Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?
Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!
Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?
ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24| Akhir dari segalanya
Elena kini telah tiba, dia melihat mayat berserakan di mana-mana dengan kondisi rumah yang hanya tinggal puing-puingnya saja.
Begitu kejam Lily menghabisi mereka, suara isak tangsi terdengar. Elena bergegas menghampiri suara itu dan mendapati seorang anak kecil menangis tersedu-sedu di sebelah mayat ibunya.
"Ibu ... Ibu, bangun ... Ibu!" racaunya. Elena menatap iba pada anak itu, kejadian mengerikan ini telah meninggalkan trauma yang besar nantinya.
Elena lantas menggendong anak itu dan membawanya menjauh, lebih tepatnya membawanya ke mansionnya. Begitu tiba, dia disambut dengan Frieda yang sepertinya mendengar suara amukan Lily.
"Nona Elena!"
"Frieda, tolong jaga dia. Daerah sini akan aman dari serangan iblis itu, karena letaknya yang jauh, tetapi tidak bisa dibilang aman juga. Tolong kumpulkan warga desa dan bawa mereka ke tempat yang aman."
Elena menatap anak itu yang masih menangis dalam gendongan Frieda.
"Frieda, dengarkan aku ... Jika aku tidak selamat nantinya, tolong rawat anak ini. Katakan pada kak Lucas untuk menjadikan dia keluarga juga. Jangan banyak bertanya, sekarang tidak ada waktu lagi. Aku pergi!"
Elena tidak tahu mengapa dia mengatakan hal itu, tetapi firasatnya mengatakan bahwa semuanya akan berakhir begitu masalah ini terselesaikan.
Bukankah sudah terlalu lama dia berada di abad pertengahan? Misinya hanya sebatas membuat ending yang bahagia untuk Elena, itu saja.
Elena kini tengah berdiri menatap bagaimana Lily mengamuk dengan sesekali menyerang para prajurit, bahkan tak segan-segan menyerang siapapun yang berani mendekatinya.
"Aku akan mengakhirinya Lily dan kau harus mendapatkan balasan yang lebih dari ini. Kau terlalu banyak menyusahkan orang lain!"
Elena langsung melompat dan berdiri tepat di depan Lily. Max yang kala itu kewalahan, terkejut bukan main melihat Elena tengah berdiri dengan gagahnya menghadap iblis itu.
"Cukup sampai di sini Lily!" teriaknya.
"Elena ... Akhirnya setelah sekian lama aku bisa membunuhmu!" suara seraknya membuat tubuh Elena merinding hebat.
"Dasar gadis bodoh. Kau dari dulu memang selalu menyusahkan orang saja. Tidak puas kau membunuh ibumu sendiri demi bisa mendapatkan simpati keluargaku? Kau juga berhasil merebut perhatian Max dariku dan menjadi seorang ratu tanpa bersusah payah dan sekarang, kau bersekutu dengan iblis?"
Elena tertawa dengan sangat kencang, mereka yang hanya terluka ringan bergidik ngeri termasuk Max.
"Apa yang kau pikirkan bodoh! Membunuhku? Memangnya kau bisa?"
"Dari dulu kau selalu iri padaku, melakukan segala cara agar orang-orang memperhatikanmu. Jangan lupa akan satu hal Lily!"
Kali ini tatapan Elena semakin serius.
"Aku akan membalaskan dendam atas kematian ibuku dan juga warga desa. Mereka yang tidak bersalah harus menanggung semua dosa yang sudah kau perbuat!"
Elena langsung mengeluarkan sihir petir ungu. Saat itu hujan berhenti secara tiba-tiba, suara gemuruh dari langit menarik perhatian semuanya.
Puasaran awan yang berada tepat di atas kepala Lily pun mengeluarkan kilatan cahaya ungu disertai sambaran petir yang mengenai tubuh gadis itu.
Suara teriakan kesakitan terdengar begitu nyaring, Lily mengayungkan tangannya hingga mengenai perut Elena.
Robekan di perutnya pun tak menyurutkan semangat Elena untuk menghentikan Lily dan bagaimana pun caranya harus menyegel kembali iblis itu.
"Elena!" Max menjadi semakin khawatir saat darah mengucur deras dari perut Elena.
"Jangan khawatirkan saya yang mulia raja, sebaiknya anda siapkan sesuatu untukku menyegel makhluk gila ini!"
Elena mengusap darah yang keluar dari ujung bibir, Lily kini menggeram ke arah Elena. Kecepatan yang luar biasa itu tak bisa mengejutkan gadis tersebut.
