Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naila emes
"Perasaan tadi pagi lu nggak pakai baju itu." Farel melirik kearah Sindi.
"Perhatian banget."
"Ia dong kalo nggak diperhatiin diambil orang nyesel."
"Sa'ae perkedel."
"Baju siapa itu?"
"Baju Chika, tadi baju gue kena saus." Saus darah maksudnya, maap ya suami.
"Ouhhhhh.."
"Kak.. kak Citra satu kelas sama Lu kan?" tanya Sindi kepo.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Farel balik.
"Nggak papa tanya aja, tadi gue ketemu di kampus mungkin ada urusan." Kurang kerjaan sekali si Citra ke kampus hanya untuk ngelabrak Sindi.
Cuma butuh waktu 20 menit mereka sampai di rumah, setelah memarkirkan mobil mereka langsung masuk ke dalam dan di sambut oleh Naila yang bermain sendiri di ruang keluarga.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Abang sama sistah." Naila mencium punggung tangan Farel dan Sindi.
"Naila main apa?" Tanya Sindi.
"Barbie sista, tapi udah selesai Naila capek, ngantuk pengen tidur, sista temenin Naila tidur ya..." Naila mengucek matanya.
"Sista sama abang Nai." ucap Farel.
"Gantian bang kan setiap malem udah bobo sama abang sekarang gantian sama Naila."
"Ngalah sama adik sendiri kak, yuk beresin dulu mainannya." Ajak Sindi.
Naila melirik abangnya yang duduk di sofa menonton TV.
"Abang aja yang beresin ya..."
"Kan Naila yang main jadi harus tanggung jawab, sini sista bantu." ucap Sindi halus dan di anggukkan oleh Naila.
Semua mainan Naila dimasukkan kedalam keranjang, ada boneka, rumah rumahan, masak masakan hingga penuh satu keranjang.
"Udah selesai... Tapi berat sista.." Sindi melirik Farel yang masih setia menonton salah satu sinetron.
"Kak boleh minta tolong bawain ke kamar Naila? Berat soalnya" Farel menoleh ke istrinya lalu mengangguk.
Naila langsung menarik tangan kanan Sindi menuju ke kamar meninggalkan Farel, dua perempuan itu berjalan riang sambil mengayun ayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, setelah sampai depan pintu kamar Naila melepaskan tangannya lalu membuka pintu kamarnya, setelah terbuka Naila langsung menarik tangan Sindi, tapi sekarang yang di tarik tangan kiri Sindi.
"Auhhhh..." Naila langsung menoleh ke Sindi.
"Kenapa sista? Ihhhhh tangan sista kenapa? Sakit ya... Maaf Naila nggak tau." Naila menatap Sindi dengan khawatir bercampur penyesalan.
"Nggak papa cuma sakit sedikit." Ucap Sindi meyakinkan lalu mengajak Naila duduk di ranjang.
Tak lama Farel masuk membawa keranjang mainan Naila dan diletakkan di samping sofa kamar Naila.
"Bang.. "
"Hemmm?" Farel duduk di sofa.
"Bang tau nggak kalau tangan sista__" ucapan Naila terhenti.
"Naila belum cuci tangan cuci kaki yuk ke kamar mandi dulu" mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya Naila lupa" Naila langsung ke kamar mandi diikuti oleh Sindi.
"Naila..." Sindi menutup pintu kamar mandi.
"Iya sista?"
"Naila dengerin sista baik baik ya..." Di balas anggukan oleh Naila.
"Naila jangan bilang kalo tangan sista sakit ke Abang ya... takutnya Abang khawatir." Sindi menatap Naila lekat.
"Ouhh oke sista" Naila mengangguk.
"Pinter." mengelus lembut kepala Naila.
Disisi lain Farel sudah memiliki firasat aneh dengan melihat gelagat istrinya, ia yakin ada yang sedang disembunyikan oleh Sindi darinya.
"Naila... Tadi Naila bilang apa?" tanya Farel to the point melihat Naila dan Sindi keluar dari kamar mandi.
"Em.. yang mana bang?" Sindi mulai waswas, ia mendudukkan dirinya di ranjang dan berharap Naila tidak mengatakannya.
"Yang tangan sista"
"Ouhhhhh... Tapi Naila nggak boleh bilang ke Abang kalo tangan sista sakit di perban takutnya Abang khawatir." polos sekali anak ini.
Mendengar ucapan Naila Sindi yang tadinya duduk langsung merobohkan badannya di kasur.
"Tamat sudah..." Ucapnya.
Farel terkekeh pelan langsung berdiri menghampiri istrinya dan duduk di samping Sindi yang masih berbaring.
"Mana lihat" Tanpa pikir panjang Sindi langsung menunjukkan tangan kirinya, toh cepat atau lambat Farel juga bakal tau.
"Kenapa bisa gini?."
"Tadi itu nggak sengaja jatuh terus kena keramik di lorong." ucap Sindi santai, kalo dia gugup pasti Farel nggak akan percaya.
"Tapi nggak dalam kok."
Farel belum puas dengan jawaban istrinya, ia mengambil tas milik Sindi dan membukanya, Farel mencium noda merah di baju istrinya.
"Bohong, jelasin yang bener Ci." Farel menatap datar Sindi.
"Bener kok."
"Nai minta tolong ambilin kotak obat ya, tanya bibi kalau nggak tau." suruh Farel.
"Iya bang." Naila beranjak keluar dari kamar.
"Sekarang jelasin gimana bisa jatuh di lorong, nggak mungkin nggak ada angin nggak ada hujan tiba tiba lu jatuh sendiri." Farel kembali menginterogasi Sindi.
Sindi diam tak tau harus menjawab apa.
"Ci... oh atau gara gara Citra?" Sindi semakin bungkam.
