Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 Tabir Misteri
POV Danu
Gelap berganti terang, terang berganti senja. Masa telah terlewati dengan sejuta misteri yang perlahan mulai terurai. Namun, menyisakan teka-teki yang belum terungkap pasti.
Arini, ia terus saja membuat ihwal baru yang tak kumengerti. Seluruh rencana yang ia susun tak melibatkan aku sedikit pun. Bahkan kebohongan yang ia ciptakan kemarin membuat aku semakin tak mampu memahami apa yang sebenarnya sedang ia mainkan dengan Bobby.
Kutatap wajah wanitaku yang tertidur sembari duduk dan memeluk lenganku. Wajah lelah yang terlampau sangat begitu tersirat jelas. Kelopak mata yang terpejam dipenuhi tanda hitam melingkar.
Kucoba untuk menyentuh pipi yang tertutup anak rambut, ingin sekali menyibakkan rambut yang menghalangi pandangan untuk menikmati paras yang telah memikat hatiku.
Arini, sungguh aku merindukan segala hal tentangmu. Di sini netra ini mampu menatap, namun tak dapat menyentuh ragamu. Aku masih bisa merasakan cinta itu tetap untukku, tetapi di sudut hati terselip sedikit rasa khawatir jika ia berpaling ke cinta yang lain.
Jujur, aku tak akan pernah siap jika ada pria lain yang akan menggantikan keberadaanku di singgasana kalbu yang bernaung di hatinya. Mungkin tak akan pernah rela, bagaimana pun cinta ini tulus sejak awal. Ia bidadari yang telah berhasil memenangkan hatiku.
Ini adalah hari kelima aku terpisah dari raga. Sebuah siksa bagiku karena harus menyaksikan Arini bicara padaku dengan linangan bulir bening yang menganak sungai. Ingin sekali kuhapus air mata itu, kemudian membuat lengkungan indah di bibirnya.
Bidadari surgaku, teruslah berdoa untukku agar aku bisa kembali menghuni raga yang tengah engkau rindukan. Pria tampanmu ini rindu menggodamu, rindu membuatmu menepuk jidat, rindu membuatmu memasang wajah kesal, dan rindu mengarungi laut asmara bersamamu.
Hei, aku jadi teringat perubahan Arini yang menjadi sering mual. Tentu saja harapan tentang bayi mungil yang akan datang ke dunia membuat roh yang melayang ini semakin ingin kembali.
Kenapa Arini tak segera cek ke dokter atau menggunakan testpack? Biar terobati rasa penasaranku. Ya, Arini sepertinya ingin menjadikanku arwah penasaran. Mana ada roh yang tingkat kepo mencapai level maksimal sepertiku?
Perlahan aku turunkan pandangan menuju perut rampingnya. "Hai, Danu junior ... apa kamu ada di situ?" ucapku seraya mengelus lembut perut Arini.
Drttt ... drttt ... drttt ....
Gawai di nakas sebelah ranjang bergetar. Segera aku berdiri dan mencoba untuk melihat siapakah nama yang muncul dalam layar.
Bobby.
Dia lagi. Kenapa harus selalu dia? Tak bisakah barang sejenak saja tak mengganggu Arini? Apalagi sekarang ini ada ayah dan ibu yang juga menungguku.
Denting notifikasi pesan masuk setelah beberapa kali panggilan tidak terjawab.
[Arini, kita bisa lanjut ke rencana berikut. Hera sudah menemui Niko] Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh Bobby.
Wow, cepat sekali Hera menemui Niko. Ternyata benar, wanita itu tak bisa hidup susah barang sejenak. Dia pasti akan menghiba untuk dikasihani Niko.
Aku rasa ... makin seru kisah si nenek semlohai itu. "Rasakan kamu wanita kejam, kamu akan masuk ke lubang perangkap yang akan membuatmu kapok selamanya!" seruku sembari memukulkan kepalan kanan ke telapak kiri.
Tak sabar rasanya melihat reaksi mertua genit itu saat dijerat karma. Kali ini aku tak akan terluka lagi jika si perempuan psikopat itu mengamuk. Ada untungnya juga aku jadi roh gentayangan begini, bisa melihat adegan seru tanpa kena sasaran amarah.
Senyumku mengembang. Rencana Bobby memang keren. Eh, sebentar! Kenapa aku jadi memuji dia? Ada yang salah sepertinya dengan otakku.
Mungkin apa perlu kepalaku dipukul sekali lagi agar otak ini kembali normal seperti sediakala? Seperti di cerita layar lebar yang tokohnya amnesia karena benturan, dan bisa kembali normal setelah terbentur lagi.