Saat akan memukul bagian belakang Elena, ia dengan cepat menghindar. Sihir api dia pusatkan ke Lily lalu menyerangnya.
"Uhuk ... "
Kondisi tubuh Elena terlihat menurun, tetapi dia masih belum menyerah. Ia melihat Max yang telah memegang sebuah botol.
"Mari akhiri semua ini!"
FLASHBACK ON
"Batu iblis?"
"Ah, aku pernah mendengar rumor tentang benda itu. Katanya raja terdahulu mengurung iblis paling kuat di dalam batu itu," ucap Frieda dengan meletakan buku di rak.
"Lalu, kau tahu cara mengatasinya?"
Frieda nampak menggeleng, itu hanyalah rumor yang belum tentu benar.
"Banyak yang tidak percaya tentang rumor itu dan memilih untuk mengabaikannya saja."
"Batu ini cukup unik. Apakah kita tidak punya buku tentang sejarah batu iblis serta raja yang mencegahnya?"
Frieda nampak berpikir, sebelum akhirnya dia berjalan ke arah rak yang paling belakang. Gadis itu sedang mencari-cari sesuatu hingga menemukan sebuah buku yang lumayan tebal.
"Aha ... Ini dia!"
Frieda lantas berlari dan memberikan buku pada Elena.
"Cobalah nona mencarinya di sini. Buku ini hanya ada lima di kekaisaran dan isinya tentang sejarang masing-masing kerajaan. Mungkin saja anda bisa mendapatkan jawabannya di sini."
Elena terlihat mengangguk, lantas membukanya secara perlahan. Dia juga ingin mengetahui rahasia setiap kerajaan.
Hingga sebuah halaman di mana terdapat beberapa coretan, membuat Elena tertarik.
"Frieda, ku bisa membaca tulisan ini?"
Elena terlalu malas untuk membaca tulisan yang terlihat menyambung itu. Setelah membacanya, Elena hanya mengangguk-angguk paham.
"Jadi jika ingin mengurung iblis ini, maka dibutuhkan suatu tempat seperti botol atau batu dan juga satu nyawa?"
"Kenapa nona begitu tertarik dengan hal-hal mengerikan seperti ini?" Frieda menutup buku dan menatap heran ke arah Elena.
"Yah, aku hanya ingin mencari tahu faktanya saja. Si penyegel hanya perlu menggunakan sihir penyegelan tingkat tinggi dan taruhannya adalah nyawa. Menarik, aku jadi ingin mencobanya!"
"Ah, nona jangan berpikir untuk melakukan hal berbahaya seperti itu!" Frieda terdengar sangat khawatir, sementara Elena hanya tertawa.
"Tenang saja, lagi pula hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Tidak ada yang tahu keberadaan batu itu di mana!"
FLASHBACK OFF
"Hah ... Tidak ku sangka, ucapanku waktu itu terwujudkan juga."
Elena mulai bersiap pada posisinya, membaca beberapa mantra yang telah dia pelajari selama ini. Lingkaran berwarna merah darah muncul di bawah kakinya, sontak saja hal itu membuat Max terkejut.
Xavier yang melihatnya dari arah pepohonan, terkejut bukan main.
"Itu ... Itu adalah sihir penyegelan tingkat tinggi. Ba-bagaimana bisa Elena ... "
"Bagaimana Lily? Aku telah mempelajari sihir penyegelan tingkatan paling tinggi, gagal atau berhasil taruhannya adalah nyawa sendiri."
Mendengar ucapan Elena, Max menjadi semakin khawatir.
"Elena ... Berhenti sekarang juga!" teriaknya mencoba untuk menghentikan gadis itu.
"Percuma saja kau menghentikanku, Max. Ingat bahwa semua bencana ini juga ulahmu. Jangan pernah lari dari tanggung jawabmu dan melemparkannya pada orang lain."
Max langsung bungkam. Memang benar, jika saja dia tidak menceritakan fakta terkait batu iblis itu pada Lily, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Mari kita mulai!"
Saat Lily akan menyerang, tubuhnya lebih dulu diikat dengan rantai yang lumayan besar.
"Uhuk ... "
Elena batuk dengan mengeluarkan darah segar dari mulutnya, Xavier ingin mendekat dan menggantikan posisi Elena, tetapi dicegah langsung oleh Merida.
"Aku harus membantu Elena, dia bisa mati!" ucapnya panik.
"Kau pikir Elena akan senang? Jika penyegelan ini gagal, maka kita semua akan tamat. Gadis itu sudah mati, jiwanya sudah diambil alih oleh iblis itu."
"Bagaimana pun aku tak bi-"
"Berhenti bersikap begini Xavier. Ibu juga ingin menghentikan Elena, tetapi ini pilihan dia."
Xavier nampak memukul batang pohon dengan segala rasa emosinya yang tak terbendung. Setelah semua ini selesai, dia berjanji akan menuntut kerajaan atas apa yang telah menimpa kekasihnya.
Ketika akan melawan, Elena mengerahkan seluruh tenaganya. Jika saja tidak ada Leon yang mendiami tubuhnya, pasti Elena akan mati lebih cepat.
Anggap saja sebagian kekuatan Elena sekarang berkat Leon yang notebanenya adalah salah satu hewan sihir.
"A-ayo kita akhiri se-semua ini!"
Elena berteriak dengan sangat keras hingga rantainya bergerak menarik iblis itu masuk ke dalam botol. Inilah perbedaan antara Elena dan yang lainnya. Max sampai-sampai harus memegangi botol itu dengah sekuat tenaga, agar tidak jatuh.
Sampai pada akhirnya Elena berhasil mengurung iblis itu kembali, langit tiba-tiba menjadi cerah dengan matahari yang sudah sedikit meninggi di ufuk timur.
Cahaya putih keluar dari tubuh Elena dan berubah wujud menjadi manusia. Itu adalah Leon, dia segera memeluk Elena yang saat itu tak berdaya lagi.
"Elena, Elena!" panggilnya secara panik.
Leon memperhatikan luka di perut Elena yang terbuka lebar dan dalam. Kepanikan semakin terasa saat Xavier mendatangi mereka dan mendorong Leon secara kasar.
"Elena, kau harus bertahan. Kau berhasil menyegel iblis itu!" ucapnya sembari menutupi luka Elena dengan tangannya, bermaksud agar darahnya tak mengucur lagi.
"Xa-Xavier ... Jangan lakukan uhuk ... Hal yang sia-sia. K-kau ingat dengan ucapanku waktu itu?"
Dengar air mata yang terus mengalir, Xavier menangis sembari mengangguk.
"A-aku akan kembali ke ma-masa depan. Se-segeralah cari penggantiku, k-kau tidak boleh ... Uhuk ... "
"Berhenti berbicara Elena, kau hanya akan mempercepat kematianmu!" kesal Xavier.
Dia kesal karena tak bisa berbuat apa-apa, sementara kekasihnya sedang berjuang untuk menyampaikan isi hatinya.
"Maafkan aku ... Katakan pa-pada Max, a-aku tidak membencinya. Li-Lily juga su-sudah tak bernyawa."
Leon hanya menatap Elena dengan hati yang sakit.
"K-kak Lucas ... A-aku menyayangi dia, di-dia adalah kakak yang baik untukku."
"Xavier ... Aku akan minta pada tuhan untuk mempertemukan kita dikehidupan lain. Aku mencintaimu!"
Suara serak itu kini berubah menjadi keheningan, senyuman di bibir yang selama ini dia lihat, telah menghilang. Xavier sontak memeluk mayat Elena dan berteriak keras.
Inilah yang paling dia takutkan dalam hal jatuh cinta, kehilangan sosok yang benar-benar telah mencuri hatinya.
Max yang baru saja memberikan botol pada Merida, harus mendapatkan pukulan dari Xavier.
"Kalau saja... "
Bukk...
"Kau tidak ... "
Bukk...
"Membuatnya semakin rumit!"
Pukulan telak mendarat tepat di wajah Max hingga pria itu jatuh tak berdaya.
"Kalau saja kau tidak membuat Elena menderita dan memberikan harapan pada Lily, semua ini tidak akan terjadi!" teriaknya frustasi. Semua yang ada di sana tak bisa apa-apa dan hanya terpaku di tempat.
"Kau laki-laki paling buruk ... Dari awal kaulah penyebab semua ini, Max!"
"Kau sengaja mendekati Lily dan membuat Elena cemburu, kau juga yang memprovokasi ayahmu untuk membuat Lily menjadi seorang ratu."
"Dari awal, kau mengincar Elena, tetapi Lily selalu menghalangi niat burukmu."
"Kau laki-laki paling buruk yang pernah ku temui."
Xavier tak berhenti mengoceh, kebenarannya telah dia ketahui. Bagaimana bisa?
