Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simple Plan
Setelah perselisihan Zain dan Gio yang berakhir tanpa keputusan yang pasti, semua kembali seperti semula.
Suatu hari di musim kemarau, aku menemukan sebuah surat di loker sepatu sekolah dari seseorang yang bertuliskan pemuja X dan aku putuskan untuk mengabaikannya.
Tapi besoknya setelah jam olahraga, begitu banyak surat surat misterius di dalam tasku dan terlihat jelas isi tasku teracak-acak. Lalu aku berinisiatif pergi segera mencari Alea.
"Aku cuma ingin memberikan kejutan padamu!"
Begitupah ucapnya dengan nada merengek ketika aku menekan mental menunjukkan sesuatu bukti padanya.
Dan saat ini, Aku sedang berjalan dengan Zain serta Alea mencari sesuatu melihat-lihat sebagian toko menuruti permintaan Alea.
"Ayam, ayam, aku adalah ayam..." Irama Alea bernyanyi riang.
"Alea, apa kamu tahu sesuatu?" ujarku melirik setiap sisi.
"Dengar ya! Setelah semua ini selesai, kita langsung pulang! Pulang!" pekik Zain.
Akhir-akhir ini, yah mungkin udah dari dulu sih, sikap Zain kembali aneh. Dia menolak untuk pergi dari sisiku, menjauh dariku, seolah-olah dia takut akan sesuatu hal buruk terjadi padaku.
Zain terus berjalan di depan, bersikap was-was sesekali membalikan wajah menatapku sinis, "Dengar ya! Jangan pergi kemanapun tanpaku! Perhaitkan aku."
"Ya, aku mengerti."
Dan ketika kami di luar sekolah, sikapnya makin bertambah aneh. Tingkahnya itu mengingatkanku ketika awal ia baru masuk sekolah. Aku ingin berbicara serius dengannya sebelum tahun baru, jika itu memungkinkan.
"Hah??? Apa kau lihat-lihat!" ujar Zain menarik kera baju pegawai toko.
"Zain! Jangan sakitin sinterklas!" jelas Alea.
Sikap Zain yang telah kembali aneh, justru membuatku ragu ingin mengatakan sesuatu yang telah lama ku pendam.
"Aku kira mungkin Zain orang yang paling bersemangat dalam menyambut tahun baru kali ini," bisik Alea.
"Entahlah..."
Lelah terus berkeliling, kami berencana istrirahat sebentar, ketika sampai di resto yang ingin kami tuju.
"Lihat Zain! Ini tempat yang aku bicarakan tadi," jelas Alea mengangkat tangan kanan ke arah Zain berhenti tepat di resto.
Alea berjalan masuk, setelah aku dan Zain mengejarnya masuk, kami bertiga justru terkejut melihat genk umbi sudah di dalam terlebih dahulu.
"Aleaaaaaa......!!!!!!" Teriak anggota genk umbi penuh semangat menatap Alea kecuali Gio.
"Ka-ka-kalian???" kejut Alea panik.
"Ayo kita jalan-jalan," ujar Tama berlari menghampiri Alea.
"Ayo kita bersenang-senang," sahut Dion menatap mesum.
"A-aku gak bisa, soalnya aku sekarang mau..."
"Ha? Apa? Ah aku tau! Kau mau merayakan pesta tahun baru kan?" jelas Dion.
"Hei mbak kasir! Berikan kami 60 potong daging ayam terbaik!" sahut Tama berteriak.
"Ja-jangan seenaknya memesan untuk kami!" jelas Alea terbata-bata.
"Ha?"
Alea mengambil surat dalam tasnya, "Ka-kalian boleh datang kalau memiliki ini! Hanya orang terpilih yang boleh datang!" jelasnya memicingkan mata.
"Peduli amat! Mau ikut atau gak itu terserah kami dong, kami ini kan berandalan," balas Tama.
"Jadi totalnya ada...." ucapku berfikir sejenak kemudian berbalik arah menatap Gio, "Gio, kamu mau ikut?"
"Enngak, aku...."
Belum usai Gio menjawab, Zain menghela.
"Dia gak boleh ikut! jelas Zain menekuk alis mendekatkan wajahnya ke Gio.
"Ha? Kenapa? Aku ikut! Aku pasti ikut!" balas Gio juga menekuk alis.
"Gak boleh! Pulang sana! Kau gak boleh ikut kami!"
"Apa alasannya??"
"Karena kemarin itu kau bilang suka sama Anita!" jelas Zain.
Seisi ruangan hening sejenak mendengar ucapan Zain dan beralih fokus menatap Gio.
