan ku dulu supaya gak ke sorean. Di tengah perjalanan kami terjebak hujan yang cukup deras, hingga kami harus berteduh sampai hujan reda, kami mampir ke tukang bakso, kami segera memesan sambil duduk di sana, kebetulan baksonya sudah habis, tapi untungnya masih ada dan cukup untuk kami berempat, hujan pun ahirnya reda, setelah kami selesai makan kami pun segera melanjutkan perjalanan sebelum hujan turun lagi.
kini...hujan turuuun... lagi, di bawah payung hitam ini ku berlindung. Seperti itu kiranya lagu hujan, lupa lagi lah lirik sama lagunya, ingat-ingat lupa, hehe...nyelang dikit lah biar gak boring.
Baru juga beberapa meter berjalan, eeeh udah hujan lagi, eeuum....jadi kita neduh lagi deh, di pinggir jalanan di depan toko-toko yang sudah tutup, tapi gak lama sih cuma beberapa menit aja, terus kita lanjut jalan lagi deh.
Pada ahirnya kita tiba di gerbang pedesaan tempat kita tinggal, sedangkan Acul dan Frea mungkin mereka juga udah sampai di rumah masing-masing, karna Frea dan Acul tak ikut mengantar ku, mereka langsung belok pulang kerumahnya. Sebelum sampai ke rumah aku dan Kak Dandi berhenri di jalan lagi karna hujan turun lagi, di sana Kak Dandi melancarkan aksinya.
"Neng, kamu dingin gak?" tanya Kak Dandi sambil menggigil karna kedinginan.
"Bukan dingin lagi, tapi banget," jawab ku datar
"Hujannya udah reda lagi ni, kita jalan lagi yu?" ajak Kak Dandi, "tapi sambil peluk ya biar gak kedinginan," ucapnya lagi sembari menaiki motornya.
Aku tak menjawabnya, tapi aku langsung memeluknya dari belakang, sehingga merasakan sedikit kehangatan dari tubuh Kak Dandi, lalu tiba-tiba Kak Dandi menarik tangan ku tanpa ba bi bu langsung slep masuk ke adiknya itu, seketika tangan ku replek dan langsung menarik tangan ku kembali karna merasaka benda aneh di situh, yang terasa yah begitu lah. Hiiih
"Ii..ih apan sih, maen slap slup aja, kaget tau gak?" umpat ku merutuki Kak Dandi.
Haha..haha.ha ha..
"Bukan nya jawab malah ketawa, ih dasar aneh, mesum banget sih," celetuk ku sambil ngoceh.
"Heh...heeh..maaf ya maaf, gak sengaja, abisnya ini si dedeknya tiba-tiba kebangun sih, kalo di peluk kamu," jelasnya Kak Dandi tanpa rasa malu, sambil cengar cengir.
"Hah, enak aja, aku gak ngapa-ngapain kok, orang cuma meluk doang, kan udah biasa di peluk," rutuk ku.
"Iya tapi kali ini rasa berbeda, mungkin karna kedinginan gara-gara cuacanya hujan," jelas Kak Dandi beralasan.
"Hemh, alesan aja, nyari kesempatan dalam kesempitan," celetuk ku asal, sambil terus memeluk karna cuaca memang begitu dingin menelusuk hingga ke tulang.
"Lanjutin lagi deh, kaya tadi, pegang doang gak papa, biar Kakak gak ke dinginan sama si dedeknya juga," pintanya sedikit menggoda, sambil memasukan tangan ku lagi ke sarang pusakanya.
"Iih gak mau ah, gak enak entar pacar Kakak marah kalo udah gak dejaka, hahaha... jawab ku ngasal, sambil tertawa ringan.
"Pacar siapa? Kamu kali yang udah punya pacar, gak papa lah cuma sekali ini doang kok, gak bakalan gini lagi, toh yang penting gak di jamahin ke marwahnya, kan cuma di pegangin ajah," ucapnya sedikit kecewa, karna memang ini terahir kita bertemu.
"Iya siiih, tapi emmm, jangan ampe mikir yang aneh-aneh ya?" jawab ku ragu, dan ini memang terahir kita bertemu.
"Ya... nggak, cuma pngen di pegangin ajah," jawab Kak Dandi meyakinkan.
Yaah dengan sedikit terpaksa dan ragu aku menurutinya, toh setelah ini kita gak akan ketemu lagi, lalu Kak Dandi menarik tangan ku kembali ke sarang pusakanya itu, dengan rasa dag dig dug derr, pelan-pelan aku menyentuh pusaka milik Kak Dandi yang elastis dan aaah tak bisa di jelaskan, maaf di sensor. Hehehe....
Lalu Kak Dandi kembali fokus menyetir motornya lagi, setelah sedikit bergoyang membawa motornya tadi saat terjadi sedikit perdebatan, sembari aku memegangi pusakanya dan memeluknya dari belakang, tapi pegang pusakanya cuma sebentar, mungkin hanya satu menit, tapi pelukannya tetap nemplok ampe ke depan lapangan.Tak butuh waktu lama kita hampir sampai ke pedesaan tempat aku tinggal aku melepas pelukan ku karna risih dan pasti ada Cctv berjalan yang selalu mengawasi. Hehehe...hayo coba tebak siapa? Pasti pada tau lah kalo punya tetangga. Hihihi...
"Ahirnya kita sampai juga di rumah, heem cape banget," celoteh ku
"Eh Kak, masuk dulu yu, istirahat sebentar," ajak ku ke Kak Dandi.
"Gak usah, maksih Kakak mau langsung pulang ajah, takut nanti kejebak hujan terus gak bisa pulang.
"Ya gak papa, kan tinggal nginep aja," jawab ku enteng.
"Enggak ah, nanti ada yang cemburu lagi, sama takut di gerebek sama warga," tolak Kak Dandi beralasan.
"Ya biarin ajah, biar dia gak balik lagi, terus kalo soal di gerebek warga juga gak masalah, biar di kawinin langsung, hihih..jawab ku lirih sambil tertawa ringan takut ada yang denger.
"Bisa ajah, udah ah Kakak mau pulang sekarang keburu malem, daaah," sambil mengecup kening ku dan memeluk ku untuk yang terahir, lalu melajukan motornya pergi sampai tak terlihat lagi jejaknya.
"Ini hari terahir kita bertemu dan berpisah, semoga kita bisa melanjutkan hidup kita kedepannya nanti dengan labih baik lagi, meski kita tak bisa bersama tapi setidaknya kita pernah bertemu, karna setipa pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan, meski rasanya menyakitkan," Gumam ku dalam hati sembari memejamkan mata dan menarik napas panjang dan membuangnya kasar berulang kali, hingga membuat hati sedikit tenang.
Sampai di sini perjumpaan kita saat ini...tunggu selanjutnya oke.