Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
“Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?” Tanya Max saat melihat sang istri masuk ke dalam ruang kerjanya.
Elion juga masuk, karena pria itu membawa lunch bag dan ditaruh di atas meja. Setelah itu, Elion kembali keluar dan pergi ke ruangannya.
“Sangat menyenangkan, aku masih tidak percaya akan mengemudikan mobil impianku,” jawab Leticia dengan jujur.
Max beranjak dari kursinya dan menghampiri sang istri yang terlihat begitu bahagia. Hal pertama yang pria itu lakukan adalah memeluk Leticia, karena rasa lelahnya langsung menghilang setelah memeluk sang istri.
Dan Leticia menatap ke meja kerja suaminya, di atas meja ada cukup banyak tumpukan dokumen. Ia langsung teringat dengan apa yang dikatakan Elion tadi, tetapi Leticia tetap berpura-pura tidak mengetahui rencana sang suami.
“Aku yang masak sendiri, Kak Max pasti sudah lapar… ayo sini, kita makan bersama!” Kata perempuan itu sambil melepaskan pelukanya, lalu menarik tangan sang suami menuju sofa.
Max tersenyum tipis, ia menatap tangan besarnya yang masih digenggam oleh sang istri. Leticia melepaska tangan suaminya, lalu membuka lunch bag dan mengeluarkan isinya.
Aroma masakan Leticia menguar keluar, membuat perut Max meronta-ronta ingin segera diisi. Setelah merasakan masakan sang istri, pria itu menjadi kurang suka dengan masakan orang lain.
“Mau aku suapi?” Tanya Leticia yang dibalas anggukan oleh suaminya.
Ini bukan pertama kalinya, perempuan itu menyuapi Max. Sudah tidak ada rasa canggung, seperti sebelumnya.
“Kau juga harus makan!” Max merebut tempat makan yang ada di tangan istrinya.
Kini gantian pria itu yang menyuapi Leticia, jadinya mereka makan siang dengan saling menyuapi secara bergantian.
“Kak, aku boleh minta izin untuk menjemput Elina di Bandara? Sekalian nanti aku akan mengajaknya untuk melihat pembangunan toko kue kami,” Leticia menaikkan pandangannya, menatap mata suaminya dengan tatapan memohon.
Max sebenarnya ingin sang istri berada di ruangannya lebih lama, tetapi ia tidak ingin egois dan membatasi pergerakan Leticia.
“Jam berapa?” Tanya pria itu.
“Perkiraan satu jam lagi, jadi aku akan menunggu di sini sampai nanti Elina sudah mendarat di Bandara Internasioal,” jawab perempuan itu.
Max langsung menjatuhkan kapalnya di bahu sang istri, membuat Leticia sedikit terkejut… sebelum tangannya mengusap kepala sang suami.
“Pekerjaanku sangat banyak, kepalaku rasanya begitu panas,” kata pria itu yang berpura-pura terlihat lemah di hadapan sang istri.
Padahal biasanya pekerjaan Max lebih banyak dari ini, belum lagi mengurusi masalah di markas. Namun, karena ada Leticia di dekatnya… pria itu sedang bersandiwara untuk mendapatkan perhatian manis dari sang istri.
Cup!
“Apa pekerjaannya bisa dilanjutkan besok saja? Aku tidak mau Kakak jatuh sakit, karena kebanyakan bekerja,” Leticia mengecup kening suaminya.
Dan perempuan itu sudah tidak malu-malu lagi untuk mencium Max lebih dulu, seperti contohnya yang barusan.
Max menahan senyumannya, ia merasa senang mendapatkan kecupan manis dari sang istri… meskipun hanya di kening, tetapi sudah cukup membayar rasa geli dari tingkahnya sendiri.
“Maunya begitu, tapi Daddy ingin semuanya selesai tepat waktu,” jawab Max yang tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.
Sedangkan Leticia tidak bisa menahan senyumannya, karena ia sudah mengetahui alasan sebenarnya dari Elion.
“Mau aku bantu? Biar pekerjaan Kak Max lebih cepat selesai,” perempuan itu mencoba menawarkan diri untuk membantu suaminya.
“Cukup bantu dengan pelukan dan ciuman,” kata Max yang lebih membutuhkan keduanya agar kembali semangat menyelesaikan pekerjaannya.
