"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta & Obsesi
Hari ini merupakan hari pertama di bukanya Wonderland dan Hotel, sekaligus peresmian. Begitu banyak pengunjung yang datang. Mereka sudah memenuhi setiap tempat bermain di wonderland, terutama di komedi putar, kolam renang dengan perosotan yang paling tinggi dan berliku.
Tidak ketinggalan, kolam renang yang di design menbentuk pantai yang membentang biru yang cocok untuk tempat anak-anak bermain.
Sementara para tamu undangan telah bersiap memenuhi kursi dan meja di taman depan dan belakang hotel. Dari sana mereka juga dapat melihat dengan jelas kearah wonderland.
Dan dimana ada Prince, di situ juga ada Isma. Ya, dia melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris terakhir untuk hari ini. Sehingga dia setuju untuk mengikuti setiap gerak-gerik bos nya itu.
Kini mereka tengah bicara dengan rekan bisnis Prince yang datang langsung dari Malaysia. Dia seorang CEO muda yang hebat dalam memimpin perusahaannya.
"Saye tersentuh sangat hati, encik Prince masih ingat ka saye. Dan jemput saye untuk datang bertamu di sini." Ucap pengusaha itu sambil saling berjabat tangan dengan Prince.
"Biasa saja, encik Haris. Saya juga sangat senang, karena encik Haris menyempatkan diri untuk hadir." Balasnya.
Sebentar keduanya terdiam dan hanya saling tersenyum. Lalu, mata Haris melirik ke arah Isma yang sejak tadi hanyan diam dengan tatapan yang tak fokus.
"Ini ke istri encik Prince?" Tanya Haris.
"Bukan. Saya sekretaris." Jawab Isma dengan cepat.
"Oh, ini PA encik Prince la ye?"
"Iya. She is my PA." Jawab Prince sedikit kesal, terlebih saat melihat tatapan Haris semakin bersemangat saat mengetahui Isma hanya seorang Personal Asistennya.
"Cantik sangat la cik Isma ni, tenang sangat hati ni tatap wajah cik Isma." Haris mulai merayu.
Kemudian Haris mengulurkan tangannya hendak bersalaman, tapi Isma langsung menangkupkan kedua tangannya dan tersenyum malas.
Haris jadi salah tingkah, wajahnya berubah jadi merah padam. Rasanya malu, namun juga kesal. Pasalnya, belum ada wanita yang menolak jabat tangan dari seorang Haris.
Sementara Prince tersenyum penuh kemenangan melihat hal itu. Hatinya yang tadi mulai kesal, kembali berseri lagi.
"Kalau la saye boleh tahu. Cik Isma dah. . . Nikah, ke?"
"Sudah. Isma sudah menikah." Sambut Prince cepat, tak membiarkan Isma menjawabnya.
Dan Isma hanya mengerutkan dahi mendengar jawaban dari Prince.
"Aa, dah nikah la. Saye kira masih sendiri. sebab raut muka cik Isma nampak masih gadis."
"Wajahnya selalu menipu orang." Sahut Prince.
Isma semakin mengerutkan dahinya kesal. Apa sebenarnya tujuan Prince menjawab seperti itu.
"Tapi belum menjadi ibu la kan?"
"Sudah. Dia sudah punya tiga orang anak." Jawab Prince lagi.
Jawaban kali ini bukan membuat Isma saja yang kesal. Tapi, Haris juga semakin kesal. Prince membuat rayuannya terhambat.
"Sayang sekali. Masih cantik, dah ada tiga anak. Nikah muda la cik Isma ni rupanya."
"Tidak juga. Baru dua tahun pernikahan."
Jawaban Prince kali ini berhasil membuat Haris hampir tertawa. Bagaimana bisa pernikahan baru dua tahun, sudah punya tiga anak.
"Hebat sangat suami cik Isma. Baru dua tahun cik Isma dah melahirkan tiga anak." Sindir Haris yang ditujukan pada Prince.
