NovelToon NovelToon
Luka Di Awal Menikah

Luka Di Awal Menikah

Status: tamat
Genre:Romansa / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tinayuni

Berawal dari kesalahpahaman seorang suami yang baru menikahi wanita yang dia cintai. Pada akhirnya membuat kerenggangan antara dirinya dengan sang istri.

"Diamlah dan kita lalui semua ini biasa saja. Sampai aku mau kembali padamu seperti dulu!"

Salah satu kalimat cuplikan dari Gavin untuk istrinya, Hanna.

Hanna merasa setelah menikah, Gavin semakin menjauh darinya. Entah apa yang membuat Gavin marah padanya, Hanna tidak tahu. I

Hanna terpaksa meninggalkan resepsi pernikahan karena saat itu ia pusing dan pingsan tiba-tiba. Ia ditolong oleh Kelvin yang merupakan teman Gavin.

Dan semenjak kejadian itu, Gavin berubah dingin padanya. Mungkinkah ada sesuatu yang Gavin lihat dan Hanna tidak tahu?

Sementara adik Gavin yang bernama Gina selalu ikut campur dalam rumah tangga mereka.

Cover from Pexel. Edit by Tinayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Pengingat

"Kenapa gelap?" ucap Gavin ketika ia memasuki apartemennya.

Ia pun menyalakan lampu dan, pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah sang istri tersenyum dengan membawa sepotong kue kecil di atas piring.

"Selamat ulang tahun, Gav."

"Yaampun, kau ini," Gavin menerima kue kecil yang dibawakan istrinya.

"Maaf, tak ada kue tart atau lilin. Aku hanya punya ini," ucapnya bergelayut manja di lengan sang suami.

"Yang penting kau selalu ada di sisiku." Gavin mencium singkat bibir Hanna. "Wajahmu pucat sekali. Apa kepalamu pusing lagi?"

"Iya, sedikit." Jawab Hanna dengan senyum terulas di bibirnya.

"Sini, aku pijit," tubuh Hanna ditarik Gavin, tapi Hanna menolak.

"Kau makan dulu, ini hari ulang tahunmu, Gav. Aku sudah memesankan makanan untukmu!"

"Setelah memijit kepalamu, aku janji akan makan."

Hanna menaruh kepalanya di atas pangkuan Gavin. Pijatan yang diberikan Gavin terasa nyaman dan menenangkan, Ia candu seketika dan tak ingin Gavin berhenti dengan cepat.

"Enak sekali," ucapnya dengan mata terpejam.

Gavin memandang lama wajah Hanna yang nampak tirus dan pucat. Garis pipinya terlihat.

Segera Gavin membuang pandangannya ke arah lain karena tak kuasa menahan air mata yang hampir terjatuh.

"Kau sudah lama memijitku, apa kau tidak makan dulu?" Kata Hanna masih dengan mata terpejam.

"Asisten dokter Steve membawakanku makanan tadi. Jadi, sekarang aku kenyang." Gavin terpaksa bohong lantaran ia tak tega kenyaman istrinya saat ini terusik hanya karena ia harus makan.

Perutnya yang lapar bisa ditunda, tapi sakit di kepala sang istri tak akan pernah bisa ia abaikan.

"Oh, dokter Steve sepertinya baik."

"Hemm. Apa kau tidak ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan dokter Steve?"

"Untuk apa. Paling tentang penyakitku. Kau saja yang tau, aku tidak mau."

"Tapi kau harus tau. Ada beberapa makanan dan minuman serta obat yang harus kau konsumi dan tidak boleh kau konsumsi."

"Kau saja," Hanna memiringkan tubuhnya memeluk paha Gavin. "Kau akan menjagaku kan? Jadi, katakan saja aku boleh mengkonsumsi itu atau tidak saat aku sudah berhadapan dengan makanan atau yang lainnya."

"Pemalas."