Leticia menggigit bibir bawahnya, entah mengapa ia merasa kalau Max tengah bermanja kepadanya. Rasanya begitu aneh, karena wajah Max tidak cocok dengan sikap pria itu saat ini.
Mungkin kalau Calistha mengetahuinya, sudah dipastikan wanita paruh baya itu akan menyindir putranya habis-habisan.
“Sini aku cium! Yang mana mau dicium?” Tanya Leticia yang sebenarnya merasa geli sendiri, tetapi ia ingin memberikan semangat untuk suaminya.
Max menarik tubuhnya, jarinya menunjuk kedua pipinya, hidung dan terakhir bibirnya.
Leticia mendekatkan wajahnya dan mencium bagian yang ditunjuk oleh sang suami, perempuan itu memejamkan matanya… saat Max mengambil alih ciuman saat bibir mereka bertemu.
Baru dua minggu mereka menikah, tetapi Leticia sudah merasa sangat nyaman dengan Max dan perasaannya perlahan mulai teralihkan kepada pria itu.
Perlakuan manis, kata-kata lembut dengan ekspresi datar itu… benar-benar berhasil meruntuhkan tembok yang sebelumnya Leticia bangun agar tidak membuka hati lagi. Namun saat ini perasaannya masih sedikit abu-abu, jadi Leticia belum bisa mengatakannya sampai perasaannya benar-benar yakin.
“Lusa aku ingin ke kediaman Monara untuk mengambil barang-barangku, apa Kak Max bisa menemaniku ke sana?” Tanya Leticia, setelah Max melepaskan ciumannya.
“Aku akan menemanimu, apa kita perlu membawa oleh-oleh untuk kedua orang tuamu?” Tanya Max.
Leticia menganggukkan kepalanya, “Ada satu yang ingin aku minta kepada Kakak. Aku sudah memikirkan hal ini dengan baik, dan aku memutuskan untuk tidak memiliki hubungan apalagi dengan keluarga Morana. Jadi, aku mau minta bantuan Kak Max untuk menyiapkan berkas-berkasnya.”
Keputusan Leticia sudah bulat, ia tidak ingin namanya tetap terserat dalam keluarga Morana nanti. Apalagi saat keluarga Morana nanti hancur, Leticia tidak ingin mereka tetap mengusiknya… karena masih menganggapnya menjadi bagian dari Morana.
“Pengacaraku yang akan mengurusnya, dia juga akan datang ke sana.”
Leticia tidak bisa menahan senyumannya, saat mendengar jawaban sang suami.
...***...
“Wah, ini benar-benar mobilmu?” Tanya Elina yang sejak tadi tidak bisa diam saja, karena menaiki mobil mewah.
“Iya, ini hadiah pernikahan dari Daddy Daniel,” jawab Leticia yang ikut senang melihat kebahagiaan temannya.
“Akhirnya kau benar-benar bertemu dengan orang yang tepat, aku sangat senang melihat perubahanmu dan aku juga sangat berterima kasih… karena sudah dibelikan tiket liburan, tempat tinggal selama liburan dan juga uang belanja. Aku tidak tahu harus mengucapkan kata terima kasih seperti apa kepada Nyonya Calistha!” Elina sambil menangkup wajahnya sendiri, karena merasa begitu bahagia.
“Beliau juga merenovasi toko kue kita menjadi lebih besar, rasanya masih seperti mimpi. Dan aku akan selalu mendukungmu dengan Tuan Max! Kalian adalah pasangan yang sangat cocok! Kau cantik, Tuan Max tampan! Tidak seperti Ashvin yang sudah tidak tampan, tukang selingkuh dan suka meminta uang kepada perempuan lagi,” Elina tiba-tiba menyindir Ashvin.
Elina memang sudah lama tidak menyukai Ashvin, tetapi Leticia saat itu masih mencintai pria itu. Jadinya, Elina sangat susah untuk menyadarkan temannya.
“Kita lanjut mengobrol di dalam!” Kata Leticia yang membuat temanya tersadar kalau mereka sudah sampai di sebuah bangunan berlantai tiga yang begitu luas.
“I-ini toko kue kita?” Kaget Elina yang tidak sadar kalau Leticia sudah keluar dari mobil.
Leticia juga merasa kagum melihat bangunan megah yang hampir selesai itu, tetapi senyumannya langsung menghilang, saat matanya tidak sengaja bertemu dengan…
“LETICIA! DASAR ANAK DURHAKA!”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️