"Kamu diapain sama dia?"
"Ng_nggak diapa apain." Sindi gugup.
"Ini nih orang yang sok mau melindungi seseorang sampai mengorbankan dirinya, Ci dengan lu diem aja masalah nggak akan selesai, dengan lu diem buat gue ngerasa nggak berguna jadi suami, bilang ke gue lu diapain!." suara Farel pelan penuh penekanan, Sindi menunduk setia menutup mulutnya.
"Gue suami lu kan Ci, bilang sama gue apa masalahnya kita cari jalan keluarnya bareng bareng, jangan diem aja sampai akhirnya lu merasa tersakiti sendiri, gue yakin pasti ada hubungannya sama gue, gue nggak mau masalah ini sampai mempengaruhi hubungan kita." Farel menggenggam tangan istrinya.
"Kak Citra dateng nampar gue bilang kalau Cia ngerebut lu dari dia, dia juga bilang kalau gue ngehambat kebahagiaan lu terus dia dorong gue sampai gue jatuh, jangan marahin kak Citra ya kak apalagi sampai lu main kekerasan." ucap Sindi sambil menunduk tidak berani menatap Farel apalagi tadi ia dapat melihat sekilas tatapan tajam Farel yang mirip dengan lirikan Leo.
"Astagfirullah..." Farel mengusap rambutnya kasar lalu ia menangkup pipi istrinya.
"Sebelah mana yang ditampar? masih sakit?" Tangan Farel mengelus kedua pipi Sindi.
"Nggak papa kak."
"Denger ya Ci, lu itu sumber kebahagiaan gue bukan penghambat karena lu istri gue bukan musuh gue jadi jangan pernah dengerin ucapan sampah si Citra, kali ini gue nggak bales perlakuan dia ke lu tapi kalau dia buat ulah lagi awas aja." Farel geram.
"Dan buat lu awas kalau besok besok nggak cerita atau lebih parahnya gue tau dari orang lain, gue tuh nggak mau istri gue dipandang remeh sama orang lain, ada harga diri yang harus lu jaga, lu memperoleh mahkota itu dengan susah payah bahkan memerlukan waktu seumur hidup dengan gampangnya lu membiarkan mahkota itu jatuh menggelinding kehilangan pemilik, gue nggak bakal biarin itu." Farel menarik Sindi kedalam pelukannya.
"Makasih..." Sindi membalas pelukan Farel dengan satu tangannya.
"No problem."
"Naila nggak diajak pelukan." Naila masuk kamar dengan menenteng kotak obat.
"Dasar pengganggu." dengus Farel.
"Sini..." Farel melebarkan tangannya menyuruh Naila bergabung.
"Yey... berpelukannn." Naila meletakkan kotak obat dan masuk ditengah tengah abang dan sistanya.
"Abang sama sista ngapain berpelukan?" Naila menatap Farel dan Sindi bergantian.
"Tadi Sista sedih jadi abang peluk." jawab Farel.
"Karena tangannya sakit ya Sista? nih udah Naila bawain obat." anak itu menyerahkan kotak obat yang tadi ia ambil.
"Udah di basuh pakai air?" Tanya Farel.
Sindi menggeleng
"Tapi udah di kasih obat merah kok"
"Gimana sih... Harusnya di basuh pakai air dulu... Biar kotorannya hilang baru kasih obat merah." Farel perlahan membuka perban Sindi.
"Kenapa di buka kak?"
Naila yang sedari tadi hanya menonton mulai membuka suara ketika Farel membuka perban Sindi "ihhh takut ah" lalu membenamkan wajahnya di bantal.
"Di basuh air dulu"
"Jangan..." tolak Sindi.
"Harus Ci... Kalo nggak infeksi nanti."
"Iya tau... Tapi perih, makannya enggak aku kenain air" tolak Sindi lagi.
Farel berhenti melakukan kegiatannya mendengar Sindi menyebut dirinya dengan kata aku bukan gue.
"Nggak usah ya..."
"Harus Sindi... Kamu mau tambah parah terus diamputasi?" Farel menakuti istrinya.
"Tapi... Perihhhh" rengek Sindi macam bayi.
"Enggak... kena obat merah aja kuat masa air nggak kuat, kemarin Naila nyungsep di got lututnya berdarah aja di basuh air."
"Iya sista, yuk Naila temenin, walaupun Naila ngeri lihat luka sista"
"Tapi_" ucapan Sindi terhenti.
"Udah ayo..." Menarik Sindi ke kamar mandi di ikuti oleh Naila.
"Tahan bentar" mengarahkan luka Sindi ke air, dengan cepat Sindi menarik kembali tangannya.
"Nggak sakit Ci... Nggak malu di lihatin Naila?"
"Hehehe... Lihat nih tangan Naila aja kena air" mencuci tangan yang tidak terluka sama sekali.
"Tangan Naila nggak luka sedangkan tangan sista luka." ucap Sindi melihat tingkah Naila.
"Anggap aja nggak luka sista..." anak perempuan itu berusaha meyakinkan sistanya.
"Apa di bawa ke dokter?" Farel mulai memberi penawaran.
"Ja-ja-ngan" suara Sindi terbata bata karena memikirkan dokter Sindi sudah merasa ngeri apalagi benar kesana.
"Makannya di basuh dulu, sakitnya sebentar"
"Ya udah..." Farel pun mengambil tangan Sindi lalu mengarahkan ke kran yang sudah menyala, sedangkan Sindi menenggelamkan wajahnya di dada bidang Farel, Farel hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"aghhhhhhh.." rintih Sindi.
"Bentar lagi.. tahan."
"Semangat sista, semangat sista, semangat." Naila memberi semangat sambil bertepuk tangan.
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO