seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mata Rara bergerak tidak fokus menatap ruang tamu yang sangat luas. Di tengah ruangan, terdapat set sofa kulit mahal berwarna abu-abu gelap yang terlihat sangat empuk, dihiasi dengan beberapa vas bunga estetis di pojok ruangan yang memberikan kesan segar.
"Gila... ini mah bukan sederhana namanya, ini mah istana!" bisik Fino dengan mulut setengah terbuka.
Mereka bertiga melangkah lebih dalam menuju area dapur yang menyatu. Dapur itu sangat bersih dengan lantai marmer mengkilap. Di atas meja konter, tertanam sebuah kompor tanam modern yang sangat bagus, berkilau di bawah lampu estetik. Namun, yang paling menarik perhatian Fino dan Nina adalah sebuah kulkas dua pintu berukuran raksasa berwarna hitam metalik di sudut dapur.
Fino yang tidak bisa menahan rasa penasarannya langsung menarik pintu kulkas tersebut bersama Nina. Detik berikutnya, sepasang kembar itu kembali dibuat terkejut setengah mati.
"Kak! Lihat deh, isinya penuh banget!" seru Nina dengan mata berbinar-binar.
Di dalam kulkas raksasa itu, seluruh rak terisi penuh tanpa celah. Mulai dari berbagai jenis daging segar, deretan susu kotak, buah-buahan impor, sayuran segar, hingga berbagai camilan dan minuman manis tersusun sangat rapi.
Athur yang memperhatikan tingkah polos adik-adik iparnya hanya membiarkan mereka menikmati keterkejutan itu dengan senyuman miring yang sangat tipis. Ia kemudian menoleh pada asisten pribadinya.
"Bagas, antar Fino dan Nina ke kamar mereka masing-masing di lantai atas."
"Baik, Bos. Ayo Fino, Nina, saya antar ke kamar kalian," ajak Bagas ramah, menuntun kedua remaja yang masih sibuk mengagumi isi kulkas itu untuk naik ke lantai dua di mana kamar pribadi mereka yang luas dan terpisah sudah disiapkan dengan ranjang yang empuk.
Saat Fino dan Nina mulai berjalan naik mengikuti Bagas, Rara justru menghentikan langkah kakinya tepat di anak tangga pertama. Ia meremas tali tas ranselnya, berbalik menatap sosok tegap Athur yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Dengan wajah polos yang dipenuhi kebingungan dan rona merah yang mulai merayap di pipinya, Rara membuka suara dengan sangat pelan.
"Mas... lalu, aku tidur di mana?" tanya Rara dengan sangat polos, menyadari bahwa kedua adiknya sudah mendapatkan kamar tidur terpisah masing-masing.
Sementara itu, Evan yang sejak tadi tidak memedulikan ketegangan formalitas, sudah asyik merebahkan tubuh tegapnya di atas sofa mahal ruang tamu dengan satu kaki diangkat santai. Mendengar pertanyaan polos Rara serta mengingat bagaimana ketengilan Fino yang sempat memukul Athur kemarin malam, Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran dari atas sofa.
“Gila ya si Athur... bisa-bisanya singa dunia bawah tanah dibuat pusing dan takluk sama keluarga bocah kontrakan yang super polos begini,” batin Evan geli di dalam hati, menantikan bagaimana cara sahabatnya itu menjawab pertanyaan polos dari istri kecilnya malam ini.
Athur menatap Rara yang masih membeku di anak tangga pertama. Sudut bibirnya terangkat tipis, sengaja membiarkan keheningan malam menggantung sebelum ia memberikan jawaban yang penuh teka-teki.
"Kamar di rumah ini memang banyak, Rara. Tapi tidak ada satu pun kamar kosong yang tersisa untukmu," ucap Athur dengan nada suara yang sengaja dibuat misterius.
Rara mengerutkan keningnya, menatap suaminya dengan tatapan polos yang dipenuhi kebingungan. "M-maksud Mas Athur gimana? Terus aku harus tidur di mana kalau semua kamar sudah penuh?"
Athur tidak menjawab lewat kata-kata. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Rara bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap suaminya. Tangan kekar Athur terulur, meraih jemari mungil Rara yang tidak terluka, lalu menuntunnya perlahan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
Athur membawa Rara berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati yang besar dan kokoh—kamar utama di rumah itu. Athur memutar tubuhnya menghadap Rara, lalu menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya berembus tepat di ceruk leher gadis itu.
"Tentu saja kamu tidur di kamar ini, Rara. Di ranjang yang sama dengan saya," bisik Athur dengan suara rendah yang serak, sengaja memberi penekanan yang sangat dalam pada kalimat berikutnya.
"Kamu sudah lupa? Kamu itu istri saya. Tugas seorang istri adalah tidur di samping suaminya."
Mendengar bisikan yang begitu intens dan penekanan kata 'istri', sekujur tubuh Rara mendadak kaku. Wajah polosnya seketika merona merah padam, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap sepasang mata tajam Athur yang kini sedang menguncinya tanpa ampun.
