Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan, terlihat ada orang yang menyelamatkannya berwujud sesosok makhluk yang disebut 'Merman'.
"Si . . . siapa kamu? Umm! Umm!" tanya Vanya sambil menahan napasnya karena berada di dalam air.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku," balas Merman sambil memberikan napas buatan melalui mulut ke mulut kepada Vanya.
Merman tersebut pun membawa Vanya ke tepi pantai, lalu setelah itu ia kembali lagi ke lautan. Ketika Vanya hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal sekaligus idolanya yang bernama James Haolin.
Apakah benar orang yang telah menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika di dalam lautan?
~
PERHATIAN
Mohon kepada para pembaca terhormat JANGAN BOOMLIKE karya ini !
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyoChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Organisasi Detektif Bersenjata (ODB)
James pun berjalan menuruni tangga ke lantai dua rumahnya. Ia lalu mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah menjadi kesal setelah mendengar ucapan dari orang yang meneleponnya tersebut.
***
"Apa? Dia tetap tidak mau mengatakan kebenarannya?" teriak James pada orang yang meneleponnya.
"Iya Bos! Dia tetap bersikeras tidak mau mengungkapkan semua rahasianya," sahut orang yang menelepon James.
"Haah! Kalau begitu nanti malam aku akan datang ke markas. Jika dia tidak bisa di bujuk menggunakan cara halus, lebih baik ambil tindakan yang sedikit ekstrim," ucap James lalu menutup sambungan teleponnya.
"Cih! Sialan! Siapa sebenernya yang menyuruh pria tersebut untuk mencelakai Vanya? Apa Jasmine yang melakukannya? Haah! Sudahlah! Aku tidak mau menuduh tanpa adanya bukti," umpat James kesal.
Kemudian, ia kembali lagi ke kamarnya Vanya. Ternyata Vanya sudah menghabiskan semua buburnya dan tengah tertidur pulas. James pun menatap gadis yang dicintainya itu dengan tatapan iba.
"Haah! Aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu dengan baik hingga kondisimu menjadi seperti ini," ucap James dengan lirih sambil mengelus kening Vanya.
"Eh? Padahal dia belum meminum obatnya, tetapi sudah tertidur dengan pulas. Biarlah, nanti saja setelah dia terbangun akan aku berikan obatnya," ucap James lagi sambil memerhatikan Vanya yang sudah tertidur.
***
Waktu pun kini sudah menunjukkan pukul enam sore. Akhirnya Vanya pun terbangun dari tidur lelapnya. James dengan setia menunggu Vanya di samping tempat tidur hingga ia terbangun. Ia pun sudah menyiapkan makanan untuk Vanya.
"Kamu? Eh? Mangkuk berisi apa lagi itu? Jangan bilang itu bubur lagi," ucap Vanya sambil memerhatikan mangkuk makanan yang dibawa oleh James.
"Nggak kok, ini bukan bubur. Ini nasi hangat dan sup yang sudah aku masak khusus untukmu," sahut James sambil tersenyum.
"Ooh . . . itu lebih baik daripada bubur," ucap Vanya dengan senang.
"Ya sudah, aku suapin, ya." James menyodorkan sesuap nasi kepada Vanya.
Vanya lalu mengambil sendok yang di pegang oleh James, "Aku bisa sendiri! Kamu tidak perlu terlalu memanjakanku!" ucap Vanya dengan ketus.
"Haah! Aku mohon jangan marah lagi! Aku minta maaf soal ucapanku yang tadi. Sebelumnya aku memang jarang merawat orang sakit. Jadi, aku belum terbiasa jika harus memanjakan orang yang sedang sakit. Aaa . . . ayo aku suapin," sahut James sambil menyodorkan sesuap nasi kepada Vanya.
"Iya!" jawab Vanya dengan singkat, tetapi tetap membuka mulutnya karena sedang disuapi oleh James.
"Pft!" James menahan tawanya ketika melihat reaksi Vanya yang sedang marah tetapi tetap mau disuapi olehnya.
Akhirnya Vanya pun menghabiskan semua makanannya walau sambil mengeluarkan raut wajah masam. Kemudian, James menyuruhnya untuk meminum obat. Vanya pun akhirnya meminum obatnya karena tadi siang tidak sempat meminumnya.
***
Malam hari pun datang dengan bulan purnama yang bersinar sangat terang. Malam ini James berencana pergi ke markas organisasi rahasia miliknya untuk menginterogasi orang yang telah mencelakai Vanya. Ia pun memastikan Vanya sudah tertidur dengan lelap sebelum keberangkatannya.
Kemudian, James mengemudikan mobilnya menuju sebuah gedung sepuluh lantai di pinggiran kota San Diego. Tempat tersebut adalah tempat yang sepi dan jarang dilalui oleh transportasi umum. James menyembunyikan identitas asli dari gedung tersebut dan mempublikasikannya sebagai tempat percetakan surat kabar.
Dari lantai satu hingga lantai tiga gedung digunakan sebagai tempat percetakan surat kabar, sedangkan dari lantai empat hingga lantai sepuluh, ia jadikan sebagai kantor organisasi rahasia miliknya. Organisasi tersebut bernama Organisasi Detektif Bersenjata (ODB). Organisasi itu adalah organisasi rahasia yang sudah diakui oleh pemerintah karena kontribusinya dalam mengungkap kasus-kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh polisi militer.
Ia lalu memasuki gedung tersebut. Kemudian, ia menaiki lift dan naik hingga ke lantai empat gedung. Di dalam gedung sudah berjejeran para pria yang menggunakan kacamata hitam, setelan jas hitam lengkap, dan berpostur tinggi kekar yang sudah menunggu kedatangannya. Ketika James melewati mereka, mereka pun membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada pemimpinnya.