"Biar. Aku ingin bermanja-manja denganmu," Hanna membuka mata dan tersenyum usil pada suaminya. Tapi senyuman itu hanya bertahan beberapa detik saja. Ia menangkap wajah sendu Gavin serta matanya yang memerah. "Kau menangis?" ia melongok.

"Hanya menguap. Aku ingin tidur. Kau sudah makan?"

"Jangan bohong. Kau nangis?"

"Mengada-ngada. Apa Gavin suka menangis," ia mencoba menyangkal, namun sepertinya Hanna tak semudah itu dibohongi.

"Aku membuatmu sedih?"

"Tidak. Aku sungguh menguap, Hanna, jangan bertanya lagi. Tidurlah lag-"

Tubuh Hanna menghambur ke dalam pelukan Gavin. Tangan Gavin bergetar hendak membalas pelukan Hanna yang sudah menumpahkan tangis di dadanya.

"Aku sudah berusaha, aku sudah berobat ke dokter Ditya dan meminum obatku. Aku sudah berusaha supaya tidak merepotkan mu dan membuatmu sedih, Gavin!"

Mata Gavin memejam dan buliran air mata menetes ke pipinya. Entah sejak kapan dia menjadi pria cengeng seperti ini.

"Kemarin, obat ku juga sudah habis dan dokter Ditya sudah memberikannya lagi-"

"Sudahlah, Sayang, jangan banyak bicara. Percayalah kau akan sembuh secepatnya."

"Aku takut," pelukannya mengerat. "Aku takut kalau aku akan meninggalkanmu dalam waktu dekat ini!"

"Tidak, itu tidak akan terjadi. Semua sudah direncanakan, itu tidak akan terjadi Ok."

Tepukan pelan Gavin berikan ke punggung Hanna, berusaha menenangkan istrinya yang sepertinya memendam ketakutan berlebih.

Ia biarkan istrinya itu menangis, menumpahkan sedihnya bahkan ketakutannya supaya hatinya lega.

**

Saat Gavin membuka mata di pagi hari, ia melihat istrinya itu masih tertidur nyenyak di lengannya.

Perlahan ia menurunkan kepala Hanna, lalu ia beranjak bangkit.

"Mau kemana?"

Hanna menguap sekaligus membuka matanya.

"Mandi, setelah itu aku pesankan sarapan."

"Mandi? Kenapa sepagi ini, nanti kan bisa!"

Semalam Gavin tak sempat mengatakan bahwa hari ini ada jadwal pemeriksaan Hanna.

"Kau ada jadwal pemeriksaan jam 9 ini. Jadi lebih baik bersiaplah!"

"Oh," Hanna bangkit dengan malas. "Apa akan lama?"

"Kurasa tidak."

"Baguslah. Gavin, apa nanti aku boleh mampir ke mol?"

"Tentu saja. Kau mau beli apa?"

"Sesuatu untukmu!"

**

Satu jam Hanna diperiksa di dalam sebuah ruangan khusus yang hanya ada Hanna, Gavin dan dokter Steve.

Steve meneliti hasil CT-Scan barusan lalu menjelaskan tentang hasil itu pada pasutri yang ada di hadapannya.

"Jika dikatakan membaik ... belum. Tapi juga tidak buruk. Ini, aku sudah menuliskan resep obat. Aku harap kau meminumnya tepat waktu meskipun harus bangun larut malam. 8 jam sekali."

"Aku mengerti dokter. Aku akan berjuang untuk kesembuhanku!"

Gavin senang melihat mendengarnya.

"Demi suamiku serta keluargaku, aku harus sembuh." Katanya lagi semakin membuat Gavin terkagum.

"Tadi pagi kau malas aku ajak kemari." Cetus Gavin.

"Setelah itu aku sadar, aku harus berjuang hidup untuk orang terkasih ku!" Menaruh telapak tangannya di pipi Gavin.

"Memang itu yang harus dilakukan, Nyonya. Aku sebagai dokter juga akan terus berjuang menyembuhkan mu."

Hanna mengangguk.

Suasana bahagia menyelimuti keduanya tatkala mereka memilih-milih pakaian di salah mol negara Singapura.