Jujur, di dalam benak Athur, ada sebuah letupan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria sedingin es itu baru benar-benar menyadari betapa besarnya ketertarikan yang ia miliki pada gadis kecil yang kini telah resmi menjadi istrinya ini. Wajah Rara yang merona malu, dengan napas yang memburu gugup, justru menjadi daya tarik yang luar biasa di mata Athur. Jiwa predatornya bergejolak, membuatnya gemas dan ingin segera 'memangsa' kepolosan gadis di hadapannya.
Athur menundukkan sedikit badannya, mencengkeram lembut dagu Rara agar mendongak, lalu memangkas jarak yang tersisa. Bibir tipis Athur mendarat dengan sempurna di atas bibir lembut Rara.
Namun, baru saja kecupan itu mendarat satu detik—
"BAAAANG!!! MAKASIH BANYAK YA! GUE SUKA BANGET SAMA KAMARNYA! GILA, ADA PLAYSTATION-NYA JUGA, SPEK DEWA INI MAH!"
Sebuah teriakan menggelegar dari ujung koridor lantai dua seketika memecah keheningan romantis itu. Fino mendadak muncul dari balik pintu kamarnya dengan wajah semringah, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menggagalkan momen krusial kakak iparnya.
Athur langsung menjauhkan wajahnya dari Rara. Ia mengembuskan napas panjang lewat hidung, menahan rasa kesal yang luar biasa karena interupsi dari adik ipar tengilnya yang sangat mengganggu itu. Rara yang tersadar langsung mundur tiga langkah dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, memegangi bibirnya yang masih terasa hangat.
Athur memutar tubuhnya, menatap Fino dengan pandangan datar nan tajam yang sanggup mengintimidasi mental siapa pun. Namun, sebuah senyuman miring yang tipis terukir di bibirnya.
"Jangan senang dulu, Fino," ucap Athur dengan suara beratnya yang penuh wibawa, memberikan sedikit wejangan tegas.
"Semua fasilitas di rumah ini tidak ada yang gratis. Kamu harus bayar itu semua dengan prestasimu di sekolah. Jika nilai ujarmu turun satu angka saja, semua barang di kamarmu akan saya sita."
Fino langsung menegakkan tubuhnya, memasang sikap hormat ala tentara dengan cengiran tengilnya yang kembali muncul. "Siap, Bos Besar! Laksanakan! Demi PS5, nilai gue bakal meroket sampai ke bulan!"
Di saat Fino sedang sibuk sesumbar, Nina keluar dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Fino. Wajah gadis belasan tahun itu dipenuhi oleh kebahagiaan yang luar biasa. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Tanpa aba-aba, Nina berlari kencang memeluk tubuh Rara dengan sangat erat, lalu memalingkan wajahnya menatap langsung ke arah Kakak Iparnya, Athur.
Perkataan yang keluar dari bibir polos Nina kali ini begitu sangat jujur, sarat akan kepedihan masa lalu, hingga sanggup menyayat hati dan menyentuh sisi kemanusiaan terdalam dari Bagas dan Evan yang sejak tadi berdiri menyimak di lantai bawah.
"Mas Athur... terima kasih banyak ya, Bang," ucap Nina dengan suara yang mulai bergetar karena menahan tangis haru.
"Hampir selama sepuluh tahun ini, sejak Ayah tiada, kami tidak pernah lagi merasakan apa itu artinya kasih sayang dan perlindungan dari seorang pria dewasa. Selama ini, cuma Kak Rara... satu-satunya kakak kami yang selalu melimpahkan kasih sayang, berjuang mati-matian kerja paruh waktu sendirian agar aku dan Fino bisa terus sekolah dan bisa makan nasi setiap hari."
Nina menyeka air matanya yang lolos ke pipi, lalu menatap Athur dengan pandangan yang sangat tulus. "Bang... jujur, kali ini, sejak ada Mas Athur di rumah ini, aku merasa seperti memiliki sosok Ayah kembali. Aku merasa... sangat aman."
Suasana di lantai atas rumah baru itu mendadak hening dan diselimuti keharuan yang mendalam. Evan yang tadinya asyik rebahan santai di sofa ruang tamu bawah langsung terdiam, matanya menatap langit-langit dengan pandangan yang melembut. Bagas pun menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa iba dan hormat yang mendalam pada ketabahan keluarga kecil Rara.
Athur tertegun. Kata-kata Nina meresap dalam ke lubuk hatinya, menghancurkan sisa-sisa keraguannya akan dunia hitam yang ia jalani.
Di dalam hatinya, Athur bersumpah demi harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga dan pemimpin mafia: ia akan mengubur siapa saja yang berani mengusik senyuman dan rasa aman dari ketiga remaja yatim piatu ini, termasuk aliansi busuk Jesika dan Tasya yang kini sedang mengintai di luar sana.