Xavier bisa membaca pikiran orang lain dan dia tahu mengapa Lily sengaja berperilaku kasar pada Elena, hanya agar gadis itu tidak terlalu dekat dengan Max.
Memang benar Lily membunuh ibunya, itu karena dia sudah muak. Wanita itu selalu memukulinya di rumah jika Lily tak pergi meminta-minta.
Kebenaran lainnya adalah, Lily mengetahui niat jahat Max pada Elena. Semua yang dia lakukan semata-mata hanya ingin melindungi teman satu-satunya.
Rahasia yang Max sembunyikan selama ini adalah, dia sangat terobsesi pada Elena, sampai-sampai pernah hampir melecehkan gadis itu di saat mereka berumur dua belas tahun.
Semuanya terkejut dengan ucapan Xavier, rahasia besar seperti ini disembunyikan dengan rapi oleh seseorang yang manipulatif seperti Max.
"Max ... Aku bersumpah di kehidupan selanjutnya, jika aku bertemu denganmu maka saat itu juga aku akan membunuhmu!"
Xavier pun menendang perut Max dan menggendong mayat Elena menuju kekediamannya. Leon juga diminta untuk membawa mayat Lily.
"Kalian berdua saling melindungi dengan cara masing-masing, mengapa kalian juga yang harus berakhir mengenaskan seperti ini?" batin Xavier dengan penuh penyesalan. Andai saja dia sadar lebih awal dan menjelaskannya pada Elena, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Berita kematian Elena dan Lily menggemparkan kerajaan, terutama Frieda dan warga desa bagian barat. Mereka menangis mengingat Elena sudah sangat banyak membantu desa.
"Nona, mengapa anda harus meninggalkan saya. Padahal saya sudah menganggap anda seperti adik saya sendiri!" Frieda menangis tepat di sebelah mayat Elena, suaranya yang sesegukan membuat Leon mendekatinya.
Pria itu lantas menenangkan Frieda dengan cara memeluknya.
"Nona selalu baik padaku, mengapa semua ini harus menimpanya? Setelah nyonya, mengapa nona harus cepat menyusul?"
Lucas sejak tadi tak keluar dari kamar, dirinya kacau. Edward pun tak kalah kacau, dia sesekali memukuli wajahnya sendiri dan merasa gagal menjadi suami sekaligus ayah yang baik.
Siang itu, Xavier nampak duduk di padang rumput. Matanya menatap awas yang bergerak bebas hingga bayangan wajah Elena yang tersenyum muncul.
"Aku ingin menemuimu sekali lagi, bukan sebagai Elena melainkan sebagai Melinda."
"Aku merindukan sosokmu yang selalu banyak bicara dan tingkah jahilmu. Kau selalu saja sukses membuat orang-orang terkejut atas tindakanmu."
Sementara di belahan dunia lain, seorang gadis terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Tangannya bergerak dengan cepat menghapus air mata yang mengalir tanpa izin.
Seseorang baru saja memasuki ruang rawatnya dan terkejut.
"Melinda sudah sadar!" teriaknya heboh.
Beberapa orang masuk diantaranya ada kedua orang tuanya yang langung memeluknya.
"Syukurlah kau bangun."
"Melinda, ayah sangat khawati!"
Ia menatap mereka satu persatu dan matanya tertuju pada seseorang yang menatapnya dari ambang pintu.
"Xavier?"
Seseorang itu masuk dan diketahui adalah dokter.
"Saya akan memeriksa pasien dulu, tolong untuk menunggu di luar!"
Setelah mereka keluar, Melinda tak melepaskan pandangan dari sang dokter. Wajahnya terlalu mirip dengan Xavier, tetapi dari papan namanya bukanlah orang itu. Terlebih dokter terlihat seperti tak peduli.
Saat sedang memeriksa tubuh Melinda, dokter tersebut berucap.
"Ternyata kau lebih cantik saat menggunakan tubuh yang asli!"
Mendengar itu Melinda membulatkan matanya. Penglihatannya buram dikarenakan dengan air mata yang telah menumpuk di pelupuk.
"Selama ini aku menunggumu dan akhirnya kita bisa bertemu. Apa kau tidak merindukanku?"
Pertanyaan yang konyol. Melinda langsung memeluk pria itu dengan erat, seakan tak ingin kehilangan cinta pertamanya lagi.
"Nama asliku adalah Xavier dan yang aku pakai sekarang adalah nama samaran."
"Xavier ... Aku merindukanmu!"
"Aku tahu."
Selesai