"Bego! Waktu itu aku cuma bercanda," jawab Gio meminum santai minumannya.
"Hahahha......"
"Hahaha....Pastinya...Ahhahaha.. Bikin kaget saja."
Dion dan Tama terbahak-bahak.
"Ayolah Zain, seharusnya kau jangan mudah mempercayai omongan orang. Ahahaha," lanjut Dion.
Saat itu Zain bengong mendapati ucapan yang baru Gio katakan.
"Be-begitu ya?" lirih Zain bernada tipis.
"Zain, aku gak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi, lebih baik ayo kita pesan ayam goreng," ujar Rega.
"Oke...." Zain berbalik arah menuju kasir.
"Tunggu dulu,..." ucap Alea.
"Kami dapat jatah kan Zain?" sahut Tama.
"Pasti itu, pesan aja, tenang."
"Zain, mereka memanfaatkanmu," lirih Alea.
Mereka yang telah kembali berisik bergairah riang, aku sendiri justru masih diam melihat Gio yang berpaling wajah menatap jalanan luar dari sisi kaca ruangan.
Terlihat dari botol plastik minuman cup dalam genggaman Gio yang kian remuk, sepertinya aku mengetahui jika apa yang Gio ucapkan pada Zain berbeda dari kenyataan dalam hatinya.
Aku berjalan mendekati Gio, tanpa ia sadari aku telah berdiri tepat di belakangnya.
"Dasar brengsek kamu Zain! Terlalu banyak bicara! Sial! Kenapa kamu menanyakan itu, bodoh! Dan kenapa aku menjawab seperti itu!" pekik Gio bernada tipis.
Gio yang telah menghela nafas, kembali melirik ke arah kasir, terkejut melihatku telah berdiri menatapnya.
"A-Apa?"
"Uang pendaftaran, masing-masing orang 50.000," jelasku menadahkan tangan.
"Siapa juga yang tertarik dengan cewek beginian!" batin Gio.
"Terimakasih!" Lanjut Gio memberikanku uang.
"Masing kurang 10.000 lagi."
"Ikhlasin aja kenapa sih!"
Sementara itu, Alea ternyata fokus memperhatikanku dan Gio dari sedikit kejauhan.
"Alea, pestanya mau di adain dimana?" ujar Dion.
"Heh? Apa?"
Setelah selesai berburu bahan makanan yang ada, mengikuti rencana Alea tuk mengadakan pesta tahun baru, kami semua bergegas ke toko game Rio.
Sesampainya di toko game.
"Loh? Loh? Loh? Ada apa nih rame-rame begini? Mau tawuran kah?" sapa Rio.
"Permisi...." jelas Zain berjalan mendekati Rio.
"Banyak sekali orangnya? Mau ada acara apa?"
"Kami mau ngadain pesta tahun baru," lanjut Zain.
"Lah? Disini? Gak salah? Kok aku gak di kasih tau?" balas Rio mengambil tusuk gigi langsung menggigit tipis.
"Serem bener brewok si om itu, bikin horor," bisik Tama pada Dion berjalan melewati kasir dan terduduk di sofa saat melihat Rio.
"Serem? Maksud kalian bang Rio?" sahut Alea juga terhenti di ruang santai.
"Begini, dulu kami pernah ribut dengan Zain dan sih kutu buku itu disini. Ketika kami selesai bertengkar dan mau pergi melewati pintu luar, si om bilang begini...."
"Maaf nih, tapi bisakah kalian menjauhi mereka berdua? Karena sekarang si bodoh itu udah punya temen sungguhan, jika kalian masih mendekatinya, akan ku hancurkan kedua kaki kalian, bocah tengik."
"Nah begitu, gila...serem bener kalau ingat itu," jelas Dion.
"Dia pasti sudah pernah membunuh orang," sahut Tama.
"Mungkin sih, kayaknya gitu," singkat Rega.
"Jadi, kami harus pindah tempat?" ucapku pada Rio.
"Gak masalah sih, gak apa-apa. Tapi jangan sampai mengacau ya," jelas Rio melirik sisi kanan tersenyun melambai tangan menyadari jika Alea telah memperhatikannya cukup lama.
Wajah Alea yang seketika merah merona mendapat reaksi dari Rio dengan tiba-tiba, langsung berbalik arah menunduk.
"Alea kenapa? Dia kelihatan agak aneh," ucap Rio padaku juga Zain.
"Alea kan memang aneh," sahut Zain.
****
Sampai sini dulu ya kak bik pak buk semuanya, maaf nih slow motion upnya, baru dapat wangsit dikit...wkwkwkw....oke gas lanjut....
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa