Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 31
Sudah sejak pagi tadi Kanaya berada di rumah sakit untuk menemani neneknya. Ia sengaja ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya sebelum wanita renta itu menjalani pengobatan di luar negeri besok.
Dengan sabar dan telaten wanita yang memiliki panggilan Naya itu menyuapi hingga memijit kaki neneknya. Sebenarnya Kanaya ingin bisa menemani neneknya selama menjani pengobatan di luar negeri, akan tetapi kehamilannya membuatnya tak bisa untuk melakukan itu. Terlebih karena sang nenek belum mengetahui kalau dirinya sudah menikah.
Kanaya berharap pengobatan yang akan dijalani neneknya nanti bisa berhasil dan ia bisa kembali dalam keadaan sudah sehat.
"Nek, Nenek tidak masalah kan kalau Naya nggak ikut nemenin Nenek ke luar negeri?"
Nek Asih meraih tangan dan mengusap punggung tangan cucu kesayangannya itu dengan lembut. "Tidak apa-apa, Naya. Nenek tahu kamu harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan biaya pengobatan nenek ini. Nenek pasti sudah sangat merepotkanmu dengan penyakit jantung nenek ini," ucapnya.
Kanaya menggeleng. "Tidak, Nek. Nenek nggak pernah ngerepotin Naya. Justru Naya yang berterima kasih sama Nenek karena setelah kematian mama dan papa dalam insiden kecelakaan itu, Nenek mau merawatku. Terima kasih ya, Nek," balas Kanaya.
"Kamu ini ngomong apa, Naya? Kamu itu cucu nenek satu-satunya, sudah menjadi kewajiban nenek untuk merawatmu."
Kanaya memeluk neneknya.
"Maafkan Naya ya, Nek, karena Naya nggak bisa nemenin Nenek." Kembali Kanaya meminta maaf.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, nenek ngerti."
"Tapi, nenek tenang saja. Naya bakalan telepon nenek tiap hari." Kanaya semakin erat memeluk neneknya.
Sebenarnya berat bagi Kanaya berpisah dengan neneknya dalam waktu lama. Namun, dia juga tidak mungkin ikut karena khawatir neneknya akan mengetahui jika dirinya hamil. Padahal setahu neneknya ia belum menikah.
"Tidak usah memaksakan diri, Sayang. Jika memang tidak bisa menelepon nenek tiap hari tidak apa-apa kok. Nenek bisa ngerti kan kamu sibuk kerja, lagi pula biaya telepon ke luar negeri pasti mahal. Jika kamu sering telepon nenek yang ada kamu buang-buang uang, Sayang." Dalam keadaan sakit, Nek Asih masih mencari cara agar bisa membantu cucunya untuk berhemat.
"Nek.... "
"Kamu cukup telepon nenek seminggu sekali saja atau dua minggu sekali juga nggak apa-apa," tambah Nek Asih.
"Memangnya Nenek nggak kangen sama Naya?"
"Tentu saja nenek kangen, tapi kita juga harus berhemat."
Kanaya mencium punggung tangan neneknya.
"Nek, mulai sekarang Nenek nggak usah mikirin soal uang. Alhamdulillah, Naya punya lumayan cukup banyak uang untuk bisa menelepon Nenek tiap hari. Uang operasi dan biaya hidup Nenek selama disana juga sudah ada posnya sendiri-sendiri termasuk biaya sewa perawat yang akan jaga nenek 24 jam, jadi Nenek jangan khawatir ya. Sekarang yang perlu Nenek perhatikan adalah kesehatan Nenek. Oke."
"Tapi, Naya. Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" Nek Asih memang pernah ingin membahas hal ini dengan cucunya. Namun kadang ia lupa untuk kembali menanyakan hal tersebut lagi. Dan sekarang mumpung ada kesempatan itu Nek Asih kembali menanyakan.
"Naya kan kerja di perusahaan bagus, Nek. Makanya Naya punya duit," jawab Naya yang kembali berbohomg.
"Naya, Nenek memang orang kampung dan tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tapi, Nenek bukan orang bodoh. Kamu ini hanya lulusan SMA. Memangnya anak SMA bisa menduduki jabatan apa sih si perusahaan besar itu selain OG?" Nek Asih kembali menatap Kanaya.
"Naya, katakan pada nenek sebenarnya apa pekerjaanmu? Kenapa kamu bisa mendapatkan begitu banyak uang?" tanya Nek Asih lagi.
Kanaya tampak bingung memberikan jawaban. Dia memutar otak untuk mencari jawaban yang sesuai yang bisa diterima oleh neneknya.