mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rutinitas
malam hari semua sedang berkumpul bersama, karena besok Dila dan Hendra akan kembali ke Gresik untuk bekerja.
mereka pun membagikan beberapa barang yang Tago di beli, Bu Eka kaget menerima perhiasan emas yang di berikan oleh Dila.
"aduh nak, ini terlalu berlebihan," kata Bu Eka.
"tidak Bu, ini hanya hadiah kecil, lagi pula aku beli dengan uang putra ibu," kata Dila yang langsung di cubit gemas oleh Hendra.
"hahaha, kamu ini lucu ya nduk," jawab Bu Eka.
"ya sudah, sekarang kalian Istirahat karena besok pasti butuh tenaga lebih bukan," kata pak Tono.
Dila dan Hendra pun masuk kedalam kamar, di luar rumah terdengar suara ribut-ribut.
Dila dan Hendra yang baru masuk akhirnya ikut keluar karena penasaran.
"ada apa Bu?" tanya Hendra yang berdiri berdampingan dengan Dila.
"ibu juga tak tau, tapi bapak sedang melihatnya," jawab Bu Eka.
dari kegelapan jalan desa, seorang wanita berlari dan langsung mendorong pak Tono hingga jatuh.
melihat itu Hendra dan Bu Eka ingin menolong, tapi Hendra malah di peluk wanita hamil itu.
"mas kamu pulang, lihat aku hamil anak mu, sekarang sudah lima bulan, kamu harus percaya karena kita melakukannya," kata wanita itu sambil tertawa.
ternyata itu mantan kekasih Hendra yang di gosipkan gila, ternyata wanita itu hamil dan bilang jika itu anak Hendra.
"apa itu benar mas?"
"jangan percaya dek, dia hanya gila karena aku meninggalkan dirinya dan menikah dengan mu," kata Hendra mendorong tubuh gadis itu.
Dila pun keluar rumah dan ingin melihat Laras, tapi Hendra menahannya.
tak lama rombongan keluarga Laras datang untuk menjemput wanita itu, "Laras Ayo pulang jangan ganggu nak Hendra ya," kata sang bapak yang nampak ketakutan.
"tidak pak, ini anak mas Hendra, aku bukan wanita buruk seperti yang di ucapkan orang-orang, aku hamil bukan di perkosa orang, tapi kami melakukannya saat aku menghampirinya di kota tempatnya bekerja," teriak Laras.
hati Dila hancur kembali, tapi Dila ingat jika Hendra tak bisa memiliki anak karena gangguan kesehatannya.
"tapi apa buktinya jika dia benar anak mas Hendra?" tanya Dila.
"aku yakin karena aku ingat dulu kita melakukannya di hotel setelah pesta," kata Laras yang tidak gila.
"kenapa cuma bengong, bawa putrimu yang gila itu pergi atau perlu aku panggil warga untuk memasung putrimu yang gila itu lagi," marah pak Tono.
"maafkan aku mas, ayo Laras jangan buat kamu tersiksa lagi," kata bapak gadis itu.
Dila masih tak bergeming sedikitpun, "mas jujur, jangan sampai aku melakukan apa yang tidak kau inginkan, jawab mas!"
"teman-teman ku yang melakukannya, karena malam itu aku ke kamar yang lain," jujur hendra.
Dila pun tau maksud Hendra, sedang semua orang pun kaget mendengarnya, Laras bahkan sampai jatuh terduduk.
"karena dia tang dengan pakaian mini dan seksi saat itu, dan malam itu dia di buat mabuk, tapi aku berada di kamar lain untuk membahas pekerjaan dengan Ridwan dan Andi, sedang dia hilang entah kemana saat aku kembali ke pesta malam itu," terang Hendra.
Laras pun syok, dan kini menangis dan tertawa tanpa henti, akhirnya wanita itu di bawa pulang.
Dila pun merasa begitu buruk, suaminya benar-benar tak berperikemanusiaan.
"kita berangkat sekarang," kata Dila.
"baiklah," jawab Hendra.
Bu Eka ingin melarang, tapi pak Tono melarang dan menahannya. selama perjalanan Dila terus berpikir dosa apa hingga dia memiliki jalan hidup seperti ini.
pukul dua belas malam mereka sampai di tempat kost, "jika besok mas melihat aku berubah jangan kaget, karena aku mengikuti gaya hidup suamiku,"
Hendra diam, dia bingung dengan ucapan itu, apa itu sebuah ancaman atau sebuah perkataan saja.
malam itu, keduanya tidur saling membelakangi dan tengelam dalam pikiran masing-masing.
keesokan harinya, Dila sudah menyiapkan semua keperluan suaminya, dan dia juga sudah bersiap ke kantor.
