Austin 'tak peduli. Dia mencintai Jasmine. Walaupun perut wanita itu membuncit di usia hampir trimester tiga kehamilannya. Tidak ada yang salah dengan hubungan keduanya. Jasmine tak bersuami. Kehamilannya adalah hasil tragedi penculikan yang justru menimbulkan simpati di hati Austin.
Tapi bagaimana jika suatu waktu, pria yang melakukan penculikan itu tiba-tiba datang.
Akan bagaimana hubungan mereka ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Celana jeans selutut bercorak army dipadukan t-shirt putih berlengan pendek yang bagian ujungnya ia gulung tipis saja, dikenakan Austin saat ini.
Kakinya ia alas hanya dengan sandal jepit berwarna coklat, produksi Tasik Malaya.
Cukup santai terlihat, namun tetap tak menghilangkan karisma dalam dirinya, yang memang serasa tak pernah ada habis, begitu kata para pengagumnya.
Ini adalah akhir pekan.
Austin ditemani Tara saat ini tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka memilih untuk beristirahat dari aktifitas bengkel dan menutup usahanya itu sementara waktu. Selain kafe yang diurus oleh seorang kepercayaan yang memang ahli di bidangnya, tempat itu tetap buka seperti biasa.
Lain dari pada Austin dan Tara ... Lily nampak santai di dalam stroller-nya, didorong tangan kekar Austin menyusuri lantai mengkilat bangunan itu. Bocah itu nampak manis dengan jumpsuit denim semata kaki tanpa lengan. Bandana biru dengan aksen bunga matahari di depannya, melingkar manis di kepalanya. Sangat cantik dengan tawa renyah menghias wajah dan pipi gembulnya, sesekali.
Cukup pandai Nimas--pengasuhnya mempercantik bocah itu.
"Lu mau beli apa, Le?" tanya Tara. Pria itu berpenampilan tak jauh dengan Austin, selain celana jeans panjang yang dikenakannya sebagai pembeda.
"Gua mau borong baju-baju cantik buat Lily," sahut Austin seraya mengedar pandang mencari toko yang ingin ditandanginya.
"Lah gua beliin buat sapa?"
"Molly pasti seneng lu kadoin kut4ng." Austin membalas sekenanya.
"Begeh! Baru denger namanya aja, burung gua langsung kempes!"
"Jihh, bukannya lu doyan yang hot-hot?"
"Kagak Molly juga, Sett!" Satu toyoran dilayangkan Tara di bagian belakang kepala Austin.
Austin tergelak menanggapi. "Gua yakin bisa liwat segentong keringet lu ngadepin dia!"
Tara membalas, "Langsung ayan gua, pe'ak!"
Laku lampah mereka tak luput dari pandangan semua orang di sekitarnya. Sepasang papa muda rupawan dengan satu putri kecil nan cantik di tengah mereka, mengalahkan magnet anak-anak band indi yang tengah manggung di atas stage-nya di lantai dasar mall.
Seperti melihat Froylan Gutierrez si aktor Teen Wolf, beriringan dengan Adipati Dolken, begitu komentar mereka mengagumi.
"Le, cakep noh, Le!"
Austin mengikuti pandangan dan telunjuk Tara yang mengarah pada sebuah mannequin botak di sudut sebuah toko.
"Goplok! Otak lu changchut doang!" Austin menghardik. "Kek gua dong ... isiannya!" lanjutnya dengan tampang mengejek, lalu tergelak.
"Si Anyeng! Salah tema gua kalo gitu!" Tara membeliak dengan sedikit tendangan.
Kini sebuah toko dengan ragam busana balita dijejaki Austin dan juga Tara. Dibantu seorang pelayan toko untuk menentukan pilihan paling oke. Setumpuk busana mungil berwarna-warni lengkap dengan segala atributnya, dari mulai kaus kaki, sepatu, hiasan kepala, hingga pakaian dalam, telah penuh mengisi troli yang didorong Tara.
"Udah cukup deh, Mbak," kata Austin.
"Oke, Mister! Biar saya dorong ke kasir, ya," balas sang pelayan bergenre wanita itu.
Austin hanya mengangguk mengiyakan.
Setengah jam kemudian ....
Barang-barang hasil belanjaan mereka nampak terjejer di lantai di bawah kursi yang disediakan foodcourt yang saat ini mereka singgahi.
Tara sudah sibuk mengayomi perutnya dengan junkfood. Sedangkan Austin terlihat santai dengan sesekali tawa renyah, mengajak bicara Lily sembari memberikan susu formula di botol panjang berbentuk panda pada putrinya yang kehausan. Bocah itu masih nampak anteng di tempatnya.
Sepuluh menit kemudian, dengan perut kenyang, Lily sudah terlelap dengan manis di stroller-nya. Barulah Austin memanjakan perutnya sendiri setelah itu.
Di saat bersamaan tiba-tiba ....
"Kalian di sini?!"
Pandangan Tara dan Austin tercuri oleh seruan tersebut, dan menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Gaury ...," gumam Tara. Sedangkan Austin hanya diam dan nampak cuek.
"Iya nih, Gau! Iseng aja, mumpung ada waktu." Tara menyahut sesantai sikapnya seperti biasa. "Kamu nyantai juga, apa gimana?" tanyanya ingin tahu.
"Ouh. Iya, aku juga iseng aja, sih," balas Gaury tersenyum. "Aku boleh gabung?" tanya wanita itu seraya mengarahkan telunjuknya pada kursi kosong yang terhimpit di antara Austin dan juga Tara.
Austin masih diam tak merespon. Sedangkan Tara menyanggupi dengan senang hati.
"Duduk aja," kata Tara.
Sehelai tissue digunakan Austin untuk mengelap bibirnya yang nampak berminyak. "Gua titip Lily bentar," katanya pada Tara.
"Kamu mau kemana, Aust?" Gaury mendongakan kepalanya menatap Austin yang mulai berdiri.
"Toilet."
Tara hanya mengangguk dengan mulut penuh. "Sono. Jan lama-lama," ucapnya memperingatkan dengan suara belepotan karena mulut penuh berisi makanan.
Punggung tegap Austin ditatap Gaury dengan raut sedikit kesal. Susah banget naklukin dia!
Ia menyorot Tara, melemparkan kekesalannya, tapi pria itu cuek saja, tetap asyik seraya menyedot boba.
𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚋𝚘𝚗𝚞𝚜2 𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊𝚊𝚊𝚊
yasalaaaaaaammmmm
skrg jan celap celup lagi
halalin satu Le trus elu celup smp mampus 🤣🤣🤣
tobat napa Le Le
kok malah khilap
pusing eke
..