Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Kayla II
Seorang gadis cantik dengan rambut lurus berpotongan bob sedang mematutkan dirinya di depan cermin di dalam kamarnya.
Kayla gadis cantik tersebut tersenyum sinis, hari ini dirinya akan memberikan kejutan ke sahabatnya juga ke lelaki yang sudah menolaknya.
Kayla pagi ini akan ke kantor Sadewa Grup untuk ikut meeting bersama sepupunya Bryan menggantikan Clara yang sedang berangkat keluar negeri.
Sesuai dengan rencana dari keluarganya untuk masuk di circle-nya Damar ikut andil dalam kerjasama di perusahaan Bryan.
Pukul 8 lewat 15 menit Kayla dan Bryan sudah berada di ruang meeting kantor Sadewa Grup yang di pimpin oleh Ganendra.
Rapat akan di mulai pukul 8.30 pagi. Ruang rapat sudah berisi para Mitra yang akan bekerjasama termasuk pemimpin rapat Ganendra. Tampak Dewa juga Gea sekretaris Diandra sudah berada di ruang rapat.
Hanya menunggu kedatangan pasangan yang baru saja melangsungkan lamaran, Damar dan Diandra.
Kayla tampak gelisah di tempat duduknya, dirinya sudah tidak sabar melihat reaksi sahabatnya jika melihat dirinya ada di dalam ruang rapat.
Pukul 8.25 menit pintu ruang rapat di buka, Vano asisten Damar membuka pintu rapat dan membiarkan bosnya Damar masuk ke dalam ruangan di belakangnya diikuti sosok wanita cantik dengan aura keanggunannya berjalan dengan kepala tegak dan percaya diri.
Damar memperlambat jalannya dan menyamakan langkahnya dengan wanita yang sudah menjadi tunangannya.
Kayla yang melihat pemandangan di depan matanya tampak menatap sinis ke sahabatnya. Kayla merasa Diandra sudah menikungnya dan dirinya tidak akan menganggap Diandra sebagai sahabatnya lagi. Mulai sekarang dirinya akan menganggap Diandra sebagai rivalnya yang telah merebut laki-laki yang dicintainya.
"Pagi Damar, Diandra," sapa Ganendra dengan senyum menggodanya.
Diandra melirik ke kembarannya sepintas dan menatap tajam. Diandra belum menyadari jika sahabatnya ada di seberang mejanya hanya duduknya tidak sejajar dengan dirinya.
Pukul 8.30 tepat Ganendra membuka rapat.
"Selamat pagi semuanya dikarenakan semua peserta rapat sudah hadir kita akan memulai rapat ini melanjutkan rapat sebelumnya, sepertinya hari ini kita mendapatkan rekan kerja baru, silahkan Pak Bryan perkenalkan wanita yang ada di samping Anda,"
Semua mata beralih ke wanita yang duduk di samping Bryan.
Diandra yang mengenal sosok wanita tersebut kaget. Air mukanya berubah sesaat tetapi kembali lagi seperti biasa. Diandra harus bersikap profesional. Bukan hanya Diandra saja yang kaget Damar yang duduk di samping Diandra juga kaget.
"Baiklah Pak Ganendra dan semuanya perkenalkan ini Kayla yang menggantikan posisi Clara mulai saat ini," Bryan memperkenalkan Kayla. Kayla segera berdiri dan tersenyum ke semuanya tetapi dirinya tidak memandang ke arah Diandra juga Damar.
Rapat segera di mulai. Meski rapat berjalan serius dan banyak hal yang di bahas tetapi semua itu tidak bisa membuat seorang gadis yang dari tadi menatap ke Diandra dan Damar fokus dengan pembahasan di rapat tersebut.
Bryan yang melihat sepupunya yang sekarang menjadi sekretarisnya tampak geram. Dirinya ingat pesan Om nya untuk mengajari Kayla dalam urusan bisnis.
Kayla sebagai anak tunggal di keluarganya tidak pernah bekerja sebelumnya. Dirinya hanya bisa menghabiskan uang orangtuanya saja. Segala keinginannya harus terpenuhi.
"Kay, Kamu harus fokus di rapat ini, kenapa dengan wajahmu?" bisik Bryan heran melihat wajah sepupunya yang tampak mengetat dan selalu memandang ke arah Damar dan Diandra.
Diandra sedang fokus mendengarkan penjelasan Ganendra untuk kerjasama yang akan segera di mulai minggu depan. Semua persiapan teknis di dalam proyek ini sudah dipaparkan dalam rapat ini.
Pukul 11 meeting coffee break untuk rehat sejenak. Di meja rapat di sediakan botol air mineral dan kudapan ringan, coffee atau teh hangat. Suasana rapat yang tadinya tegang sekarang agak reda ketegangannya.
Diandra beranjak dari duduknya dan berjalan keluar pintu ruang rapat. Gerak geriknya menjadi perhatian Kayla dirinya juga ikut beranjak dari kursinya.
"Mau kemana?" tanya Bryan.
"Ke toilet, mau ikut?" jawab Kayla ketus.
Bryan heran dengan jawaban Kayla yang ketus dirinya tidak menjawab dan membiarkan Kayla keluar ruangan.
Diandra masih berada di toilet dan sedang mencuci tangan saat Kayla datang dan berdiri di sampingnya dengan tangan di lipat di dada.
Diandra yang melihat sosok sahabatnya dari kaca hanya melirik sekilas dan meneruskan cuci tangannya.