Ah, sudahlah. Itu semua tidak penting. Yang terpenting sekarang ini aku bisa melihat mertua penggoda menantu itu menerima pembalasan. "Arini ... bangun, Sayang. Ayah tirimu sudah menunggu, tuh." Aku mencoba membangunkannya, tapi dia bergeming.
"Arini!" Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan aku.
"Parah, nggak ada sopan santun masuk ruangan tanpa ketuk pintu!" gerutuku saat melihat Niko yang masuk.
"Arini ... Arini ...." panggil Niko seraya menoel beberapa kali lengan Arini, sontak membuat Arini terbangun dari mimpi yang membuat Arini basah. Eh, maksud aku basah di pipinya dan juga ....
"Hish! Arini jorok! Kenapa dia ngiler di tanganku?" Aku mencoba mengelap tangan yang terkena saliva Arini, namun gagal.
"Huff ... payah, Dek. Siang-siang tidur, kok, ngiler! Pasti bau, tuh, tangan." sungutku tak terima.
"Ada apa, Bang Niko?" tanya Arini sembari mengelap air liur yang membanjiri pipi dengan punggung tangan.
"Ibu sudah bersedia memgikuti syarat yang aku ajukan. Rencana kita akhirnya berjalan mulus." tutur Niko dengan setengah berbisik, aku tahu pasti dia takut suaranya di dengar oleh ayah dan ibu yang duduk di luar ruangan.
"Apa Bang Niko sudah menemui Ayah?"
"Sudah. Ayah setuju dengan rencana kita."
"Itu artinya, Ibu akan benar-benar merasakan kecewa yang sangat luar biasa." Pandangan Arini menerawang.
"Sudah pasti."
"Aku takut, Bang, kalau Ibu akan menjadi gila. Karena pasti ia tak akan pernah bisa menerima kekecewaan, apalagi jika ia merasa kita permainkan."
"Tenanglah, Arini. Jika memang ia semakin menggila, maka puncak dari rencana kita adalah mengirim Ibu ke penjara." Niko menunduk dalam, ada yang rasa yang tak ingin ia perlihatkan.
"Bang, kita doakan Ibu agar ia cepat mendapat hidayah." Arini meraih tangan Niko, menggegam erat seolah ingin menguatkan batin Niko yang sudah pasti sedang berperang.
Aku tahu dan bisa merasakan bagaimana dua anak yang sedang memerangi ibu kandungnya sendiri. Sungguh tak wajar. Seorang ibu yang tak patut dijadikan suri tauladan bagi anak-anaknya.
"Oh ya, Ayah Bobby memintaku untuk menjemputmu. Dia tidak bisa sering-sering menemanimu karena tidak ingin membuat kedua mertuamu curiga."
"Ya, aku tahu. Bang Bobby memang baik, ia mengerti dengan situasi."
"Jadi, kamu ijin dulu ke ayah dan ibu mertuamu. Pamit saja hendak mengambil pakaian ganti."
"Iya." Arini menjawab pendek dan bergegas mengambil tas dari laci lemari kecil. Tak lupa gawai yang ada di atas nakas ia masukkan ke dalam tas branded berlogo 'C' yang saling berkait berwarna hitam.
"Mas Danu, aku pergi dulu sebentar, ya?" pamit Arini seraya mendaratkan kecupan di ujung hidung bangirku.
"Aku akan ikut, Arini." Aku tak akan biarkan kamu hadapi setiap kesulitan sendirian," jawabku mantap dan mensejajari langkah.
Setelah pamit dengan ayah dan ibu, Arini segera berlalu menuju parkiran rumah sakit. Dan ternyata ....
"Sudah siap?" tanya Bobby ke arah Arini yang baru saja duduk di jok belakang, sedangkan Niko duduk di samping Bobby yang memegang kendali mobil. Sedangkan aku lebih memilih sembunyi di jok belakang. Ah, entahlah kenapa aku masih sembunyi saja.
Arini hanya mengangguk mantap sebagai jawaban atas pertanyaan Bobby. Meski Arini berusaha bersikap tenang, namun sirat kegundahan itu masih dapat aku tangkap. Beberapa kali ia memainkan ujung hijabnya.
Mobil melaju dengan kecepatan cepat. Bobby sepertinya sudah lihai mengendarai mobil di jalan yang lumayan ramai. Ia dengan gesit menyalip beberapa kendaraan besar yang menghalangi jalan.
Mobil menepi di depan sebuah bangunan yang cukup membuatku terhenyak. Untuk apa Bobby membawa Arini ke rumah sakit jiwa? Apa ayah Arini masih di rawat di sini?
