Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum siap
Beberapa hari kemudian, Zayn pun datang untuk menjemput Tania ke rumahnya karena orang tuanya ingin bertemu. Namun, tanpa disangka, Tania malah menolak untuk ikut dengan alasan belum siap. Bukan, sebenarnya bukan itu alasannya. Dia hanya takut keluarga Zayn tidak mau menerimanya.
"Maaf, Mas, aku belum siap, mungkin lain waktu saja," ucap Tania sambil tersenyum lirih.
Zayn hanya menatap Tania dengan tatapan penuh kekecewaan. Padahal, dirinya sudah mengatakan pada orang tuanya bahwa Tania akan datang ke rumah mereka. Ya, meskipun mama Zayn belum memberikan restu untuk Tania karena dialah penyebab putranya meninggal. Dan dia hanya takut akan kehilangan anaknya lagi.
"Ya udah, katakan padaku jika kamu benar-benar udah siap ketemu orang tuaku, ya," ucap Zayn dengan tatapan serius.
Tania hanya mengangguk lemah. Dia pun membiarkan Zayn pergi dengan perasaan penuh kekecewaan.
"Tania, temani Om ke proyek terbaru perusahaan kita yuk," ajak Hamdan.
"Bentar, Om, Tania ganti baju dulu," ucap Tania sambil berlari menuju kamarnya dan bersiap-siap secepat mungkin agar Omnya tidak menunggu.
Mereka pun segera pergi sepuluh menit kemudian. Proyek yang akan mereka datangi adalah proyek besar pembangunan sebuah mall. Karena Tania adalah pemilik sah dari perusahaan, maka dia juga harus ikut melihat perkembangan pembangunan mall itu.
Waktu yang mereka tempuh hanya lima belas menit. Di sana, Tania bisa melihat pembangunan mall yang sudah mencapai enam puluh persen. Mall itu sangat besar dan luas, letaknya pun sangat strategis. Di pinggir jalan raya yang belum memiliki banyak toko di sana. Hanya beberapa bangunan perusahaan dan juga sekolah serta universitas.
Tania memilih untuk menunggu di mobil saja karena dia tidak ingin berpanas-panasan di tengah proyek seperti itu. Dia hanya melihat keluar jendela mobil untuk menyaksikan berbagai kendaraan yang lalu lalang melewatinya.
Namun, matanya pun tertuju pada seorang gadis yang sedang terlihat linglung. Gadis itu seperti tak tahu harus pergi kemana. Dia bahkan tak memperhatikan jalan sehingga beberapa kali hendak terjatuh.
Tania yang merasa khawatir pun langsung keluar dan menghampiri gadis itu. Namun, belum sempat dia menghampirinya, tiba-tiba saja gadis itu melangkahkan kaki ke tengah jalan di mana ada sebuah mobil truk besar yang melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Tania pun langsung berlari dan menarik tangan gadis itu sebelum truk itu berhasil menabraknya. Mereka sama-sama terjatuh ke pinggir trotoar dan Tania bisa merasakan lengannya sakit karena menghantam jalan.
Sedangkan gadis itu pun langsung tersadar dengan apa yang terjadi. Bukannya berterima kasih, dia malah memaki Tania yang telah menggagalkan aksinya untuk bunuh diri.
"Ngapain Mbak nolongin aku? Harusnya biarkan aku mati saja! Hidupku sudah tidak ada artinya lagi!" Gadis itu berteriak sambil menangis kencang. Dia bahkan memukul-mukul tubuhnya sendiri seakan merasa jijik dengan dirinya.
"Apapun masalah yang kita hadapi, kamu jangan pernah mencoba untuk melakukan hal fatal ini. Memangnya di dunia ini cuma kamu saja yang punya masalah? Semua orang juga punya!" Kini gantian Tania yang marah. Dia pernah beberapa kali hampir melakukan hal bodoh itu. Makanya, dia tahu bahwa hal seperti itu adalah hal yang tidak ingin dilihatnya lagi.
"Memangnya apa masalah, Mbak? Putus cinta? Ekonomi? Broken home? Itu masalah sepele, Mbak!"
"Percayalah, masalahku dulu lebih berat dari itu. Aku bahkan hampir melakukan hal yang kamu lakukan tadi jika orang-orang terdekatku nggak menolongku."
"Kalau kamu nggak tau bagaimana rasanya hancur, jangan sok sokan menasehati orang, Mbak!"
"Dengar, aku pernah dijuluki sebagai pembawa sial karena empat mantan pacarku meninggal. Dan aku juga dibuat seperti orang gila dengan obat pengacau pikiran. Dan semua itu dilakukan oleh tanteku sendiri!"
Ucapan Tania pun berhasil membuat gadis itu terdiam. "Hei, bukankah kamu yang ada di artikel itu?" Akhirnya gadis itu berhasil mengenali Tania.
"Ya, aku orangnya. Jika kamu nggak keberatan, mari saling bertukar cerita, aku siap mendengarkan mu."
Gadis itu menatap Tania dengan begitu lama, hingga akhirnya dia pun mengangguk setuju.