NovelToon NovelToon
The Shadow Fears

The Shadow Fears

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Horor / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:347.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Adine Indriani

Menceritakan tentang Detektif Dean sebagai seorang Kapten polisi yang memecahkan misteri pada kasus-kasus pembunuhannya. Petualangannya bersama rekannya Bima membawa mereka pada pengalaman mengungkap para pembunuh di sekitarnya. Ada kasus yang benar-benar membuat Dean akhirnya mengungkap trauma masalah lalunya. Pertemuannya dengan korban pemerkosaan di sebuah Kampung Orang menjadi titik awal bagi Dean mengulik pikiran seorang pembunuh.

Cerita ini akan membawamu ikut berpetualang dalam misteri dan aksi yang menakjubkan. Kamu akan terbawa oleh pikiran terkelam seorang pembunuh hingga tidak menyadari jika mereka ada di dekatmu. Jangan pernah lengah untuk selalu berhati-hati karena bisa jadi kamu ada dalam pikiran seorang pembunuh.

Pembunuh yang haus akan keinginan membunuhnya.

#Novel ini sarat dengan adegan horor, aksi dan misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 Suara Misterius

Malam itu selepas makan malam aku pergi tidur. Sudah beberapa hari ini tidurku tidak nyenyak. Selalu bermimpi buruk, selalu teringat kejadian pada saat kebakaran. Malam semakin gelap, hanya suara binatang malam yang terdengar dari jendela kamar sebelum benar-benar nyenyak.

Dini hari, karena mataku membuka sekilas melihat jam di dinding menunjukkan sudah pukul 01.25. Tiba-tiba suara misterius itu terdengar disela-sela alam bawah sadar. Suara dentuman pada dinding-dinding rumah, seperti seseorang yang sedang membobok tembok dengan alat pemukul seperti godam.

Deb! Deb! Deb!

Begitu suaranya terredam dari balik kamar.

Terdengar nyata di telinga, namun tubuh ini tidak bereaksi karena sudah sangat letih.

***

Keesokan paginya, tercium aroma panggangan dari bawah. Aku sudah siap berangkat ke sekolah. Menuruni tangan, Bibi menyambutku untuk mengajak sarapan.

“Kamu sudah siap, ayo sarapan,” ucapnya sembari tersenyum.

Macaroni scottel sudah siap diatas meja dengan loyang besar. Terlihat sangat menggugah selera. Ibu tidak pernah membuat masakan seperti ini. Aku tersenyum dan bersemangat untuk segera duduk dan mengambil bagian.

“Tolong Bibi, seporsi untukku,” ucapku memintanya. Aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Terlebih taburan keju yang meleleh diatasnya itu telah membuat liurku menetes dalam mulut.

Bibi mengambilkan sepotong besar untukku dan juga Paman. Aku mengucapkan terima kasih dan segera menyantapnya.

“Kalau kamu mau membawanya untuk bekal boleh koq,” sahut Bibi yang melihatku sangat lahap.

“Iya Bibi, aku mau sekali. Ini enak sekali, sungguh seperti makan di restoran italia,” sanjungku.

“Baiklah, pelan-pelan saja sarapannya, Bibi akan menyiapkan bekalmu.”

Sembari memasukkan macaroni itu ke mulut hingga memenuhinya, aku bertanya yang membuatku penasaran.

“Paman, Bibi apa tadi malam mendengar dentuman keras dirumah ini?” ujarku masih mengunyah. Aku melihat mereka seperti terkejut dan saling berpandangan.

“Apa?”

“Iya, seperti seseorang dengan membobok tembok,” sambungku lagi.

“Oh, mungkin itu Pamanmu yang sedang membersihkan gudang bawah tanah,” jawab Bibi santai.

“Yah, Paman sering tidak bisa tidur dan harus mengerjakan sesuatu agar mudah tidur,” ucap Paman yang juga melahap macaroni itu.

“Oiya Bibi, Paman berapa nomer telepon rumah ini? Temanku bertanya,” seruku lagi.

“Oh nanti akan Bibi berikan catatannya,”

“Untuk siapa? Teman laki-lakimu itu,” ucap Paman memperlihatkan ketidaksukaannya.

“Ah … jangan hiraukan Pamanmu ini Qian, dia hanya mengkhawatirkanmu, itu saja,” seru Bibi menjelaskan.

***

Paman mengantarku ke sekolah sudah seperti menjadi kebiasaannya. Aku merasa Paman sangat protektif padaku, namun masih cukup wajar ketimbang sikap Ayah yang sering mencurigaiku genit dan sering membolos pelajaran di sekolah. Padahal memiliki teman saja tidak apalagi membolos pelajaran.

Ayah sering melihat teman-temanku pulang sangat telat, sehingga berpikir akulah yang membolos pelajaran. Padahal mereka yang keluyuran dulu sepulang sekolah. Aku berharap sikap Paman berbeda dengan Ayah yang bisa memahami keadaanku dan menginginkan sedikit ruang.

Sesampainya disekolah Kevin juga baru sampai sejak tadi yang masih duduk diatas motornya. Sedang berbincang dengan geng beken itu. Aku tidak suka jika Kevin dekat-dekat dengan mereka, tetapi ketidaksukaan ini tidak pernah diungkapkan. Aku takut membuatnya menjadi jauh dariku.

Kevin segera menghampiri, bahkan dirinya memanggil namaku ketika masih berbincang dengan mereka.

“Qian, tunggu,” ujarnya sembari mengangkat tangan seakan dirinya ingin terlihat.

Aku tidak serabun itu, masih bisa melihatnya dan senyumannya dari kejauhan.

Hai!

“Wow, ceria sekali pagi ini. Apa kamu menyukai tinggal dengan Bibi dan Pamanmu itu?”

“Ya, sudah seminggu ini cukup lancar.”

“Pulang sekolah aku antar yah, jangan lupa.”

“Baiklah.”

“Oke aku ke kelas dulu, belum ngerjain PR.”

“Dasar kamu!”

“Bye Qian.”

“Bye, Kevin.”

Sembari melihatnya berlari dengan kencang berbalik kearahku dan melempar senyumnya yang konyol. Hal sepele itu telah membuatku tersenyum geli.

***

Dini hari, terdengar suara benda-benda yang berdenyit dan berderit. Benda-benda yang digeser dan langkah-langkah kaki yang menyeret. Kubalik tubuhku kearah jendela dan bersembunyi didalam tumpukan bantal untuk menutupi kedua telinga. Suara itu benar-benar mengganggu tidurku. Aku tidak bisa tidur sebelum suara itu berhenti.

Deb! Deb! Deb!

Suara sebuah godam mulai membobok-bobok dinding itu. Entah apa yang dilakukan Paman dan kenapa dirinya tidak bisa tidur.

Bangkit dengan posisi duduk. Aku tidak bisa kembali tidur. Sebelum suara itu berhenti. Aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

“Paman, apakah kamu masih bekerja?” aku ingin memastikan jika itu benar Paman. Berhenti di depan pegangan tangga untuk memastikan suara itu masih ada.

Mendengarkan dengan seksama, suara itu tiba-tiba menghilang. Untuk beberapa saat suara itu sirna. Aku kembali membuka pintu kamar untuk kembali tidur. Ketika membuka kenop pintu, suara itu muncul lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Aku memberanikan diri untuk mencari sumber suara itu. Menuruni tangga satu persatu dengan cahaya yang menyinari dari lampu kamarku yang terbuka. Penasaran apa yang sedang dikerjakan Paman selarut ini. Mungkin saja aku bisa membantunya agar cepat selesai dan tidak ada lagi suara-suara itu.

Aku hanya ingin tidur dengan nyenyak.

“Paman, apa itu kamu?”

Tidak ada jawaban.

Hingga aku melangkah lebih jauh kearah belakang, ada lorong yang berbeda dari rumah ini. Lorong yang lebih dingin ketika memasukinya, seperti ada perbedaan temperatur suhu.

