Bagaimana sih rasanya dicintai oleh ketua gangster yang kejam, dan dijerat dengan trik kotor dan licik? Kesel dong, kesel ya?
Begitu pun dengan Aliyah, gadis belia yang baru saja menerima ijazahnya, harus menanggung beban hidup menghadapi kenyataan hamil padahal dia tak merasa melakukan hubungan badan. Lebih ngeri lagi dia jadi buronan gengster karena sebuah ketidak sengajaan.
Bagaimana Aliyah akan menjalani hidup penuh drama nya? Dan ketua ganster mana yang jatuh cinta padanya?
Han Yo Il? Ataukah Devan? Dan bagaimana nasib bayi nya?
Ayookk baca biar tau. jangan lupa, like dan komennya😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 31
Di alam bebas, angin bertiup menggerakkan dedaduan diatas pohon, Satu terlepas dari ganggangnya, lalu terbang di udara, kesana kemari melewati hutan dan jatuh diatas riak air sungai yang jernih....
Daun itu ikut mengalir hingga ke hilir. Melewati area tempat Aliyah berlatih fisik. Bukan karena apa, gadis berusia 18 tahunan itu di tempa menjadi wanita kuat. Mengingat kejadian sebelumnya, dimana Aliyah diculik dan disekap oleh kelompok Han Yo Il. Membuat Devan bersikeras agar Aliyah mendapatkan pelatihan kusus pertahanan.
Walau Aliyah sudah berulang kali, jika dirinyalah yang drngan suka rela ikut dengan Yo il. Mengingat mereka berteman. Tentu saja Devan tak percaya begitu saja.
Aliyah berlari mengelilingi lapangan hingga 20 kali. Tentu saja dia ngos ngosan.
"Istriku! tak bisakah kau berlari lebih cepat? Bahkan siputpun bergerak lebih cepat darimu!" teriak Devan yang langsung menjadi pelatihnya.
Aliyah yang baru saja menyelesaikan latihan 20putaran itu. Mengatur nafasnya. memekuk tubuhnya dengan tangan yang bertumpu pada kedua lutut nya.
"Tuan Suami! A-kuuhh sang-at le-lah." ucap Aliyah terengah.
"Aku beri kamu waktu lima menit untuk mengatur nafas. Setelah ini kita menaiki bukit disana."
"Apa? hanya lima menit?"protes Aliyah setengah berteriak.
"Pergunakan waktumu dengan baik." dingin Devan datar.
Aliyah menyentak nafasnya keras-keras.
"Lima menit selesai. Kebukit sekarang!"
"Ya ampun! Aku butuh air."rengek Aliyah. Devan mengulurkan botol miliknya pada Aliyah yang langsung meminumnya.
"Oke! cukup!"ucap Devan "Jalan."
Aliyah mengembalikan botol itu pada Devan. Aliyah berjalan melewati jalan setapak menuju bukit. Semilir aingin yang berhembus ikut memainkan rambutnya. Aliyah yang kepanasan mengikat rambutnya. Sedangkan Devan masih mengikutinya dibelakamg.
Mereka sampai pada sebuah tebing bukit yang tingginya membuat Aliyah pusing saat menatapnya.
Aliyah menoleh,
"Tuan suami! kau tidak bermaksud menyuruhku untuk memanjat tebing ini kan?"
Devan tersenyum nakal sambil berjalan mendekat.
"Tentu saja bermaksud begitu."
"Apa?"
"Tidak ada jalan lain. Kita harus mendaki untuk bisa sampai keatas dan pulang." Ucap Devan sambil memasang tali pengaman pada Aliyah
"Baiklah mulai!" ucap Devan menepuk bokong Aliyah dengan tatapan memerintah.
Aliyah cemberut. Dia mulai menapaki tebing yang tinggi itu. Devan juga melakukan hal yang sama.
"Cepatlah! kalau kau tak mau bermalam disini!" tukas Devan merayapi tebing dengan sangat lincah. Aliyah hanya membisu dia takjub skaligus kesal pada suaminya itu.
Setelah perjuangan yang panjang. Akhirnya Aliyah sampai juga di puncak bukit. Devan berdiri sana menunggunya.
"Baiklah ayo bergerak."
