"Bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan, aku tetap akan mencintaimu"Ethan Thomas Essex & Hana Miller
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YellowBanana26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
"Aku menyadari bahwa takdirku hanya dirimu. Aku terbangun hanya untuk melihatmu, merindukanmu dan mencintaimu Hana, jadi mau kah kau kembali kedalam pelukanku sayang." Ethan Thomas Essex.
...***...
Hana menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Pandangan matanya buram karena airmata terus menerus mengalir bahkan ketika ia memutuskan untuk berhenti namun masalahnya hatinya telah hancur. Ia telah kehilangan seseorang yang amat sangat ia cintai untuk selamanya.
Sementara itu di bawah anak tangga tak jauh darinya sosok sang ayah menunggu dengan senyum lembutnya. setelah sampai di hadapan ayahnya Hana langsung memeluk pria itu dan menangis.
"Apa yang harus kulakukan? Aku sangat merindukannya dad."
"Katakan kalimatnya sayang maka ia akan datang."
Hana melepas pelukannya saat mendengar ayahnya berucap. Derai airmatanya terus mengalir, perempuan itu mengerutkan dahinya seraya menatap sang ayah penuh tanya.
"Apa maksudmu dad?"
"Kau harus mengingat kalimatnya sayang lalu katakan kalimat itu karena itu adalah syaratnya."
Hana masih tidak mengerti, ia menggelengkan kepalanya dan kembali bertanya.
"Kalimat apa Dad?"
"Sebuah kalimat yang melebihi sebuah janji suci sayangku, kau harus mengingatnya dan mengatakannya maka dia akan kembali kepadamu."
Hana mengangguk paham lalu ia memejamkan matanya, ia mencoba mengingat apapun kalimat yang dimaksudkan oleh sang ayah. Sebuah kilasan gambaran akan sosoknya terlihat begitu nyata, pria itu mengatakan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Seolah ia memang tak di ijinkan untuk mengingat. Hana tetap mencoba terus menerus mengali setiap ingatannya tapi tak lama kemudian ia memutuskan untuk berhenti. ia menyadari satu hal setelah ini. seberapa keras pun ia mencoba, ia tidak bisa mengingatnya.
Hana membuka matanya dan menatap sang ayah. Derai air mata seakan tak pernah surut darinya.
"Aku tidak tahu dad, aku tidak tahu."
"Aku tidak bisa mengingatnya dad."
Hana menggeleng frustasi dan berteriak histeris. kekecewaan melingkupi karena ia tidak bisa mengingatnya sementara rasa rindu kian menggrogoti kedalam jiwanya. sang ayah hanya terdiam sambil kembali membawa Hana dalam pelukannya.
"Kau tida boleh menyerah nak, karena dia masih menunggumu."
...***...
Berhari-hari kemudian kondisi Hana tak begitu baik, perempuan itu terlihat menyedihkan. tatapan matanya terlihat kosong seakan tanpa jiwa dalam tubuhnya.
Saat ini, tanpa alas kakinya Perempuan itu berjalan melangkahkan kakinya di pinggir jalan tepatnya di atas jembatan sungai Thames. Suara-suara yang memasuki pendengarannya seakan tak terdengar, bahkan tak ada yang bisa mengusiknya sama sekali.
Dalam pikirannnya hanya ada satu hal. semua di mulai dari sini dan sekarang ia hanya berharap dengan kedatangannya saat ini hal itu akan terulang kembali kepada.agar aku bisa bertemu denganmu Ethan.
Hana menghentikan langkahnya, mendekat ke arah penyangga lalu terdiam menatap ke bawah sungai. Ia sedang menunggu...menunggu sesuatu yang akan menariknya ke dalam sungai dan mengantarkannya ke masalalu dan lagi-lagi dengan harapan yang sama.
Waktu terus berjalan, Menit dari menit telah berlalu tak ada tanda satupun bahwa sesuatu itu akan menariknya, Hana merasa kecewa lalu pikiran itu datang begitu saja. Mungkin ia haris melakukannya sendiri, mungkin jika Hana menceburkan dirinya sendiri ia bisa kembali kemasalalu dan bertemu kekasihnya. ya- seharusnya ia tak perlu menunggu lama, seharusnya ia melakukannya sekarang juga.
Hana tersenyum, ia telah membuat keputusannya. Dengan tekad bulad Kedua kakinya bergerak menaiki penyangga tersebut kemudian setelah itu ia mencoba berdiri, menyeimbangkan tubuhnya di atas penyangga tersebut dan ia berhasil.
terdiam sejenak, perempuan itu menghela nafasnya sesaat kemudian Perlahan ia memejamkan matanya. semilir angin sore menerpa wajahnya , membelainya seolah sedang merayunya namun tiba-tiba kilasan ingatan itu datang berlalu lalang dalam benaknya.
Semua kebersamaannya dengan pria itu terus berputar dan menari-nari dalam ingatannya semuanya terlihat begitu jelas, membuatnya tersenyum sampai sebuah suara terdengar mengusiknya ingatan tersebut.
"Kau harus mengingat kalimatnya sayang lalu katakan kalimat itu karena itu adalah syaratnya."