Jika syarat yang diajukan oleh Niko ke Bu Hera adalah kembali dengan Pak Rahman yang sedang gangguan jiwa, aku kira semua rencana itu adalah rencana yang sia-sia. Kenapa selalu hal bodoh yang menjadi pemikiran mereka?
Semakin membuatku tak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Sudah jelas Bu Hera adalah pemuja harta, eh malah disuruh balikan dengan orang yang sedang tidak waras. Tepuk jidat aku dibuatnya.
"Itu Ayah Rahman." Telunjuk Niko ke arah seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi panjang. Sepertinya memang sedang menunggu kedatangan rombongan Bobby, terbukti ia langsung berdiri untuk menyambut kedatangan kami.
Lho, kalau dia sengaja menunggu ... berarti Pak Rahman sudah waras, donk. Tapi, kenapa ia masih tinggal di sini?
Satu persatu mereka menyalimi Pak Rahman dengan takzim dan dibalas dengan tepukan di bahu, kecuali Arini. Ia mendapatkan pelukan hangat dari ayah yang telah lama ia rindukan.
Setelah Pak Rahman melepas pelukan, aku juga mendekat dan mengulurkan tangan. Namun, tak sedikit pun ia gubris. Justru ia malah duduk kembali. Sombong amat dia, ya?
"Ibu kesini dua puluh menit lagi, Yah. Kita sudah atur siasat. Nanti yang menemui Ibu hanya aku dan Ayah, sedangkan Ayah Bobby dan Arini sembunyi dulu." Niko yang berdiri tidak jauh dari Arini duduk mulai bertutur dan disambut anggukan dari Pak Rahman.
"Sudah ketemu dengan dr. Gustaf?" tanya Bobby ke arah Niko.
"Sudah dua hari yang lalu. Sengaja aku dan Ayah Rahman menemui dr. Gustaf lebih awal untuk memastikan beliau bisa bantu."
"Bagus. Dia pasti tak akan bisa menolak, karena dia bisa jadi dokter seperti sekarang juga karena bantuan dari papaku." Dengan mengedipkan sebelah mata dan mengurai senyum jumawa, Bobby memberi alasan kenapa ia merekomendasikan dr. Gustaf untuk membantu.
"Tidak melanggar kode etik, Bang?" tanya Arini menyela.
"Kita tidak meminta ia berbohong, Arini. Kita hanya meminta untuk bersandiwara menyatakan Ayah Rahman telah sembuh." Niko berusaha menjelaskan.
Aku yang sedari tadi menguping pembicaraan masih tak paham juga. Terlalu banyak teka-teki yang menyertai rencana mereka.
"Tenanglah, Arini. Ayahmu ini baik-baik saja, Ayah memang pernah di rawat di sini. Tapi hanya beberapa bulan saja." Pak Rahman akhirnya membuka suara dan mulai menyingkap tabir misteri sakitnya.
"Ayah hanya depresi waktu itu, jadi ketika dapat treatment di sini dan juga penguatan batin melalui konseling, Alhamdulillah Ayah kembali sehat."
"Tapi kenapa Ayah tidak kembali lagi ke rumah?" Sepertinya Arini ingin protes.
"Ayah ingin menjauh dari semua kenangan masa lalu dan memulai kehidupan yang baru. Sengaja Ayah meminta pamanmu, Darwin untuk menyembunyikan keberadaan Ayah."
"Jadi, Paman Darwin tahu Ayah di mana?"
"Tidak, Nak. Saat itu Ayah kerja proyek yang berpindah-pindah kota. Darwin hanya tahu setiap bulan aku mengirim uang untukmu."
"Kalau Ayah kirim uang ke Paman Darwin, kenapa mereka begitu keras padaku?"
"Mereka hanya ingin menjadikanmu wanita tangguh. Paman dan Bibi tidak ingin kamu seperti Ibumu."
Arini termangu. Sama sepertiku, ia pasti tak mengira bahwa ayah yang selama ini ia pikir telah pergi jauh, ternyata ia berjuang untuk tetap menghidupinya.
Sungguh aku terharu hingga menitikkan air mata. Begitu hebatnya Pak Rahman. Ia lelaki hebat di mataku. Di saat ia terpuruk karena ulah wanita yang telah diangkat derajatnya, ia mampu bangkit dari puing-puing kehancuran.
Satu misteri terjawab sudah. Tinggal menunggu kejutan berikutnya. Kejutan yang akan menjawab seluruh tabir misteri dari rencana mereka.