NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 31 SEBELAH KAMAR MAYAT

Aku kembali ke rumah sakit dengan langkah gontai. Hanya ada bapak yang menemani ibu di ruangannya. Ibu dan bapak menyambut kedatanganku dengan raut wajah penasaran. Bapak kemudian berkata, "Apa yang disampaikan Agus, Im?" Aku menjawab, "Agus belum sempat menyampaikan sesuatu, Pak." Bapak bertanya lagi, "Maksud Kamu?" Aku menjawab lagi, "Agus sudah meninggal." Bapak dan ibu membelalakkan mata karena terkejut, "Apa ...?" Aku menegaskan, "Iya ... dia meninggal di ruang tahanan. Sebentar lagi jenazahnya akan di bawa ke sini untuk diotopsi." Bapak dan ibu saling bersitatap seolah tidak percaya dengan berita yang aku sampaikan.

Niu niu niu

Terdengar bunyi sirine ambulans dari tempat parkir. Aku dan bapak mengintip dari jendela, terlihat beberapa petugas rumah sakit mengeluarkan jenazah dari dalam ambulans, kemudian jenazah itu dipindahkan ke kereta dorong jenazah. Petugas rumah sakit mulai mendorong kereta ke arah kami. Iya ... ruangan tempat ibu dirawat memang terletak paling ujung, hanya terpisah lahan kosong dengan kamar mayat. Aku belum yakin kalau jenazah yang dibawa petugas itu adalah jenazah Agus, sebelum akhirnya ketika kereta itu tepat berada di depan pintu ruangan ibu, kain putih penutupnya tiba-tiba tersingkap terbawa angin.

"Astagfirullah ..." teriak ibuku.

Seonggok tubuh kaku pria berkaos hijau lusuh, bercelana kain hitam, dan ada perban di pelipis kirinya sedang melotot ke arah kami. Kamipun yakin bahwa itu adalah jenazah Agus. Aku menyesal tadi merasa penasaran dengan jenazah itu, sehingga alam menjawab rasa penasaranku dengan mempertunjukkan pemandangan mengerikan ini. Kami bertiga saling berpandangan setelahnya. Ada semacam kekhawatiran yang terpancar dari wajah ibuku. Kami sampai terdiam selama beberapa menit tak tahu apa yang mau dibicarakan.

Aku bertutur memecah keheningan, "Parto dan Mbah Nur kemana, Pak?"

Bapak menjawab, "Tadi bapaknya Parto datang ke sini. Parto harus masuk sekolah karena ada THB, sedangkan Mbah Nur diminta menjadi khotib sholat jumat di masjid kampung kita."

Aku terkejut seraya berkata, "Masjidnya sudah jadi?" Bapak menjawab, "Belum selesai tetapi sudah dipakai sholat jumat. Atapnya sementara menggunakan terpal." "Alhamdulillah ... " Aku merasa senang mendengar berita tersebut. Kehadiran masjid di kampungku tentunya selain memudahkan kami menjalankan ibadah, juga dapat mengurangi keangkeran kampungku di malam hari.

"Kamu nanti ikut THB susulan berarti, Im?" kata bapak.

"Iya, Pak. Kasian ibu kalau hanya ditemani Bapak saja." Jawabku

Seorang suster memasuki kamar ibu dan memeriksa tensi dan suhu tubuh ibu.

"Bagaimana, Sus ?" ujar bapak

"Kondisi ibu relatif stabil, tadi dokter berpesan kalau kondisi ibu stabil dalam dua puluh empat jam, besok sudah bisa pulang." Jawab suster

"Kalau pulang hari ini boleh nggak, Sus?" tanya ibuku cemas

"Maaf tidak boleh, Bu. Yang berhak memberikan ijin pulang pasien hanya dokter, kalau tanpa ijin dokter namanya pulang paksa. Resikonya kalau ada apa-apa ke depan dengan pasien, rumah sakit tidak bertanggung jawab." Tegas suster

"Semoga besok saya bisa pulang ya, Sus?" ujar ibuku kembali.

"Aaaamiiiin ... apa ibu merasa tidak nyaman dengan pelayanan kami sehingga keburu pulang?" tanya suster

"Oh tidak, Sus. Dokter dan suster sudah melayani dengan baik, tetapi ... "

"Tetapi apa, Ibu?"

"Eh enggak kok, Sus. Oh ya jenazah tersangka pembunuhan yang lewat sini tadi kapan ya dikeluarkan dan dikuburkan?" tanya ibuku

"Oh ... jenazahnya masih diotopsi, paling cepat besok atau lusa dikeluarkan dari rumah sakit."

Deg

Ibuku terperangah dengan jawaban suster. Aku bisa memahaminya, setelah melihat kondisi jenazah Agus dan harus berada dalam jarak yang tidak jauh dengan jenazah Agus tentunya ibu merasa ngeri dan takut.

"Oke. Saya pamit dulu ya, Bu, Pak."

"Terima kasih banyak, Sus."

"Sudah, nggak usah takut. Ada bapak di sini." Bapak membelai kepala ibu dan mengusap keringat di dahi ibu.

- - - - - - - - - -

Menjelang maghrib bapak menyuruhku ikut sholat jamaah di masjid rumah sakit. Sementara bapak menemani ibuku di kamar. Akupun berangkat menuju masjid, ternyata air untuk berwudlu di masjid habis, setelah bertanya kepada marbot masjid aku diarahkan mengambil wudhu di kran air di depan kamar jenazah. Karena tidak ada pilihan lagi akupun segera menuju kran di depan kamar jenazah.

Hanya aku sendiri yang berada di depan kamar jenazah. Orang-orang yang lain mungkin mencari tempat yang lain untuk berwudhu. Sebelum memutar kran air, netraku penasaran melirik ke arah kamar jenazah. Yang terlihat hanyalah ruangan kosong dengan pencahayaan yang tidak begitu terang. Di dalam ruangan itu sepertinya masih ada ruangan lain untuk menyimpan jenazah. Aku memulai berwudhu dengan agak kurang khusyu', ada perasaan takut yang mulai menyelusup. Begitu selesai berwudhu, netraku kembali melirik ke arah kamar jenazah di hadapanku. Aku terkesiap, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di ruangan itu, ada perban di pelipis kirinya. Bulu kudukku merinding seketika, ku tajamkan penglihatanku untuk meyakinkan. Ternyata sosok itu menghilang, aku agak berlari menuju masjid. Mungkin tadi aku salah lihat saja. Suara adzan maghrib mengembalikan ketenangan hatiku. Ku tunaikan sholat maghrib berjamaah dengan khusyu' seraya berdoa semoga ibuku segera pulih dari sakitnya dan kami bisa segera pulang ke rumah.

Selesai sholat maghrib aku masuk ke ruangan ibuku. Ibu kelihatan agak ketakutan, akupun bertanya, "Ada apa, Bu?" Ibu diam saja, justeru bapak yang menjawab, "ini tadi ibumu bapak tinggal ke kamar mandi sebentar katanya ngeliat ada brankar mayat jalan sendiri di depan kamar." Ibu menyahut, "Iya ... benar, Im. Tadi ada brankar mayat jalan sendiri lewat depan kamar dan berhenti sebentar di pintu kamar itu." Bapak menyela, "Bapak sudah tanya ke yang jaga sebelah katanya nggak ada yang lihat. Mungkin ibumu masih terbayang-terbayang kejadian tadi?" "Ibu yakin melihatnya, Pak. Bukan terbayang-bayang. Brankarnya berhenti didepan pintu itu sebentar. Ibu ingin segera pulang, Pak" Ibu berkata sambil merengek, dahi ibu sampai berkeringat. Ketika ku usap ternyata keringat dingin. Sepertinya ibu masih sangat ketakutan dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Ibu menoleh ke arahku seraya berkata, "Kamu percaya sama ibu kan, Im?"

"Hm ... "

"Kamu nggak percaya, ya? tadi itu tangan mayatnya keluar, ibu melihat jelas ada luka di pergelangan tangannya." Tegas ibu.

"Apaaaaaa?" Aku dan bapak sama-sama terkejut, sepertinya kita teringat pada sesuatu yang sama yaitu pergelangan tangan Agus.

"Emang kenapa kok baru kaget sekarang?" tanya ibu penasaran.

Bapak gelagapan, ia memberi kode kepadaku untuk mengatasi situasi.

"Eh-a-nu, Bu. Tadi itu pas pulang dari masjid aku lihat ada dua anak kecil emang lagi main dorong-dorongan brankar, yang satu tiduran di atas brankar. Ditutupin pake kain segala.Trus yang satunya dorongin brankarnya, yang dorong tubuhnya kecil makanya nggak keliatan. Kalau yang rebahan anaknya gede bongsor gitu. Mungkin itu yang ibu lihat."

"Ooo, kamu kok nggak bilang dari tadi?"

"Ya. Aku kan baru keingetnya sekarang. Tapi ibu nggak usah khawatir, anak-anak itu sudah dimarahi satpam."

Mendengar klarifikasiku ibu menjadi tenang. Aku dan bapak tersenyum. Ibu kemudian memejamkan matanya dengan damai. Giliran aku dan bapak yang masih ketap-ketip antara bingung dan curiga, jangan-jangan ...

"Pak, buruan sholat maghrib. Ntar keburu habis waktunya."

"Eh. Iya, bapak berangkat dulu ya?"

"Iya, Pak. Wudhunya di kran depan kamar jenazah. Keran di masjid masih mampet."

"Iya, Im."

Ditinggal berdua di kamar, sedangkan ibu sudah terlelap. Aku jadi terbayang hal-hal aneh. Untuk mengalihkan pikiranku dari mikir macam-macam, aku gunakan untuk membaca buku pelajaran sekolah. Sialnya, belum lima menit membaca tiba-tiba ada yang menggedor-gedor jendela ruangan ibu. Ketika kutoleh, gedoran di jendela berhenti.. Tidak ada siapa-siapa di balik jendela. Bulu kudukku merinding seketika.

-bersambung-

1
LyssLonely
uda baca 2020,sekarang balik lagi di tahun 2026
LyssLonely
uda baca 2020,kembali di tahun 2026
intan naysila
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Junan: baca sampai tamat kak
total 1 replies
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!