Hana megingat kembali ucapan ayahnya. Ini mengenai sebuah kalimat yang sering di ucapkan oleh Ethan kepada,. ayahnya mengatakan bahwa itu adalah syaratnya, tapi Hana tidak bisa mengingatnya apalagi mengatakannya.
"Sebenarnya kalimat apa dad?"guamnya berbisik.
"Mengapa aku tidak bisa menging--- Bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan kita, aku akan tetap mencintaimu."
Tanpa Hana sadari ia telah mengucapkan kalimat tersebut lalu setelahnya, secara mengejutkan ia dapat merasakan sebuah tarikan di pinggangnya dan membawanya kembali menginjak tanah.
Hana bergeming tidak berniat melawan, bahkan saat tubuhnya di putar untuk menghadap ke arahnya lalu dalam sekejap tenggelam dalam pelukannya. Ia masih tidak bergerak sedikitpun.
"Aku tahu kau akan mengatakannya, aku tahu kau akan mengingatnya Hana."
Bersama dengan suara itu terdengar detik itu pula tubuh Hana bergetar oleh airmatanya yang mengalir terjatuh melewati pipinya.
"Aku sangat merindukanmu My Love."
Hana terisak tangis dengan keras, ia tidak menyangka bahwa ia akan mendengar suaranya kembali.
"Ethan."ucap Hana dalam bisikan lirih.
Apakah ia tidak salah dengar? Apa benar Ethan yang sedang memeluknya saat ini?
Tapi bagaimana bisa? Bagaimana...
Oh tuhan itu semua KalimatNya...
Hana tersadar. perempuan itu segera mengurai pelukannya lalu mendongak untuk menatap sosoknya sekaligus ingin memastikannya sendiri.
"Ethan.."Suara tenggelam dalam isak tangisnya sendiri.
Hana tidak percaya dengan penglihatannya tapi Sosok di hadapnnya memang pria itu, kekasihnya Ethan.
"Ethan."
Hanya itu yang bisa ia katakan, memanggil namanya. seolah belum cukup, kemudian Perlahan kedua tangan Hana terangkat ke arah wajah tersebut. Ia mencoba menelusuri setiap incinya, meresapi kelembutan dan kehangatannya.
"Apa aku sedang bermimpi?"tanyanya nyaris berbisik.
Pria itu menggeleng perlahan. tapi Hana masih takut dengan penglihatannya. Ia takut jika ternyata hanya ilusi semata di saat ia ingin mempercayainya.
"Apa aku telah mati karena begitu merindukanmu?"
Sekali lagi Hana bertanya dan untuk sekali lagi pula pria menggeleng.
"Lalu...Apa kau adalah Ethan?"
Berbeda dari sebelumnya kali ini Pria itu Hanya terdiam. Kedua tangan Hana sontak menjauh dari wajah pria itu, tenggorokannya tercekat dan tak bisa di pungkiri sengatan didadanya kembali dapat ia rasakan. Benar,Mana mungkin Ethan ada di hadapannya.menyadari kenyataan tersebut Hana kembali menangis dengan keras namun anehnya sosok itu justru tersenyum kepada Hana dengan air mata yang juga mengalir lolos melewati pipinya.
"Dengarkan aku My Love.
Pertama kau tidak sedang bermimpi, kedua kau tidak mati sayang... kau masih hidup dan kau melihatku sekarang dan satu lagi namaku Ethan Thomas Essex dan aku adalah kekasihmu Hana."
Mendengar itu Hana mencoba menghentikan isak tangisnya menatap pria itu sekali lagi dengan tatapan tidak percaya.
"Aku menyadari bahwa takdirku adalah dirimu. Aku terbangun hanya untuk melihatmu, merindukanmu dan mencintaimu Hana jadi... maukah kau kembali kedalam pelukanku sayang."
Usai mendengar ucapannya Hana segera berhambur kedalam pelukan pria itu dan memeluknya dengan erat.
"aku merindukanmu My Love, setiap waktu tak ada satupun hari dimana aku tidak mengingatmu. "
"aku takut ini semua tidak nyata dan aku takut kau hanya ilusiku semata."ucap Hana bersungguh-sungguh.
"Ini semua nyata sayang dan kau harus percaya."bals Ethan, mencoba menyakinkannya.
Berkali-kali Hana mengangguk dalam pulakan pria itu, berkali-kali itu pula airmatanya mengalir deras.
"aku--aku merindukanmu Ethan hingga rasanya begitu menyakitkan."
"Aku tahu My Love, aku tahu..."Ethan mengeratkan pelukannya, seraya menenangkan kekasihnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Tida akan pernah."
"Kau harus berjanji."
"Aku berjanji."
"Kau harus berjanji!"pekik Hana menegaskan dalam tangis, seolah belum cukup apa yang terdengar.
"aku berjanji my love, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan aku berjanji aku akan selalu bersamamu sayang. Aku berjanji!"
"Aku akan mengingat janjimu Ethan, jadi jangan kecewakan aku."
"Tentu saja, tentu saja sayang...Aku mencintaimu My Love, aku sanagat mencintamu Hana."
"Aku juga mencintaimu Ethan, kau adalah kekasihku satu-satunya dan selamanya."
"Bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan kita, aku akan tetap mencintaimu. My Love"
Always...Always...Now and forever ...
...Tamat....