JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigangdasa
Setelah semalam Pono melihat penampakan di area tempuran yang mengering, pagi ini dia menggigil kedinginan. Darmini menyentuh dahi suaminya itu dan ternyata suhunya cukup tinggi. Darmini mengambil air hangat untuk digunakan sebagai kompres agar suhu tubuh Pono membaik.
"Dar kalau aku mati, kamu jangan nikah lagi lho ya," ucap Pono lirih dengan giginya gemeretak beradu menahan dingin.
"Jangan ngomong aneh-aneh deh Mas. Setiap sakit sedikit saja, kamu itu kok sambate macem-macem. Dulu itu mau buat surat wasiat lah, sekarang pesen-pesen agar aku ndak nikah lagi. Yang kuat gitu lho. Namanya orang hidup itu pasti ada kalanya sakit," gerutu Darmini sambil meletakkan selembar kain basah di dahi Pono.
"Dar, aku belum cerita yo?" Suara Pono terdengar parau.
"Cerita apa?" Darmini mengernyitkan dahi.
"Sebenarnya sudah dua kali aku melihat penampakan di tempuran. Yang sebelumnya aku ndak cerita. Khawatir kamu ketakutan jika kutinggal sendirian di rumah pas aku ada perlu keluar," ucap Pono. Badannya kini tak lagi menggigil berlebihan. Kompres air hangat dari Darmini ternyata cukup manjur sebagai pertolongan pertama.
"Kamu sudah pernah ketemu istrinya Wira?" tanya Pono kemudian.
"Narsih kan? Aku pernah lihat. Kalau ketemu dan ngobrol langsung sih belum. Kenapa? Cantik gitu ya? Suka? Kayak Bapak-bapak di warung setiap hari yang dibahas selalu istrinya Mas Wira cantik. Kelek e wangi, kentut nya harum, nafasnya kayak bunga setaman. Iya? Begitu?" Darmini menghujani Pono dengan pertanyaan. Bibir Darmini manyun, jengkel merasa kalah pamor dengan Narsih.
"Sebentar to, mulutmu itu jangan nyerocos terus. Aku kan cuma tanya, sudah ketemu istrinya Wira apa belum. Kok malah kayak orang kesurupan pertanyaanmu," keluh Pono.
"Sudah pernah lihaattt. Terus kenapa?" Darmini menarik kasar kain kompres di dahi Pono. Mencelupkannya kembali ke dalam air hangat. Kemudian meletakkan ke dahi Pono sekali lagi.
"Si Narsih itu bukan manusia," bisik Pono lirih. Seolah takut ada orang lain yang mendengar.
"Hah? Iya aku tahu. Maksudmu Narsih itu bidadari gitu kan Mas? Turun dari kahyangan, bawa selendang, dan dicuri Wira di tempuran. Gitu kan? Wira tarub namanya," sela Darmini sewot. Pono menghela nafas. Jika saja dia tidak sedang sakit, pasti Darmini sudah diangkat dan dibaringkan di atas dipan. Setiap kali melihat Darmini cerewet dengan bibirnya yang maju mundur menggemaskan membuat Pono hilang kesadaran.
"Aku tidak sedang memuji Narsih. Aku melihat sendiri, bagaimana ritual pernikahan Narsih dan Wira di tempuran itu Darminiii," jelas Pono kesal.
"Ritual pernikahan di tempuran? Apa maksudmu Mas? Kamu mengigau gara-gara demam nih," sahut Darmini meragukan perkataan suaminya.
"Darmini, aku berani bersumpah Wira dan Narsih menikah di tempuran. Mereka melaksanakan ritual dhahar kembang. Itu artinya salah satu pengantin bukan berasal dari dunia ini." Pono melotot meyakinkan. Darmini memegangi tengkuknya kini.
"Mas, kamu menakut-nakutiku ya?" protes Darmini.
"Sekarang aku tanya padamu. Apa kamu tahu asal-usul Narsih? Apa warga desa ada yang tahu?" tanya Pono. Darmini menggeleng dengan cepat. Perempuan itu baru menyadari jika memang menantu Ki Mangun itu misterius.
"Narsih bukan warga asli desa sini. Bukan pula dibawa Wira dari kota. Aku yakin Narsih adalah memedi yang dinikahkan Ki Mangun dengan anaknya agar bisa mencapai kesuksesan. Hiiii," ujar Pono geleng-geleng kepala. Darmini memperbaiki posisi duduknya. Mendekat pada Pono karena bulu kuduknya meremang.
"Tapi Wira kok mau ya Mas. Biarpun cantik sundul langit, tapi kan bukan manusia. Mending sama Sri ya, manis, kalem dan paling penting manusia tulen," sambung Darmini.
