NovelToon NovelToon
My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Fantasi / Romansa-Teen school / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:158.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: SunSofy

Sepupunya menyusupkan jin peliharaan keluarga kepada Andrea. Untuk membuat saudaranya itu ketakutan, dan memuaskan rasa cemburunya.

Tetapi, jin bertampang tampan itu malah menjadikan Andrea bos baru yang harus dia lindungi. Bukannya jahat, jin itu bersahabat dengan Andrea. Menjaga, dan memudahkan semua urusan dalam hari-harinya.

Awal masalah ketika jin pengawal rahasianya itu jatuh cinta, dan sikapnya sedikit tidak terkendali, sehingga membuat kekacauan di sekolahnya, lalu berbagai masalah lainnya muncul, membuat Andrea menyadari, mereka berbeda, tidak seharusnya manfaatkan dia yang tidak nyata.

Andrea ingin penjaganya itu bisa terbebas dari kontrak perjanjian dengan leluhurnya, sampai terpaksa berencana untuk menikah muda dengan Gigit, cowok yang memacarinya saja tidak.

Keromantisan Gigit, hanya sebuah fatamorgana. Andrea jadi merasa cenat-cenut sendiri.

Apakah Gigit akan menyatakan cinta kepadanya?
Apakah penjaganya bisa bebas dari perjanjian?

Ikuti sampai habis, kelucuan cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunSofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 31 Persaingan Semakin Panas

Kira-kira sepuluh meter lagi dia bisa menggapai ibunya yang sedang berdiri di pinggir jurang, bersama pria-pria tidak dikenal, yang menyeringai kepadanya dengan batu-batu di tangan mereka. Siap melemparinya.

“Bu, jangan, Bu!"

“Jangan mendekat, Ndre!” ibunya memohon dengan wajah ketakutan.

Andrea tidak peduli, dia terus melangkah.

Lemparan demi lemparan batu melayang ke arahnya. Andrea terus melangkah, menyibak debu yang ikut beterbangan, lalu berlari sekuat tenaga menubruk ibunya.

“Aaaaaaa ....” Mereka jatuh ke dalam jurang bersama-sama.

Gedebukk!!

Andrea terbangun, tubuhnya sudah berada di lantai. Bokongnya ngilu. Dale ada di dekatnya, memegangi bantal di bawah kepalanya.

“Neng mimpi?”

“Masih nanya,” gerutu Andrea. Dia bangun, mengambil bantal dari tangan Dale. “Ngapain di sini?”

“Kepala Neng hampir terbentur lantai,” sahut Dale.

"Kamu selamatkan kepalaku, tapi bokongku nggak!" Andrea mengusap-usap bokongnya.

"Nggak berani, Neng." Dale cengar-cengir.

Andrea melihat jam di dinding. Jam sepuluh, ibunya belum terdengar pulang. Rumahnya terasa sepi sekali.

Dari sejak pulang tadi sore, tubuhnya malas untuk bergerak dari tempat tidur. Prasangka dalam kepalanya menghanyutkan dia dalam mimpi buruk.

“Mimpiku buruk sekali,” lirihnya. Dia menyandarkan punggungnya ke tempat tidur.

Dale mengikutinya, membereskan jas yang dipakainya, lalu mengangkat lutut sebelah. Tangan kanannya disimpan di atas lututnya, tangan kirinya merentang di tempat tidur, di belakang bahu Andrea.

“Ngapain?” tanya Andrea. Dia merasa Dale akan memeluknya.

“Nggak,” Dale menarik tangannya untuk merapikan rambutnya.

“Jangan sok tampan!”

“Nggak juga, emang aku mah tampan beneran."

Andrea mengernyitkan dahi melihat Dale percaya diri seperti itu. “Aku lapar.” Dia beranjak, berbarengan dengan suara gawainya berteriak. Nama Kak Yadi bergerak-gerak dilayar, dia jadi ingin menyentilnya biar diam.

“Kok nggak diangkat, Neng?”

“Emang jemuran?”

“Neng Andrea tidak suka Kak Yadi?” Dale membaca tulisan di layar.

“Ternyata kamu bisa baca.”

“Hohohoo ... Jangan meremehkan saya atuh, begini-begitu saya lulusan es em je. Sekolah Menengah Jin.”

Andrea sedang tidak ingin tertawa, nama Yadi di layar gawainya sudah bosan bergerak, menghilang sendiri. Dia meneruskan niatnya mencari makanan di dapur.

Sayur lodeh dan ayam goreng masih utuh di dalam tudung saji. Andrea tidak berselera, menutupkan lagi tudung saji. Dituangnya segelas air minum, lalu kembali melamun di meja makan.

“Kalau Neng mau, saya bisa ikuti Ibu.” Dale memainkan magnet kulkas karakter. Andrea memainkan jari di bibir gelas. Mereka seperti orang-orang gabut.

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

“Sejak kapan pengawal nanya alasan pada majikan?”

Suara motor ibunya terdengar, memasuki pagar. Andrea buru-buru masuk lagi ke kamarnya sambil menarik Dale.

“Ndre!” panggil ibunya ketika membuka pintu kamar.

Andrea pura-pura tidur, memunggungi pintu. Ibunya menutup pintu, terdengar suara sepatunya menjauh.

Dia belum bisa menuduh ibunya macam-macam, tetapi kejadian sore tadi cukup membuatnya yakin, ibunya punya kekasih. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya, jika itu benar, dia akan punya papa tiri, yang akan menggeser tempat ayahnya di hati ibunya.

Teringat ayahnya, tenggorokannya tiba-tiba sakit, karena ada sesuatu yang berusaha dia tahan. Bibirnya bergetar menahan tangis, cairan hangat meleleh dari sudut matanya, membasahi bantal.

Andrea buru-buru menghapusnya, tetapi cairan yang sudah menjadi ingus tidak bisa menyembunyikan tangisnya, dia harus membuangnya, atau menghirupnya, dan Dale pasti akan mendengarnya.

"Bodo amat," lirihnya. Andrea ngingsreuk.

Dale menolehnya, tetapi tidak bertanya.

Dale pamit cari makan, sambil berdendang lagu sedih.

Andrea membalikan badan.

**

Hari ini Ren izin sakit. Andrea menerima pesannya di Whatsapp, untuk dilanjutkan kepada Pak Haris.

Sepulang sekolah Andrea menemuinya, tanpa Zellina. Seharian ini Princes KW itu selalu menghindarinya.

Andrea tidak ambil pusing, dia juga capek harus menghindari tatapan ibunya sejak bangun tidur. Kesedihannya semalam membuat matanya sedikit sembab.

Ren masih terlihat seperti orang bingung, berbeda dengan Ren yang biasanya. Meskipun menurut medis kepala Ren baik-baik saja, tetapi bagi Andrea Ren tidak begitu. Semakin lama dia semakin terlihat berbeda.

“Besok juga aku masuk,” kata Ren.

“Kalau masih kurang sehat sebaiknya istirahat dulu. Di kelas sepi sih, karena ngga ada kamu, tapi aku khawatir kamu kenapa-kenapa kalau maksain masuk."

“Aku baik-baik saja kok. Sepi kenapa? Kan banyak yang lain. Zellina gimana, kemarin menang?” Ren menaruh bantal kursi di pangkuannya ke sofa.

“Kalah, onde-ondenya terlalu lincah ….” Andrea mencoba memecahkan suasana tidak enak.

Ren cuek saja, malah memeriksa bunga plastik di meja dan mulai menyiraminya dengan air minum.

Andrea semakin yakin ada yang berubah dari Ren, sejak kapan bunga plastik disiram?

Andrea juga baru sadar, Ren dari tadi menguap terus.

“Kamu beneran nggak apa-apa, Ren?”

“Nggak,” sahut Ren. Dia membaringkan badannya di sofa, lalu tidur.

Andrea menatapnya heran.

“Ren, obat Mama mana?” suara Mamanya Ren terdengar lemah dari kamar.

Andrea melihat toples obat di nakas samping sofa.

“Ren, Mamamu nanyain obat.” Andrea membangunkan Ren yang sudah pulas saja.

“Apa Mamamu minum obat ini, Ren?” Andrea memeriksa obat di nakas. “Seperti obat tidur.”

“Ren, obat Mama mana?” suara mamanya Ren terdengar lagi. Andrea jadi bingung sendiri.

“Ren! Mauren! Dasar anak malas, mana obat Mamaaaa?!” Suara mamanya Ren meninggi.

Andrea terkejut, dia lari keluar. Jantungnya hampir copot mendengar teriakan mamanya Ren yang sampai luar pagar terdengar berteriak lagi.

Sepanjang perjalanan pulang Andrea bertanya-tanya, ada apa dengan Ren dan mamanya.

**

Perubahan Ren ternyata dibawa sampai dia kembali masuk sekolah. Ren yang ceria dan peduli sekarang berubah menjadi cuek, dan kusut.

Zellina juga semakin menjauh. Dia lebih mendekat lagi dengan teman-teman barunya di ekskul. Sama-sama satu misi, dan sama-sama doyan nebeng. Hampir setiap hari mobilnya penuh oleh gengnya yang nebeng.

“Pokoknya jangan sampai ada yang merebut reputasiku sebagai Princes di sekolah ini,” tegas Zellina, ketika Andrea dan Ren melewati mereka.

Mimik mukanya dibuat serius di depan teman-teman barunya. “Yang cocok mendampingi ketua tim putra adalah ketua tim putri, betul?”

“Betuull ....”

“Pangeran ya sama Princes, bukan sama rakyat jelata," kata temannya.

“Kecuali punya perasaan dirinya Cinderela.”

"Padahal upik abu."

Teman-teman Zellina tertawa-tawa.

Andrea melirik, tahu banget mereka sedang menyindirnya gara-gara Yadi. Gosip mereka sudah merebak sejak pertandingan basket itu.

“Zell, ikut ngantin?” tanya Andrea, mencoba tidak terpengaruh dengan sikap Zellina.

“Pergi saja berdua, kalian kan cocok. Aku beda."

Andrea tidak mengerti ucapan Zellina, dia mendekatinya. “Maksud kamu apa? Selama ini kan kita bertiga selalu bareng-bareng."

“Jangan pura-pura baik di depanku, urus saja tuh teman sejatimu yang baru saja kepentok bola.”

Andrea semakin tidak mengerti dengan ucapan Zellina. Ren juga sama, tetapi dia sedang malas meladeni. Dia menarik tangan Andrea.

“Sudah, kayak nggak tahu dia saja,” bisik Ren.

Andrea melepaskan tangan Ren dari lengannya, lalu kembali mendatangi Zellina.

“Kalau ada masalah bicarakan, Zell, jangan berbuat tidak jelas seperti ini. Ingat persahabatan kita."

Zellina menyilangkan tangan di dada. “Baik, sekarang kita bicarakan. Aku kasih tahu ya, tidak ada seorang pun yang bisa merebut Yadi dariku, tidak kamu, maupun dia,” gertak Zellina, telunjuknya menunjuk dada Andrea, lalu Ren. Dia berbalik sambil memberi kode teman-temannya untuk pergi.

Andrea dan Ren terdiam. Zellina mengibarkan bendera kompetisi sendiri, tanpa ada kompromi.

Dari ruang perpustakaan, Fany tersenyum sarkas, lalu mengangkat tangan dan toz dengan angin.

“Pokoknya, kita harus kembalikan si Inzel ke habitatnya!” kata Andrea.

“Ke kubangan?” tanya Ren. Dia asyik makan bakso.

“Emang dia kebo?”

“Ke dalam cobek?”

“Emang dia sambal terasi?” Andrea menuang sambal ke siomay. “Terus kamu sendiri kenapa?”

“Aku?” Ren berhenti menggigit bakso.

“Kusut masai gitu. Jilbabmu nggak disetrika?”

Ren tidak menjawab, dia malah menuangkan sambal ke baksonya. Ren makan dengan lahap, air matanya berhamburan. Dia tadi tidak sempat menggosok jilbabnya, setrikaan entah dimana. Dia jadi sedih sendiri.

Andrea tahu, itu bukan kepedasan, tetapi menangis.

“Ren?”

Ren beranjak, dia berlari ke toilet. Andrea mengejarnya. Di dalam kamar kecil Ren mengunci diri. Andrea sabar menjaganya di luar, memberi kesempatan Ren menangis menumpahkan kesedihannya.

Ren keluar dari kamar kecil dengan mata dan hidung memerah. Jilbabnya semakin kotor ketika Ren menjadikannya lap ingus.

“Cerita dong, Ren.” Andrea memegang bahu Ren. Ren berjalan ke cermin besar toilet, memandangi dirinya.

“Ibuku dibawa ke rumah sakit jiwa, Ndre.” Ren bicara lirih sambil mencuci tangan di wastafel.

selamat membaca para pembaca

jangan lupa like, komen, dan votingnya

sebagai vitamin terbaaeekk untuk Author

1
Antok Nugroho
muuuaaanteeeb
Handaru Rayyi
rumah sakit jiwa masih buka ngga thor ? mau priksa berasa gila ketawa sendiri
aurel
hai kak aku mau promosikan karya aku ni
" kekasih untuk sahabat ku " yuk mampir dan jangan lupa tinggal kan jejak salam kenal dari liana
Handaru Rayyi
suka thor...
👑~𝙉𝙖𝙣𝙖𝗭𝖊𝖊~💣
Semangat Thor, mari saling dukung🙂
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Kmrudin
lanjut lag thor
Winda Rahayu
Lanjutt kak... aku mampir lagi
Heera Ya
uda aku boomlike sampe sini ya kak

sukses selalu utk karyanya dan semangat bikin karya barunya kak
Susi Ana
jempol hadir,mampir ya
Marcelea ࿐༵
Aku ketinggalan banyak 😱
W.Willyandarin
bagus ceritanya dan seru 👍👍👍
W.Willyandarin
semangat authir
W.Willyandarin
di tunggu karya selanjutnya thor 👍👍👍
Hana Me: Wahh, terima kasih suportnya 😊😊
total 1 replies
Ryn.
season 2 thor
Hana Me: semangat sih, aku baca2 dulu deh, hehe
total 1 replies
IG : Chocollacious
like semua eps yg tertinggal, wah ternyata sdh end ya..
Hana Me: mksihh, iya nihh, bingung lanjutinnya hehe
total 1 replies
Akira ✨
wahh langsung END. S2 dong kakak
Hana Me: iya nihh, bingung hihii ...
total 1 replies
Asni J Kasim
Crazy up kak 💪💪
HeniNurr (IG_heninurr88)
Crazy up lngsung tamat...kereen...dtgu kry debaek slnjutnya akak😉😉
Hana Me: mksiihh, semoga masih bisa, sekarang baca saja dulu dehh
total 1 replies
Wichan606
Mampir ya ke karya terbaru wil

Sky blue lovd🤣
Hana Me: uwoww terbaru, meluncur deh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!