"Begini caramu? Sahabat macam apa menikung jalan, merebut laki-laki yang sudah di jodohkan dengan sahabatnya,"
Air muka Diandra tiba-tiba saja berubah wajahnya memerah, giginya gemelutakan. Diandra tidak menjawab karena tidak ingin bertengkar dengan sahabatnya.
Kayla tidak terima Diandra tidak menjawab pertanyaannya. Tangan kanannya menyentak bahu Diandra dengan kuat.
"Aku pikir kita masih sahabatan, ternyata Kamu bukan wanita baik-baik merebut laki-laki dari sahabatnya sendiri,"
Diandra mengepalkan tangannya, dirinya masih bertahan tidak terpancing dengan kata-kata tajam dari sahabatnya sendiri.
"Kenapa diam! Kamu tidak bisa menjawabkan? Apa karena Kamu merasa bersalah sama Aku?" ketus Kayla masih saja emosi melihat Diandra yang hanya diam saja.
Diandra menatap sahabatnya dengan tajam.
"Seharusnya sebagai sahabat tidak begini cara bicara Kamu, Kay," ucap Diandra tenang.
"Jadi bagaimana? Apa artinya sahabat bagimu? Aku tidak menyangka ternyata Kamu sangat busuk sekali, diam-diam merebut laki-laki jodoh sahabatnya sendiri,"
"Jaga ucapanmu, Kay, Aku tidak mau bertengkar denganmu," Diandra membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Kayla meski didadanya sudah tampak naik turun menahan emosi.
Kayla yang tidak terima dengan ketenangan sikap Diandra menarik rambut Diandra yang di kucir satu.
"Aduh," teriak Diandra. "Lepaskan Kay, jangan bersikap kekanakan begini, aku tidak merebut Mas Damar darimu,"
"Apa? Sekarang Kamu panggil Mas juga seperti Aku memanggil namanya?" Kayla semakin menguatkan tarikan tangannya di rambut Diandra, Diandra meringis kesakitan.
Ceklek, pintu toilet terbuka Gea sekretaris Diandra kaget melihat pemandangan di depannya, ia segera meraih tangan Kayla yang masih menarik ikatan rambut bosnya.
"Nona Diandra, astaghfirullah kenapa ini Nona Kayla kenapa Anda menarik rambut bos Saya?" tanya Gea galak.
Gea langsung pasang badan melindungi bosnya yang mendapatkan penganiayaan dari sahabatnya sendiri.
Gea tidak mengenal Kayla karena baru hari ini bertemu dengan Kayla.
"Nona Diandra, Anda gak apa-apa?" tanya Gea khawatir.
"Tidak apa-apa Gea, Saya akan kembali ke ruang rapat,"
"Cih, dasar munafik, mulai hari ini jangan anggap Aku sebagai sahabat lagi, Aku tak sudi punya sahabat seperti dirimu," Kayla berteriak dengan lantang membuat Gea menatap tajam ke arahnya.
Diandra sudah keluar dari toilet, mood -nya sudah tidak bisa kembali seperti awal tadi di ruang rapat.
Gea yang sudah berjalan di samping Diandra sangat khawatir dengan keadaan bosnya.
"Ge, Kamu lanjutkan rapatnya, Saya langsung pulang saja, kalau ada yang bertanya bilang saja Saya tiba-tiba pusing dan izin meninggalkan rapat,"
"Baik Nona, Saya sampaikan ke Pak Damar dan Pak Ganendra, apa Nona baik-baik saja? Saya minta sopir Pak Ganendra saja antarkan Nona ya?"
"Tidak usah Saya bisa pulang sendiri, ada mobil Saya di kantor ini,"
"Baik Nona," Gea yang sangat menghormati bos cantiknya ini menjadi sangat khawatir dengan kondisi bosnya yang wajahnya masih tampak merah akibat kejadian di toilet tadi dan rambutnya yang tadi di ikat satu sudah di bukanya dan dibiarkan tergerai.
Diandra berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke parkiran mobil khusus top manajemen. Ada beberapa mobil keluarganya selalu stay di kantor Sadewa Grup.
Diandra tadi pagi datang ke kantor tidak membawa mobil, dirinya di jemput oleh Damar, meski dirinya menolak dan akan membawa mobilnya sendiri dari apartemennya tetap saja Damar memaksa menjemput dirinya dengan asisten Vano sebagai sopirnya.
Diandra masih shock dengan kejadian di toilet tadi. Diandra wanita dingin yang tidak banyak bicara ini merasa terpukul dengan kata-kata tajam dari sahabatnya sendiri.
Diandra tau semua ini pasti gara-gara berita yang muncul di media sosial tentang pertunangan dirinya dengan Damar pebisnis muda yang sangat terkenal di kalangan pengusaha.
Diandra tidak menyangka sahabatnya bisa tega menuduhnya tanpa bertanya terlebih dahulu dengan dirinya.
Diandra melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi dirinya ingin segera beristirahat di kamar apartemennya dan menenangkan diri sebelum bertemu dengan Damar atau Ganendra yang pasti khawatir dengan dirinya yang tiba-tiba saja menghilang dari ruang rapat.
Diandra pasti akan ditanya dengan banyak pertanyaan dari dua lelaki tampan yang memiliki ikatan dengan dirinya. Diandra mematikan nomor ponselnya sementara. Untuk saat ini dirinya ingin menyendiri tidak mau diganggu.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