"Oh iya, dulu Wira mau dijodohkan sama Sri ya oleh Bayan Kidul?" tanya Pono. Darmini mengangguk.
"Eh Mas, ceritamu barusan bukannya bisa untuk senjata mempengaruhi warga agar nama Wira jatuh? Bayangkan Mas, seorang Bayan menikahi dedemit lho. Itu jelas menyalahi adat, norma masyarakat. Bagaimana kalau bisa berdampak buruk pada kehidupan warga sekitar coba?"
Pono termenung mendengar ucapan Darmini. Detik berikutnya dia mengulas senyum.
"Kok puinter hari ini istriku tercinta," puji Pono sambil tersenyum sumringah. Dia sedikit terlupa dengan kondisi tubuhnya yang demam.
Dipuji oleh suaminya, Darmini terlihat senang. Dia mendaratkan kec*pan di pipi Pono yang terasa hangat.
"Aku tak ke pasar sebentar ya Mas. Mau beli sayur, daging, juga jahe. Biar nanti kubuatkan sup juga minuman jahe anget, agar badanmu cepet sehat. Lagipula besok sepertinya Ki Mangun nanggap wayang. Aku mau nonton sekaligus penasaran pengen lihat Narsih dari dekat. Pasti dia datang kan?" Darmini berdiri dari duduknya.
"Bumbu-bumbu ndak sekalian beli?" tanya Pono. Darmini menggeleng cepat.
"Bumbu, empon-empon kecuali jahe masih lengkap," jawab Darmini.
"Uang masih ada kan? Aman to sebulan ke depan?"
"Aman Mas." Darmini mengacungkan jempol lalu beranjak pergi.
Pono kini sendirian di kamar. Dia sudah berhenti menggigil. Badannya pun terasa lebih enteng. Pono bersyukur memiliki Darmini dalam hidupnya. Setelah kematian Sang Bapak, hanya ada Darmini yang menemaninya. Pono merasa tidak mungkin bisa hidup jika tidak ada Darmini di sampingnya.
Melamun sendirian dalam kamar, membuat Pono mulai merasa bosan. Perlahan dia mencoba bangun. Meski agak pusing, Pono tetap melangkah keluar kamar. Dia menuju ke dapur, berharap ada makanan yang bisa digunakan untuk mengganjal perut yang kosong.
Di meja makan nyatanya tidak ada secuil pun makanan. Hanya ada nasi thiwul sisa kemarin yang beraroma sedikit kecut. Tidak ada sayur di panci. Nihil, tidak ada apapun yang bisa digunakan untuk memberi makan cacing dalam ususnya.
Pono hendak kembali ke kamar, namun kemudian matanya tertarik pada nampan yang tergeletak di dekat tungku. Nampan lebar itu berisi bawang merah dalam jumlah yang terlalu banyak.
"Perasaan, bawang merah sedang mahal-mahalnya. Kapan Darmini beli sebanyak ini? Ohh, aroma bawang di kasur kemarin gara-gara ini berarti," gumam Pono manggut-manggut.
Tidak jauh dari nampan, tergeletak benda kecil berwarna perak yang mengkilat. Sebuah pisau yang terasa familiar bagi Pono.
"Pisau ini. . ."
Mata Pono membulat. Teringat kejadian malam hari sepulang dari balai desa. Dia disergap seseorang yang menanyakan keris milik Darso. Pisau yang ada di dapur, sama persis dengan senjata yang digunakan sosok asing untuk mengancam Pono.
Sedikit ragu-ragu Pono meraih pisau itu. Mengamatinya dengan sungguh-sungguh. Bahkan Pono mencoba menempelkan di lehernya sendiri. Mencoba mengingat sensasi dingin kalau pisau menggores leher malam itu. Ukuran yang sama persis.
"Sial*n! Ini hanya kebetulan saja Pono!" pekik Pono melempar pisau ke lantai. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri seperti kehilangan akal.
"Mana mungkin Darmini mencelakaiku? Dia istri yang baik, mencintaiku dengan segenap hati," ucap Pono dengan tatapan mata kosong. Sejurus kemudian dia mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan bergegas membawanya ke kamar. Pono menyembunyikan pisau itu di bawah tempat tidurnya.
Pono duduk termenung. Praduga buruk, prasangka pada istrinya berkecamuk. Teringat aroma bawang yang menempel di ranjang, pisau kecil di dapur, juga bekas memerah di paha istrinya itu.
"Apa yang sudah Darmini lakukan di belakangku?"
Bersambung___