Di ujung barisan para bawahannya tersebut, terlihat ada Tomi dan tujuh orang pria yang berada disampingnya turut menyambut kedatangan James. Tujuh orang pria tersebut adalah para agen detektif anggota ODB, yaitu Edward Steward, Roy Millan, Frans Hulk, Michelle Roan, Delice Ferrary, Thomas Killian, dan Jorse Anshon.
"Dimana dia?" tanya James sambil menatap Tomi.
"Dia berada dalam sebuah ruangan yang ada di lantai sepuluh. Sebaiknya anda saja yang menginterogasinya. Kami semua sudah berusaha menginterogasinya tetapi dia bersikeras tidak mau mengungkapkan semua rahasinya," sahut Tomi menjelaskan.
"Haah! Baiklah kalau begitu. Mana senjata laras panjang?" tanya James sambil menyodorkan tangannya kepada Tomi.
Semua orang di dalam lantai empat tersebut pun terkejut mendengar perkataan James. Mereka tidak menyangka pimpinannya tersebut akan bertindak sejauh itu. James menatap Tomi dengan tatapan dingin tanpa ekspresi dalam keadaan masih menyodorkan tangannya karena Tomi belum memenuhi permintaannya.
"Mana senjatanya?" tanya James lagi.
"Anu . . . apakah anda akan bertindak sejauh itu untuk menginterogasinya?" Tomi balik bertanya kepada James dengan gugup.
"Dia sendiri yang ingin diperlakukan menggunakan cara kasar. Kenapa aku harus takut padanya? Di bunuh sekarang pun sepertinya akan sangat bagus," sahut James dengan tatapan dingin.
Tomi menelan air liurnya dalam-dalam. Ia kini sangat gemetar ketakutan melihat raut wajah James yang seperti kehilangan perikemanusiaannya tersebut. Lalu, ia pun memberikan sebuah senjata laras panjang kepadanya.
***
Kemudian, James segara bergegas menaiki lift dan menuju ke lantai sepuluh. Ia lalu menuju ke ruangan yang digunakan untuk menahan pelaku teror yang selalu meneror Vanya. Di depan pintu ruangan tersebut, terdapat enam orang penjaga yang menjaga pintu masuk.
Mereka lalu membungkukkan badannya ketika James berjalan ke arah ruangan tersebut. Kemudian, salah seorang penjaga membukakan pintu masuknya, "Silakan Bos! Orangnya berada di dalam dan diikat pada sebuah kursi," ucap penjaga tersebut.
James pun berjalan ke dalam ruangan. Para penjaga pun menatapnya yang telah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi gemetar ketakutan. Mereka menduga pimpinannya itu akan mengamuk di dalam karena melihatnya membawa sebuah senjata laras panjang.
"Sepertinya Bos sudah lepas kendali," bisik seorang penjaga sedikit keras.
"Pelankan suaramu! Jika Bos mendengarnya bisa saja nyawamu yang menjadi taruhannya," sahut seorang penjaga disampingnya.
Di dalam ruangan tersebut, ia mendapati seorang pria menggunakan kaos hitam sedang duduk di kursi dalam keadaan terikat. Ia lalu mendekat ke arah pria tersebut. Kemudian, ia menendang kursi yang didudukinya hingga terjatuh.
"Dasar pria banci! Jika berani, hadapi aku satu lawan satu! Jangan membawa komplotanmu seperti itu!" gertak Pria berkaos hitam dengan tidak tahu malu.
"Haah! Apakah kamu sudah tidak sayang lagi terhadap nyawamu! Katakan semua rahasia yang kau ketahui mengenai orang yang menyuruhmu!" James lalu menodongkan sebuah pistol berdiameter satu meter ke kening pria tersebut dengan ekspresi dingin.
"Singkirkan pistolmu itu! Jika kau tidak menyingkirkannya, aku tidak akan bersedia mengatakannya," teriak Pria berkaos hitam yang mulai ketakutan.
"Oh? Apakah kamu sedang mencoba memerintah ketua ini?" tanya James dengan nada suara tinggi.
"Sebenarnya apa maumu, hah? Apa pentingnya wanita rendahan itu untukmu?" tanya Pria berkaos hitam.
Raut wajah James kini terlihat sangat marah. Ia lalu menekankan pistol tersebut ke kening pria itu dengan sangat kencang. Kemudian, ia menatap pria tersebut dengan aura membunuh yang sangat kuat terpancar jelas dari kedua bola matanya. Pria berkaos hitam itu pun akhirnya diam dengan raut wajah gemetar ketakutan.
***
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
Semangat yaa Thor
𝚂𝙴𝙼𝙰𝙽𝙶𝙰𝚃 𝚢𝚊𝚊...
𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊𝚖𝚞 𝚒𝚗𝚍𝚊𝚑, 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚒𝚋𝚞𝚛 𝚔𝚑𝚞𝚜𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚢𝚐 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚏𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜𝚒...
𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚞𝚙 𝚍𝚊𝚝𝚎 𝚋𝚊𝚋 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊²𝚖𝚞... 𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚛𝚎𝚊𝚍𝚎𝚛 𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚢𝚐 𝚗𝚢𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐...
𝙶𝚘𝚘𝚍 𝙻𝚞𝚌𝚔 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚞𝚙𝚞𝚗 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚊 𝚖𝚞
up thor
sepertinya saya tidak tahu kapan melanjutkan karya saya ini dikarenakan sedang mencari pekerjaan.