21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 31
Erwin ada jadwal berangkat kerja agak siang. Dia sudah menugaskan Dani, kernetnya untuk berkeliling menjemput penumpang lebih dulu.
Sebagai sopir travel jarak jauh, Erwin jarang berada dirumah. Terkadang ia harus pergi selama beberapa hari untuk mengantar para penumpangnya ke luar kota.
Widia tengah sibuk menyiapkan sarapan ketika suara ponsel milik Erwin berbunyi. Erwin sendiri masih tertidur pulas setelah kegiatan malam mereka yang baru selesai menjelang subuh.
Setelah berdering berkali-kali, dengan malas Erwin menjawab panggilan dari ponselnya. Widia dapat mendengar dengan jelas percakapan Erwin, karena memang rumah yang mereka tempati sangat kecil.
Erwin mengobrol dengan sangat antusias dan akrab dengan si penelpon, dia mengatakan ada pekerjaan yang sudah menunggunya siang nanti.
Widia menghampiri Erwin dengan membawa segelas kopi hitam dan tempe goreng tepung. Melihat Widia datang, Erwin tampak gusar dan buru-buru menutup sambungan telepon.
Widia mengernyitkan dahi, menaruh sedikit curiga dengan tingkah Erwin yang mendadak gugup. "Jadi narik hari ini, Bang? Berangkat jam berapa?"
Erwin membersihkan mata ala kadar dengan dua jari, lalu duduk di lantai, "Iya, nanti siang harus berangkat antar penumpang."
"Lama?" tanya Widia seraya menyorong piring gorengan ke dekat Erwin.
"Ya ... mungkin beberapa hari, kamu tahu kan aku nggak mungkin bolak balik dalam satu hari?"
Widia hanya terdiam sambil menatap Erwin yang sedang menikmati kopi hitamnya. Ingin rasanya Widia menanyakan lebih jauh tentang rasa curiganya, tapi dia mengurungkan niat itu. Takut Erwin tersinggung.
"Sarapannya mana?" Tanya Erwin dengan ekspresi lapar.
"Mau sarapan sekarang?"
"Iyalah, masa besok? Aku butuh tenaga buat kerja!" Jawaban Erwin yang terdengar sarkas menyakiti hati Widia.
Erwin tidak selembut tiga hari pertama mereka berkenalan, sering lupa menanyakan kondisi Widia, juga kadang tidak peduli Widia sudah makan atau belum.
Ada waktu Widia malah harus menahan lapar hanya untuk mendahulukan perut Erwin. Hatinya terasa perih mengingat dulu Ivan tidak pernah memperlakukan dirinya demikian sengsara.
Tapi … Widia tetap menganggap itu sebagai tantangan agar dia menjadi pribadi yang lebih sabar.
Erwin makan dengan lahap tanpa peduli dengan Widia. Dalam benaknya, dia hanya harus kenyang supaya bisa bekerja mencari uang untuk menghidupi dirinya dan Widia.
"Bang, sebelum pergi jangan lupa tinggalin uang ya! Dompetku benar-benar kosong," pinta Widia dengan penuh harap.
"Hm … nanti aku kasih, tapi nggak bisa banyak, aku juga butuh makan di jalan." Erwin melirik sepintas pada Widia yang hanya mengangguk samar.
"Iya, Bang! Seadanya aja," ujar Widia. Dia bahkan tidak percaya kata itu yang keluar dari bibir sensualnya.
Siangnya, Widia membantu memasukan beberapa baju Erwin ke dalam tas karena sudah mendekati waktu berangkat.
Erwin memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Widia. Dia pamit, "Aku pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik! Jangan boros-boros, nanti aku kasih lagi kalau udah bayaran dari tarikan yang sekarang."
Widia menurut dan hanya mengangguk saat Erwin mencium keningnya dan pergi berlalu. Dia menatap kepergian Erwin yang bahkan belum menjadi suaminya dengan sendu.
Menatap beberapa lembar uang yang ditinggalkan Erwin untuknya, Widia mengeluh dalam hati. Dia nelangsa, uang itu sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhannya.
Dia perlu membeli pakaian dalam dan juga pembalut wanita. Bukan hanya untuk makan dengan lauk tahu tempe setiap harinya.
Air mata Widia menggenang membayangkan kebersamaannya dengan Ivan dulu tak pernah sesulit sekarang. Juga karena Widia tidak pernah merasakan hidup susah dari kecil.
Dadanya terasa sesak mendapati dirinya yang sekarang ibarat jatuh tertimpa tangga plus berkalang dosa.
Widia tiba-tiba kembali merindukan bayinya. Anak laki-lakinya yang baru belajar makan.
Widia sedang menyesali keputusan bodohnya dengan menghentikan pemberian ASI pada bayinya disaat produksi ASInya melimpah.
Keputusan yang membuat dirinya harus tersiksa tiap malam karena rasa sakit di kedua buah dadanya.
Tapi … Erwin tidak memperdulikan keluhan Widia, bagi Erwin dada besar Widia adalah hal indah yang harus dia nikmati.
Berbeda sekali dengan Ivan yang selalu memberinya perhatian ekstra saat Widia mengeluh sakit.
Nasi sudah menjadi bubur, Widia harus menjalani pilihannya. Hidup dalam kesusahan bersama Erwin yang membuainya dengan janji-janji manis yang belum terpenuhi.
Sisi sadar Widia berontak, tapi ada hal lain yang tetap tidak dimengerti olehnya. Kenapa dia tetap bertahan dan kenapa dia tidak bisa meninggalkan Erwin?!
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu