Aleta Quenby Elvina gadis berusia 21 tahun. yang terpaksa harus menikah dengan CEO tampan kaya raya, Ia dijodohkan oleh orang tua nya karena alasan orang tua nya lelah dengan sikap Aleta yang tidak bisa diatur, jadi orang tua Aleta memilih menikahkan Aleta dengan teman kolega papa nya. dengan harapan Aleta dapat berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Namun, ternyata hal itu tidak membuat Aleta berubah malah ia semakin menjadi jadi, dan tidak terkontrol. karna menurut nya dengan ia menikah ia akan menjadi lebih bebas. dan terlepas dari aturan orang tua nya.
akankah pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar? ataukah sebaliknya? apakah Aleta akan merasakan bahagia dengan pernikahannya?
selamat membaca ya, dan mohon dukungan nya teman teman☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viannakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24 - makan malam di rumah mamah dan papah
pukul 5 sore Aleta sudah bersiap siap untuk pergi ke rumah orang tua nya, akan cukup waktu jika ia bersiap siap sekarang sebelum Tama pulang nanti, karena Tama biasa nya akan pulang pukul 7 malam.
tidak butuh waktu lama sebenernya untuk Aleta bersiap siap karena Aleta terbiasa dengan dandanan yang sederhana saja, dan tepat saat Aleta selesai berdandan Tama pun datang.
"lah, udah pulang om? gue pikir om bakal pulang agak maleman" tanya Aleta bingung
"bukan nya kamu bilang malam ini mau ke rumah mamah dan papah kan buat makan malam, jadi saya sempatkan untuk pulang lebih awal, karena saya tidak ingin membuat mereka menunggu lama" jelas Tama
"oh gitu, yaudah om siap siap dulu deh, gue tunggu di bawah" suruh Aleta dan ia segera keluar kamar untuk memberikan Tama waktu untuk bersiap siap.
beberapa saat kemudian Tama selesai bersiap siap, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Aleta, dan ia melihat Aleta yang sedang duduk di sofa ruang tengah sembari bermain ponsel nya.
"ayok Aleta, kasian mamah dan papah nanti menunggu kita lama" ajak Tama setelah dirinya berada di depan Aleta. Aleta yang sedang bermain ponsel nya menoleh ke arah Tama yang sudah rapih dan terlihat lebih santai dari sebelum nya, ia menganggukkan kepala nya dan mereka pun segera pergi ke rumah orang tua Aleta.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
di mobil mereka hanya diam saja tidak ada obrolan diantara mereka bahkan suara musik pun tidak ada, hanya kesunyian yang menemani perjalanan mereka, Tama yang fokus menyetir pun tidak ada niatan untuk memulai obrolan bahkan Aleta yang sedari tadi menatap keluar jendela pun tidak berniat untuk mengajak Tama mengobrol. namun tiba-tiba saja ia teringat kejadian kemarin malam yang membuat mereka harus bertengkar, ia berpikir apakah nanti Tama akan mengatakan itu kepada orang tua nya, ia lalu menoleh ke arah Tama memperhatikan Tama Lamat-lamat sambil berpikir apakah benar Tama akan mengatakan nya kepada orang tua nya, tapi jika dilihat lihat Tama tidak akan mungkin setega itu mengatakan kepada orang tua nya. Tama bukan lah tipe orang yang seperti itu jadi ia rasa akan mustahil rasanya jika Tama mengatakan nya.
Tama yang merasa dirinya di perhatikan pun menoleh ke arah Aleta dan bertanya kenapa Aleta memperhatikan nya sedari tadi
"kenapa Aleta? apakah ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Tama sembari melihat ke arah dirinya sendiri kalau kalau jika ada yang dengan penampilan nya saat ini.
Aleta yang tertangkap sedang memperhatikan Tama pun menjadi gugup dan bingung harus menjawab apa "eh eng.. enggak kok om, gak ada" dengan jawaban Aleta gugup seperti itu Tama memicingkan mata nya menatap Aleta, karena seperti ada yang ingin Aleta katakan kepada dirinya
"ada yang ingin kamu bicarakan kepada saya?" Aleta sedikit terkejut karena Tama tau jika ia ngin mengatakan sesuatu, maka dengan sedikit gugup ia mengatakan nya kepada Tama.
"om soal yang kemarin malam, jangan bilang ke mamah dan papah ya, apalagi kalau mereka tau gue masih sering keluar malem" ujar nya pelan ia sedikit takut jika saja Tama benar akan mengatakan kepada orang tua nya.
Tama yang melihat Aleta sepeti itu mengulurkan tangan nya dan mengelus kepala Aleta lembut, sedangkan Aleta yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa tenang walaupun ia juga sempat kaget karena nya
"kamu tenang saja, saya tidak akan memberitahukan mereka soal itu" ucap Tama lembut
"makasih om, mulai sekarang gue akan nurut sama om, dan akan berusaha jadi istri yang baik untuk om" walau ia sendiri pun masih ragu atas perkataan nya itu, tapi mungkin ia akan mencoba nya nanti
"iya, tapi jika kamu belum bisa jangan terlalu di paksa ya" Tama tersenyum hangat yang membuat Aleta merasakan seperti ada kupu kupu di perut nya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
pukul 18.00 mereka sampai di rumah orang tua Aleta, terlihat mamah dan papah yang sudah menunggu mereka di depan pintu dengan senyuman bahagia, apalagi mamah yang sangat terlihat jelas atas kedatangan mereka berdua karena sudah lama tidak berjumpa dengan mereka berdua
"mah, pah" sapa Tama kepada mamah dan papah
"mamah sama papah kenapa nunggu disini?" tanya Aleta
"mamah kamu nih gak sabaran banget buat ketemu kalian" kata papah melirik ke arah mamah
"namanya juga mamah kangen pah sama mereka jadi wajar dong kalau mamah gak sabar buat nunggu mereka datang" ucap mamah sedikit cemberut
"maaf ya mah pah kami jarang kunjungi mamah dan papah, soalnya saya sibuk di kantor" ucap tama sedih
"gak papa tam, kami mengerti kok, kalau begitu ayok kita masuk, nanti makanan nya keburu dingin gak enak" ajak mamah
"iya mah" dan mereka semua pun masuk ke dalam rumah
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"gimana pekerjaan kamu di kantor Tam?" papah bertanya di sela sela mereka sedang makan
"papah kebiasan nih, lagi makan loh ini masa nanya pekerjaan di saat lagi makan gini sih" mamah memperingati papah karena membahas soal pekerjaan di saat mereka sedang makan.
"ya papah hanya bertanya aja mah" kilah papah
"bertanya soal itu bisa nanti pah, pusing mamah denger nya kalau papah bertanya soal pekerjaan di saat kita lagi makan kaya gini"
"hahaha tidak apa apa mah" Tama menengahi pembicaraan kedua mertua nya ifu agar tidak terjadi keributan di tengah tengah mereka yang sedang makan.
"tuh mah Tama aja gak papa"
"udah pah, papah nih buat keributan aja deh kita lagi makan juga" Aleta yang sedari tadi mendengarkan pun ikut berbicara agar orang tua nya tidak meneruskan perdebatan mereka.
"tau ih papah, oh iya Tama, Aleta kalau malam ini kalian sekalian menginap di rumah mamah dan papah bagaimana? kalian kan udah lama gak kesini jadi kali ini menginap lah untuk malam ini" mamah berharap sekali jika Aleta dan Tama mah untuk menginap semalam disini, hitung hitung untuk mengganti yang kemarin kemarin karena mereka jarang sekali datang untuk berkunjung
Aleta dan Tama saling bertatapan, mereka bingung harus menjawab bagaimana, bukan nya mereka tidak mau hanya saja mereka merasa canggung jika harus menginap.
"hei gimana? kok malah kalian saling tatap sih, disini masih ada mamah dan papah loh kalau kalian mau tatapan begitu nanti saja jika kalian sedang berdua" goda mamah yang melihat mereka saling menatap tanpa menjawab ajakan mamah untuk menginap.
karena di goda begitu oleh mamah, mereka pun merasa malu dan memutuskan kan pandangan mereka satu sama lain.
"aihh mamah apaan deh" ucap Aleta malu
"ya abis nya mamah ajak kalian buat menginap bukan nya di jawab malah saling tatap, jadi ini gimana kalian mau atau enggak?" tanya mamah sekali lagi karena sedari tadi mamah tidak mendapatkan jawaban apa pun dari mereka.
sekali lagi mereka menatap satu sama lain bermaksud mencari jawaban dari masing masing.
"tuh kan tatap tatap lagi, memang ya wajah pasangan tuh lebih menarik di tatap dari jawab ajakan mamah" sindir mamah kesal
"hahaha udah lah mah biarin aja mereka, kalau mereka gak mau jangan di paksa" papah tertawa melihat mamah yang berusaha sekali untuk mengajak mereka untuk menginap
"maaf mah, kami mau kok untuk menginap semalam disini" bukan Aleta yang menjawab melainkan Tama yang berkata seperti itu.
Aleta langsung menatap Tama dan Tama mengangguk kearah Aleta seakan mengerti arti tatapan Aleta itu dan mau tidak mau karena Tama sudah berkata seperti itu Aleta pun harus menuruti nya untuk menginap, lagi pula menginap di rumah mamah dan papah tidak masalah. apalagi melihat mamah yang terlihat sangat senang bahwa mereka bersedia untuk menginap, jadi Aleta pun tidak bisa menolak jika sudah begini.
_______________