"Apa?" terkejut."Tak bisakah kita istirahat sebentar?"
Devan melihat jam dilengannya.
"Baiklah lima menit."
"Saaayýaaanggg..."memanggil dengan nada manja
"Jangan merayuku. Lima menit."tegas Devan tak bergeming.
"Uuuuggghh.." dengus aliyah cemberut.
"ayo bergerak. sudah semakin petang." Devan memulai langkahnya.
"Uuuggghhh... " Aliyah mengaduh.
Kenapa lagi?" tanya Devan menoleh.
"Kakiku.. sakiiitt.." erang Aliyah
Devan mendekat lalu melihat kaki Aliyah.
"Sepertinya terkilir. Bagaimana kamu melangkah sampai terkilir begini?"gerutu Devan kesal.
"Ini... karena memanjat tebing tadi. Badanku juga sakit semua..." mengeluh manja, berharap Devan mau sedikit berbaik hati padanya.
Devan menyentak nafasnya kasar. Mencoba mengatur emosinya.. Aliyah melirik segan pada Suaminya itu. terbersit rasa tak enak juga.
Devan berjongkok di depan Aliyah.
"Naik lah."
Aliyah tersenyum senang. tapi masih berdiri saja.
"Cepat! kita harus segera kembali. hari semakin petang. perjalanan kita masih jauh."
Aliyah naik kepunggung Devan."Aku tidak akan segan."
Devan tertawa kecil. "Pegangan yang kuat. kita lari."
Devan mulai berlari menapaki jalan setapak yang kanan kirinya masih berupa pohon itu. Manuruni beberapa bukit dan akhirnya sampai di samping vila.
"Bersihkan tubuhmu!"titahnya begitu sampai di kediamannya."Setelah ini kita makan malam."
"Uuuggghh.. badan ku capek semua." keluh Aliyah turun dari punggung Devan.
"Makanya kau harus sering latihan."
"Aku selalu latihan kok. tapi bukan latihan militer seperti ini " protes Aliah cemberut.
"Sudah! Mandi! Apa mau aku mandikan?"
"Iya tuan suami. Aku mandi nih!" Aliyah berlarian kecil menuju kamarnya.
Devan masih tetap diruang utama. Kim datang mendekat.
"Tuan Devan, apa anda yakin akan melatihnya sendiri?"
"Ada masalah apa?"
Kim mendekat lalu berbisik ditelinganya. Wajah Devan berubah serius dan menakutkan.
"Aku mengerti." ucap nya."Persiapkan semuanya malam ini."
"Baik." Kim berjalan menjauh.
Seusai mandi Aliyah terlihat lebih segar. Dia melihat lantulan dirinya di kaca. Dengan tubuh polosnya. ada beberapa luka lebam disana.
Aliyah menghela nafasnya. Lalu mengenakan bajunya. Aliyah melangkah keluar dari kamar langsung kearah meja makan. Disana Devan sidah menunggu.
"Cepat!" kata Devan "jangan seperti siput."
Aluyah mendengus. Kenapa dengan nya. dia terlihat kesal. apa karena aku terlalu lemah? dari tadi dia ketus terus.
Aliyah mengambil.duduk di sisi Devan , Mereka mulai menyantap makan malam.
"Kau sudah selesai?" tanya Devan begitu Aliyah meletakkan gelas di meja.
"Ng? Sudah."
"Bagus! Ayo tidur!" Ajak Devan beranjak dari duduknya.
"Apa?"Aliyah terkejut. "apa kita tidak bersantai dulu?"
""Tidur dan istirahat yang cukup. Besok kau masih akan melanjutkan latihan."
"Aaa.. tapi..."
"Jangan membantah."
Akhirnya aliyah dan Devan kekamar. Aliyah berbaring di sisi Devan yang tidur menghadap ke sisi Aliyah.
Aliyah mengercit sakit.
"Kenapa?"
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
hnya dugaan ya thor
baguuus bangeeet
ceritanya bagus kak author. seru, berasa ikut lari 🤣🤣
cm masih ada ganjalan dikit, apakah pertemuan pertama Devan dan Aliyah saat stlh Aliyah periksa ke 3 dokter ? atau sblmnya pernah ketemu ? 🙏🙏🙏