Sementara Isma hanya diam menahan kesal. Dia tidak habis pikir bos pintar nan arogant nya itu mencoba berbohong dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Kembar tiga. Anak nya kembar tiga. Dua cowok, satu cewek." Jawab Prince santai dengan senyuman penuh kemenangan.
Sebentar Prince menatap wajah Isma yang akhirnya tersenyum paksa lalu mengangguk membenarkan kebohongan bos nya itu.
Haris pun terdiam. Dia tidak tahu mau bicara apa lagi.
"Encik Haris, silahkan makan dan minum. Saya mau berkeliling dulu dengan PA saya ini."
"Ya, silakan encik Prince."
Lalu Prince mengajak Isma untuk mengikuti lagkahnya menuju halaman belakang hotel.
"Kenapa bos berbohong?"
"Kenapa? Apa kamu tidak suka."
"Ya saya tidak suka. Bagaimana bisa bos mengatakan saya sudah menikah dan punya anak, sementara saya masih. . ."
"Haris itu playboy. Dia sudah tiga kali menikah dan tiga kali bercerai. Saya hanya tida ingin dia menggoda kamu. Itu saja."
"Ok terimakasih. Tapi, saya rasa bos tidak perlu melakukan itu."
"Kenapa? Apa kamu jatuh hati pada Haris?"
Isma mengerutkan keningnya kesal. Bagaimana bisa Prince menyimpulkan seperti itu.
"Lupakan dia. Haris itu tidak cocok untuk kamu."
"Kenapa bos mengatur hidup saya. Terserah saya dong mau cocok dengan siapa dan jatuh hati sama siapa." Protes Isma kesal.
"Karena kamu istriku, Isma. Kamu akan melahirkan tiga bayi kembar kita nantinya."
"Bos, cukup." Bentak Isma tegas. "Saya belum menikah dengan siapapun. Dan saya tidak akan menikah dengan bos." Teriaknya semakin menjadi dengan penuh luapan emosi.
"Terserah. Dan asal kamu tahu. Saya juga tidak suka di atur. Jadi tererah saya dong mau menikah dengan siapapun."
"Tapi, kamu sudah menikah Prince. Seharusnya kamu menjaga hatinya. Terlebih dia mengandung anak kalian."
"Cukup Isma." Teriak Prince sangat lantang sambil menggenggam erat pergelangan tangan Isma yang berbalut lengan bajunya.
"Bukan anakku yang dikandungnya. Ingat itu." Bantah Prince.
"Lepas, lepas Prince." Menarik tangannya, tapi gagal. Prince mencengkramnya dengan sangat kuat.
"Ingat Isma. Aku akan menjadikan kamu Istriku bagaimanapun caranya." Ancamnya dengan menggertakkan gigi.
Prince terbawa emosi, wajahnya sangat menyeramkan. Isma ketakutan, dia merinding seketika. Belum pernah Isma melihat Prince semarah ini. Terlebih tangannya yang semakin terasa sakit dalam genggaman tangan Prince.
"Lepaaasss. . . Sakkkiiittt. . ." Berontak Isma dan air matanya mulai menetes.
Saat melihat tetesan air bening di mata Isma, Prince tersadar. Dengan segera dia melepaskan genggaman tangan Isma. Dia merasa bersalah, sehingga dia meninggalkan Isma sendiri menangis ketakutan.
"Maafkan aku Prince. Dulu kamu bilang perasaan cintaku hanya obsesi. Karena itu aku mencoba melupakan kamu. Tapi sekarang kamu yang terobsesi dengan perasaanmu Prince."
Ucap Isma pelan mengingat kejadian saat dia memohon agar Prince menikahinya. Isma menahan tangisnya, sesekali dia mengelus pelan pergelangan tangannya yang terasa pedih dan memang memerah akibat cekalan kuat Prince.
Bersambung. . .
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.