Aku mendengar suara dentuman lebih keras, rasanya aku tahu suara itu berasal. Dari balik tembok bebatuan lorong ini. Menempelkan telinga didinding yang dingin itu, suaranya jelas terdengar meskipun teredam.

Memutari dinding dan mencari pintunya dimana, namun sulit tidak ada pintu disini. Aku berteriak memanggil Paman namun tidak ada jawaban. Kudorong-dorong seluruh dinding itu hingga akhirnya ada yang terbuka.

Sebuah pintu rahasia.  Kupikir itu dinding karena warnanya menyatu dengannya. Kudorong lagi dan akhirnya terbuka, sebuah kayu berat menyerupai dinding bebatuan.

Kreeeek!

Pintu itu terbuka sedikit.

“Paman apa kamu didalam?” aku berteriak. Sembari mengintip dalam celah itu. Bayangan siluet di dinding seperti seseorang yang sedang memegang godam.

Suara dentuman itu berhenti. Tiba-tiba seseorang menyentuhku dari belakang. Memegang bahuku.

“Qian, kenapa bangun malam-malam,” ucapnya menegurku.

“Aduh, Bibi bikin kaget saja,” tukasku terkejut.

“Ayo, kembali ke kamarmu, jangan ganggu paman.” ucapnya lagi.

“Aku hanya ingin membantu Paman, Bi …,” ujarku.

“Tidak perlu, Paman sejak kecil mengalami insomnia, jadi dia memerlukan sesuatu untuk membuatnya lelah dan pergi tidur,” dalih Bibi menjelaskan.

Seperti halnya seorang penulis yang melewatkan malamnya dengan menulis hanya untuk bisa mengalihkan pikirannya yang terlalu aktif berpikir.

“Baiklah Bi, aku akan kembali tidur.”

Heem!

Bibi berdehem. Sembari melihatku pergi.

Sembari menaiki tangga aku melihat Bibi menutup pintu lorong itu. Aku semakin penasaran apa yang dibuat Paman, kenapa tidak memanggil tukang saja untuk membantunya agar cepat selesai. Dan kenapa Bibi seperti mencegahku untuk melihat pekerjaan Paman. Semuanya semakin mencurigakan dan semakin membuatku ingin tahu.

Akhirnya aku pergi tidur lagi.

***

Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5 dan komen yang banyak ya )

1
Apin Zen
Nice
.
nice thor
Elina Simbolon
kubaca ulang untuk ke 4 kalinya 🤗
Ariful
nak tumpang promote cerita saya “KIUB” terima kasih
xsisih
kembali bersama ? berarti sebelumnya sudah pernah bertemu
xsisih
penasaran
xsisih
kereen banget Thor
xsisih
nyesel baru nemuin ni novel
Adinda
duh sedih...😥
Adinda
sempat mengira enggar akan bunuh diri ternyata benar
Adinda
dari awal saya menebak memang enggar pelakunya walau ada keraguan yang bunuh c abi adalah suci
Adinda
jadi tanda tanya ketika ingat dialog c abi dan perempuan yang mendatanginya. kamu sudah besar sekarang dan bertambah cantik. apakah kamu menyukainya dan ingin mengulanginya. suci kah yang membunuh c abi?
Adinda
c abi kayaknya enggar yang bunuh deh. tapi tebakan saya dari awal enggar yang bunuh semua
Adinda
mungkin kedatangan edgar dalam kehidupan enggar untuk menebus rasa bersalahnya
Adinda
nah part ini masih teka-teki
Adinda
saya berempati dengan tokoh enggar. semoga dia baik-baik saja. artinya tidak sampai di ketahui polisi kalau dia pembunuhnya.
Adinda
hahaha ada dialog kocak juga
Adinda
ternyata foto enggar tidak ada dalam file c abi y...
Adinda
geram dengan c abi. kepengen dia di hidupkan lagi dan di bunuh berulang-ulang dengan cara yang sangat menyakitkan
Adinda
semoga edgar bisa menghapuskan semua trauma enggar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!