Hendra kaget melihat Dila yang melepas jilbabnya, "kenapa kamu tak mengenakan jilbab?"
"maaf aku tak bisa membohongi diriku lagi, aku nyaman seperti ini," jawab Dila yang akan berangkat ke pabrik.
Hendra terdiam, dia tak mengira akan melihat sisi dingin istrinya, "malam ini aku lembur,"
"baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke tempat olahraga bersama mbak Vivi dan iim, kami sudah ada janji, jika akan pulang setengah jam sebelumnya tolong kasih kabar, aku pamit," kata Dila yang pergi terlebih dahulu setelah mencium pipi Hendra.
"apa kesalahan ku sangat besar, kenapa dia berubah secepat ini,"gumamnya masih tak percaya.
sesampainya di pabrik, Vivi dan iim kaget melihat penampilan baru dari Dila, bahkan gadis itu sangat cantik saat mengikat rambut panjangnya.
"selamat pagi.."
"pagi... wah ada bidadari turun dari surga nih, makin cantik amat buk," kata Vivi.
"terima kasih, oh ya nanti malam kalian jadi ke gym, aku ikut yuk, sepertinya aku butuh suasana baru," kata Dila.
"wah, ada apa ini, istri yang biasanya di rumah kok mau nge-gym," ledek iim.
"badan ku udah gemuk banget, dan aku harus mulai jaga diri dong, tau sendiri bagaimana suamiku," jawab Dila yang langsung di satu tawa oleh kedua temannya.
Bayu yang menyaksikan ketiga pegawainya dari lantai tiga hanya tersenyum.
pasalnya Dila makin cantik tanpa jilbab, dan dia makin terlihat menantang dengan segalanya.
Andi menerima kunci mobilnya, dia heran melihat wajah kusut sahabatnya itu.
"kenapa bro, berantem lagi," tanya Andi.
"entahlah, aku bingung pagi ini istriku berubah, dari yang biasanya selalu tertutup kini malah memakai pakaian cukup membentuk tubuhnya dan melepas jilbabnya," terang Hendra
"udah bosan kamu bohongi mungkin, dia pun sudah tak bisa menahan diri lagi, ya yang sabar ya teman..." ledek Ridwan.
"sialan, pergi sana," usir Hendra.
seharian itu, pekerjaan lancar tanpa kendala, Andri sampai di tempat gym untuk mulai melampiaskan kemarahannya.
Dila, Vivi dan iim baru sampai, dan langsung ganti baju, pertama mereka bertiga mengikuti instruksi dari pelatih.
ketiganya peregangan, dan kemudian baru mulai cardio, Dila merasa bersemangat saat berkeringat.
dia seakan bisa melupakan semua tingkah suaminya yang entah bagaimana bisa seperti itu.
setelah cardio, mereka pun istirahat sepuluh menit untuk melanjutkan dengan latihan fisik.
tapi saat akan naik treatmil Dila melihat Andri yang baru turun dari alat olahraga itu.
"Dila, kamu disini?" kaget Andri.
"hai mas, kamu juga," jawab Dila yang hanya tersenyum.
"kita cari tempat, aku tunggu di luar," bisik Andri di telinga Dila.
Andri pergi dahulu, Dila menoleh kearah temannya, "hai bestie, aku pulang dulu ya , maaf ..."
"oke deh, sampai ketemu besok," jawab Vivi dan iim.
Dila pun bergegas ganti baju dan segera ke parkiran, tapi sebelum keluar,ada seseorang yang menarik tangannya.
"kenapa kamu disini? kamu tau ini tempat apa, dan pakaian mu?" tanya Andri.
"aku ingin bugar dan menunjukkan jika aku juga bisa cantik, aku muak harus mendengar dan melihat satu persatu masa lalu suamiku terbongkar setiap hari, aku lelah, kenapa aku harus menikahi pria seperti itu, saat aku mulai mencoba menerima dirinya, ternyata dia belum berubah sedikit pun," kata Dila pernah emosi.
Andri pun memeluk tubuh Dila, dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut, "tenang dek, sudah mas ilang jika ada apapun, kamu bisa bilang pada mas,"
Dila hanya mengeratkan pelukannya pada Andri, dan mengangguk lemah.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal