Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Seberkas cahaya tiba-tiba menyinari sisi taman, hal itu membuat jantung Jenaka seperti melompat ke tenggorokan. Ia memalingkan kepala ke kiri, dengan letih menatap ke arah jendela kamar Lingga, sumber cahaya tersebut.
Apa yang membuat Lingga terbangun? Batin Jenaka, ia kembali menggeser tatapan ke kegelapan kebun, berharap Lingga tidak keluar mencarinya, rasanya Jenaka tak sanggup berhadapan dengan Lingga saat ini.
Mungkin besok pagi, saat Jenaka memakai “seragam terapi” (celana pendek dan kaos), mungkin saat itu Jenaka sudah bisa mengendalikan diri dan bisa bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Sekarang ia merasa sensitif atas kejadian yang baru saja terjadi.
Dengan letih Jenaka menyandarkan kepala ke tiang penyanggah ayunan yang sedang ia duduki, ia tidak merasakan betapa tubuhnya sekarang sedang kedinginan.
Tak lama kemudian telinganya menangkap dengungan, dan Jenaka mengangkat kepala sambil mengernyit. Bunyi berhenti tepat di belakangnya, dan ia pun tahu. Lingga memakai kursi roda agar bisa menghampirinya lebih cepat dari pada jika menggunakan tongkat bantu berjalan.
Sekujur tubuh Jenaka tegang ketika mendengar Lingga turun dari kursi, lalu berkutat menjaga keseimbangan untuk menghampirinya, tapi Jenaka tidak berani menoleh ke belakang. Sampai ia merasakan tangan Lingga mencengkeram bahunya, lalu merasakan tubuh keras yang hangat menekan punggungnya, dan embusan napas Lingga di rambutnya. “Jee, kau kedinginan,” gumam Lingga. “Masuklah. Kita bicara di dalam, aku akan menghangatkanmu.”
Jenaka menelan ludah. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada banyak hal yang perlu dibicarakan,” balas Lingga. Ketegasan yang belum pernah Jenaka dengar dalam suara Lingga membuat wanita itu menggigil.
Jenaka merasakan otot Lingga bergerak di bawah jemarinya, dan menggengam tangannya “Kulitmu sedingin es, jadi kau harus ikut aku masuk sekarang. Kau shock atas kejadian tadi, Sayang. Kukira aku mengerti apa yang terjadi pada dirimu, tapi malam ini kau membuatku kebingungan. Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, apa yang kau takutkan, tapi mari kita selesaikan sebelum malam ini berakhir.”
“Malam ini sudah berakhir,” Jenaka memberitahu dengan lirih. “Sekarang sudah pagi.”
“Jangan berdebat Sekarang. Lihatlah kebelang aku tidak berpakaian sehelai benang pun dan aku hampir membeku, tapi aku tetap di sini bersamamu, kalau kau tidak masuk, aku tidak peduli jika aku akan terkena radang paru-paru dan membuat kemajuan terapi yang kau berikan untukku sia-sia. Ayo,” ajak Lingga, suaranya berubah riang.
Lingga menurunkan tangan ke pinggang Jenaka dan memaksa Jenaka turun dari ayunan kemudian berbalik. Jenaka menyerah dan patuh saat Lingga menggiringnya masuk sambil menggunakan Jenaka sebagai keseimbangan. Langkah Lingga lambat tapi sangat mantap, dan pria itu tidak menumpukan bobotnya seratus persen pada Jenaka.
Sesampainya di kamar Lingga berhenti untuk menutup pintu geser, lalu menggiring Jenaka ke ranjang.
“Kemari, masuk ke balik selimut,” perintah Lingga sambil membungkuk untuk menyalakan lampu. “Sudah berapa lama kau di luar? Bahkan kamar ini terasa dingin.”
Jenaka mengangkat bahu, baginya tidak terlalu penting sudah berapa lama ia di luar, ia menuruti perintah Lingga dan merangkak ke ranjang, menarik selimut tebal hingga leher.
Lingga mengamati wajah Jenaka yang pucat dan tegang beberapa saat, ia mengangkat selimut, dan menyelinap ke sebelah Jenaka, membuat wanita itu menatapnya shock.
“Aku juga kedinginan,” ucap Lingga berdusta, ia menyusupkan satu tangan ke tengkuk Jenaka dan satu tangan lagi memeluk pinggang Jenaka, menariknya merapat di tubuhnya yang hangat.
Mulanya tubuh Jenaka kaku, lalu kehangatan mulai menembus kulitnya dan wanita itu mulai menggigil. Tangan Lingga memberikan tekanan ringan dan Jenaka bergerak mengikuti tekanan itu, tanpa sadar makin merapatkan tubuh ke arah Lingga untuk mencari lebih banyak kehangatan.
Setelah merasa nyaman, Jenaka merebahkan kepalanya di bahu Lingga dan kaki mereka saling mengait. Lingga menyibak rambut hitam tebal dari wajah Jenaka dan wanita itu merasakan bibir Lingga menekan dahinya.