"Kau harus pakai kaos ini."

"Apa tidak salah?" Kaos pemberian Hanna itu direntangkan lebar-lebar oleh Gavin.

Kaos berwarna putih namun ukurannya sangatlah besar.

"Apa kau akan menolak kaos yang aku pilih?" Mata Hanna melebar membuat Gavin urung menolak.

"Tidak, aku hanya bertanya."

Mereka membawa kaos berukuran besar itu ke meja kasir.

Lanjut mereka menuju ke ruko lain.

"Untuk apa kita kemari?" Merasa malas jika sudah berhadapan dengan toko asesoris dan pernak-pernik hiasan tubuh.

"Aku mau beli yang aku inginkan, Gavin. Jadi ayo, ikut aku!"

"Huft," Gavin tak bisa menolak.

Hanna memilih gelang tali, kalung yang menurutnya unik. Juga satu gelang pilihan Hanna untuk sang suami.

"Bagus sekali jika di tanganmu," Hanna memandangi gelang yang barusan ia pasangkan di lengan Gavin.

"Iya, bagus." Kata itu sangat bertentangan di hati Gavin. Karena sejak dulu hingga sekarang ia tak pernah memakai gelang mainan seperti itu selain arloji yang selalu ja gunakan.

"Aku tau kau tidak suka benda-benda seperti ini. Tapi jika suatu saat aku tiada, ini bisa jadi pengingat, aku pernah hidup di samping mu."

1
𒈒⃟ʟʙcity🥀Liez🍒🌹
weeeh dah ending aja ,padahal lagi masa" mau melow ini 🤭
RA.Ratna Puspita
konfliknya tidak bertele-tele, tetapi lakonnya terlalu datar, seperti Gavin yg mudah marah, Hana yg cenderung kekanakan, tetap semangat dan terus berkarya buat author
꧁🌳~T|MB€®🌳꧂: makasih komennya Kak🤗 sehat selalu buat kakak
total 1 replies
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
gak seru tan, kenapa cepet tamat
꧁🌳~T|MB€®🌳꧂: karena outline nya hanya segitu 🤭 aku gak hobi buat cerita panjang lebar😁
total 1 replies
Fina Silaban Tio
tetap kukasi vote Untuk thor
Fina Silaban Tio
bosan aq nunggu up nya Thor😢
꧁🌳~T|MB€®🌳꧂: maaf ya kak, hape ku lagi sakit kemarin😥
total 1 replies
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
semoga cepat sembuh hana
Fina Silaban Tio
nah lho Gavin,,km blm tau kl istrimu sakit😥
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
sakit hana makin parah kan..
Wiwid Wijaya
kelamaan up nya sampai hampir lupa bagaimana ceritanya😬🥱
Fina Silaban Tio
please Thor,up-nya jgn lama lama🥺 novelmu bgs lho
Fina Silaban Tio
oh othor,,jgn lama lama up-nya,ceritanya kren lho,ga ada tipo.... masalahnya cuman satu.. up nunggu tahun gajah 🐘🐘
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
pengusaha licik, demi anaknya nekat berbuat apa saja
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
nah..loh, habis diunboxing malah bertengkar antar orang tua🤣🤣🤣
✿⃝⭕🌼Ohti
SEMANGAT
꧁🌳~T|MB€®🌳꧂
InsyaAllah nanti update ya, maaf baru gak enak badan soalnya🙏
ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
karyanya bagus gess, gak baca rugi kalian
ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
up lagi dong tante chrizz
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
wah wah hanaaaa
Dian Lestari
Hanna jd istri tp pemikirannya...nggak ada seorang istri yg cinta suami menyuruh berkencan dgn perempuan lain? benar - benar menjatuhkan harga diri suaminya...kalo saya jd suaminya tdk pikir panjang cerai saja sama Hanna, dan keluar dari pekerjaan itu...harga diri tidak bisa ditukar dgn uang dan kedudukan
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
jujur han sama gavin tentang penyakitmuu, biar cepat tertangani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!