Bagi sepasang suami istri, setelah mereka bercerai semua masalah akan berakhir. Terlebih lagi saat mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Namun, bagaimana perasaan anak yang lahir dari cinta mereka?
Itulah yang dirasakan Alika saat ini, ia tinggal bersama dengan neneknya sedangkan ayah dan ibunya sudah memiliki keluarga masing-masing.
Merasa diabaikan oleh mereka, membuat Alika terus aja merasa sakit hati. Namun, sebisa mungkin ditahannya dan berusaha untuk tak membenci kedua orang.
Sejak kecil mereka selalu dibanding-bandingkan, Dena yang hanya anak tiri lebih disayang daripada Alika sendiri sebagai anak kandung ibunya. Membuat ia membenci Dena hingga mereka dewasa.
Apa yang diinginkan Dena akan dia rebut. Dena sudah mengambil ibunya darinya.
Melihat Dena yang dekat dengan seorang pria tampan, membuat Alika bertekad untuk merebut pria itu dari saudara tirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon m anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Dewi
Dewi yang sudah sampai di rumah langsung mengurung dirinya di kamar. Ia merasa sangat sakit hati melihat suaminya berselingkuh di belakangnya. Bahkan mereka sudah menikah dan akan memiliki buah hati dari hubungan yang mereka jalin di belakangnya dan lebih parahnya lagi, ternyata Dena yang selama ini disayanginya dan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri merahasiakan semua itu padanya.
Ia tahu, tapi tak memberitahunya dan terkesan mendukung hubungan mereka. Dewi merasa sangat kesal melihat itu semua, lebih lagi bukannya meminta maaf dan mencoba memperbaiki semua kesalahan yang dilakukannya, suaminya malah mengancam akan menceraikannya jika ia tak menerima pernikahannya itu.
Di saat seperti ini, Dewi sangat merindukan sosok ibunya yang selama ini sudah di hinanya, ia baru menyadari selama ini kalau banyak kekeliruan yang dilakukannya selama menikah dengan Ayah Dena.
Selama ini ia sudah sangat jarang mengunjungi ibunya. Namun, ibunya selalu memaafkannya, selalu menyambutnya dengan baik jika ia darang menjenguk hingga mereka sampai pada pertengkaran terakhir mereka, itu semua adalah pertengkaran pertama yang mereka lakukan selama hidupnya dan semua itu hanya karena ingin memberikan kebahagiaan pada Dena.
Di saat seperti ini pula, Dewi baru menyadari kekeliruannya selama ini kepada Alika. Di mana ia selama ini membeda-bedakan mereka, selalu membela Dena, apapun dan di manapun
Ia membayangkan semua kejadian demi kejadian di mana saat ia membela Dena dan mengucilkan Alika. Hatinya terasa sakit, mengapa ia baru menyadarinya disaat seperti ini, di saat ia telah kehilangan anaknya. Hari ini, anaknya mendapat kebahagiaan dan justru ia kehilangan kebahagiaannya. Apakah ini karma dari apa yang pernah dilakukannya.
'Alika, maafkan Ibu, Nak,' lirihnya di sela isak tangisnya. Namun, semua penyesalannya itu tak ada guna, ia bahkan malu untuk menemui Alika untuk meminta maaf. Ingatannya juga kembali pada mantan suaminya, di mana mantan suaminya itu kehilangan pekerjaannya juga karena dirinya dan mementingkan kebahagiaan Dena.
Betapa buruknya dirinya, betapa angkuhnya dia sekarang, dia tak tau harus ke mana sekarang ini. Dewi yakin jika ia pergi dari rumah itu, ia tak punya tujuan dan tak akan ada yang mau menerimanya termasuk ibunya.
Dewi terisak di kamarnya dan tanpa sadar ia pun tertidur. Saat membuka mata, kamarnya begitu gelap. Ia pun mencoba menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas dan melihat jam di ponselnya. Sekarang sudah menunjukkan jam 08.00 malam, ia sudah tertidur sekitar 4 jam.
Dewi ingin keluar, iangin melihat apakah Dena sudah pulang atau tidak, dia ingin meminta penjelasan pada Dena tentang apa yang terjadi sore tadi. Namun, saat ia akan membuka pintu, ia mendengar suara tawa dari seseorang yang tak dikenalnya. Itu bukan Dena, tapi itu suara perempuan lain. Ia juga bisa mendengar suara tawa Dena dan juga suaminya di sana, ia pun dengan perlahan keluar dari kamar dan melihat ke lantai bawah. Ternyata, saat ini mereka semua sedang ada di meja makan. Dena, suaminya dan juga wanita yang mengandung benih suaminya ada duduk di sana, bercanda gurau seperti tak pernah terjadi apa-apa, menganggapnya tak ada di rumah itu. Dewi menggenggam erat pembatas tangga yang saat ini dipegangnya, ingin rasanya ia menjatuhkan Guci yang ada di sampingnya itu tepat di atas kepala selingkuhan suaminya itu. Namun, Dewi masih berusaha untuk berpikir jernih, ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan merenungi semua yang terjadi dalam hidupnya.
ihhh..masak pemeran utama kek gt...