“Apakah kau sudah nyaman?” gumam Lingga.
Nyaman bukan kata yang tepat, Jenaka begitu lelah sehingga kakinya terkulai lemas, tanpa kekuatan. Tetapi, ia mengangguk karena Lingga sepertinya menginginkan jawaban itu.
“Seingatku, kau pernah menikah.” tanya Lingga dengan lembut.
Jenaka terkejut dengan pertanyaan itu dan menatap Lingga lekat-lekat. “Ya, benar.”
Dengan lembut Jenaka membelai rambut Jenaka. “Kalau begitu, mengapa tadi… begitu menyakitkan bagimu?” tanya Lingga, suaranya bergemuruh di telinga Jenaka. “Aku hampir pingsan karena mengira kau masih perawan.”
Sesaat benak Jenaka seolah kosong, dengan susah payah ia berusaha memahami kata-kata Lingga. “Aku memeng sudah tidak perawan,” jawab Jenaka. “Hanya saja aku tidak pernah berhubungan lagi."
“Berapa lama?”
Jenaka mentapa Lingga, ia melihat Lingga nampak sangat bersungguh-sungguh ingin tahu semuanya, Lingga ingin menyingkap semua rahasia Jenaka. Rahasia yang sebenarnya ingin Jenaka lupakan, namun ia terpaksa mengingatnya kembali kesakitan dan kegagalan yang sekuat tenaga ia coba untuk tidak memikirkannya lagi.
“Berapa lama?” ulang Lingga, tidak menyerah. “Bicaralah padaku, Sayang, karena kau tidak akan meninggalkan ranjang ini hingga aku tahu jawabannya.”
Jenaka memejamkan mata, lalu menelan ludah untuk mengurangi rasa kering di mulutnya. Mungkin sebaiknya ia ceritakan saja kepada Lingga supaya cepat selesai. “Dua belas tahun,” akhirnya Jenaka mengakui.
“Aku mengerti," ucap Lingga.
Benarkah? Benarkah Lingga mengerti? Bisakah pria itu mengerti apa yang berkecamuk di benak wanita ketika tubuhnya diperlakukan dengan kejam? Kepahitan dahsyat muncul dari sumber sakit yang Jenaka tutupi.
Lingga memeluknya erat-erat, namun Jenaka berusaha menempelkan tangannya yang kaku ke tubuh Lingga untuk mendorong, tapi sekarang Lingga jauh lebih kuat dari pada wanita itu, sehingga Jenaka menghentikan usahanya yang sia-sia dan tetap berbaring di sebelah Lingga dengan tubuh kaku sebagai isyarat penolakan.
Lingga menariknya lebih rapat lagi ke pelukan, seolah ingin melindunginya. “Dua belas tahun adalah waktu yang lama,” Lingga bicara dengan santai. “Saat itu kau pasti masih anak-anak. Berapa usiamu sekarang?”
“Tiga puluh.” Jenaka merasa sudah bercerita terlalu banyak kepada Lingga, sekarang pria itu bisa menyatukan kepingan-kepingan cerita tentangnya dan membaca cerita lengkapnya.
“Berarti saat itu kau baru delapan belas tahun… Apakah kau tidak pernah jatuh cinta lagi sejak saat itu? Aku tahu banyak pria tertarik padamu. Kau memiliki wajah dan tubuh yang membuatku seakan lumer seperti mentega. Mengapa kau tidak membiarkan seseorang mencintaimu?”
“Itu urusanku,” Jenaka berseru tajam sambil sekali lagi mencoba berguling untuk menjauhi Lingga. Namun Lingga tetap memeluknya tanpa menyakiti, dengan lembut menenangkan Jenaka dengan tangan dan kakinya.
Jenaka kesal akan kuatnya pelukan yang menahannya, ia pun menjerit, “Pria tidak pernah mencintai wanita dengan tulus! Pria hanya bisa menyakiti wanita, mempermalukan mereka, dan selalu berkata, 'Kau lemah dan rapuh'. Lepaskan aku Sakalingga Ibra......”
“Aku tidak bisa melepaskanmu,” sahut Lingga,
Jenaka mulai meronta kuat, menendang kaki Lingga, mencoba mencakar wajahnya, tubuhnya melengkung tajam agar Lingga menjauh darinya. Lingga menyentak tangan Jenaka dari pipinya sebelum wanita itu menimbulkan luka di wajahnya, kemudian mengimpit Jenaka di bawah tubuhnya, dan menyandera Jenaka dengan bobotnya.
“Jee, hentikan!” teriak Lingga. “Ceritakan padaku! Apakah kau diperkosa?”
“Ya!” teriak Jenaka, isakan merobek tenggorokannya. “Ya, ya, ya! Aku tidak ingin mengingatnya. Apakah kau tidak bisa mengerti itu? Aku mau mati kalau mengingatnya!” Isakan pedih kembali meronta keluar dari dada Jenaka, tapi ia tidak menangis. Matanya kering, panas, tapi dadanya masih naik-turun dengan hebat dan suara menyedihkan itu, seperti orang tersedak.